Alien Itu Memilihku (Feby Indirani, 2013)


Identitas Buku

Judul buku: Alien Itu Memilihku
Penulis: Feby Indirani
Genre: Biografi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 308 halaman
Terbit: Juni 2014
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-0541-7

 

 

 

 

Sinopsis Official

“Pahaku yang sebesar pepaya mengkal terasa berdenyut-denyut. Aku membayangkan jari-jari alien itu tumbuh semakin besar dan bergerak aktif mencengkeram tulang. Makhluk asing yang menjadi kian kuat dari waktu ke waktu. Aku bergidik ngeri membayangkan alien itu menelusup di balik kulit—dalam diam namun sangat gesit—melancarkan peperangan dan upaya merebut kekuasaan atas tubuhku.”

Kehidupan Indah—seorang wanita profesional Jakarta yang aktif dan dinamis—tiba-tiba berubah 180 derajat. Paha kirinya membengkak dan semakin besar dari waktu ke waktu, seolah ada “alien” yang tumbuh dan bersarang di dalamnya. Kaki kirinya terancam diamputasi dari pangkal paha. Lebih dari itu, ancaman maut pun hadir persis di depan matanya.

Resensi

Sesuai judul bukunya, maka buku yang “beruntung” saya pilih kali ini adalah buku nonfiksi dari Mba Feby Indirani yang berjudul Alien Itu Memilihku. Buku ini adalah penuturan kembali dari hasil wawancara Mba Feby dengan Indah Melati Setiawan, yang merupakan survivor kanker langka. Beda dengan Mba Feby yang sudah kita kenal sebagai awak media, Indah Melati Setiawan justru bukan siapa-siapa. Dia hanyalah wanita biasa yang didiagnosis kanker tulang tipe langka di usia sekitar 36-37 tahun, dan kesintasannya bisa dikatakan suatu anugerah mengingat ia pernah menghadapi vonis amputasi.

Adapun, biografi ini menarik buat saya yang sudah 12 tahun jarang membaca buku ini. Mengapa demikian? Kita tilik kembali, kanker adalah penyakit mematikan yang sungguh ditakuti di dekade 2010-an ini, menjadi momok baru dunia kesehatan yang kini bersaing ketat dengan stroke dan penyakit jantung dalam hal menakut-nakuti orang. Bahkan banyak sumber statistik menyebutkan bahwa dalam 20-30 tahun ke depan, kanker akan menjadi penyakit pembunuh utama penduduk dunia yang bakal menyaingi momok penyakit jantung dan stroke. Tapi yang lebih mengerikan di sisi kanker adalah peluang kesembuhan totalnya yang secara umum kecil, penyebab asal yang sering tidak diketahui, dan kengerian yang muncul saat terapi kanker tersebut mulai berefek ke tubuh seseorang. Karena itulah, buku penuturan tentang ketakutan saat divonis kanker, derita saat menjalani terapi, hingga keajaiban lolos dari kanker; sudah jamak ditemukan di toko buku era 2010-an. Saya sempat membaca salah satu buku pelopornya, Chicken Soup for the Survivor Soul, di sekitar tahun 2001.

Ditambah bahwa sebagian orang (termasuk saya) yang pernah cukup banyak mempelajari penyakit ini, mungkin membuat pemahaman tentang kanker dan dampaknya sedikit berbeda dari orang kebanyakan. Kata orang, semakin kita tahu, semakin kita mengerti “jeroan”nya, maka kita semakin takut: Sudah pasti itu ada benarnya.

Namun apa yang menjadikan buku ini berbeda dan membuat saya tertarik? Salah satunya adalah karena kanker yang diderita Indah ini – sarkoma Ewing – termasuk sangat langka dan dia bukan populasi dominan yang menderita kanker ini. Diceritakan bahwa dokter yang menangani Indah sempat terkejut mengapa wanita usia dewasa pertengahan bisa terkena kanker yang sering menyerang anak-anak (sudah begitu, anak laki-laki pula, bukan anak perempuan!). Ditambah fakta bahwa kanker ini “mengambil” banyak hal dari hidupnya, yang mungkin tak pernah ia sadari menghilang sebelum ia sakit. Kesabaran, perhatian, kejutan hidup; semua diceritakan dengan naik turun yang membuat kita berpikir ulang tentang hidup masing-masing.

Dan, latar belakang ras/suku/agama yang juga menarik, di mana Indah juga sempat membahas rasanya jadi orang minoritas dan apa stigma yang pernah ia terima terkait dengan masalah itu (mau tak mau bagian yang ini membuat kelompok manusia yang punya kesamaan akan mencocokkan pengalaman Indah dengan pengalaman sendiri). Bagaimana cerita Indah, yang seorang Tionghoa Medan (yang kelihatannya masih totok) dan beragama Budha, menghadapi sikap “teman”-nya yang berkeyakinan beda namun dengan nekat terus-menerus mendoakannya? Menarik!

Tidak lupa masalah hubungan percintaan pun dibahas. Ini sedikit membuat buku tampak beralur maju mundur, namun ini tidak membuat buku jadi susah dibaca. Justru Mba Feby sering mengutarakan dampak yang terjadi di masa kini, hingga mau tak mau kita berpikir tentang alasan di balik semuanya. Dan jangan kaget dengan ujung cerita cinta tersebut, setidaknya hingga kini. Bagaimana pula Indah menghadapi semua itu dengan kondisinya saat ini, itu pun dibeberkan dengan baik dalam buku ini.

Tidak melulu mengeluh, menyampaikan penderitaan, tetapi di buku ini juga memuat pesan pengingat buat pembacanya untuk merenungkan banyak hal yang mungkin tak terpikirkan. Terutama apabila kita tengah “merasa” memiliki segalanya. Terkadang, kita tidak sadar akan harta yang kita miliki. Misalnya, kelengkapan anggota keluarga, perhatian dari keluarga terdekat, teman-teman di sekitar, hingga (di buku ini) dokter yang penuh dedikasi dan perawat yang sangat sabar. Benar adanya filosofi bahwa semua orang yang pernah hadir di hidup seseorang memang punya porsi mengisi dan mengajarkan sesuatu buat orang tersebut.

Jika di atas saya konstan memuji, ada sedikit kekurangan yang tentu tak lepas dari apapun itu, termasuk buku ini. Yang pertama, versi online tidak memuat foto-foto Indah. Duh, sayang sekali tentunya, karena seharusnya kita pun bisa menikmati kisah yang dituturkan dengan gambar sebagai pemanis sejuta makna. Kemudian, porsi kesedihan yang ditampilkan. Secara global, buku ini lebih banyak menuturkan kemirisan dan kegundahan, sehingga kalau dibaca saat sudah di ambang depresi mungkin kita akan terlarut dalam kesedihan yang seragam. Namun, rasanya kita tak bisa menuntut buku dengan aura tema demikian untuk banyak menampilkan sisi ceria.

Buat yang penasaran, saat ini Indah masih hidup di usia 40-an, aktif di Yayasan Tzu Chi, serta masih sering turut dalam acara di kalangan penyintas kanker. Motivasi hidupnya pun diungkapkan di bagian akhir buku ini. Sehingga saya bisa katakan bahwa buku ini sangat tepat untuk kalian yang ingin belajar bersyukur. Setelah membacanya, kalian bisa lebih menghargai hidup kalian sendiri, serius…

Kalimat-kalimat Menarik

  • p.31: Tapi dalam diam makhluk itu tampaknya mengumpulkan kekuatan untuk kembali menggempur saat malam tiba.
  • p.44: Aku sungguh berharap mutiara hitam itu mampu menyelamatkan kakiku seutuhnya.
  • p.137: [paraphrased] Dulu aku jarang menyadari betapa setiap gerakan merupakan perpaduan kerja tuang, otot, dan saraf yang luar biasa.
  • p.171: Don’t play play huh, you can die!
  • p.193: Kematian manakah yang lebih baik: Gelombang yang mendadak menerjang seretak membuat nyawa meregang, atau proses perlahan-lahan menggerogoti tubuh seperti kanker?

Miscellaneous & Ratings

4.5-star

 

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 75.000
  • Gramedia.com: Rp 63.750-Rp 75.000 [belum termasuk ongkos kirim]
  • Scoop: Rp 47.200-Rp 59.000 [digital version only]
  • Bukabuku.com: Rp 60.000 [belum termasuk ongkos kirim]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s