Divortiare (Ika Natassa, 2008)


Identitas Buku

Judul buku: Divortiare
Penulis: Ika Natassa
Genre: Fiksi, metropop, dewasa
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 288 halaman
Terbit: Juli 2008
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-3846-4

 

 

 

 

Sinopsis Official

== A novel from the author of ‘A Very Yuppy Wedding’ ==

Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.

“Jadi lebih penting punya Furla baru daripada ngilangin nama mantan laki lo dari dada lo?”

Pernah melihat Red Dragon? Aku masih ingat satu adegan saat Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins melihat bekas luka peluru di dada detektif Will Graham (Edward Norton), dan berkata, “Our scar has a way to remind us that the past is real.”

Tapi kemudian mungkin kita tiba di satu titik ketika yang ada hanya kebencian luar biasa ketika melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it. So then you did.

Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar.

Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn’t want it to.

Resensi

Divortiare. Saya belum berhasil menemukan istilah bahasa apapun yang cocok untuk kata ini, sehingga saya berasumsi bahwa istilah yang dipakai Ika Natassa dalam buku keduanya ini adalah faux-Latin. Karena istilah Latin, entah faux maupun asli, kerap mewarnai kehidupan ilmiah, dan sesuatu yang ilmiah pun kerap mau tidak mau membuat rasa penasaran kita meningkat, itulah yang mengakibatkan saya penasaran dengan cerita Divortiare-TwivortiareTwivortiare 2, terlebih mengapa buku-buku ini lumayan populer di kalangan dewasa muda Indonesia.

Ceritanya Alexandra Rhea, seorang wanita bankir muda berbakat yang menjabat relationship manager, adalah janda berusia 29 tahun. Mantan suaminya, Beno Wicaksono, seorang pria dokter ahli bedah jantung berusia 8 tahun di atasnya. Meskipun sudah bercerai 2 tahun berselang, mereka masih sering berhubungan karena Alexandra selalu berobat ke Beno kala sakit, dan hingga kini belum ada juga pria yang bisa mengisi hidupnya. Di samping Alexandra ada beberapa tokoh lain, seperti Wina, sang fashion designer yang heboh dan selalu riuh; Ryan, rekan kerja Alexandra di bank yang kocak dan narsis; dan Denny, mantan teman kuliah Alexandra yang mencoba mendekatinya.

Inti karakteristik tokoh-tokoh dalam buku ini adalah sifat egoisme, yang memang sangat kental ada dalam diri keduanya, yang kebetulan adalah anak tunggal di keluarga masing-masing. Terus terang aliran novel seperti ini bukan cerminan minat saya. Temanya pun tak jauh dari romantika pasangan dewasa muda, yang dibalut nuansa perkantoran, hedonisme khas usia 20-an, hingga pembenturan gejolak Venus muda dan tuntutan kesabaran di balik kematangan Mars yang sedikit lebih tua. Ketebak sekali ceritanya. Dan latar cerita seperti itu sama sekali jauh dari latar cerita favorit saya. Namun mengutip pernyataan Marga T. bahwa untuk menjadi penulis yang baik seseorang tidak boleh memilih-milih bacaan hanya berdasarkan apa yang dia mau, saya setuju bahwa cerita seperti ini layak untuk dieksplorasi, terlepas dari apakah kalian suka atau tidak dengan temanya. Dan jelaslah bahwa ekspektasi saya untuk cerita ini tidak terlalu tinggi, baik dari segi ending cerita maupun alur penyampaian.

Menyelesaikan buku ini memang merupakan pengalaman menarik tersendiri. Di mana saya yang menggolongkan buku ini ke dalam rak “not-my-type” di GoodReads seolah tertarik untuk membaca ceritanya saat senggang. Kerap berkata pada diri sendiri, 5 halaman lagi, 5 halaman lagi, tapi toh pada akhirnya saya melahap 30 halaman lagi (yaelah). Di sini saya setuju, gaya narasi Ika betul-betul menarik. Story-telling method-nya mampu memainkan emosi pembaca yang penuh perasaan atau lagi galau, sekaligus mampu memutarbalikkan rasa penasaran pembaca yang hanya mau bermain logika tanpa melibatkan banyak perasaan. Padahal, dialog yang ditampilkan sederhana saja temanya, tak jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Dan padahal lagi, akhir cerita ini mudah ditebak. Hanya saja, dalam aspek penyampaian cerita, kesan negatifnya adalah terlalu banyak merk berseliweran dalam teks, setali tiga uang dengan gaya Donny Dhirgantoro di 5cm, yang menurut saya justru seolah mencoba mengaburkan kedalaman penggalian karakter, sekaligus mungkin berupa trik untuk memperpanjang urusan jumlah kata dalam novel (semoga saya tidak suudzon kali ini). Plus gaya bahasa yang campur aduk antara bahasa Indonesia dan Inggris, menurut saya juga membuat fokus membaca jadi loncat sana sini, ditambah kesan kurang menghargai bahasa sendiri (P.S: Ini hanya pendapat, bukan penghinaan).

Selain itu, bagaimana deskripsi Jakarta di mata Ika sangat gamblang. Pembaca dari Jakarta pasti sesekali tersenyum sendiri ketika membaca uraian tentang realita kemacetan dan bagaimana sebuah pertikaian keluarga bisa timbul karenanya lewat buah pikiran Alexandra, realita jam kerja di atas kertas dan jam kerja dalam kenyataan lewat dialog orang-orang BorderBank, realita branded product dan standar harga lewat celotehan Ryan, pengingat skala prioritas dalam hidup lewat celetukan Pak Wisnu. Sungguh Jakarta sekali.

Bagaimana dengan karakter yang ditampilkan di sini? Karakter wanita utama yakni Alexandra, menurut saya sangat kekanak-kanakan meskipun umurnya sudah mendekati 30 tahun dan karir dalam pekerjaannya cukup bagus. Jalan pikiran yang selalu ingin menang sendiri, dipadukan dengan sikap emosional yang selalu ingin cari perhatian, dan cara hidup hedonisnya; menurut saya sudah merupakan kombinasi maut bagi pembaca, khususnya yang sangat rasional dan malas berperasaan-sana-perasaan-sini, untuk membencinya. Apalagi buat pembaca pria (kalau ada pria yang membaca buku ini), pastilah tipe wanita seperti ini sangat-sangat jauh dari ideal. Shopaholic plus workaholic, tak bisa memasak, hidup semrawut, emosional, suka berburuk sangka soal asmara. Lengkaplah sudah. Belum lagi bom mautnya tentang profesi kedokteran, di mana dalam beberapa kesempatan ia jelas-jelas sangat egois dan memelesetkan sejumlah isi sumpah Hippocrates, makinlah dokter jadi profesi yang dibenci di Indonesia. Sementara Beno, sang dokter bedah jantung, juga tipe yang pastinya dibenci wanita, khususnya jika wanitanya tidak mengerti dunianya dokter. Ini buktinya: Tak pernah di rumah di jam bangun normal, senang membicarakan pasien di rumah, ditambah gayanya yang teramat lurus tak romantis, pastinya bukan tipe ideal wanita pada umumnya (meskipun -katanya- ganteng).

Cara Ika menutup cerita ini juga unik. Terbuka menggantung, tetapi jelas mudah ditebak ke mana arahnya. Terlebih, ketika mulai membuka halaman 2 dari buku Twivortiare, terjawab sudah apa yang terjadi setelah halaman 320 buku ini.

Jadi akhir kata, jika kalian adalah wanita karir dan hidup di Jakarta, dan semua kelemahan yang ada di buku ini bisa kalian abaikan, pasti suka dengan buku ini. Karena apa yang diulas dalam buku ini lumrah terjadi, mungkin terjadi, dan memang bisa saja terjadi pada diri siapa saja yang hidup di tengah karir dan keramaian di Jakarta.

 

My ratings

  • Story 6/10
  • Excitement 8/10
  • Readers grasp 7/10
  • Tagline association 6/10
  • Moral value 5/10
  • Personal Goodreads Rating 2/5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s