Mati, Bertahun yang Lalu (Soe Tjen Marching, 2010)


Identitas Buku

Judul buku: Mati, Bertahun yang Lalu
Penulis: Soe Tjen Marching
Genre: Fiksi, filsafat, sosiologi, antropologi
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 172 halaman
Terbit: Oktober 2010
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-6345-9

 

 

 

 


Sinopsis Official

Seorang karyawan klinik bedah plastik yang rajin tiba-tiba mati di meja kerjanya. Namun energi jiwanya tidak padam sehingga ia bangkit kembali dan berusaha menjalani hidup seperti manusia normal. Ternyata sulit sekali berpura-pura menjadi hidup. Ia tidak boleh lupa bernapas dan mengedip-ngedipkan mata agar orang-orang yang berada di dekatnya tidak curiga. Dalam keletihan menjadi mayat hidup, ia memutuskan untuk meninggal saja dengan cara bunuh diri. Tapi sial, rencananya juga tak berjalan lancar. Saat berusaha mencari mati yang sesungguhnya, ia kemudian dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dan anehnya “menghidupkan”.

Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

Setiap halamannya mencengangkan. Soe Tjen melakukan defamiliarisasi radikal atas berbagai aspek hakiki dalam mati dan hidup kita. Humornya berpaut dengan satir, membuat kita tertawa dalam rasa sakit yang ditimbulkan oleh kesadaran akan betapa lucunya–sekaligus tragisnya–eksistensi kita ini… Belum pernah saya menjumpai novel yang daya guncangnya sebesar Mati, Bertahun yang Lalu ini.
—Manneke Budiman

Gaya penulisan seperti ini sudah jarang kita temukan dalam khazanah kesusasteraan sekarang. Mungkin karena penulis-penulis kita lebih terpukau oleh permainan bentuk dan kata sehingga mereka telah kehilangan kemampuan untuk membidik langsung ke jantung sebuah eksistensiale.
—Richard Oh

Dalam novel Mati, Bertahun yang Lalu, Soe Tjen mencatat bahwa kematian tak sesederhana konsep surga-neraka yang selama ini dikenal di beberapa ajaran agama.
—Ratih Kumala

Resensi

Bayangkan bagaimana kesan pertama kita ketika membaca judulnya? Buku ini seolah adalah buku yang menceritakan tentang hidup dan mati dari sudut pandang orang mati. Begitu pula kesan yang saya tangkap ketika pertama kali melihat sampul bukunya di toko buku online. Penasaran ini bertambah ketika ternyata buku ini baru dicetak sekali dan sampai kini baru sekali itu saja, seolah-olah bukunya tidak terlalu laku seperti best-seller (asumsi saya, buku bukan best-seller itu biasanya misterius, dan tentu, menarik!). Kontradiksi antara tema yang unik dan asumsi buku bukan best-seller adalah faktor yang membuat saya tertarik menelusurinya lebih lanjut.

Benar saja. Sejak mulai membaca buku ini, aura kematian dan kegelapan kian dekat.

Rasa penasaran sontak terusik ketika selesai membaca bab pertama yang seolah menggambarkan suasana hati dan pikiran orang depresi. Sebetulnya kita hidup ini untuk apa, mengapa kita demikian ingin mempertahankan hidup sementara ada orang yang benar-benar ingin mati, dan semua pertanyaan ikutan akan diulas satu per satu di bab-bab selanjutnya. Saya sempat khawatir buku ini tak ubahnya seperti buku-buku ungkapan hati orang depresi, tetapi tampaknya saya keliru. Bab dua ternyata dibuka dengan mengulik masalah bahasa sebagai upaya manusia membuat kehidupan menjadi refleks yang seolah tak perlu direfleksikan, suatu hentakan kuat bagi kesadaran kita tentang hidup di dunia. Baca lagi, dan lagi, maka kita akan semakin ingin merefleksikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi.

Mati, Bertahun yang Lalu adalah buku surealis pertama saya. Sebagai buku yang mengambil tema dark yaitu kematian, buku ini memang berpotensi kuat bikin bingung. Tebalnya memang minimalis hanya 160 halaman, kalau niat bisa selesai sebentar saja, tetapi untuk memahami dan mengambil intisari buku ini tentu tak semudah itu. Ada kalanya perlu membaca ulang. Dipadukan dengan ekspresi satir ironik tentang Orde Baru, isu rasisme dan mayoritas-minoritas, serta beberapa perspektif hidup yang tidak lazim; buku ini pun siap menjadi pelampiasan dan tumpahan kekecewaan hidup nan depresif yang berselang dengan ekspresi berani tentang sesuatu yang mungkin tak pernah kita bayangkan berani disampaikan oleh seorang penulis. Melihat latar belakang Ibu Soe Tjen Marching, memang tak heran jika beliau mengambil topik-topik itu untuk dipadukan menjadi suatu gambaran kegetiran kehidupan masa itu.  Namun tidak hanya berkutat di sana, Soe Tjen berhasil membawa konteks kisah ini secara lintas-generasi, tak hanya di Orde Baru tapi relevan juga di zaman kini.

Perihal alur, memang buku ini perpaduan semuanya, lengkap. Di awal buku, alur terkesan sangat lambat. Hingga pertengahan, bahkan sampai buku mencapai 70%, alurnya masih lambat. Tetapi di bagian akhir, setelah salah satu checkpoint  (yang tentu tidak akan saya bocorkan apa itu), kecepatan alurnya jelas meningkat, lalu melambat lagi di bab terakhir. Sehingga kita mungkin tak sempat berpikir kalau kita hanya buru-buru ingin menuntaskan buku ini.

Sampul buku yang bergambar kue tar, berwarna pink, rasanya cukup menggambarkan ironi hidup-mati yang memang dikupas habis. Dari sudut pandang saya, kue tar di sini menggambarkan ulang tahun; yang memang terkadang lucu. Dirayakan dengan ucapan panjang umur, tetapi justru sebetulnya setiap ulang tahun kita memang semacam diingatkan bahwa kini kita sudah lebih dekat dengan kematian daripada ulang tahun sebelumnya. Lalu warna pink, yang biasanya menggambarkan keindahan dan rasa cinta; memang sering bersifat semu dan ada maunya, sehingga kerap kali ketika cinta itu hilang maka timbullah rasa putus asa dan ujungnya bisa berakibat pada keinginan teramat sangat untuk meninggalkan kehidupan. Demikian juga dengan bunga-bunga, yang kerap dilambangkan sebagai bentuk cinta dan kehidupan.

Barangkali, di akhir buku kita tak menemukan jawab atas tanya yang sejak mula menggelora. Mungkin ada yang penasaran siapa sebetulnya tokoh “aku” di buku ini? Tak pernah dideskripsikan secara jelas siapa sebetulnya “aku”, namun kita bisa menilik bahwa “aku” sebetulnya adalah… Baiklah, rasanya jawaban ini sangat tergantung persepsi masing-masing orang.

 

My ratings

  • Story 9/10
  • Excitement 8/10
  • Readers grasp 8/10
  • Tagline association 8/10
  • Moral value 7/10
  • Personal Goodreads Rating 4/5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s