Dua Tangis Sejuta Damprat (Aris Darmawan, 2012)


Identitas Buku

9a029-img-duatangissejutadamprat-001Judul buku: Dua Tangis Sejuta Damprat
Penulis: Aris Darmawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Genre: Non-fiksi, inspirasi
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 212 halaman
Terbit: 19 Desember 2012
Cover: Soft Cover
ISBN: 978-602-02-0161-0

 

 

 

 

 

Sinopsis Official

Dua Tangis Sejuta Damprat adalah judul buku untuk ulasan twiter Dahlan. Lucu dan penuh inspiratif.

Mulai dari hal-hal sepele tetapi jika digali penuh makna, bagaimana menjadi pemimpin perusahaan plat merah sebesar BUMN yang asetnya lebih dari 140 triliun rupiah. Dahlan memang manusia langka yang bisa memberi inspirasi siapa pun yang ingin maju. Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis dari Kalimatan Timur Pos. Luar Biasa.

Editor’s Note: Tokoh yang ditulis sangat terkenal, Dahlan Iskan. isi buku sangat menghibur, penuh humor.

Resensi

Kalian termasuk kaum pembenci Dahlan Iskan?

Kalian menganggap Pak Dahlan sok sederhana, pura-pura bersih padahal korup?

Kalian meyakini bahwa Pak Dahlan adalah Bapak Pencitraan Politik Indonesia?

Kalian memandang Pak Dahlan sombong karena merasa dapat kesempatan hidup kedua setelah pemuda China itu menyelamatkannya dari ancaman maut kanker hati?

Jika pertanyaan itu diajukan ke saya, jawaban saya untuk semua pertanyaan tersebut di tahun 2012 adalah ya.

Tapi saya sadar. Bahwa manusia perlu belajar menjadi dewasa.

Menjadi dewasa bukan menyoal umur doang. Umur cuma semacam patokan absolut berupa angka yang mengingatkan sudah berapa lama waktu berlalu sejak ibu kita melahirkan kita ke dunia. Urusan kedewasaan itu beda lagi.

Menjadi dewasa itu, salah satunya adalah mampu melepaskan rasa ketidaksukaan tanpa dasar dan mengeksplorasi alasan ketidaksukaan yang sebenarnya itu apa. Itulah yang saya lakukan dengan membaca buku yang inspiratif dan lucu ini. Saya sadar bahwa ketidaksukaan tanpa dasar itu kekanak-kanakan. Dan saya harus menyelidiki apa sih yang bikin saya menjawab ya untuk semua pertanyaan di atas.

Tapi uniknya, tidak hanya saya yang merasa perlu belajar menjadi dewasa.

Menjadi dewasa itu, salah duanya adalah mampu menertawai diri sendiri ketika menengok ke masa lalu. Inilah yang Pak Dahlan Iskan lakukan dengan menyuarakan apa yang dirangkum Aris Darmawan, dalam buku yang satu ini.

Dan uniknya lagi, itulah yang tampaknya membuat saya menyukai buku ini!

Siapa yang tidak ingat berbagai sepak terjang Pak DIS (nama inisial jurnalistik dari Pak Dahlan Iskan), sang mantan menteri BUMN dan ex-dirut PLN sekaligus penulis jurnalis humoris yang gemar balapan?

Mulai dari naik ojek saat buru-buru, kecelakaan saat mengujicoba mobil listrik, membuka gerbang tol sendiri saat petugas lagi tak ada? Boleh jadi kita geram melihatnya, saya juga. Boleh jadi kita berpikir dia sedang pencitraan, saya juga. Boleh jadi kita berpikir dia begitu sombongnya setelah menerima hati anak muda China itu, saya juga. Tapi pernahkah kita coba berpikir sebetulnya apa yang dia pikirkan ketika melakukan itu semua? Dan puncaknya, mengapa akhirnya dia “rela” tidak jadi mencalonkan diri sebagai presiden di saat orang berpikir itulah saat yang tepat buatnya untuk maju?

Jujur saja inilah kali pertama saya mengenal bagaimana tulisan-tulisan Pak DIS yang sebenarnya. Maklum bukan warga Jawa Timur. Tapi jangan heran kalau teman-teman asal Jawa Timur sepakat memuji Pak DIS: Tulisannya bagus. Kita semua warga Surabaya Malang dan Madiun gemar membaca Jawa Pos berkat Pak DIS. Dan puncaknya waktu mereka bilang bahwa tulisan Pak DIS begitu menarik, bisa dibaca semua kalangan. Uh… Saya yang tadinya tidak suka dengan tingkah polah mirip pencitraan belagu Pak DIS, pun jadi penasaran. Seperti apa sih tulisan Pak DIS?

Dan…

Awalnya saya bingung melihat dua buku dengan judul serupa tapi beda ibu. “Dua Tangis Seribu Tawa” dan “Dua Tangis Seribu Damprat”. Dilihat dari sampulnya saja ketahuan kalau yang belakangan itulah versi yang agak-agak gimana karena sampulnya bergambar kartun: Pak DIS menenteng burung Twitter di bahunya, dengan gaya seperti SBDGH (gak perlu saya jelaskan apa itu SBDGH, pasti semua udah tau). Mari kita coba dari yang ringan dulu deh, kata saya kepada diri sendiri.

Meskipun bentuknya lebih seperti kliping dari artikel-artikel karyanya dalam beberapa tahun terakhir (dihitung dari 2012), kita bisa menyerap bagaimana pola pemikiran Pak DIS dalam menghadapi berbagai masalah, dari buku ini saja. Pola pemikiran yang sebetulnya sederhana. Namun dengan gaya khasnya, Pak DIS selalu tak lupa menyindir. Menyindir siapa saja kek: Tuhan, pembesar negara, politikus, sampai dirinya sendiri pun tak luput dari sindiran. Namun di sisi lain: Kegaptekannya, ketidakpeduliannya soal tanggal lahirnya yang misterius, kegemarannya mengusili orang, sampai eagerness-nya menulis, barangkali bisa jadi sumber inspirasi! Apalagi semua itu coba dia ungkapkan dengan polos dan gaya bahasa bersahaja. Dan tak lupa sedikit dibumbui supaya lucu. Dengan ini, kita pun mulai kebingungan. Sebetulnya Pak DIS lagi pencitraan atau tidak ya?

Membaca buku ini butuh perjuangan buat saya. Baru maju beberapa lembar, mata lelah menghampiri (mungkin karena kelelahan? Dan yang saya baca ini e-book, bukan fisik. Tapi percayalah saya membeli buku ini. Bukan bajakan kok). Maka itulah saya butuh waktu agak lama untuk menyelesaikannya. Namun kecepatan baca yang pelan ini membuat saya lebih bisa menikmati dan mencoba melihat sisi pemikiran Pak DIS yang belum pernah saya ketahui dan pandangi sebelumnya. Betul-betul proses pendewasaan bagi seorang mantan penyinyir Pak DIS, hihi.

Beberapa lembar buku ini benar-benar mengupas ulang habis prinsip hidup yang mungkin tak sengaja kita lupakan. Soal BBM dan demo, siapa sangka ternyata sebelum fenomena kenaikan harga BBM dan pengaturan era 2015 ini, Pak DIS pernah, seolah-olah, menjadi cenayang dan mengungkapkan apa tindakan pemerintah setelah tahun 2012 dalam menyikapi harga minyak? Lain lembar, kita diajak memilah antara logika dan nyinyir. Misalnya soal kaitan harga listrik dan harga cabe. Beberapa lembar lain benar-benar mengocok perut ketika Pak DIS menayangkan perumpamaan yang, anehnya, tak terpikir oleh kita. Bayangkan saja, siapa yang berpikir kalau label uang di laporan akuntansi bisa dianalogikan jenis kelamin dan uang “gajebo” bisa dianalogikan bencong? Atau soal sejarah motto “Kerja! Kerja! Kerja!”-nya yang legendaris itu, ternyata… Atau gaya bisik-bisiknya yang sok rahasia tapi ternyata justru diteriakkan keras-keras. Soal bisnis dan tanggung jawab sosial tak luput juga dari serbuan Pak DIS, saat membahas media dan institusi kebutuhan pokok dengan urusan go public

Soal identitas, jangan lupakan bagian pembukaan buku ini juga. Tentu kocak ketika mengingat bagaimana pola pikir Pak DIS saat orang-orang demam ponsel, namun satu hal yang mana ia berbeda dengan orang kebanyakan, adalah dia tahu kapan harus ikut orang, dan kapan tidak. Dan terpenting lagi, soal pencitraan. Terserah apa kesan kalian setelah membaca buku ini, namun tampak bahwa dalam beberapa kesempatan di Twitter, Pak DIS seolah tak peduli dikata munafik, sok sederhana, zalim, korup, dan suka mengalihkan isu perihal macam-macam. Beda dengan tokoh nasional lain yang kerap menjaga mukanya di depan insan pers, Pak DIS yang adalah bagian tak terpisahkan dari insan pers malah sanggup menertawai wajahnya yang menghitam karena sakit, dan main spontan saja dalam berpikir bertindak dan berkoar.

Jadi, bisa ditebak bagaimana pemikiran saya sekarang tentang Pak DIS.

Selamat membaca, dan setelah itu, selamat menebak pemikiran saya!

Miscellaneous

4-star

How to Get This Book

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s