The Almost Nearly Perfect People: Behind the Myth of Scandinavian Utopia (Michael Booth, 2014)


Identitas Buku

almost nearly perfect people

Book title: The Almost Nearly Perfect People – Behind The Myth of Scandinavian Utopia
Alternative title: The Almost Nearly Perfect People – The Truth about The Nordic Miracle
Author: Michael Booth
Cover: Paperback
Publisher: Jonathan Cape
Release date: February 6, 2014
Language: English
ISBN-10: 0224089625
ISBN-13: 978-0224089623
Product Dimensions: 6 x 1.2 x 9.2 inches

Sinopsis Official

The whole world wants to learn the secrets of Nordic exceptionalism:

Why are the Danes the happiest people in the world, despite having the highest taxes?

If the Finns really have the best education system, how come they still think all Swedish men are gay?

Are the Icelanders really feral?

How are the Norwegians spending their fantastical oil wealth?

And why do all of them hate the Swedes?

Michael Booth has lived among the Scandinavians, on and off, for over ten years, perplexed by their many strange paradoxes and character traits and equally bemused by the unquestioning enthusiasm for all things Nordic that has engulfed the rest of the world, whether it be for their food, television, social systems or chunky knitwear.

In this timely book he leaves his adopted home of Denmark and embarks on a journey through all five of the Nordic countries to discover who these curious tribes are, the secrets of their success and, most intriguing of all, what they think of each other.

Along the way a more nuanced, often darker picture emerges of a region plagued by taboos, characterised by suffocating parochialism and populated by extremists of various shades. They may very well be almost nearly perfect, but it isn’t easy being Scandinavian.

Resensi

Benarkah warga Skandinavia adalah kelompok manusia paling sempurna dan berbahagia di muka bumi? Barangkali pertanyaan itulah yang membuat orang-orang tertarik membaca buku non-fiksi karya Michael Booth ini.

Booth, yang merupakan seorang wartawan Inggris, sekaligus travel writer yang beristrikan wanita Denmark; mencoba menguraikan hasil wawancaranya, penyelidikannya, pengetahuannya, plus bumbu kelucuan dan satirisme tentang lima negara di zona Eropa Utara; dalam buku setebal hampir 400 halaman ini. Adapun, buku ini dibuat oleh penulis Britania, yang entah mengapa selalu bikin saya (yang kemampuan British English-nya minim ini) pusing dan sebentar-sebentar harus buka kamus. Tapi berhubung ini Kindle, tertolong deh ada kamusnya :)… Nah, menariknya lagi; berhubung belum ada satu pun ringkasan atau ulasan soal buku ini dalam bahasa Indonesia, sepertinya tulisan saya bakal jadi ulasan berbahasa Indonesia pertama tentang buku ini, setelah membacanya (dengan perlahan dan hanya di waktu senggang) dalam kurun waktu 6 minggu.

Awalnya saya sempat tertarik dengan frasa yang dipakai di bagian awal judul buku ini. Almost nearly? Bukankah kedua kata itu sama saja artinya? Ah, mungkin bukan itu kesan pertama yang paling menarik. Namun hal yang saya anggap paling menarik, adalah upaya Booth untuk mengupas fakta dan latar belakang di balik kesan bahagia dan sempurna yang terlihat dari warga Skandinavia di mata internasional.

Lima bagian buku ini, dimulai dari Denmark dan berakhir di Swedia, tidak lantas membuat negara-negara dingin ini “berdiri sendiri”. Tetap saja ada keterkaitan satu bangsa Skandinavia dengan rekan negara tetangganya, baik itu diulas tanpa sengaja, ataupun memang mendapat porsi bab tersendiri. Wawancara dan eksperimen sosial kerap mewarnai perjalanan kita mengelilingi negara-negara ini, meskipun memang wawancaranya terkesan ada yang kurang, tapi sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Buku ini jelas menyajikan segudang pengetahuan baru soal Skandinavia, yang tentunya akan sangat menarik jika kita memiliki minat sosiologi/antropologi, politik/hubungan internasional, budaya, ataupun sejarah. Mulai dari soal kebiasaan melepas alas kaki di Swedia dan polemiknya, pandangan politik di Norwegia, pelitnya orang Finlandia berkata-kata, begitu hormatnya bangsa Denmark dengan bendera mereka, sampai demikian percayanya orang Islandia dengan takhyul; dan bagaimana dominasi partai politik di Swedia, semua digeber dengan jelas. Bahkan, kalau perlu diberi bumbu guyonan, yang terkadang memberi efek kesan satir. Tapi di balik “kekasaran” satir yang dilemparkan, saya harus memuji niat Booth untuk mengumpulkan demikian banyak fakta. Betul-betul niat! Berkali-kali, saya merasa ditantang, “apa kamu tahu A? Sudah pernah baca? Kalau belum, baca dulu sana!” Nah, ini juga yang membuat saya memilih membaca buku ini dengan perlahan saja.

Sejumlah bagian menarik di buku ini membuat saya enggan berhenti karena penasaran. Ambil contoh, ketika Booth menggambarkan konsep Jante’s Law, hygge, dan folkelig di Denmark. Pilihan “kebahagiaan semu atau asli” yang disajikan di muka tentu membuat penasaran soal apa yang dipikirkan mereka. Contoh lain lagi, soal eksperimen kepatuhan rakyat Swedia terhadap peraturan, yang jujur saja, hasilnya sesuai dugaan tapi bisa dibungkus dengan lucu. Dan, ketika bicara soal lucu, jangan lupa mengecek bab Sauna di bagian Finlandia.

Barangkali buat warga setempat, buku ini bisa dibilang kasar, atau terlalu menonjolkan hal-hal negatif. Tapi menurut saya, justru atas alasan itulah buku ini ada: Booth ingin menjelaskan bahwa Skandinavia tidak sesempurna bayangan global saat ini, mereka pun memiliki kelemahan, dan masalah-masalah; tak ubahnya negara lain.

Kita mulai perjalanan dari Denmark. Beristrikan orang Denmark membuat Booth paling getol menghabiskan “jatah space” buku ini di negeri Little Mermaid ini, di bab-bab awal. Mulai dari urusan bacon/daging babi sampai bendera dikupas tuntas sehabis-habisnya. Namun, tetap saja ada inti permasalahan yang diangkat di bagian Denmark, yaitu “benarkah mereka negara paling bahagia di dunia” dan “seberapa besar pajak yang mencapai hingga 72% penghasilan bisa memberangus kebahagiaan sejati warga Denmark”. Ada apa di balik kebahagiaan yang selama ini dipamerkan warga Denmark lewat berbagai survei? Temukan semua jawabannya.

Berlanjut ke Islandia. Negara kecil berpenduduk hanya sekian ratus ribu ini memang sangat mengandalkan tangkapan ikan sebagai sandaran ekonomi, namun di luar urusan pemandangan alam yang luar biasa, ternyata warga Islandia amat percaya takhyul. Siapa sangka mereka begitu yakin bahwa Elf itu nyata? Soal tumbangnya ekonomi, urusan bank, hingga minimnya kebanggaan menjadi warga Islandia; turut dibahas dalam bab terkecil di buku ini.

Norwegia, yang digambarkan sebagai “si malas dari Nordic”, sudah dikenal memiliki alam yang menarik, harga barang yang amat melambung, dan ibukota negara yang tampil beda. Dalam hal pandangan politik luar negeri; Booth banyak mengupas sisi gelap Anders Breivik dan tragedi bom 2011, bahkan bahasan ini bisa dibilang dominan ketimbang yang lain. Namun kemudian, soal minyak bumi dan aspek ekonomi negara mengambil alih sebagai topik utama bahasan. Menarik jika kalian ingin tahu seberapa dahsyat efek pengeboran minyak di ujung utara bumi terhadap kekayaan negeri yang terkenal dengan fjord-nya ini.

Berlanjut ke negeri Skandinavia-iya-Baltik-juga-iya, Finlandia yang begitu lengang ternyata menyimpan misteri. Warganya begitu bisa dipercaya meskipun pendiam dan cenderung suka berkomunikasi dengan bahasa kalbu. Namun, Booth menyoroti beberapa hal utama yang dipegang bangsa Finlandia. Yang pertama adalah bahwa mereka teguh memegang janji dan bisa diandalkan meskipun tak banyak mengumbar kata-kata indah. Yang kedua adalah bahwa mereka memiliki kebiasaan unik soal alkoholisme. Yang ketiga, emansipasi wanita amat penting di Finlandia; dan yang keempat adalah bahwa guru adalah pekerjaan paling bergengsi bagi negeri Nokia ini. Jangan lupa pula yang kelima, bahwa mereka punya prinsip “sisu”, yang menjadikan mereka mampu bergerak dan berbuat sesuatu tanpa banyak omong. Di samping fakta bahwa Finlandia juga terkenal dengan saunanya yang amat berbeda (jujur, Booth bisa menjelaskan bagian Sauna dengan amat lucu!), ternyata Finlandia memiliki “hubungan unik” dengan Swedia dan masa lalu yang erat dengan Rusia. Jangan kaget pula, jika Booth kemudian mengakui bahwa ia ternyata paling menyukai Finlandia dibanding empat Nordik lainnya.

Perjalanan berakhir di Swedia. Stockholm berani menyebut diri mereka the capital of Scandinavia. Tapi ternyata, di balik idealnya hidup warga Swedia di mata internasional, mereka menyimpan masalah kekakuan peraturan dan riwayat politik agak mencengangkan (jika kita belum pernah tahu soal ini). Secara pribadi, warga Swedia terkesan sangat independen, amat patuh terhadap peraturan, namun tak mau mengumbar emosi berlebihan. Sementara secara negara, Swedia diceritakan kurang terkesan dengan raja mereka, dan ternyata… Masalah yang mereka hadapi cukup kompleks dan sebetulnya tak jauh beda dengan beberapa negara lain di Eropa: Temukan dan kita bisa saja terkejut sendiri karena semua ini tidak terlihat sama sekali dari dunia luar.

Booth kerap menyebut Swedia sebagai primadona sekaligus musuh yang dijadikan sasaran dengki bertopeng rivalitas dengan keempat bangsa Skandinavia lainnya. Swedia adalah negara terbesar di antara keempat bangsa lainnya, dan tentu saja menjadi pintu yang membuka dunia luar dengan Skandinavia. Namun soal interaksi antarbangsa Skandinavia, Booth tidak hanya berpusat dan berhenti pada Swedia. Semisal dari hasil risetnya, warga Islandia menaruh kekaguman pada Denmark; dan dendam Finlandia serta Denmark terhadap Swedia kalau kedua negara dipaksa bertarung di suatu ajang. Dan yang terakhir, tiga bangsa takjub dengan bahasa Finlandia dan Islandia: Yang sama sekali beda dengan bahasa mereka. Namun, sebagai penutup, Booth menyadari bahwa bisa saja ia keliru dalam menganalisis dan menggeneralisasi fakta yang ada seputar Skandinavia, karena posisinya tetaplah sebagai orang Britania.

Bagaimana? Tertarik mendalami lima sekawan seregional ini dari sudut pandang Booth?

 

Miscellaneous and Ratings

4-star

How to get this book?

  • Amazon.com
    • Paperback: USD 10.62 (belum termasuk ongkos kirim via pos internasional)
    • Kindle edition: USD 9.99

Postingan yang ada hubungannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s