Kubunuh di Sini (Soe Tjen Marching, 2013)


Identitas Buku

kubunuh-disini-front-back

Judul buku: Kubunuh Di Sini
Pengarang: Soe Tjen Marching
Genre: Inspirasi, motivasi, biografi, sosiologi, antropologi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Terbit: September 2013
Tebal: 262 halaman
ISBN: 9789799106223

Sinopsis Official

Sekarang aku pulang. Ke Indonesia. Tapi apakah hidupku hanya untuk ini? Bertahan dan bertahan selama mungkin, dan kemudian aku akan habis tak bersisa lagi?

Selamat dari serangan kanker tiroid, Soe Tjen Marching kembali menemukan benjolan di antara tulang punggung—gumpalan yang menimbulkan kesakitan luar biasa dan menjadikan dia seperti bukan manusia. Namun, menolak takluk pada keadaan dan penyakit yang menyerbunya, Soe Tjen memperlihatkan, hidup bukan hanya sebatas untuk bernafas, untuk bertahan lalu habis tak bersisa.

Buku ini bercerita tentang pasang surut kehidupan Soe Tjen, pengajar di universitas terkemuka di Australia dan Inggris, dalam bertarung dengan penyelinap ganas di tubuhnya. Dituturkan di dalamnya bagaimana di tengah deraan rasa sakit Soe Tjen tetap menggerakkan kelompok diskusi pluralisme Bhinneka. Dengan rasa humor dan pengamatan yang tajam, Soe Tjen juga menulis pengalaman menerima layanan kesehatan yang berbeda di tia negara tempat ia tingal—Indonesia, Australia, dan Inggris—mulai dari sikap para dokternya, perawat, hingga menu di rumah sakit. Interaksi antar-pasien, antar-warga, dan antar-manusia baik di dunia kesehatan maupun dunia akademik semua diceritakan dengan lugas dan jernih. Buku ini bukan hanya mengusik rasa haru, tetapi juga memelihara kesadaran bahwa derita dan ceria senantiasa hadir bersama.

Resensi

Ini barulah buku “semi-biografi” penyintas kanker kedua yang saya baca setelah buku bertema sama dari Mba Feby Indirani atas kisah dari Ibu Indah Setiawan dan sarkoma Ewing-nya. Setelah membaca novel Bu Soe Tjen Marching yang juga mengangkat tema “dekat dengan kematian” yang pernah saya post di bulan Januari 2015, saya penasaran soal konsep hidup dan mati yang benar-benar digambarkan oleh beliau dengan sangat menarik namun mudah ditangkap baik. Jadi, saya pun membaca buku ini di versi Gramediana-nya. Namun buku ini bisa saya katakan sebagai buku yang mengusung intisari sedikit berbeda dari cerita-cerita para penyintas kanker yang umumnya pernah saya baca (resensi/ringkasan/sekilasnya). Mengapa berbeda, akan saya bahas.

Jika pengalaman penyintas kanker umumnya dihadirkan berupa kisah kekagetan ketika menerima kabar diagnosis, derita saat menghadapi efek samping pengobatan, pesimisme sekaligus optimisme yang diurai silih berganti selama terapi berlangsung, soal kekambuhan, dan soal orang-orang dekat; buku ini malah menyoroti sisi sosial budaya yang menurut saya unik.

Situasi saat Ibu Soe Tjen menerima diagnosis kanker pertama kali di tahun 2001 itu, digambarkan seolah sang pasien tengah berdialog dengan si penyakit, sambil mengumbar kekecewaan, amarah, dan keinginan mendalam untuk mengalahkannya. Demikian terus konsisten, hingga akhir buku, di mana beliau sudah terkena kanker 3 kali dan tumor-jinak-tersangka-kanker 1 kali.

Tapi, Ibu Soe Tjen yang merupakan aktivis sosial sekaligus salah satu pendiri majalah Bhinneka ini tak melulu berkutat dengan penyakitnya. Sisi lain yang sebetulnya orang Indonesia perlu tahu, yaitu soal bagaimana menilik layanan kesehatan dari sisi pasien; dibahas habis-habisan di sini; dengan membandingkan sistem di tiga negara sekaligus yaitu Indonesia, Australia, dan Britania Raya (Inggris). Inilah yang bikin buku ini beda dengan memoir penyintas kanker pada umumnya. Lalu ciri khas lainnya: Sudah barang tentu, soal diskriminasi, antropologi, dan stratifikasi sosial; yang selalu menjadi titik kritis buat Ibu Soe Tjen, tak lupa diselipkan.

Jadi, selain membuka wawasan kita soal kegalauan isi pikir seorang pasien kanker, apalagi yang telah didiagnosis kanker berkali-kali; kita juga jadi tahu tentang sistem kesehatan di negara maju. Ternyata, tak semua yang terlihat indah memang indah adanya, lho. Dan terlebih lagi, dengan adanya bahasan dari “multi-genre” ini, kita jadi paham latar belakang mengapa sistem kesehatan suatu negara bisa seperti itu. Bagaimana situasi sosiologi-antropologi dan politik di suatu negara, ketika dikaitkan dengan sejarah, bisa menjelaskan mengapa petugas layanan kesehatan bisa demikian koordinatif, atau justru sebaliknya, demikian jago bermain tenis meja.

Siapa yang pernah berpikir secara mendalam atau menganalisa, mengapa konservatif-nya pemerintah bisa berdampak demikian hebat di bidang kesehatan? Nah, buku ini membahasnya dengan cukup dalam, namun dalam bahasa yang mudah dicerna orang yang awam sosiologi sekalipun seperti saya. Negara maju, umumnya sudah punya integrasi identitas yang sudah demikian sinkron, namun ini bisa dimanfaatkan pemerintah untuk tanpa ampun “menghukum” dan menghakimi orang asing yang sakit sebagai penguras uang negara, dan petugas layanan kesehatan bisa saja dengan seenaknya melempar-lempar pasien tanpa kejelasan juntrungannya. Ketika mengkritisi penguasa, Ibu Soe Tjen juga tak segan mengeluarkan sebutan-sebutan yang tajam namun tidak sampai terdengar seperti makian. Salah satu yang kena adalah John Howard, ex-PM Australia yang disebut-sebut konservatif, sekaligus kejam, ditambah lagi rasis (mengutip dari isi buku ini). Penguasa Inggris turut tersenggol, namun siapakah penguasa yang dimaksud? Silakan cari tahu sendiri di buku ini ya 🙂

Dan jangan kaget pula ketika Ibu Soe Tjen membandingkan makanan, perangai dokter, kelakuan suster, dan gelagat rekan-rekan pasien di tiap rumah sakit yang pernah ia singgahi selama terapi kankernya. Di sini pun kita bisa belajar bahwa ketika hal buruk menghampiri, kita masih bisa menikmati dan mengamati hal-hal lain yang bisa kita interpretasikan sebagai hal yang positif; dan mengapresiasinya sebagai bagian dari kehidupan yang berharga.

Nah, sampai di sini, konsep soal hidup-mati tetap terlihat sama benang merahnya dengan buku Mati, Bertahun yang Lalu; namun saya melihat buku ini mencoba menyajikannya dengan jauh lebih positif dan membuat orang di sudut berseberangan dengan penulis tidak merasa sedang berhadapan dengan orang depresi.

Akhir kata, buat yang suka membaca sicklit (atau apalah istilahnya, intinya, yang suka membaca buku tentang testimoni orang sakit) dan mengharapkan drama; jangan terlalu berharap banyak dengan buku ini. Namun, justru jika kalian penasaran dengan kaitan antara aspek sosiologi dan antropologi dengan sistem kesehatan suatu negara; khususnya dalam penanganan pasien kanker; buku ini bisa jadi referensi yang komprehensif dan menarik untuk disimak. Jangan kaget bila terkadang kita bosan membacanya, apalagi buat yang malas berpikir soal sosial-politik; tapi jangan putus asa. Di akhir tiap ulasan, selalu ada kesimpulan yang menggiring kita kembali ke jalur utama cerita.

Miscellaneous & Ratings

  • Tentang Soe Tjen Marching: [Twitter]
  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Gramediana/SCOOP
  • Kubunuh Di Sini on Goodreads
  • My ratings 4/5 (Goodreads), 8/10 (Personal)

4-star

  • How to get this book: Bukabuku.com Rp 36.800 belum termasuk ongkos kirim
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s