David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants (Malcolm Gladwell, 2013)


Identitas Buku

davidgoliath

Judul buku: David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Little, Brown, and Company
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 316 halaman
Terbit: November 2013
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-9954-0

Sinopsis Official

In his #1 bestselling books The Tipping Point, Blink, and Outliers, Malcolm Gladwell has explored the ways we understand and change our world. Now he looks at the complex and surprising ways the weak can defeat the strong, the small can match up against the giant, and how our goals (often culturally determined) can make a huge difference in our ultimate sense of success. Drawing upon examples from the world of business, sports, culture, cutting-edge psychology, and an array of unforgettable characters around the world, David and Goliath is in many ways the most practical and provocative book Malcolm Gladwell has ever written.

Resensi

Bingung mengapa terkadang seseorang yang tidak diunggulkan bisa memenangkan pertarungan melawan unggulan pertama? Atau mengapa justru kita sering mengharapkan kejutan dari non-unggulan dalam suatu pertandingan olahraga? David and Goliath, buku karya Malcolm Gladwell di tahun 2013; mencoba menjelaskan fenomena ini secara ilmiah. Ya, terlepas dari kenyataan bahwa buku ini terkenal dengan kontroversinya, tapi poin-poin yang digarisbawahi Gladwell dalam buku ini cukup menjadi pengingat serius buat para pembacanya. Saya pun bisa menyatakan bahwa sebetulnya konsep buku ini bisa menjadi salah satu titik tolak motivasi kreativitas.

Gladwell memulai bukunya dengan menjelaskan bahwa manusia cenderung suka membandingkan diri dengan orang lain yang terlalu superior. Hal ini mungkin tidak secara sadar dilakukan manusia itu sendiri, namun tuntutan dari orang tua atau guru bisa jadi faktor pendorong mengapa koq membanding-bandingkan itu harus dengan orang yang sangat-sangat superior, di mana kita sudah pasti kalah? Nah, hal ini disebut-sebut sebagai penghalang buat kita untuk mencapai potensi maksimal; karena mau tidak mau paksaan ini membuat kita terpaku pada sisi lemah kita dibandingkan saingan yang sangat superior tadi; sehingga kita dipaksa pula untuk lupa melihat potensi diri kita yang sebenarnya. Yang mana lagi, potensi kita hampir pasti tidak sama dengan orang lain.

Sementara itu, bagaimana kalau kita melihat dari sisi si superior? Sering kali si superior, atau orang tuanya sendiri, menganggap bahwa superioritas itu didapat dari kemudahan-kemudahan yang didapatkan selama proses tumbuh kembang dan proses belajar. Tapi, Gladwell menekankan bahwa kemudahan yang terlalu ekstrim, justru mematikan kreativitas si superior untuk belajar tentang makna hidup yang sesungguhnya: Kreativitas mencari jalan keluar ketika menghadapi kesulitan. Ketika kita mencoba melihat dari sisi orang yang justru kondisinya lebih sulit dan tidak mendapatkan kemudahan-kemudahan; mereka lebih terdorong punya kreativitas untuk menciptakan jalan tikus agar tetap bisa sukses menghadapi tuntutan hidup. Bahkan kesulitan demi kesulitan bisa jadi pendorong yang sangat kuat bagi gudang kreativitas orang-orang yang sering dilanda kesulitan ini.

Dari sudut pandang inilah, Gladwell mengemukakan ide utamanya tentang buku ini: Bahwa seseorang yang tidak diunggulkan bisa jadi memiliki pandangan yang lebih luas dan gudang kreativitas lebih untuk menghadapi si superior. Ketika si superior terus mendapatkan kemudahan dalam proses belajarnya, ia tidak diasah untuk mempertimbangkan serangan dari arah yang tak terduga. Di sinilah Gladwell mengumpamakan “underdog wins against the odds” seperti David vs Goliath; namun sekali lagi – dari sisi ilmiah – saya rasa Gladwell tidak memiliki maksud lain (kecuali memang ada dan beliau tidak mau mengakuinya, itu bukan urusan saya lagi). Maka dari itu, untuk menumbangkan si superior, seseorang yang tak diunggulkan harus memiliki keberanian mengambil risiko; baik risiko untuk menempuh jalan yang tak lazim, sampai-sampai risiko untuk tidak populer dan tidak disukai karena jalan yang berbeda tersebut.

Nah, soal jalan yang berbeda; bagaimana jadinya ketika jalan tersebut ternyata berbenturan dengan hukum atau aturan? Gladwell menjelaskan juga di bagian akhir bukunya, bahwa pihak berwenang memang berkewajiban membuat aturan dan memberikan hukuman; namun beliau punya alasan mengapa walaupun hukuman telah ditegakkan, jumlah pelanggar tetap banyak? Karena dua kata kunci lagi: Kepercayaan dan perlakuan layak. Jadi, dengan memercayai si terhukum (bukannya menganggap ia musuh), dan memperlakukannya dengan adil (bukannya membedakan karena status atau kondisi yang tidak sama); maka esensi tujuan dari penegakan hukum bisa tercapai dengan baik.

Jadi, sebetulnya nilai utama yang diangkat dalam David and Goliath ini adalah soal kreativitas dan keberanian mengambil langkah yang berbeda. Kalau ditilik lebih dalam, esensinya mirip dengan buku Paul Arden – Whatever You Think, Think the Opposite. Berani mengambil langkah berbeda dapat memberikan hasil berbeda, namun yang terpenting adalah jangan sesekali berpuas diri dengan satu teknik penguasaan saja, tapi terus gali potensi diri kita, terus perkaya diri kita, dengan membuka wawasan dan sudut pandang lain yang sama sekali tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ada baiknya, sebelum menceburkan diri dalam buku-buku kreativitas yang jumlahnya bejibun saat ini, kita mencoba membuka pandangan lewat buku ini, atau sejenisnya; terlebih dahulu.

Miscellaneous & Ratings

3.5-star

Postingan yang ada hubungannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s