Tracy Whitney, you’re the best!


Saya tergolong jarang membaca buku fiksi. Tapi di antara sedikit buku fiksi yang pernah saya baca, Tracy Whitney meninggalkan kesan luar biasa.
Eh, siapa itu Tracy Whitney?

Yang jelas dia bukan hibrid Tracy Chapman dan Whitney Houston, ingat bahwa dia adalah tokoh fiktif. Tracy Whitney adalah karakter utama yang diceritakan dalam novel karya almarhum Sidney Sheldon terbitan 1985, If Tomorrow Comes. Buku yang judulnya dan isinya tidak nyambung ini menghadirkan karakter wanita yang begitu menginspirasi, tentunya dengan cara Sheldon. 

Seperti biasa, Sidney Sheldon memasang kemampuan superpower manusiawi di tiap karakter utama novelnya. Tapi buat saya, kekuatan Tracy adalah yang paling super dari semuanya.

Kok bisa begitu?

Begini ceritanya. Ada seorang wanita baik-baik yang karena emosi sesaat ingin membela orang tuanya dari serangan mafia, malah melakukan perbuatan kriminal dan dijebloskan ke penjara. Meskipun kemudian ia berhasil keluar karena menolong anak kecil yang tenggelam, tetap saja namanya eks narapidana, wanita ini kesulitan memperoleh kembali apa yang hilang dari hidupnya karena pernah dipenjara tadi. Daripada meratapi nasibnya, wanita ini malah beralih menjadi pencuri. Celakanya lagi di tengah petualangannya mencuri, datang banyak bantuan dan dukungan dari orang-orang tak terduga. Alih-alih bertobat, ia malah makin kecemplung dan menikmati cap barunya sebagai penjahat yang bermuka domba.

Hebat bukan? Itulah Tracy Whitney.

Tidak gampang buat menerima happy fate dari cerita kelam yang mengisahkan jatuhnya seseorang wanita dalam lembah kriminalitas yang seolah tiada akhir (ayolah. Apa kita suka kalau penjahatnya menang?). 

Tidak gampang juga menerima kisah yang kerap memicu adrenalin sana sini namun punya ujung terbuka (Kita suka bertanya-tanya, tapi belum tentu begini!).

Tidak gampang pula untuk tidak merindukan situasi cerita di mana semua masih baik-baik saja.

Tapi, dengan ketidakgampangan itu semualah justru karakter Tracy Whitney bisa memberi nilai dan makna tersendiri.

Bayangkan jika diri kita sendiri harus berhadapan dengan situasi sulit di awal buku ini. Mampukah kita tak berlama-lama berkubang dalam duka cita saat semua yang dicintai dan diidamkan dalam hidup menguap dalam sekejap? Mampukah kita untuk jadi lebih dari sekadar cuap-cuap ingin membalikkan keadaan tapi tak berbuat apa-apa dan seolah terus terbekap? Mampukah kita memanfaatkan apapun di sekitar kita untuk mengangkat derajat dan martabat yang seolah dikira orang telah tamat?

Tentu mudah menjawab “ya” untuk ketiganya. Tapi tak mudah untuk mewujudkan tiga buah “ya” tadi.
Demikianlah Tracy Whitney yang fiktif namun inspiratif, manipulatif namun diciptakan dengan amat kreatif. You’re the best, Tracy!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s