Andy F. Noya – Kisah Hidupku (Robert Adhi Ksp, 2015)


Identitas Buku

andynoya-kisahhidupku

Judul buku: Andy F. Noya – Kisah Hidupku
Penulis: Robert Adhi Ksp
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Genre: Biografi
Ukuran: 15 x 23 cm
Tebal: 436 halaman
Terbit: 3 Agustus 2015
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-70-9954-1

 

Sinopsis Official

Empat tahun lamanya Andy F. Noya dibujuk untuk mengungkapkan kisah kehidupannya dibalik layar televisi. Jika selama ini dia selalu mengangkat kisah hidup orang lain, yang menginspirasi jutaan penonton Kick Andy, lalu mengapa dia sendiri menghindar mengungkapkan kehidupan pribadinya? Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya pria berdarah Ambon-Belanda-Jawa-Portugis ini bersedia terbuka menceritakan masa kecilnya yang kelam, masa-masa sulit di Surabaya, perpisahan ayah-ibunya, masa remajanya di Papua, kuliah yang tidak tuntas, kisah percintaan yang jenaka, dan perjuangannya menapak karir sebagai jurnalis.

Membaca kisah perjalanan hidup pembawa acara Kick Andy ini, kita akan banyak menemukan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Banyak cerita di buku ini yang belum pernah terungkap ke publik. Dengan gaya penuturan ‘aku’, Anda serasa bukan sedang membaca sebuah biografi, tetapi kisah hidup yang membuat Anda yakin setiap orang – termasuk Anda – berhak atas kehidupan yang lebih baik.

Resensi

Saya rasa cukup banyak orang Indonesia yang tak asing dengan nama Pak Andy Flores Noya. Di era 2010-an, jurnalis senior yang ternama berkat perannya di Media Indonesia dan Metro TV ini telah cukup lama dikenal lewat program reality show-nya, Kick Andy. Dulu selalu tampil dengan rambut kribonya, namun kini tampil dengan kepala licin. Caranya menggali informasi dari narasumber juga unik. Jika baru dilihat terkesan membuat ngantuk para pemirsa, tapi kalau lama-lama disimak menarik juga, karena beliau selalu “pelan tapi pasti” dan “tegas namun tidak menyakiti orang”.

Jika selama ini Pak Andy selalu sukses menghadirkan tokoh inspiratif dalam salah satu program favorit di Metro TV itu, bagaimana dengan kisah hidupnya sendiri? Sebelum buku ini ada, tidak banyak yang tahu seperti apa masa lalu Pak Andy. Apalagi wajahnya baru muncul rutin di layar kaca sejak dekade 2010-an, sebelumnya malah jarang terlihat; karena yang terkenal baru sebatas karyanya dan kepemimpinannya di media terkemuka Indonesia. Karena itulah, buku ini tentu menghadirkan rasa penasaran tersendiri bagi para penikmat acara Kick Andy. Buat saya, inilah buku pertama yang saya selesaikan dalam Goodreads Reading Challenge 2016. Kebetulan karena buku yang lumayan tebal ini memang baru saya dapatkan di akhir Oktober 2015, dan saya perlu mencuri-curi waktu untuk membaca buku ini dengan penuh konsentrasi.

Buku yang dibagi atas sebelas bab ini masing-masing menceritakan fase hidup Pak Andy dengan sudut pandang orang pertama. Ketika memasuki bab satu, saya sempat agak merasa janggal, lantaran saya ingat bahwa Pak Andy selalu menggunakan kata ganti “saya” di acara TV-nya sendiri, tapi justru ia memilih menggunakan kata ganti “aku” di buku ini. Tapi setelah beberapa halaman, saya mulai terbiasa dengan pemilihan sudut pandang tersebut, dan mulai tidak merasa janggal lagi dalam menikmati kisah masa kecil pendiri Kick Andy Foundation ini. Pendekatan sudut pandang orang pertama oleh Robert Adhi Ksp sungguh membuat pembaca susah melepaskan diri dari bab-bab awal buku ini, serius!

Bermula dari ketidaksukaannya atas darah Belanda yang ia warisi dari keluarga ibunya, buku ini berlanjut ke cerita tentang orang tua dan keluarga Pak Andy, nilai-nilai yang dipelajarinya, kemudian teman-temannya yang berasal dari berbagai ragam latar belakang. Tak lupa dibahas juga tentang masa kecil Pak Andy yang dihabiskan dengan pindah-menetap-pindah-menetap di beberapa kota seperti Malang, Surabaya, Jayapura (dan mungkin beberapa kota lain yang jujur agak membuat keder memori saya!); bab-bab awal buku ini malah membuat saya seolah-olah tengah membaca autobiografi! Gila, detail juga pengalaman yang beliau utarakan di buku ini. Sampai-sampai saya sempat kagum, Pak Andy masih ingat ya dengan semua pengalaman itu.

Yang menarik juga dari bab-bab awal ini adalah, ternyata masa kecil Pak Andy tidak jauh beda dengan anak-anak pada umumnya. Hidup di antara keluarga besar yang tidak selalu rukun satu sama lain, rasa asing dengan salah satu orang tua yang sering bepergian dan tidak tinggal sekota, sampai konflik-konflik di antara orang dewasa yang mungkin sulit dipahami anak-anak, semua diungkapkan dengan jelas. Namun, di bab-bab awal ini Pak Andy tidak segan mengungkapkan pengalaman masa lalunya yang amat membekas, sekalipun itu membuat gambaran kurang baik buat pemikirannya sendiri. Di kemudian hari, jangan kaget bahwa justru pengalaman kurang baik itulah yang menjiwai misi program Kick Andy di Metro TV dan Kick Andy Foundation.

Lanjut ke bagian masa remajanya yang dihabiskan di Jayapura, secara garis besar bagian ini menjabarkan dua hal penting; bagaimana pengalaman berlayar dari Pulau Jawa ke Papua di tahun 1970-an, dan bagaimana Pak Andy mencoba menjalin hubungan yang selama ini kurang erat dengan ayahnya. Deskripsi bagaimana remaja-remaja era 1970-an menghabiskan waktu dalam mencari identitas diri juga cukup inspiratif dan layak dibandingkan dengan masa kini :). Salah satu bagian yang mungkin patut mendapat garis bawah adalah ketika sang ayah meninggal mendadak dan Pak Andy harus melanjutkan hidupnya dengan bersekolah di Jakarta.

Selanjutnya, soal pemilihan jalan hidup. Pak Andy yang terkenal ngotot ini (setidaknya begitulah gambaran sifat beliau di buku ini) memilih jalur jurnalistik sebagai “jalan hidup”-nya; yang terbukti sangat tepat. Di sini kita disajikan pembeberan pengalaman bagaimana Pak Andy muda yang berjuang meniti karir dalam berbagai aspek, mulai dari yang sepele semacam menghemat uang transportasi, hingga ngotot melamar di lomba perekrutan jurnalis, yang akhirnya mempertemukan Pak Andy dengan sang istri.

Nah, bagian selanjutnya dari buku ini membahas bagaimana lika-liku kehidupan wartawan yang sungguh tidak mudah. Mulai dari wartawan media cetak, sampai kemudian transformasi menuju televisi; semua pernah dialami Pak Andy. Beda dengan bagian awal buku yang terkesan tidak runut karena kadang loncat ke sana kemari dan kadang ada repetisi ringan, bagian profesional Pak Andy dituturkan dengan urut sesuai kronologi kejadian di era akhir 1990-an dan awal 2000-an. Pun bagian ketika beliau mendapatkan beasiswa, menghadapi sang bos Surya Paloh di masa awalnya terjun ke dunia politik, sampai saat Pak Andy memutuskan mundur dari dunia jurnalistik dan memilih fokus berkarya di filantropi dan Kick Andy Foundation-nya.

Kalau ditanya soal kelemahan buku ini, barangkali yang terutama buat saya adalah…

  1. Soal kronologi cerita yang kurang jelas di bagian awal buku (sampai-sampai saya khawatir bahwa kata-kata David McRaney dulu benar-benar terjadi di buku ini. Semoga tidak begitu). Penanda zaman kurang jelas, cerita terkadang meloncat, ada pernyataan-pernyataan pendek yang diulang, terkadang membuat saya bingung.
  2. Soal politik dan Surya Paloh. Saya sampai harus membaca dua kali untuk halaman 358-365 (Bab 11, bagian Tergoda Terjun ke Politik, Nasihat Jakob Oetama, dan Terjebak Jas Kuning) karena penasaran dengan bagaimana cara Pak Andy “mengelak” ketika Surya Paloh masuk ke dunia politik. Did he eventually give up on Surya Paloh’s political decision? Ini pertanyaan yang jelas-jelas tidak terjawab dengan memuaskan. Tapi saya mencoba maklum dan positive-thinking: Barangkali Robert Adhi Ksp dan Pak Andy sama-sama tidak mau menonjolkan unsur politik yang digeluti Surya Paloh di buku ini?
  3. Barangkali kalau saya mau menambahkan satu lagi: Soal pengalaman Pak Andy di Kick Andy Foundation, hanya dibahas sedikit sekali di beberapa halaman terakhir. Barangkali, perjalanan beliau di bagian ini belum selesai sehingga belum dituliskan? Entah ya…

Terlepas dari dua (atau tiga) kelemahan itu, saya tetap menganggap buku ini patut dijadikan salah satu referensi biografi yang inspiratif. Apalagi jika kalian memang mencari biografi dari tokoh orang Indonesia. Baca dan temukan nilai-nilainya: Semoga semua pembacanya bisa tetap bersemangat menjalani hidup sesuai perannya masing-masing!

 

Miscellaneous & Ratings

4-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 89.000
  • Gramedia.com: Rp 75.650-Rp 89.000 belum termasuk ongkos kirim
  • SCOOP: Rp 56.000 [digital version only]
  • Bukabuku.com: Rp 71.200 belum termasuk ongkos kirim
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s