Penumpang Gelap – Menembus Eropa Tanpa Uang (Alijullah Hasan Jusuf, 2015)


Identitas Buku

penumpanggelapJudul buku: Penumpang Gelap – Menembus Eropa tanpa Uang (Judul alternatif: Penumpang Gelap – Jakarta-Paris lewat Amsterdam)
Penulis: Alijullah Hasan Jusuf
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Genre: Biografi
Ukuran: 17 x 25 cm
Tebal: 320 halaman
Terbit: 12 Oktober 2015
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-70-9978-7

Sinopsis Official

April 1967, kehidupan Alijullah Hasan Jusuf seorang diri di Jakarta bermula. Di tengah situasi Ibu Kota yang tidak menentu dengan gelombang demonstrasi di sana-sini, bocah asli Sigli ini harus bertahan hidup dengan menjadi penjaja koran di kaki lima, mengikuti demonstrasi pelajar, bahkan tinggal di peti rokok. Namun, ketika deru suara pesawat terbang dari Bandar Udara Kemayoran didengarnya setiap malam, Alijullah pun membangun mimpi baru: terbang jauh ke luar negeri… 

Resensi

Hanya dari tagline dan sinopsis resminya, buku ini langsung menarik perhatian. Bahkan hingga saat ini pun, Eropa masih identik dengan benua mahal. Lalu bagaimana ceritanya di tahun 1967, ada remaja yang bisa menerobos pesawat rute Jakarta-Amsterdam tanpa modal sama sekali? Apa yang terjadi berikutnya? Apakah remaja Aceh yang nekat ini tertangkap? Apakah ia kemudian dipenjara? Rasa penasaran yang timbul tentu serasa lagi menonton film action, atau bahkan film detektif! Apalagi ketika kita sudah tahu bahwa kemudian, Ali (panggilan Pak Alijullah) benar-benar berhasil menembus Eropa dengan sah dan bekerja sebagai staf kedutaan besar Republik Indonesia di Paris…

Benar saja, sejak bab pertama buku ini (yang menurut saya lebih sekadar basa-basi), kita sudah dibuat semakin penasaran. Tak sabar ingin segera masuk ke bab dua. Dari bab dua inilah cerita seputar ketertarikan Ali dengan pesawat terbang mulai digelar. Cerita bermula pada alasan mengapa Ali “terdampar” di Jakarta dan bagaimana awalnya ia menata kehidupan tanpa orang tua di tanah rantau. Satu hal yang menarik di bab-bab awal ini adalah betapa beraninya Ali menantang yang namanya “hidup susah”, padahal saat itu usianya belum lagi 17 tahun. Patut jadi renungan buat remaja-remaja zaman sekarang.

Yang lebih berani lagi dari buku ini, adalah penjabaran rinci soal “hidup susah” tersebut: Tidur di peti rokok, jualan koran, jadi agen kayu, dan sebagainya, semua dijelaskan dengan amat nyata. Kita pembacanya seperti dibawa masuk ke suasana ibukota lengkap dengan aura kekejamannya. Tapi aura semangat Ali tak luntur dimakan kejamnya ibukota. Tetap saja niatnya membara, plus bumbu humor dan satir kerap bergantian hadir. Tak lupa urusan seks juga diulas dengan polos. Buat pembaca, bukannya mendapat kesan kasihan terhadap remaja perantau ini, malah kesan kagum-lah yang muncul.

Hingga tiba puncaknya di bab yang membahas soal boarding pass. Sampai bab Ali Si Penumpang Gelap, kita seolah terbawa oleh mesin waktu dan kembali ke era 1960-an, di mana pesawat terbang masih menjadi moda transportasi mewah yang penjagaannya belum seketat dan sekejam sekarang. Berbekal boarding pass bekas, Ali bisa menyelinap jadi penumpang gelap. Mana mungkin ini terjadi di zaman sekarang? Tapi justru itulah serunya: Di sinilah pembaca bakal dibuat takjub dengan revolusi penerbangan dalam hanya 50 tahun!

Oke, balik ke topik puncak tadi. Bagi dewasa muda dan remaja masa kini, lucu rasanya membayangkan bahwa pintu VIP pesawat tidak dijaga sama sekali. Aneh pula membayangkan kok terbang dari Jakarta ke Amsterdam saja harus transit sampai 5-6 kali dan memakan waktu total lebih kurang 24 jam. Janggal juga membayangkan kenapa ada benda yang namanya kartu transit. Takjub membaca uraian soal betapa seringnya kursi pesawat itu kosong. Dan yang lebih gila lagi: Sulit rasanya membayangkan ketinggian terbang pesawat zaman 50 tahun lalu yang demikian rendah, sampai-sampai penumpang bisa melongok jendela untuk melihat pemandangan kota di berbagai belahan bumi! Di bab ini kita juga bakal dibuat terheran-heran dengan kekuatan alam semesta dalam rencana Ali dalam petualangannya. Mulai dari mimpi burung jatuh, rombongan mahasiswa Kairo, cuaca buruk di Napoli, hingga keajaiban soal kursi 57F yang entah bagaimana memang kosong terus meskipun pesawat transit sekian kali. Hingga puncaknya, kejadian yang menggemparkan di bandara Schiphol Amsterdam.

Lalu apa yang terjadi sesudahnya pun tak kalah menarik. Ali yang ditahan hingga beberapa bulan menceritakan pula pengalamannya masuk bui dan seperti apa perjuangan menyambung hidup di penjara. Ditutup dengan bab soal lebaran dan soal cinta versus cita-cita; secara umum buku ini cukup memuaskan buat penggemar kisah happy ending, meskipun ending-nya tidak bisa dibilang amat-amat super.

Nah… Ada beberapa aspek yang saya kira perlu dibahas spesifik soal buku ini. Yaitu gaya bahasa, penyusunan alur, dan akhir buku yang menggantung. Coba saya bahas satu-satu.

Pertama, gaya bahasa. Buku ini menggunakan gaya bahasa yang “Sumatra banget” alias pilihan katanya mirip pilihan kata orang Medan (barangkali beginilah bahasa Aceh itu?). Kata kerja dan subjek sering diposisikan terbalik, partikel -ku sering lepas menjadi kata “aku”, maka jadilah seolah-olah kita tengah membaca cerita rakyat. Memang pasti timbul kebingungan jika pembaca tidak biasa. Tapi setelah tak berapa lama, tentu pembaca mulai menyadari memang beginilah gaya bahasa yang dipakai Ali. Tidak sedemikian membingungkan memang. Apalagi Ali tak lupa sesekali menyelipkan unsur satir, unsur realis, dengan bumbu keluguan; yang dicampur sedemikian rupa sampai menjadi teks yang demikian menarik. Tak ketinggalan unsur religi yang memang tertanam kental pada diri Ali, yang selalu ia sebut-sebut sebagai kekuatan spiritual yang menuntun hidupnya dalam menggapai cita-cita. Saya malah berani menyebut buku ini memiliki unsur self-help. Coba saja simak, seberapa sering Ali menyebutkan kalimat dengan unsur motivasi tersirat di sepanjang buku ini?

Kedua, soal penyusunan alur. Secara umum alur buku ini adalah maju. Tapi tetap saja, saya sempat kebingungan ketika disebutkan soal penataan kabinet Soeharto, demonstrasi pelajar, bulan puasa; dan sebagainya yang sudah barang tentu tidak ada tanggalan pastinya. Memang pembaca sudah maklum bahwa setting cerita ada di antara tahun 1967 sampai dengan 1968, tetapi di mana persisnya titik waktu yang tengah dibicarakan, tidak terlalu jelas. Pembaca wajib menebak, atau setidaknya membaca dengan kecepatan lebih pelan untuk bisa menangkap rincian waktu setting cerita dengan lebih teliti. Belum lagi tata letak waktu ini seolah dipersulit dengan lompatan alur yang kerap muncul di tengah kisah, mengharuskan pembaca membiasakan diri dengan flight of idea mendadak. Dan satu hal lagi yang unik soal alur, dengan hebatnya Ali bisa menyampaikan poin-poin penting dalam petualangannya tanpa menyentak atau mengagetkan. Mengalir saja, tapi pembaca dibuat terkesima berkali-kali.

Dan yang ketiga adalah akhir buku. Membaca bab terakhir mencetuskan pertanyaan baru bagi pembaca, terutama ketika cerita tokoh Yulia diakhiri dengan amat cepat dengan sebuah tanda tanya besar. Juga tentang sang calon istri, tidak diceritakan lebih lanjut. Tentu setelah tuntas rasa penasaran soal petualangan Ali di pesawat, malah muncul teka teki yang berbeda lagi…

Akhir kata, buku ini bisa menjadi referensi biografi yang inspiratif, jika memang kalian tengah mencari buku biografi yang mengupas soal keberanian dan tekad luar biasa. Mau dibilang gila, memang buku ini menyajikan petualangan gila nan mendebarkan. Recommended book-lah pokoknya.

Kalimat-kalimat menarik

  • p.29: “Gila kau Ali! Baru saja kau tiba di Jakarta sudah berkhayal jadi presiden,” tegurku pada diriku sendiri.
  • p.73: Tetapi guru-guru sering tidak masuk. Mereka mencari objekan lain di luar. Kalau tidak mengajar, mereka berdagang.
  • p.145: Aku telah berjanji kepada diriku, “Tidak akan menyerah kalau belum menginjak tanah Negeri Belanda.”
  • p.206: [paraphrased] “Tunggu dulu Pak. Kita belum kenal, kok pakai marah-marah. Emangnya Bapak siapa? Kalau saya jelas, nama saya Alijullah. Kalau Bapak siapa?”
  • p.221: Tidak good juga mau apa, memang itu adanya.
  • p.246: Masak, aku bisa sembunyi di tempat barang. Kan, aku bisa babak belur pingsan tertimpa koper-koper.
  • p.267: Jika musuh tak sanggup dilawan, diajak berteman.

Miscellaneous & Ratings

4-star

How to get this book?

  • Toko buku Gramedia: Rp 69.000
  • Gramedia.com: Rp 58.650 – Rp 69.000 belum termasuk ongkos kirim
  • Bukabuku.com: Rp 55.200 belum termasuk ongkos kirim
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s