Belum Selesai – Kisah 38 Tahun Perjuangan Pendekar Ginjal Soak (Kris Biantoro, 2011)


Identitas Buku

belumselesai

Judul buku: Belum Selesai – Kisah 38 Tahun Perjuangan Pendekar Ginjal Soak (Judul alternatif: Belum Selesai – Perjuangan Tak Kenal Lelah Sang Maestro Panggung)
Penulis: Kris Biantoro
Penerbit: Kompas Gramedia/Elex Media Komputindo
Genre: Biografi
Tebal: 172 halaman
Terbit: 2011 (re-published by Kompas Gramedia in 2013)
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-02-2209-7

Sinopsis Official

Kris Biantoro, nama yang mungkin terlalu sering disebut di era awal pertelevisian, ternyata membawa beban tidak ringan sepanjang hidupnya. Kisahnya membawa kita melewati ruang waktu dan kembali ke titik awal perjalanan panjang yang dilaluinya. Sayang, perjalanan sang legenda panggung dalam meniti karier dibarengi perjuangannya menghadapi hidup bersama penyakit ginjal.

Buku ini menjadi simbol kegigihan beliau dalam menghadapi hidup. Dengan gaya bercerita yang sangat menghibur, mengharukan, sekaligus menginspirasi, kisahnya akan membawa dampak berkelanjutan bagi setiap orang. Sang pendekar rupanya belum selesai berkarya.

Resensi

Karena tumbuh di era 1990-an saya tidak terlalu ingat siapa itu Kris Biantoro. Saya cuma ingat beliau itu MC terkenal, kalau ngomong selalu meledak-ledak (dan pasti muncrat!), dan beliau itu pembawa acara kuis Wheel of Fortune versi Indonesia (lupa nama kuisnya apa). Bahkan saya tidak tahu beliau itu penyanyi!

Tapi pandangan saya berubah ketika tahu bahwa selama puluhan tahun, sang MC yang selalu bersemangat ini, ternyata memiliki riwayat penyakit ginjal kronik dan sudah harus menjalani cuci darah. Pak Kris Biantoro pun jadi semacam role model favorit buat pasien-pasien gagal ginjal. Tak percaya? Awalnya saya juga! Kok bisa ya, sudah cuci darah berpuluh tahun tapi masih bisa ceria ke manapun dan beliau tetap tak terlihat seperti orang sakit?

Tak heran jika saya berkenalan dengan buku ini – dalam bentuk fisik tentunya – di awal tahun 2014, saat kebetulan ikut acara temu pasien-pasien cuci darah. Saya pinjam saja buku milik yayasan ginjal waktu itu. Tapi karena bukan milik saya, mau tak mau saya harus mengembalikannya. Sayang saya belum selesai membacanya (sama dong dengan judul buku ini). Padahal bukunya lucu. Nah, gara-gara penasaran, saya pun lanjut membaca versi Gramediana-nya di tahun 2015.

Ini adalah salah satu buku memoar/autobiografi yang sangat ringan, tapi menggigit dan mengena di hati. Lihat bagaimana Pak Kris menguraikan tentang kebiasaannya makan nasi padang, tentang istrinya yang asli Vietnam, tentang batu ginjalnya, dan sebagainya, dan sebagainya, hingga petualangannya mencari donor ginjal di Cina. Orang lain bisa saja mengambil sudut muram dari penyakit ginjal yang jelas-jelas harus ditanggung seumur hidup itu. Tapi tidak dengan Pak Kris yang memilih mengangkat sisi lucu dan segar di balik kebandelan dan ketipisan kupingnya. Saya sengaja pakai istilah kuping tipis. Soalnya Pak Kris mengulang-ulang istilah ini terus di bukunya yang satu ini!

Pengalaman Pak Kris berkeliling pengobatan alternatif juga tak kalah kocak. Berbagai metode pengobatan mulai dari yang penuh kekerasan sampai yang menguras duit pasien dibeberkan semua di sini. Tak ketinggalan persoalan minyak bulus yang dibahas di bab 12. Betul-betul tamparan buat orang yang gemar mencari pengobatan alternatif tanpa dipikir dulu imbang manfaat dan kerugiannya, dengan tentunya bungkusan humor yang amat mengocok perut. Belum lagi cerita soal prekoma yang dialaminya di hadapan Koes Hendratmo dan istri, di bab 13.

Keunikan lain dari buku memoar ini adalah… Coba baca tiap bab, ujungnya selalu ada bagian Fakta, Pesan, dan Saran. Di sini Pak Kris Biantoro kadang terlihat seperti kakek yang sedang marah-marah ke anak kecil, atau bisa juga seperti kakek yang sedang memberi wejangan atas dasar kepahitan garam hidup yang telah ia alami. Bagian ini amat menarik dan bisa kita jadikan semacam resume untuk mengingat kembali apa hikmah dari kisah yang baru kita baca.

Nah, pada bingung kan kenapa judul buku ini ada dua versi? Jadi, “ginjal soak” adalah edisi pertama buku ini, yang diterbitkan secara independen dan tidak dijual (hanya dibagikan ke komunitas pasien cuci darah dan sekitarnya). Sementara di versi Elex Media yang merupakan cetakan berikutnya, judul buku beralih jadi “maestro panggung” dan ada tambahan satu bab “Selesai Sudah” dari anak Pak Kris, yang menandai kepergian sang ayah di sekitar masa launching buku versi “maestro panggung” ini, Agustus 2013. Di bulan tersebut, Kris Biantoro akhirnya wafat dalam usia 75 tahun.

Ada satu bab lain di akhir buku yang patut dicermati orang-orang yang punya risiko penyakit ginjal, yaitu tips-tips menjaga kesehatan ginjal. Dengan bab tersebut, lengkaplah sudah buku ini sebagai teman yang menghibur buat pasien-pasien cuci darah, supaya tidak melulu terlarut dalam kesedihan lantaran berpenyakit kronik. Kalau punya kerabat yang kebetulan harus cuci darah karena masalah ginjal, buku ini bisa dijadikan hadiah yang menarik.

Miscellaneous & Ratings

4-star

How to get this book

  • SCOOP: Rp 23.200 (digital version only)
  • Bukabuku.com: Rp 29.440 (belum termasuk ongkos kirim)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s