#sharing 2 (Handry Satriago, 2015)


Identitas Buku

sharing2

Judul buku: #sharing 2
Penulis: Handry Satriago
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Self-help
Ukuran: 16.5 cm x 22.5 cm
Tebal: 206 halaman
Terbit: 31 Agustus 2015
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-2008-3

Sinopsis Official

Buku ini merupakan buku kedua yang dikembangkan dari “celotehan” Handry Satriago yang dibuatnya di media sosial Twitter sejak tahun 2011. Dalam buku ini, Handry membahas mengenai dua hal; pembelajaran yang didapatnya dari perjalanan hidupnya yang penuh liku-liku, dan praktik-praktik kepemimpinan dan manajemen yang dipelajarinya selama lebih dari 20 tahun bekerja, termasuk 5 tahun terakhir sebagai CEO perusahaan multinasional di Indonesia.

Berkursi roda sejak usia 17 tahun, Handry menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk “melawan”. Melawan keterbatasannya, melawan ketakutannya dan bertekad keluar dari arena penuh kesukaran itu sebagai pemenang. Hidup Handry Satriago bagai sebentuk prisma kaya warna. Di antaranya ada tiga warna yang perpendar dengan luas dan kuat: cinta pada pendidikan, hormat kepada sains, dan hasrat yang menggebu untuk menemukan anak-anak muda yang bertalenta menjadi pemimpin masa depan.

Dalam dunia yang semakin global dan penuh ketidakpastian ini, apa yang Handry sampaikan seperti sebuah gambaran dari lapangan pertandingan. Untuk menjadi pemenang, lapangan pertandingan tersebut harus dikuasai. Lewat buku ini, Handry berharap dapat menginspirasi lebih banyak orang agar tidak takut menjalani pertandingannya, dan menikmati pertandingan tersebut.

Resensi

Ketika saya membuka paket buku hadiah sayembara dari Gramedia via Twitter, saya langsung melihat sampul buku #sharing-2 adalah satu dari tiga buku yang saya dapatkan. Buku ini memiliki sampul sangat sederhana, tak jauh beda dengan buku pertamanya (yang justru belum saya baca), dan sinopsisnya begitu jelas. Saat itu, buku ini benar-benar baru launching! Terima kasih Gramedia 🙂

Seketika saya langsung menyimpulkan bahwa buku ini mungkin bakal seperti Menjemput Keberuntungan-nya Andrias Harefa (yang bikin saya sukses menutup buku sebelum mencapai setengah jumlah halaman), atau Work Fun Play Hard-nya Soegeanto Tan (yang sudah sistematik poin per poin tapi intisarinya, menurut saya, tidak dapat). Atau bahkan mungkin menebar poin-poin seperti Bu Eileen Rachman dengan buku-bukunya yang menurut saya mirip-mirip semua (dan tidak bisa dibaca sekali jadi).

Tapi ternyata saya sedikit keliru. Pak Handry Satriago ternyata mampu memberikan inspirasi dengan cara agak lain. Tulisan-tulisan sang CEO General Electrics Indonesia yang berkursi roda sejak umur 17 tahun ini menyajikan ide-ide segar tentang manajemen dengan simpel, meskipun cuma bermodal Twitter (coba cek Twitter Pak Handry di sini). Buku ini setidaknya sedikit mengurangi skeptisisme saya terhadap sebuah buku motivasi atau self-help.

Nah, ini hasil observasi saya soal Pak Handry yang rajin berpetuah lewat Twitter ini.

  1. Bahasanya sederhana. Meskipun ada istilah-istilah Inggris, Pak Handry tak segan mengulang-ulangi terjemahan dan artinya tiap beberapa lama sekali. Orang yang membaca tulisan beliau jadi tidak bingung!
  2. Memang ada sedikit kesan menggurui, tapi selalu ada selingan humornya. Tak ada motivator yang sama sekali tidak menggurui – karena mengajarkan sesuatu dan memotivasi berhubungan amat dekat. Tapi Pak Handry berhasil mengatasi kesan menggurui tersebut dengan selingan humornya yang khas. Tidak jauh-jauh diangkat dari kehidupan sehari-hari, Pak Handry kerap memberikan perumpamaan atau ilustrasi kasus yang begitu mudah dipahami.
  3. Dalam poin-poin. Seperti CEO pada umumnya, Pak Handry menyampaikan uraiannya dalam poin-poin untuk mempermudah penerimaan audience. Jadi cara berpikirnya sebelum mengetwit kira-kira seperti brain mapping. Selain tidak sembarangan ngetwit, semua omongan Pak Handry sudah dipertimbangkan masak-masak, tujuannya ke mana, tools-nya apa, dan bagaimana cara mencapainya.

Itu saja sih yang berhasil saya tangkap 🙂

Nah, membaca buku motivasi kan biasanya bikin ngantuk (terutama buat saya sih). Saya mencoba mengakalinya dengan cara menggarisbawahi beberapa pernyataan penting dari Pak Handry. Begitu saya selesai membaca buku ini, saya coba lihat-lihat kembali poin-poin yang digarisbawahi, nah, kira-kira saya dapat deh gambaran tentang isi buku ini.

Meskipun saya belum baca buku #sharing yang bagian pertama, saya coba sajikan beberapa poin yang kira-kira penting dari buku kedua ini.

  • Untuk meraih kemajuan di abad ke-21 ini, semua orang harus bersedia run extra miles.
  • Ketika menang, tetaplah rendah hati dan pelihara semangat untuk menang lagi. Ketika kalah, lakukan refleksi dan jangan menutup diri dari perbaikan.
  • Daya tahan dan kemampuan memantul sama pentingnya untuk menghadapi kehidupan yang penuh kejutan setiap hari.
  • Asa alias harapan itu munculnya dari dalam diri dan harus dipertahankan tetap menyala.
  • Menjadi pemimpin dan manager itu tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Menjadi pemimpin harus bisa mengelola, menjadi manager juga harus bisa memimpin.

Kalau ditanya bab mana saja yang menarik? Mungkin bab yang paling berkesan adalah “Arie dan Arfian” dan “Ajaran yang Selama Ini Terlupakan”. Di bab “Arie dan Arfian”, terdapat sebuah prinsip nasionalis yang ditekankan Pak Handry: “Tidak perlu jadi bule untuk jadi global winner“. Prinsip luar biasa untuk menumbuhkan kepercayaan diri orang Indonesia, yang terkadang (atau sering?) minder dengan kemampuan orang barat atau terlalu bergantung pada para bule untuk menebeng ketenaran atau kejayaan. Dan di bab “Ajaran yang Selama Ini Terlupakan”, beliau menekankan pentingnya tanggung jawab, empati, dan menghormati orang lain; sambil belajar tetap respek kepada pemenang ketika kalah maupun kepada si kalah ketika menang.

Segitu dulu aja ya. Nanti Pak Handry marah ke saya kalau kalian tidak beli bukunya gara-gara saya terlalu banyak kasih bocoran poin-poin dari buku ini 🙂

Akhir kata, buku Pak Handry ini layak direkomendasikan untuk siapa saja khususnya generasi muda yang masih aktif bekerja. Kalau mau dijadikan buku referensi buat training sikap mental karyawan, buku ini pun cukup layak. Tidak hanya kemampuan teknis yang penting namun juga kemampuan nonteknis dan sikap mental untuk menghadapi perubahan dunia. Dan di sini Pak Handry menyampaikannya dengan menarik, sehingga patut disimak.

My ratings & Goodreads

  • Tentang Handry Satriago: [Twitter]
  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik
  • #sharing 2 on Goodreads
  • My ratings: 3/5 (Goodreads), 6/10 (Personal)

3-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 75.000
  • Gramedia.com: Rp 63.750-Rp 75.000
  • Scoop: Rp 47.200-Rp 59.000
  • Bukabuku.com: Rp 60.000 (belum termasuk ongkos kirim)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s