Mimpi. Asa. Cinta (Maizan Khairun Nissa, 2015)


Identitas Buku

mimpi.-asa_1Judul buku: Mimpi. Asa. Cinta
Penulis: Maizan Khairun Nissa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Drama, medical
Ukuran: 20 cm x 13.5 cm
Tebal: 228 halaman
Terbit: 26 Oktober 2015
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-032-145-5

 

Sinopsis Official

Sebuah novel yang terinspirasi kisah kehidupan para dokter muda.

“Janji kita bukan di bawah sumpah Hippocrates, janji kita lebih dari itu. Sebuah janji makhluk pada PenciptaNya”

Dokter. Sebuah profesi yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Namun, tak banyak orang tahu bagaimana jejak langkah mereka menjalani hari-harinya.

Kehidupan rumah sakit adalah kehidupan anak manusia yang penuh dinamika. Setiap harinya, kelahiran dan kematian hadir begitu nyata di depan mata. Hari-hari seorang dokter sering kali tidak mudah, tekanan begitu kuat dan harapan akan kehidupan secara langsung dan tak langsung diletakkan orang di pundaknya. Nilai-nilai kemanusiaan yang harus ia jaga kadang kala menemui cobaan ketika berbenturan dengan hati kecilnya sebagai manusia biasa.

Mimpi. Asa. Cinta berkisah tentang kehidupan seorang anak manusia, remaja polos yang menggapai cita-citanya menjadi dokter dengan segala perjuangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia harus merelakan masa remaja yang indah ditukar dengan kesibukan belajar, kampus, rumah sakit, kerja keras, dan beban batin ketika menghadapi rasa sakit, penderitaan, dan bahkan kematian pasiennya.

Resensi

Buku fiksi pertama saya di 2016 Goodreads Reading Challenge ini saya peroleh hanya selang seminggu setelah dirilis, sebagai salah satu dari dua buku hadiah kontes Resensi Pilihan Gramedia Pustaka Utama yang saya buat untuk buku Paul Arden ini. Berhubung bukunya gratisan, tidak mungkin saya melewatkan begitu saja kesempatan untuk membuatkan resensinya.

Zanisa adalah seorang mahasiswi kedokteran yang tengah menjalani pendidikan kepaniteraan (baca: dokter muda) di sebuah rumah sakit. Latar belakangnya sebagai anak yatim piatu membuat semangatnya amat menyala untuk mengabdi sebagai dokter. Lika-liku hubungannya dengan rekan-rekan seperjuangan, dengan para senior, dengan sahabatnya Andra, dengan para perawat, dengan dokter konsulen (baca: subspesialis); mewarnai perjuangan Zanisa di tahun-tahun akhir pendidikannya. Kita bisa simak berbagai kemelut yang terjadi baik antara Zanisa dan dirinya sendiri, maupun antara Zanisa dengan orang-orang terdekatnya. Mulai dari menyaksikan pasien kehilangan bagian tubuh, menyaksikan kembali hidupnya pasien yang “tak diharapkan”, silih berganti dengan meninggalnya pasien yang ternyata dikenal, semua lengkap dihadirkan di sini.

Keder soal istilah kedokteran yang kebanyakan bahasa Latin dan susah-susah diingat? Jangan khawatir. Maizan sudah menyelipkan berbagai catatan kaki yang sangat jelas soal makna istilah-istilah kedokteran yang dipakainya dalam novel ini, meskipun para pembaca awam rasanya harus tetap waspada untuk tidak membaca novel dengan cara loncat-loncat karena makna istilah hanya dijelaskan ketika istilah disebut untuk pertama kalinya.

Novel ini memberikan gambaran yang nyata tentang perjuangan calon dokter di tahun-tahun akhir pendidikan mereka. Perjuangan melawan kelelahan dan kurang tidur karena jaga malam, perjuangan mengebalkan diri dari amukan dan makian dokter konsulen, perjuangan menahan beban tatapan keluarga pasien kritis, perjuangan menepis mitos seputar ujian, dan sebagainya; semua dijabarkan dengan jelas di novel setebal 228 halaman ini. Seolah novel ini menegaskan kebenaran pemahaman awam bahwa saat mahasiswa jurusan lain sudah lulus dan mulai bekerja, mahasiswa kedokteran masih harus menempuh pendidikan yang tidak murah, dan menukarkan waktu luang mereka dengan berbagai jenis aktivitas dengan satu tujuan: Memulihkan kesehatan pasien-pasien. Namun di sisi lain, dokter (dan calon-calon dokter) juga tetap manusia biasa. Di saat para dokter Indonesia sedang gundah gulana dengan seolah terjepit di antara tiga kepentingan (kepentingan kesehatan pasien, kepentingan perekonomian tanggungan, dan kepentingan para penguasa negara), saya yakin novel ini bisa membantu menumbuhkan semangat para dokter dan calon dokter, sebagai orang-orang yang sudah memilih jalan hidup mengabdi di bidang kesehatan, untuk tetap bersemangat mengikuti suara hati dan amanah; apapun yang terjadi.

Soal perbandingan dengan cerita lain yang sejenis: Entah karena menghadirkan kisah kehidupan dokter muda yang dibumbui kisah persahabatan (atau cinta?), ataukah karena penokohannya yang rada mirip, novel ini sedikit mengingatkan saya pada Doctors karya Erich Segal. Tapi kedua novel ini tentu tidak sama. Cerita Doctors mencakup rentang waktu lebih dari tiga dekade, sementara Mimpi.Asa.Cinta hanya sekitar satu atau dua tahun. Selain itu, tokoh-tokoh di Doctors sudah saling kenal sejak kecil dan berlanjut sampai mereka berusia dewasa pertengahan, sementara di Mimpi.Asa.Cinta mereka baru saling kenal sejak sama-sama menempuh pendidikan kedokteran dan cerita berakhir sekitar 1-2 tahun kemudian.

Buat para calon dokter, novel ini bisa dijadikan cerminan sekaligus sumber hiburan dan penyemangat. Buat para dokter, novel ini bisa dijadikan ajang nostalgia masa-masa pendidikan dulu. Dan buat para dokter yang kemudian memilih jalan hidup “menyimpang” dari urusan menyembuhkan pasien, barangkali novel ini bisa dijadikan tamparan? Atau sekadar reminder soal alasan mengapa dulu memilih kedokteran? Ups… Maaf, bercanda 🙂

Dan, last but not least: Sepertinya Maizan ini juga penggemar berat The Script. Kenapa saya bisa bilang begitu? Nah, makanya baca novel ini. Hehe…

My ratings

  • Personal Goodreads Rating: 3/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 55.000
  • Gramedia.com: Rp 46.750-Rp 55.000
  • Bukabuku.com: Rp 44.000-Rp 55.000
  • Buku ini belum tersedia di Scoop atau Gramediana.
Advertisements

One thought on “Mimpi. Asa. Cinta (Maizan Khairun Nissa, 2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s