My Life as: Writer (Haqi Achmad-Ribka Anastasia Setiawan, 2013)


Identitas Buku

mylifeaswriter

Judul buku: My Life as Writer
Penulis: Haqi Ahmad & Ribka Anastasia Setiawan
Penerbit: Mizan/PlotPoint
Genre: Non-fiksi, biografi, teknis
Ukuran: 21 cm x 14 cm
Tebal: 200 halaman
Terbit: 4 Maret 2013
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-602-948-100-6

Sinopsis Official

Penulis mencatat apa yang dialaminya sebagai sejarah kehidupan. Dan dengan itu ia tidak hanya mengubah hidup sendiri, tapi juga hidup orang lain.

Dalam buku ini, lima penulis mumpuni akan membagi cerita mengenai perjalanan karier mereka. Lima latar belakang berbeda, lima energi kreatif berbeda. Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan menyajikannya untuk kamu. Ya. Hanya untuk kamu.

Kamu butuh buku ini kalau:

– Mau jadi penulis tapi bingung cara mulainya

– Kamu punya banyak cerita menarik dan ingin dibaca banyak orang

– Suka baca buku dan mau akrab sama penulisnya

– Ragu untuk memulai passion

– Mau meyakinkan orang tua kamu tentang bakat menulismu

– Sudah sering nulis tapi belum pernah diterbitkan

– Seorang pendidik yang mau cerita tentang profesi ini

Resensi

Kali kedua saya me-redeem poin bonus di Scoop, tidak boleh salah beli buku lagi seperti waktu pertama kali redeem dulu. Terbukti, buku ini sama sekali tidak mengecewakan!

Apa jadinya ketika lima penulis dari berbagai genre berbagi cerita soal kenapa mau jadi penulis, suka duka jadi penulis, tips dan trik menulis, dan sebagainya soal dunia kepenulisan; khusus buat kita?

Jadilah buku ini. My Life as: Writer. Buku ini sebenarnya termasuk dalam serial My Life as yang digawangi Haqi Achmad dan Ribka Anastasia, dari hasil wawancaranya dengan beberapa tokoh ternama dari bidang tertentu. Dan hasilnya, terkumpullah lima penulis ternama di Indonesia yang siap berbagi tips. Dimulai dari Alanda Kariza yang muda dan penuh energi menulis, Clara Ng yang pemalu namun amat produktif berkarya, Dewi Lestari Simangunsong alias Dee yang terkenal jagonya fiksi Indonesia dan ternyata hobi studi banding karya, Farida Susanty yang punya pendekatan berbeda soal teenlit, hingga Valiant Budi Yogi alias Vabyo yang berani mengambil sudut pandang humor dan ngotot-ngotot-an soal penyuntingan buku sampai akhirnya ia berhasil menerbitkan buku yang laris. Semua memberikan tips dan inspirasi yang unik.

Inti dari buku ini adalah menyemangati calon penulis dan penulis amatir muda yang “belum layak mengklaim diri sebagai penulis” untuk terus berusaha apabila memang ingin menekuni dunia kepenulisan. Memang beberapa tokoh di buku ini mengakui mendapatkan pengalaman mudah dan lancar jaya ketika mereka menerbitkan buku pertama, namun ada juga yang amat kesulitan dan ternyata sebelum-sebelumnya sudah banyak cerita penolakan yang justru mereka pilih untuk tidak diumbar ke publik! Nah, kalian pernah mendengar seorang J.K. Rowling pernah mengetik ulang naskah buku Harry Potter and The Philosopher Stone hingga beberapa kali dengan mesin tik tua miliknya karena tak punya biaya memfotokopi naskah? Meskipun mungkin belum seekstrim itu, kelima penulis ini pun memilih mengungkapkan sedikit pengalaman buruk mereka ketika masih ditolak penerbit, masih dianggap penulis kacangan, belum sanggup memilih kata dengan baik, dan sebagainya. Dan tentu saja, di balik itu mereka mengajarkan bahwa seiring waktu dan bertumbuhnya niat, kekurangan-kekurangan yang ada bisa diperbaiki.

Dimulai dari Alanda yang menitikberatkan semangat berbagi, buku dilanjutkan dengan Clara yang bersuasana lebih misterius namun tetap diwarnai optimisme. Kemudian Dee menjadi fokus, dengan dua titik berat: Keterbukaannya terhadap studi banding dengan penulis lain, plus sikap disiplin – Dee terkenal selalu membuat tenggat waktu ketika menulis. Berlanjut ke Farida yang awalnya kesulitan memotong panjang novelnya saat ditolak penerbit, namun karena tekad bajanya ia pun berhasil mencapai panjang novel yang diinginkan penerbit lain. Dan berakhir di Vabyo, yang memperingatkan para penulis muda untuk tidak terburu-buru dalam menerbitkan naskah apapun demi reputasi.

Menarik, bukan? Intinya, mereka berlima punya pengalaman tidak enak sebelum mereka berada di posisi saat ini, tapi mereka bersedia bangkit dan terus berusaha menjadi penulis yang lebih baik lagi. Nah, buat kita semua yang penasaran dengan dunia kepenulisan dan merasa “kok belum nembus-nembus penerbit juga ya” (saya termasuk, hehe), buku ini sangat cocok dijadikan pemicu semangat. Karena menulis itu lebih kepada kerja keras, bukan sekadar bakat. Buruan baca, mumpung lagi promo!

 

Miscellaneous & Ratings

2.5-star

How to get this book

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s