Tuan Besar (Threes Emir, 2012)


Identitas Buku

tuanbesar

Judul buku: Tuan Besar – kisah para lelaki metropolitan
Penulis: Threes Emir
Genre: Fiksi, metropop
Bahasa: Indonesia
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal: 256 halaman
Terbit: April 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-228-427-0

Sinopsis Official

Siapakah yang layak disebut atau menyebut dirinya Tuan Besar? Rasanya siapa pun boleh karena banyak sekali tipe Tuan Besar.

Ada Tuan Besar yang masya Allah beratnya 95 kg gara-gara tidak bisa mengontrol makanan. Ada juga Tuan Besar yang tidak senang bergaul dengan yang seumurnya tetapi memilih yang berumur dua puluhan. Bahkan ada pula yang sudah merasa menjadi Tuan Besar, walaupun pada kenyataannya belum.

Jangan heran, ada pula Tuan Besar yang cepat terbuai rayuan dan baru menyadarinya setelah segalanya terlambat. Namun, ada juga Tuan Besar yang cintanya pada pasangannya sungguh mengharukan dan patut ditiru.

Ah, jangan-jangan Anda salah satu dari Tuan Besar yang ada di buku ini!

Resensi

Saya sudah membaca buku yang sejenis, Nyonya Besar, di tahun 2015. Tapi anehnya keinginan membaca buku padanannya baru muncul setahun kemudian.

Kalau Nyonya Besar bercerita soal wanita-wanita dari berbagai tipe, demikian pula halnya dengan Tuan Besar. Perbedaan hanya terletak pada titik fokus cerita dan jumlah “kasus” yang disampaikan. Perbedaan lainnya: Buku Metropop ini hanya memuat 20 kisah, alih-alih 25 seperti di Nyonya Besar.

Dari dua puluh pria yang dibahas di novel ini (saya lebih suka menyebutnya kumpulan cerpen), ada pria yang memang benar-benar berusaha sampai jadi tuan besar, ada juga pria yang lahir dari tuan besar lain sehingga dari kecil sudah hidup enak, ada juga yang badannya memang besar, namun ada juga yang disebut tuan besar karena kebesaran hatinya.

Sama saja dengan buku padanannya, beberapa cerita pun langsung hilang dari ingatan begitu saya menyelesaikan buku yang hanya butuh penyelesaian dalam waktu 2 jam 30 menit ini.

Mari saya bahas beberapa contoh. Tuan Besar 1, ia begitu lugu dengan sifat kedusunannya tetapi juga sangat baik hati; punya kemiripan dengan Tuan Besar 8. Tuan Besar 2 setali tiga uang dengan Tuan Besar 5 dari aspek otak. Tuan Besar 17, memang asli disebut Tuan Besar karena badannya besar, sekaligus memang otaknya besar dan hatinya juga besar (coba baca sendiri untuk lebih jelasnya!). Kalau ingin mencari cerita tentang kebesaran hati, silahkan intip Tuan Besar 6, 11, 12, dan 13. Suka dengan kisah yang negative-ending? Tuan Besar 14 memberikan contoh yang sangat jelas, atau malah tragis seperti Tuan Besar 19. Atau justru penasaran dengan cara-cara lelaki hidung belang terkena batu? Lihat kisah Tuan Besar 10 dan 18! Atau cerita unik seperti kisah hidup Tuan Besar 3 (yang ending-nya terbuka banget). Buku ini ditutup dengan Tuan Besar 20, yang justru menurut saya adalah penutup yang agak disayangkan, karena sedikit melempem dan kurang eksplorasi.

Lalu sisanya? Nomor tuan besar yang tidak saya sebutkan, berarti kisahnya kurang berkesan buat saya.

Ada beberapa hal teknis yang saya kira perlu dikomentari soal buku ini. Misalnya di kisah Tuan Besar 14. Salah satu cerita yang paling berkesan ini justru membuat saya berpikir ulang, apakah cerita ini sebetulnya layak masuk ke Tuan Besar, atau justru seharusnya ada di Nyonya Besar? Lalu kisah Tuan Besar 20, yang demikian pendek tapi sarat makna. Tetap saja menurut saya ada sesuatu yang kurang, entah karena panjangnya yang memang kurang, atau karena ending yang amat mudah ditebak. Kemudian satu hal lagi, soal pemilihan kata perangkai dalam kalimat majemuk. Menurut saya pilihan kata-kata sambung oleh Bu Threes agak complicated di buku ini. Saya sampai harus mengulang baca beberapa kalimat tiap beberapa halaman sekali, karena bingung dengan penggunaan kata sambung dan pemisah bagian kalimat yang kurang jelas. Sering muncul frasa atau kata-kata yang beda konteks dengan konteks di kata sebelumnya, padahal tidak ada tanda koma atau tanda strip (dash) sebagai pemisah. Atau mungkin karena keahlian bahasa Indonesia saya yang masih minim?

Apakah buku ini betul-betul berpusat pada kehidupan orang kaya-raya dan tidak baik dibaca kalangan menengah? Menurut saya tidak juga… Karena yang ditekankan dalam buku ini bukanlah merk-merk mahal, yang memang kerap disebut di beberapa titik. Melainkan penekanan terletak pada “begini lho pria itu, kalau sudah berhadapan dengan salah satu antara harta, wanita, atau tahta; atau bahkan ketiganya”. Jadi, memang suasana pembungkusnya yang dibikin bernuansa sosialita-metropolitan, tetapi isinya masih tetap sarat nilai moral.

Kalau ditanya haruskah kita membaca buku Nyonya Besar dan Tuan Besar secara berpasangan? Tidak juga. Tetapi kalau kalian ingin tahu sisi kehidupan dari berbagai arah, ada baiknya kalian baca keduanya. Seperti Nyonya Besar pula, Tuan Besar bukan buku yang benar-benar bakal menggigit, tetapi tetap layak direkomendasikan untuk mengajarkan nilai moral.

Sebenarnya, ada satu buku lagi yang setipe: Simpanan Nyonya Besar. Juga dari Ibu Threes. Kalau nanti saya sudah baca, pasti saya buatkan juga resensinya.

Personal Rating and Goodreads

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Scoop
  • Tuan Besar di Goodreads
  • Personal Goodreads Rating 3/5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s