Shit Happens: Gue yang Ogah Kawin, Kok Elo yang Rese? (Christian Simamora & Windy Ariestanty, 2007)


Identitas Buku

Screen Shot 2016-02-18 at 16.12.44

Judul: Shit Happens: Gue yang Ogah Kawin, Kok Elo yang Rese?
Penulis: Christian Simamora & Windy Ariestanty
Terbit: Oktober 2007
Penerbit: GagasMedia
Genre: Fiksi, romance, comedy
Bahasa: Indonesia
Ukuran: 11.5 cm x 19 cm
Tebal: 310 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-979-780-171-7

 

Sinopsis Official

Shit does happen in their life. But, still, life must goes on….

Lula, Sebastian, dan Langit. Tiga orang lajang yang hidup di kota besar bernama Jakarta dengan profesi berbeda. Jurnalis, penulis, dan editor. Love their life much, so damn proud of themselves, boast their freedom of life as an individual.

…‘till one question ruins their [un]perfect life.

Lula : I have a good job, I’m pretty, and, believe me, I’m not an airhead Paris-Hilton-like girl. I’m all what men need. Tapi, kenapa nggak ada cincin di jari manis gue?

Sebastian : Mangoli (nikah)… cuma itu yang ada di pikiran Mama akhir-akhir ini. Katanya, menikah itu sumber kebahagiaan. Talk to yourself, Mom. Your marriage isn’t a picture of a happy life. Kenapa sih terus-terusan maksa aku nyari calon parumaen (menantu) dan menikah secepatnya?

Langit : We were a perfect couple. ‘till, I found his affair. Then, he left me. He chose his latest partner, not me. This is my question. WHY?

So, this is not a story about perfect life. They just try HARD to make it perfect.

Resensi

Butuh waktu lebih dari setahun buat saya dalam menyelesaikan novel yang satu ini. Ada dua alasan utama.

Pertama, karena saya membacanya dalam bentuk Digital DJVU reader, yang entah file-nya dapat gratisan dari mana. Celakanya saya masih termasuk orang yang pegal kalau membaca buku lewat komputer. Maaf yang pertama buat para penulisnya – yang merupakan dua orang beken di dunia kepenulisan – bahwa saya membaca buku ini bukan karena beli.

Dan yang kedua, karena sepanjang perjalanan saya di 40% pertama buku, saya kurang tertarik dengan semuanya: dengan tema yang diangkat, gaya bahasa yang dipakai, dan bahkan buat saya, akhir cerita amat mudah ditebak hanya dengan membaca 30% dari isi buku. Saya mulai membacanya di Januari 2015, hanya sampai 40%, lalu saya pause selama 13 bulan, dan baru saja bukunya selesai dibaca. Dan inilah maaf yang kedua buat para penulisnya, bahwa tak hanya saya perlu waktu yang lama untuk menyelesaikan buku ini (pertanda bahwa saya memang tidak interested), saya pun tidak bisa memberikan personal rating tinggi untuk buku ini ketika sudah selesai membacanya.

Cerita yang dibahas adalah soal tiga sahabat, yaitu Lula – si ambisius soal pria dan suka menyeret orang lain ke dalam masalahnya, Langit – wanita berbodi rata yang anti-diferensiasi-jenis-kelamin, dan Sebastian – si metroseksual Batak chubby yang sering disuruh-suruh cepat kawin sama “mamak”-nya. Inti kisah Lula adalah soal kegalauannya karena tak memiliki pasangan, lebih-lebih ketika menghadapi undangan pernikahan mantan pacarnya. Sementara Langit masih terus meratapi nasibnya lantaran sang pacar yang orang Amerika memilih menikahi sesama jenis ketimbang terus berhubungan dengannya. Jika Lula dan Langit sama-sama gagal move-on, Sebastian menghadapi permasalahan yang sedikit berbeda: Soal uberan nikah oleh sang ibu, plus problem orientasi seksualnya sendiri.

Dari cover-nya saja, buku ini sudah terkesan absurd karena cover depan dan belakang dibikin terbalik posisinya. Mungkin ini semacam penyelarasan judul buku, bahwa kekacauan atau kekeliruan bisa terjadi begitu saja dalam kehidupan sehari-hari? Entahlah…

Berikutnya soal tema, buku ini mengangkat urusan seks: Sesuatu yang rasanya memang sedang booming di dekade 2000-an dengan hadirnya genre sastrawangi. Tapi dengan sangat menyesal saya katakan buku ini tidak bisa masuk ke genre sastrawangi karena berbagai sebab. Barangkali saya keliru besar. Jadi, begitu disodori buku seperti ini, apalagi buat yang sudah membaca Saman (Ayu Utami, 1998), Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu, 2004), atau Test Pack (Ninit Yunita, 2005); bisa saja kita berpikir, “Lho, tema beginian lagi?”

Sejak bab 0. Prologue, sudah ketebak bahwa topik yang disinggung dalam kisah ini tak jauh-jauh dari topik selangkangan dan seks. Bahasa yang digunakan juga sudah terlihat polanya sejak awal: Sangat ekstrim, penuh kode keras dan lunak soal urusan kelamin dan ranjang, serta tanpa ampun menghajar pembaca dengan tulisan cetak miring (baca: Bahasa Inggris) yang bertabur di sepanjang buku. Memang sejalan dengan topiknya sih… Tapi mau tak mau, saya mengakui mata agak pegal mengikuti dialog dan uraian yang disajikan demikian. Bisa ditebak, kemudian saya membaca buku ini dengan cara skimming.

Eh, tapi… Sudah skimming, tetap saja saya menemukan kejanggalan di halaman 92-93. Setahu saya, dalam bahasa Jerman tukang kayu diistilahkan “(der) Schneider”, bukan “(der) Schnieder”. Duh. Maafkan ke-grammar-nazi-an saya.

Okay, back to topic. Lalu soal penuturan dan plot. Sudut pandang penuturan di sepanjang buku ini cukup menarik karena diambil dari sudut pandang tiga orang, namun ketiganya masih berdialog di bab “milik” tiap-tiap orang. Soal plot, memang cenderung mudah ditebak ujungnya, namun twist yang disajikan juga cukup mengundang rasa penasaran bagaimana cerita akan berakhir. Soal cara penuturan, ini nih yang saya rasa patut digarisbawahi. Bahwa buku ini memakai bahasa gaul yang terlalu vulgar. Tapi saking vulgarnya, saya justru bukannya merasa bahwa buku ini jorok, tapi malah jadi lucu. Beberapa kali saya dibikin tertawa karena cerita mengalir dengan cukup lucu, meskipun mau tak mau inti ceritanya bisa dibilang dangkal.

Bagaimana soal tema? Mungkin tema orientasi seksual baru hangat dibahas di dekade 2010-an, tetapi buku ini sudah terlebih dahulu menjadi semacam penggebrak untuk urusan homoseksualitas, meskipun sifatnya fiktif (atau based-on-true-story kah?). Jadi dari aspek homoseksualitas tadi, buku ini bisa dibilang unik. Tapi sisanya, saya bisa katakan buku ini dipenuhi cerita wanita galau, wanita galau, dan wanita galau. Mungkin, cerita-cerita wanita galau itu memang sengaja dihadirkan sebagai bumbu atau selaku pengawal saja?

Akhir kata, buku ini memang sungguh kocak dari segi penyampaiannya. Penulis-penulisnya juga berani mendobrak urusan homoseksualitas, yang di dekade 2000-an masih agak-agak kurang lazim diangkat. Tapi karena terlalu banyak istilah asing, ada beberapa typo (setidaknya yang terlihat oleh saya, selain Schneider itu tadi), dan begitu tertebaknya cerita di buku ini; mau tak mau saya sampai pada kesimpulan: Bahwa kalau kalian mencari bacaan yang ringan, jorok-jorok tapi lucu, buku ini pas sekali. Tapi kalau ingin mencari bacaan soal seksualitas yang dalam dan berat, buku ini sangatlah tidak cocok.

 

Personal Ratings & Goodreads

 

P.S.: Kenapa ada orang yang menyebut buku ini cerdas, tapi saya tidak setuju? Alasannya saya rasa begini. Satu, bagaimana niai buku ini adalah tergantung selera orang. Dua, saya bukan kritikus ahli atau penulis kelas wahid yang berkomentar demikian, mungkin saya yang tidak paham betapa bernilainya vulgarisme tersebut. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s