Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, dan Nikmat (Rossa Indah, 2012)


Identitas Buku

skandinaviatraveling

Judul buku: Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, & Nikmat
Penulis: Rossa Indah K. Matari
Penerbit: B-First (Bentang Pustaka Group)
Terbit: Januari 2012
Tebal: 346 halaman
Genre: Travel
Ukuran: 19 cm x 14 cm
Bahasa: Indonesia
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-602-886-449-7

Sinopsis Official

Selama ini Skandinavia lekat dengan predikat negara mahal sehingga tak jarang para travelers mengurungkan niatnya untuk berkunjung kesana. Padahal ada beberapa celah yang dapat disiasati untuk menekan budget perjalanan. Tidak perlu ragu lagi menjelajah Skandinavia setelah kamu membaca buku ini (cieee promosi).

Buku ini akan membawa kamu jalan-jalan ke Eropa Utara, tepatnya ke dua negara di daerah Skandinavia. Dari Stockholm dan Goteborg di Swedia, sampai ke Oslo dan Bergen di Norwegia, semuanya menawarkan pengalaman traveling yang menyenangkan.

Resensi

Mungkin sudah terlambat banget buat saya untuk bikin review buku ini. Tapi penasaran rasanya jika saya harus membiarkan kesan-kesan saya soal buku ini tidak diketahui orang lain.

Jadi ceritanya… Waktu membuat itinerary liburan sendiri ke Eropa di tahun 2014, saya memutuskan memasukkan sebagian kota dari gerombolan Skandinavia – atau mungkin lebih pasnya disebut sebagai Nordic countries – ke dalamnya. Tujuannya tidak lain adalah supaya itinerary saya terlihat nyeleneh. Pilihan utama jatuh ke Stockholm, Swedia. Pilihan kedua jatuh ke Copenhagen, Denmark. Meskipun saya sudah biasa merencanakan segala sesuatu soal traveling ke kota besar tanpa bantuan buku Lonely Planet, saya masih saja penasaran: Adakah orang Indonesia yang pernah membuatkan panduan tentang traveling ke Swedia dan Denmark?

Dan tak sengajalah saya bertemu buku ini di Scoop, portal belanja e-book dan e-magazine ternama itu.

Akhirnya saya belilah buku ini dalam versi digital. Eh tapi (setengah) fail. Gara-garanya saya tidak baca sinopsis baik-baik dulu sebelum beli. Saya tidak sadar buku ini tidak ada Denmark-nya. Capek deh. But anyway, kan Swedia-nya ada, ya sudahlah tidak apa-apa. Maka yang terpikir oleh saya: Keren deh sudah ada orang Indonesia yang mengeksplorasi destinasi travel unik seperti ini.

Waktu membaca kata pengantar soal proses terjadinya buku ini, maka kesan pertama saya adalah keren banget ya, kok ada lomba bikin trip itinerary kayak begitu? (Maklumlah saat lomba itu terjadi, saya masih di dunia kegelapan) Dan hebatnya Rossa, si penulis, bisa berkunjung ke negara-negara dingin itu di usia belum mencapai 30 tahun. Hebat! Kalau saya? Wah, jangan dibandingkan, jauh deh kalau saya.

Saya pun sempat menyelidiki soal definisi Skandinavia gara-gara membaca buku ini. Saya kurang setuju dengan definisi Skandinavia-nya Rossa – mungkin karena acuan saya adalah buku Michael Booth (Almost Nearly Perfect People, Behind The Myth of Scandinavian Utopia). Saya jadi paham bahwa memang ada perdebatan soal definisi Skandinavia di mana-mana.

Coba kita lihat di Dictionary Reference, apa katanya?

Scandinavia definition: The region in northern Europe containing Norway, Sweden, and Denmark and the peninsulas they occupy. Through cultural, historical, and political associations, Finland and Iceland are often considered part of Scandinavia.

Sementara, menurut Booth (yang saya lebih setujui), Skandinavia itu ada lima negara: Swedia, Norwegia, Denmark, Islandia, dan Finlandia. LHO? Islandia memang “pisah” posisinya dan justru lebih dekat ke Inggris. Finlandia juga punya posisi lebih dekat Laut Baltik. Tapi daratan Skandinavia plus dua negara itu punya latar belakang etnik, sejarah, dan ras yang mirip. Sehingga bisa dikategorikan jadi satu.

Ada juga yang mencoba memberikan definisi yang lebih luas, Nordic countries.

Nordic is of or relating to Scandinavia (Norway, Sweden, and Denmark), plus Finland, Iceland, and the Faroe Islands

Okelah. Daripada lama ngutek-ngutek definisi gak selesai-selesai, maka kesimpulannya: Rossa menggunakan definisi Skandinavia secara geografis, dan saya menganut definisi Skandinavia berdasarkan etnik dan kebudayaan. Hihi.

Nah, berikutnya soal foto-foto. Entah kenapa buku ini dalam versi e-book begitu hitam putih. Foto-fotonya pun begitu. Jadinya agak kurang nendang. Padahal ekspektasi saya, buku panduan traveling harusnya memuat foto-foto berwarna yah…

Rossa sempat membahas soal suhu dan jam-jam terang dalam sehari, lantaran ia berangkat di bulan Juni. Disebutkan bahwa kita bisa menikmati hari-hari “terang-terus” kalau kita berangkat di Juni. Saya yang “mengalami” bulan April-Mei, juga mengalami matahari terbit di jam 4 pagi dan terbenam di jam 10 malam. Sedikit kalah ekstrim dari pengalaman Rossa.

Masuk ke bagian inti buku. Di luar ekspektasi saya, buku ini super-komplit-banget dalam membahas Stockholm. Soal penginapan, tempat makan, transportasi, dan wahana-wahana wisata gratis semua ada. Memang sih, ada panduan yang saya contoh dan ada yang tidak, ketika saya benar-benar ke kota Nobel itu (karena cuma sebentar). Sebagai contoh, saya “mematuhi” saran untuk menjelajahi Gamla Stan dan Nobel Museum. Menyimak wujud seni di stasiun Tunnelbana dan menikmati spring flowers di Kungstradgarden. Tapi saya tidak mengikuti panduan dari buku ini untuk mengambil metode transportasi yang efektif-murah-efisien dari bandara ke tempat tinggal. Eh tapi… Karena kecerobohan saya, saya masih juga missed dua hal soal Stockholm: Satu, membalik kursi di Nobel Bistro; dan dua, menyeberang naik bus menuju Skeppsholm. Hiks!

Bagian lain yang luar biasa dalam buku Rossa ini adalah festival. Daftar festival lokal Swedia yang disajikan Rossa cukup komplit, plus latar belakang festival tersebut diadakan pun ada (cek halaman 84-89). Saya sendiri sangat terbantu dengan tulisan soal festival ini. Karena berkat buku inilah saya sadar bahwa tanggal perayaan Walpurgis Night pas sekali dengan tanggal kunjungan saya.

Buat kota-kota selebihnya seperti Bergen, Oslo, dan Gotenburg… Belum bisa komentar banyak karena saya belum ke sana. Tapi saya senang sudah memiliki versi e-book buku ini, karena bakalan sangat bermanfaat jika suatu hari nanti saya bisa ke Norwegia.

Kemudian soal judul buku dan taglines-nya. Soal tagline murah, masalahnya hidup Skandinavia MEMANG cukup mahal. Tapi malah yang saya lihat, biaya hidup di Stockholm masih jauh kalah daripada biaya hidup di Paris (yang jauh lebih parah itu Copenhagen malah). Terutama soal tempat tinggal dan soal makan. Jadi sebetulnya masih ada peluang untuk berhemat, apalagi kalau traveling-nya dalam pasukan besar. Dan soal isi perut, saran Rossa sudah tepat sekali bahwa makanan murah memang tersebar di sekitar Drottninggatan.

Setelah melihat sendiri tempatnya, saya bisa bilang setuju bahwa Stockholm itu indah (sesuai nama penulisnya – hehe), nyeni, dan menarik. Namun belum banyak yang sadar dengan daya tarik tersebut. Selama ini orang banyak memuji kota-kota yang familiar seperti Paris, Amsterdam; padahal Stockholm tidak kalah kerennya. Nah… Buku ini bisa kita jadikan sarana tepat untuk mengenal Stockholm dan keunikannya (saya nggak dibayar oleh Kedubes Swedia loh ya). Plus membuat kita semua mupeng ke sana.

Last but not least: Buku ini sukses bikin saya penasaran untuk menjelajahi Bergen, Norwegia; dan menambah rasa ingin tahu saya tentang negara Skandinavia coret yang tidak dibahas di sini juga: Islandia.

Mungkin nanti bisa ada buku sekuel-nya, yang membahas Denmark, Finlandia, dan Islandia? Kalau ada, saya berminat jadi kontributor Denmark yah… Eh. Ups. Maksud saya, tentu saya juga berminat mengoleksi buku tersebut 🙂

My personal ratings & Goodreads

4-star

How to get this book

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s