Sabtu Bersama Bapak (Adhitya Mulya, 2014)


Identitas Buku

sabtu-bersama-bapak

Judul buku: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Genre: Fiksi, inspirasi
Tebal: 288 halaman
Ukuran: 13 cm x 19 cm
Bahasa: Indonesia
Terbit: 11 Juni 2014
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-979-780-721-4

 

Sinopsis Official

Video mulai berputar.

Hai Satya! Hai Cakra!sang Bapak melambaikan tangan.
Ini Bapak. Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.

Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.

—-

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Resensi (dan ini masih agak spoiler)

Saya dapat buku ini sebagai gratisan di Google Play Books. Entah kenapa buku ini gratis di situ. Sementara saya sudah memasukkannya ke Wishlist Goodreads entah dari kapan. Ah, sudahlah. Pokoknya, rating dan review yang saya kasih tidak ada hubungannya dengan status gratisan dari buku ini.

Soal tema cerita, sebetulnya sudah terlihat jelas dari sinopsis yang saya informasikan di atas. Sama sekali tidak ada penyimpangan. Sang Bapak, yang bernama Gunawan, beristrikan Itje, dan memiliki dua anak laki-laki: Satya dan Cakra. Awal cerita dimulai ketika Gunawan didiagnosis kanker di bulan Desember 1991, dan divonis hanya memiliki waktu lebih kurang 1 tahun lagi untuk hidup. Karena saat itu kedua anaknya masih kecil, ia memutuskan untuk membuatkan video yang ia minta untuk disaksikan anak-anaknya ketika mereka mencapai umur tertentu atau situasi tertentu. Tujuannya tak lain adalah tetap dapat hadir di momen-momen terpenting dalam hidup kedua putranya, meskipun nanti ia bakal sudah tiada. Alhasil, sang ibu pun membiasakan kedua putranya menonton video rekaman sang ayah di setiap hari Sabtu.

Pertanyaan besarnya hanya satu: Seperti apakah pengaruh video-video sang ayah dalam fase-fase terpenting hidup Satya dan Cakra? Kira-kira, itulah lingkup bahasan yang diulas dalam novel setebal 288 halaman ini.

Hanya dengan melihat tema ceritanya, rasanya tidak salah kalau kita menduga buku ini cocok untuk merenungkan kembali hubungan dengan orang tua, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Dan ternyata setelah saya membacanya hingga selesai, buku ini ternyata lebih dari itu. Tak cuma cocok untuk refleksi hubungan anak dengan orang tuanya, tapi juga sebaliknya: Memberikan refleksi buat orang tua tentang bagaimana menanamkan nilai-nilai positif dalam masa tumbuh kembang anak hingga remaja.

Selain itu, saya juga merasa buku ini amat sesuai untuk dibaca saat kita mengalami konflik atau cekcok dengan orang tua. Terlebih kalau kita sebagai anak adalah pihak yang memicu konflik atau percekcokan duluan. Nilai-nilai “orang tua tak pernah menginginkan hal buruk” benar-benar dikupas tuntas dalam nyaris setiap bab buku ini. Entah itu oleh tokoh Pak Gunawan ataupun Bu Itje. Nah, kalau sudah baca buku ini saat berkonflik dengan orang tua, mau tak mau pembaca pasti diajak berpikir kembali, dan pasti termotivasi untuk minta maaf dan rujuk kembali. Coba saja, hehe 😀

Nah, selanjutnya saya bahas soal teknis.

Penulisan buku ini bisa dibilang kurang kuat dari segi teknis karena beberapa hal. Anakronisme adalah salah satu contoh kekeliruan yang saya catat muncul sekitar 4 kali sepanjang novel. Tadinya saya hanya menemukan tiga, tapi setelah saya ingat kembali, ternyata ada empat. Ini dia.

Kemunculan pertama: Soal harddisk eksternal, halaman 8. Di tahun 2005 saya memang belum pakai harddisk eksternal, tetapi setahu saya di era itu hard disk semuanya masih berwujud harddisk yang tidak punya casing dan harus dirakitkan ke dalam komputer (PC) untuk bisa dipakai. Alias: Tidak bisa dibawa ke mana-mana seenaknya. Dan saya ingat betul bahwa kapasitas harddisk yang beredar di masa itu adalah sekitar 20-80 GB, bukan 700 GB! (Karena di tahun 2006, saya pernah nyaris mengalami kerusakan harddisk internal komputer, dan harddisk saya saat itu hanya punya muatan 40 GB).

Kemunculan kedua: Soal daftar e-mail Cakra di halaman 44. Apabila kalian sudah membaca keseluruhan novel dan menilik kembali halaman ini, akan terasa agak janggal. Bagaimana mungkin membangun rumah, naik jabatan, karyawan baru masuk, dinas luar kota sebulan, pendekatan dengan wanita, dan seabrek kejadian itu berlangsung dalam hanya 8 bulan, sementara di e-mail Cakra sudah ada entri budget 2017 (di awal cerita pula)? Buat saya itu aneh.

Kemunculan ketiga: Soal IPK pelamar kerja fresh-graduate, halaman 50. Di tahun 1992, saya masih ingat persis bahwa IPK standar untuk melamar kerja bagi fresh-graduate adalah masih 2.75. Standar 3.00 baru mulai diberlakukan di pertengahan menjelang akhir dekade 2000-an.

Kemunculan keempat, dan yang paling mengganggu: Soal Henry Ford dan Steve Jobs, halaman 150. Steve Jobs baru memperkenalkan iPod di tahun 2001. Sementara surat yang memuat kata Steve Jobs itu dibuat Pak Gunawan di tahun 1992. Aneh juga ya.

Selebihnya, sejumlah minor goofs juga ada.

Misalnya soal latar belakang tempat di Denmark, yang saya rasa kurang tajam dan kurang mengena. Tempat bermain anak di Denmark tidak cuma di Copenhagen, tapi juga ada di Billund dan Aarhus. Namun di kisah ini seolah tempat bermain anak hanya ada di ibukota Denmark tersebut. Selain itu, masalah ekonomi di Denmark, sama sekali tidak diulas (padahal, siapa saja warga asing non-Skandinavia yang menetap di Denmark pasti mengeluhkan soal pajak yang begitu besar). Soal sosial, seolah keluarga yang tinggal di Denmark ini memang terasing dari masyarakat sekitar (atau memang mengasingkan diri?). Padahal, Denmark terkenal dengan close-community system-nya yang unik. Setidaknya ada 3-4 keluarga tetangga yang saling kenal akrab satu sama lain dan sering berkumpul bersama. Di buku ini, aspek itu sama sekali tidak ada. Sehingga bagi saya, Denmark cuma ditempatkan sebagai aksesoris tanpa dipertajam sebagai pendukung yang bernyawa dari suatu kisah.

Atau soal transkrip e-mail ketika seisi departemen meledek Cakra, halaman 91-95. Penulisan subjek e-mail terlihat copas dari awal sampai akhir. Padahal pada kenyataannya, ketika seseorang membalas e-mail kantor, pasti di depan subjeknya muncul kata “Re:” lagi di depan kata “Re:”, demikian seterusnya, sehingga jumlah “Re:” bisa sangat banyak.

Wah, jadi banyak kritik teknis. Back to topic.

Jadi… Tadinya mau ngasih bintang 4, tapi sungguh saya kurang sreg dengan anakronisme di novel ini yang barangkali seperti gigitan semut di punggung yang sulit digaruk namun terasa terus. Sehingga untuk rating Goodreads, saya hanya memberikan 3 dari 5 bintang.

But anyway, I highly recommend this book to save your relationship!

My ratings and Goodreads

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Google Play Book for iOS
  • Sabtu Bersama Bapak on Goodreads
  • Personal Goodreads Rating: 3/5

How to get this book

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s