WNI Dilarang Baca! (Christophe Dorigné-Thomson, 2015)


Identitas Buku

wni_dilarang_baca

Judul: WNI Dilarang Baca!
Penulis: Christophe Dorigné-Thomson
Penerbit: B-First/Mizan Group/Bentang Pustaka
Genre: Non-fiksi
Bahasa: Indonesia (plus sejumlah bahasa gaul/jargon, Inggris, dan Prancis)
Terbit: 3 Juni 2015
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
Tebal: 272 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-124-631-3

Sinopsis Official

“Wow, ada bule!” kata lo setengah menjerit. Hayooo, ngaku deh kalau sebagai Warga Negara Indonesia yang genuine, pernah ada momen saat lo diam-diam melirik dan mendadak jaim tiap ada kaum bule berada di deket lo. Tahu, nggak? Diam-diam mereka juga sadar, tahu kalau lo lagi memperhatikan mereka. Gotcha!

Sebenarnya … di sini gue akan membocorkan tentang rahasia si bule dari perspektif gue, si bule itu sendiri. Gue bagi semua di sini karena gue suka sharing, gue nggak berharap apa-apa, tapi rasanya puas aja bisa bocor sebocor-bocornya di sini. Bisa jadi lo akan percaya mentah-mentah, bisa juga nggak, yang pasti lo bakal ketagihan dan pengin tahu lebih dan lebih.

Hmmm … buat lo yang nggak berminat “mengintip” dunia bule seutuhnya, I don’t think you should read this book. Gue nggak siap kalau hal-hal konyol dan lucu dan sedikit serius ini diketahui sama lo. Gue takut lo bakal gemas, gue takut masa depan gue terancam. So, please pikir-pikir ulang kalau mau baca buku ini.

Resensi

Entah kenapa saya penasaran dengan persepsi orang asing (baca: bule) tentang Indonesia. Jadilah saya memilih dua buku untuk memuaskan rasa penasaran tersebut: Yang pertama adalah Indonesia Etc oleh Elizabeth Pisani, mewakili sisi kebudayaan-politik-sejarah yang lebih berat, dan yang kedua adalah buku ini oleh Monsieur Chris Thomson alias CDT, mewakili sisi kebudayaan-sosial-populer yang lebih ringan.

Pertama kali saya membaca tulisan CDT adalah di Harian Kompas, waktu dia bicara tentang orang-orang di bandara Dubai (lupa judulnya, pokoknya di suatu kolom gitu deh). Memang aneh kalau dipikir-pikir, ada orang yang namanya Prancis tapi kok bahasa Indonesianya begitu mirip bahasa Indonesia-nya orang Indonesia betulan. Tapi saya tidak serta-merta meng-goggling siapakah CDT ini. Agak lama kemudian, setelah mendapatkan sampel 50 halaman pertama buku ini ketika meng-install GooglePlay Books, barulah saya meng-googling dan ternyata si bule Prancis-Inggris ini sudah cukup sering tinggal dan bekerja di Indonesia, sampai-sampai dia sudah lancar berbahasa Indonesia (terbukti dari beberapa wawancaranya di TV lokal) dan sudah bisa makan makanan pedas.

Dilihat dari judulnya saja buku ini sudah membangkitkan rasa ingin tahu alias kepo. Namanya juga manusia (apalagi manusia Indonesia), selalu penasaran meskipun sudah diberitahu jangan, tidak boleh, alias sudah dilarang. Tapi setelah melihat halaman terakhir sampel gratisan GooglePlay Books tersebut, saya memutuskan membaca buku ini sampai habis. Dan ternyata setelah membacanya sampai selesai, saya bisa katakan bahwa buku ini tidak cuma menyoroti dunia kebulean seperti yang disebut di sinopsisnya. Ada hal yang tidak terungkap di sinopsis, yang ternyata mengejutkan dan cukup keren!

Jika dilihat dari sinopsis, memang kita sebagai pembaca seolah-olah diperlakukan sebagai wanita yang menggilai pria ras Kaukasian (baca: bule), meskipun barangkali yang baca tidak melulu wanita dan tidak melulu orang yang menggilai bule. Nah, kalau kalian sudah tidak bisa terima diperlakukan begitu, jangan baca deh. Bisa sakit hati, hehehe.

Setelah masuk ke bukunya, memang benar pembaca terus diperlakukan seperti itu (tuh kan saya bilang juga apa). Jargon save the bule pun sering sekali muncul di awal buku. Pengambilan sudut pandang bule-centered semacam ini sebetulnya tidak salah, mengingat di Indonesia masih sering ditemukan situasi yang mengagungkan ras Kaukasian secara irasional padahal Indonesia sudah merdeka dari penjajahan selama 70 tahun (baca deh halaman 64 dan 192). Dan yang parah lagi, padahal bule dan orang Indonesia kan sama-sama manusia (baca halaman 12).

Kemudian mental semacam inilah yang disindir dengan bahasa satir yang mau tak mau (barangkali agak) mengocok perut. Misalnya, ketika kita para pembaca dianjurkan menyewa bule untuk dijadikan pembantu atau sopir (halaman 25), demi membalaskan dendam penjajahan. Atau satu bab khusus yang isinya tentang bule masuk politik. Bab ini lucu banget, khususnya di halaman 178 dan 182. Atau soal makanan berkalori ekstrim yang justru disukai rakyat Indonesia, halaman 253-254. Dan yang jadi kelucuan pemuncak, tentu di bab sosmed (halaman 207-224). Habislah kebiasaan rakyat Indonesia dalam memoles tampilan dunia mayanya digerebek plus ditelanjangi di bab yang satu ini!

Aspek lain yang tak ketinggalan diulas adalah hal-hal di luar bule-mindedness yang membuat Indonesia terkenal di mata internasional (baca: di mata para bule). Yang berhasil saya catat, ada beberapa (semoga tidak spoiler).

  1. Kenapa orang Indonesia sangat senang korupsi dan memakluminya sebagai kebiasaan (baca: Lebih memilih memanfaatkan kepintaran untuk kejahatan daripada kepentingan orang banyak). (halaman 78)
  2. Kenapa Indonesia senang impor semua barang, padahal tanahnya subur, sumber daya manusianya banyak, dan (teoritis) bisa menghasilkan apa saja. (halaman 86)
  3. Kenapa orang Indonesia lebih suka pakai bahasa campuraduk Indonesia-Inggris-Prancis-apapun demi terlihat keren. (halaman 120)
  4. Kenapa di Indonesia malah kemampuan bahasa Inggris lebih diutamakan sebagai syarat penerimaan pendidikan atau pekerjaan, ketimbang kemampuan bahasa Indonesia itu sendiri. (halaman 192)
  5. Kenapa makanan Indonesia enak-enak tapi tidak terkenal di dunia internasional. Kalau dibalik: Kenapa citra Indonesia yang terkenal di dunia internasional justru cuma yang jelek-jelek, malah yang bagus-bagusnya tidak terkenal. (halaman 252)

Yah, kalau pengen tahu lebih lanjut soal lima hal itu tadi, cuma ada dua pilihan: Baca sendiri buku ini, atau pergilah ke luar negeri dan perkenalkan diri kalian sebagai orang Indonesia lalu tanya ke penduduk sana apa yang kalian tahu tentang Indonesia.

Kembali ke topik. Di luar lima aspek minus tadi, disebutkan juga oleh Om CDT bahwa Indonesia sebetulnya punya potensi besar untuk maju dan tidak hanya dikenal sebagai bangsa yang citranya jelek. Alasannya?

  1. Orang Indonesia pada umumnya kepo. (halaman 45)
  2. Orang Indonesia pada umumnya sangat ahli mengoperasikan media sosial, bahkan disinyalir media sosial itu diciptakan memang buat orang Indonesia (halaman 208-209)
  3. Selain Jakarta, Indonesia juga punya beberapa kota potensial, seperti misalnya Bandung yang memiliki berbagai program jangka panjang cukup unik. Sampai ada satu bab tersendiri buat Bandung di buku ini (halaman 225-246).

Nah. Jadi ketika saya bilang buku ini isinya tidak cuma lucu-lucuan, saya serius. Buku ini ternyata, diam-diam, juga memuat bagaimana visi dan misi Om CDT buat Indonesia ke depannya, dan wejangan-wejangan soal apa yang sebetulnya bisa Indonesia lakukan untuk menggapai visi dengan misi yang tepat. Memang tidak terlalu detail semacam petunjuk pelaksanaan proyek atau sejenisnya sih. Tapi setidaknya buku ini memberikan gambaran bahwa Indonesia memang harus sadar diri sebagai bangsa yang berpotensi dan seharusnya bisa bangga dengan identitasnya di dunia internasional.

Dan yang lebih menonjok: Om CDT yang bukan orang Indonesia asli saja berkali-kali bilang dengan optimisnya, “Saya yakin Indonesia bisa maju”. Kenapa kita yang orang-orang Indonesia asli sendiri malah sering pesimis?

Bagaimanapun, pengambilan sudut pandang dan cara penyampaian seperti yang dilakukan Om CDT ini (eh, keterusan nyebut “om”? Haha, biarin!), menurut saya cukup menarik untuk dijadikan refleksi buat orang Indonesia. Orang Indonesia bukan orang Jerman yang to the point. Mereka (eh, saya juga termasuk, berarti “kami”) lebih bisa menerima kritik atau masukan yang disampaikan dengan pemanis, ketimbang metode “hajar langsung”. Dan saya rasa buku ini sudah cukup pas untuk menyampaikan pesan sosial yang harus diketahui rakyat Indonesia, dengan sangat baik.

Bravo Om CDT. Kalau bikin buku nonfiksi tentang sosial-antropologi lagi, kabarin yah! Haha!

Kalimat-kalimat menarik

(Maaf nomor halamannya tidak ada. Sewaktu saya menuliskan kalimat-kalimat ini, Google PlayBooks for iOS lagi aneh, sehingga format buku ini pun terlihat aneh dan kacau balau. Nyesel juga, mending waktu itu beli di toko e-book sebelah.)

  • Senyuman orang Indonesia kayak vitamin C. Gue seperti dapat suntikan positif setiap hari. Beda banget sama muka orang Paris. Kalau senyum di sana, dianggap seperti orang bodoh.
  • Orang korup banget kayak gitu pasti akan masuk neraka. Semua anggota keluarga dapat posisi untuk merampok uang negeri.
  • Baju merk X dibikin di sini, diekspor, terus diimpor lagi ke sini. Gila, kan?
  • Tapi kok, bodohnya keterlaluan ya? Mau-maunya beli tomat satu juta?
  • Nggak boleh mukul duluan apapun kesalahan orang yang mau lo pukul. Tapi kalau lo dipukul, lo bisa balas. Baru bisa balas, hanya kalau sudah dibunuh ya?
  • Makan martabak manis pakai topping sekilo Nutella sama Skippy sama keju, terus supaya kelihatan sehat ditambah stroberi. WOW, 15 ribu kalori. Gila. Habis makan itu jadi nggak bisa gerak. Dua hari stay di posisi yang sama.
  • Gue suka makanan Indonesia. Enak.
  • Indonesia akan maju kalau lo percaya bisa maju dan kalau lo fokus bekerja keras untuk kemajuan itu. Pokoknya maju terus pantang mundur!

Personal Ratings and Goodreads

  • Tentang Chris Thomson: [Twitter] [Website] [Instagram] [Kompasiana]
  • Saya membaca buku ini dalam bentuk: Digital, GooglePlay Books for iOS (NB: Ini beli, bukan dari hasil korupsi)
  • WNI Dilarang Baca di Goodreads
  • My Ratings: 5/5 (Goodreads), 9/10 (Personal)

4.5-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 54.000
  • Gramedia.com: Rp 45.900 belum termasuk ongkos kirim.
  • Mizan Store: Rp 45.500 belum termasuk ongkos kirim.
  • Bukabuku.com: Rp 43.200 belum termasuk ongkos kirim.
  • Bukupedia: Rp 54.000 belum termasuk ongkos kirim.
  • GooglePlay Books: Rp 33.250 (free sample of 50 first pages)
  • Versi bajakan, PDF, ePub, Mobi, whatever: Minta sendiri sama penulisnya, kalau berani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s