The Alpha Girl’s Guide (Henry Manampiring, 2015)


Identitas Buku

The_Alpha_Girl's_Guide

Judul: The Alpha Girl’s Guide
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Gagas Media
Genre: Non-fiksi, Self-help
Bahasa: Indonesia
Terbit: 2 Desember 2015
Ukuran: 13 cm x 19 cm
Tebal: 254 halaman
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-979-780-848-8

Sinopsis Official

Alpha Female adalah para perempuan yang menginspirasi, memimpin, menggerakkan orang sekitarnya, dan membawa perubahan. Mereka cerdas, percaya diri, dan independen. Bagaimana remaja dan perempuan muda bisa mengembangkan diri menjadi mereka? The Alpha Girl’s Guide akan membahas tip-tipnya, seperti:

– Mana yang lebih penting, nilai atau pengalaman berorganisasi?
– Apakah teman kamu teman sejati atau teman yang menghambat?
– Bagaimana mengetahui cowok parasit dan manipulatif?
– Bagaimana bersikap saat patah hati?
– Apakah kamu akan menikah untuk alasan yang tepat?
– Apa yang penting dilakukan saat memulai bekerja?

Buku ini adalah hasil pengamatan, riset artikel, wawancara langsung, dan diskusi dengan banyak perempuan di media sosial Ask.fm. Ditulis dengan ringan, penuh ilustrasi kocak, tetapi tetap blak-blakan menohok, The Alpha Girl’s Guide akan membuat kamu terinspirasi menjadi cewek smart, independen dan bebas galau! The Alpha Girl’s Guide juga berisi wawancara inspiratif dengan dua Alpha Female Indonesia dari dua generasi: Najwa Shihab dan Alanda Kariza.

Resensi

Bisa dibilang bahwa isu female-empowerment (baca: pemberdayaan wanita) masih menjadi isu yang menarik buat dibaca. Saya juga setuju bahwa isu ini tidak hanya patut dikonsumsi oleh orang dewasa, atau hanya layak dikonsumsi oleh pendidik dan aktivis; namun juga perlu diketahui oleh berbagai kalangan. Maka dari itu, tak heran bahwa buku ini dianggap sebagai buku yang membawa topik cukup menarik. Premis yang ditawarkan juga tidak kalah menariknya: menjadi cewek smart, independen, dan anti-galau.

Ditambah lagi penulis buku ini adalah seorang selebtwit (baca: Saya tidak tahu siapa itu Om Piring. Saya tahunya dia itu @newsplatter di Twitter, tidak lebih. Itu juga tahunya lewat akun Twitter pertama saya yang kemudian saya deactivate). Menurut bukunya Om CDT yang habis-habisan mengupas budaya Indonesia populer di mata bule, selebtwit punya pengaruh tersendiri dalam popularitas suatu produk di Indonesia. Dan benar saja, buku ini salah satu buktinya.

Maka dari itulah saya ingin menganalisis sendiri seperti apakah buku yang sejak rilis Desember 2015 lalu selalu menduduki top 10 buku terlaris di Gramedia.com ini.

Dari segi cover, seolah-olah semua tulisannya tergambar dengan lipstik. Seakan-akan semua wanita super itu suka melukis apapun dengan lipstiknya sampai habis, termasuk cover buku ini (entah kenapa saya jadi ingat Shinchan? Maaf, lupakan!). Saya jadi ingat cover buku lain tapi sayangnya di memori saya tidak tersimpan judul bukunya. Saya – yang bukan fans warna merah – secara jujur menganggap cover ini agak kucel dan sedikit norak. Tapi setidaknya masih masuk dengan tema kewanitaan yang diusungnya. Jadi masih okelah.

Namun ketika melihat bagian sinopsis, memang ada satu hal prinsip yang agak mengganggu: Pemilihan kata “girl” dan “female”. Definisi yang dikemukakan di bagian awal sinopsis adalah definisi alpha female, sementara judul buku ini sendiri adalah The Alpha Girl’s Guide. Jadi, hanya dengan membaca sinopsis, pembaca (atau calon pembaca) bisa bingung, sebetulnya buku ini ditujukan buat remaja saja, atau juga bisa buat wanita?

Mari kita simak isinya untuk menuntaskan rasa keingintahuan tersebut.

Ternyata, setelah saya baca bukunya sampai habis, pertanyaan ini tidak terjawab. Memang di awal, diceritakan bahwa girl adalah fase seorang wanita sebelum menjadi female. Tapi sampai di situ saja. Tidak ada kelanjutannya. Dan begitu memasuki bab demi bab, tidak ada lagi dikotomi jelas antara girl dan female. Jadi kesimpulan saya, memang istilah girl dan female di buku ini diciptakan demi dicampuradukkan begitu saja tanpa pemisahan nyata.

Secara garis besar, buku ini dapat dianggap sebagai sebuah guide-book untuk wanita remaja dan dewasa soal bagaimana sebaiknya mereka bersikap. Memang benar yang dikatakan penulis: Sebetulnya semua orang ada di posisi sulit kalau harus menuliskan hal ini. Kalau wanita yang menulis, pasti bakal dibilang membela diri sendiri. Makanya si penulis bilang sebaiknya pria sajalah yang menulis buku ini (halaman 8). Wah, saya tidak komentar deh soal ini.

Lanjut ke konten. Buku ini dibagi atas tujuh bagian utama. Bahasan ini sebetulnya ada di halaman 20, tapi saya tulis ulang saja di sini dengan bahasa saya sendiri.

  • Alpha Student: Bagian yang membahas bagaimana seorang alpha girl/female menyikapi urusan pendidikan. Jadi, kalau kalian ingin tahu manakah yang lebih penting antara nilai sekolah dan pengalaman organisasi, di sini ada jawabannya.
  • Alpha Friend: Bagian yang membahas sikap alpha girl/female dalam pertemanan.
  • Alpha Lover: Bagian yang mengulas bagaimana sebaiknya seorang wanita bersikap dalam urusan asmara, mulai dari pendekatan sampai pernikahan. Bagian ini membantu wanita menyiasati perselingkuhan, pasangan parasit, sampai tuntutan dari calon suami. Isi selebihnya bisa dikira-kira sendirilah (soalnya bagian ini porsinya gede banget).
  • Alpha Professional: Sesuai namanya, ini bagian yang berurusan dengan wanita dan pekerjaannya.
  • Alpha Look: Bagian sampul, alias urusan antara wanita dengan penampilan fisiknya.
  • Alpha Carer: Soal bagaimana alpha girl/female bisa membawa pengaruh positif buat komunitasnya.
  • Meet Alpha Female: Wawancara dengan dua alpha female model dari Indonesia, Alanda Kariza dan Najwa Shihab.

Sesuai sinopsis, format tulisan di dalam buku ini dibuat dalam bentuk “pertanyaan bebas”, dan diikuti uraian panjang lebar dari Om Piring, diselingi dengan sejumlah Alpha Exercise, baru kemudian ditutup dengan ringkasan/resume poin-poin penting dari bab yang baru saja diulas. Menurut saya, sistematika ini sudah cukup bagus, rapi, dan terstruktur, sehingga pembaca tidak terlalu cepat lupa dengan apa yang baru saja dibacanya.

Yang saya suka adalah konsep di bagian awal buku, tentang wanita dan pendidikan versus dapur dan petualangan mencari suami (halaman 23-27). Konsep Om Piring ini sangat saya setujui. Juga tentang urusan sekolah (resume di halaman 55-56), dan tentang foto bugil (halaman 108-112). Uniknya, semua aspek tetap disusunnya secara sistematik (setidaknya, saya masih paham dan saya bisa mengingat isi bukunya lebih dari 24 jam, berarti sistematika buku ini cocok dengan otak saya). Cuma saja, semakin dibaca, terkadang agak sulit memercayai Om Piring ini bukan perempuan. Karena memang ulasannya bisa dibilang perempuan banget. Hihihi.

Tapi pasti ada hal yang saya kurang setujui dari buku ini.

Misalnya soal konsep keberuntungan (halaman 175-181). Pengaitan keberuntungan dan urusan bersyukur memang amat bisa diterima oleh sebagian besar wanita. Tetapi kalau sudah membaca buku David & Goliath (buku lain dari Malcolm Gladwell selain Outlier) , kalau perlu ditambah buku The Luck Factor (Max Gunther), pandangan kalian soal keberuntungan pasti bakal berbeda. Jadi menurut saya, buku Outlier yang direkomendasikan Om Piring itu belum cukup, atau barangkali analisis Om Piring soal buku Outlier belum komplit karena belum mengikutsertakan David & Goliath. Just my opinion.

Yang lain adalah soal kriteria seorang wanita bisa disebut Alpha dan contoh-contoh Alpha Female di Indonesia. Barangkali jika contoh yang dikemukakan lebih banyak, dan kriteria yang disajikan tidak melulu melihat prestasi atau produk yang dihasilkan (tapi lebih ke apa yang dilakukan), saya bisa memberikan rating lebih tinggi. Karena ini menunjukkan bahwa buku ini sedikit banyak mengajarkan wanita untuk berorientasi ke hasil, supaya bisa disebut Alpha Female atau Alpha Girl. Sedikit kontradiktif dengan uraian di halaman 38. Nah, karena gambaran konsep dan kenyataan belum sesuai ekspektasi saya, maka dengan berat hati saya menurunkan satu bintang.

Lebih direkomendasikan buat remaja, tapi bisa juga sebagai bahan referensi/bacaan iseng buat dewasa.

Miscellaneous and Ratings

  • Tentang Henry Manampiring: [Twitter]
  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik
  • The Alpha Girl’s Guide di Goodreads
  • My Ratings: 3/5 (Goodreads), 6/10 (Personal)

3-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 65.000
  • Gramedia.com: Rp 55.250 belum termasuk ongkos kirim
  • Google Play Books: Rp 48.750 (digital version only)
  • Bukabuku.com: Rp 52.000 belum termasuk ongkos kirim
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s