Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner (Gina S. Noer, 2015)


Identitas Buku

Judul: Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner
Penulis: Gina S. Noer
Penerbit: PlotPoint/Bentang Pustaka
Genre: Biografi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 12 Oktober 2015
Ukuran: 15 cm x 23 cm
Tebal: 280 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-291-111-1

 

 

Sinopsis Official

Ini adalah perjalanan Rudy menjadi B.J Habibie.

Rudy adalah kisah yang disusun dari cerita-cerita B.J. Habibie yang belum diceritakan sebelumnya. Ini adalah kisah tentang perjalanan tumbuh dewasa seorang anak laki-laki dan Indonesia yang masih belia.

Tak banyak yang tahu bahwa cita-cita membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia justru diawali oleh ketakutan Rudy akan burung besi pada masa Perang Dunia Kedua. Tak banyak juga yang tahu kisah cinta tersembunyi Rudy sebelum akhirnya ia bertemu Ainun, cinta sejatinya, dan fakta bahwa Rudy tak terlalu suka kata “mimpi” sebagai kata ganti hal yang sangat diinginkannya. Baginya, “cita-cita” adalah kata yang lebih menjejak dan nyata.

Dalam buku ini kita akan temukan alasan kenapa Rudy jengah bila dipanggil gebius, tapi lebih senang bila disebut sebagai pekerja keras yang setia. Setia pada cita-citanya. Setia pada cintanya.

Kita akan mengikuti perjalanan bagaimana B.J. Habibie yang kita kenal datang dari visi besar orangtuanya, pengorbanan keluarganya, dukungan para sahabatnya, dan inspirasi terbesarnya: Indonesia.

Resensi

Biografi ketiga yang saya buatkan review-nya di tahun 2016 kali ini, masih dari tokoh Indonesia. Beliau adalah Pak Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie, tokoh yang pernah menjadi presiden ketiga Republik Indonesia (1998-1999), pernah menjadi menteri riset dan teknologi selama empat periode, dan terkenal karena kejeniusannya, khususnya di bidang kedirgantaraan. Namun menariknya, buku ini hanya akan memfokuskan diri pada masa muda Pak Habibie.

Sebagai penjelasannya: Autobiografi Pak Habibie yang berjudul Habibie dan Ainun (2010) yang sudah terlebih dahulu terbit (dan bahkan sudah difilmkan di tahun 2012), rasanya bersifat saling melengkapi dengan kehadiran biografi yang satu ini. Jika autobiografi beliau cukup banyak membahas kehidupan rumah tangga beliau hingga sang mantan ibu negara berpulang, maka buku yang ditulis oleh Ibu Gina S. Noer ini lebih banyak menuturkan soal kehidupan Pak Habibie ketika masih anak-anak, berlanjut ke masa remajanya, hingga masa-masa pendidikan awal di Jerman. Atau tak lain, bisa dikatakan bahwa biografi ini memuat kisah hidup Pak Habibie di era 1936 hingga 1962. Tidak lebih dari itu.

Namun, jangan lantas menganggap bahwa buku ini akan membosankan dan tidak menarik. Justru, di situlah letak sisi menarik dari buku ini. Berapa banyak dari kita yang tahu bahwa Pak Habibie yang terkenal dengan keahliannya di bidang konstruksi pesawat ini ternyata tadinya takut dengan pesawat tempur? Atau berapa banyak dari kita yang tahu bahwa sebelum dekat dengan (almarhumah) Bu Ainun, Pak Habibie pernah dekat dengan wanita lain? Atau hal lain lagi, berapa banyak dari kita yang tahu seberapa peduli atau seberapa tak pedulinya Pak Habibie dengan politik, ketika ia sedang menimba ilmu di Jerman? Nah, tiga hal ini hanyalah sebagian dari hal-hal menarik yang bakal diungkap oleh buku ini.

Buku ini dibagi atas tiga bagian utama. Yang pertama menceritakan masa kanak-kanak Pak Habibie, yang akrab dipanggil Rudy, di Parepare, Sulawesi Selatan. Dijabarkan bahwa keluarganya yang merupakan hasil persilangan kalangan menengah Bugis-Gorontalo dengan wanita ningrat Jawa, telah menganut paham keterbukaan yang amat tak lazim di zamannya. Sehingga tak heran bahwa Pak Habibie dan saudara-saudaranya dibina dalam semangat keterbukaan. Penanaman nilai-nilai kemanusiaan dan agama tak ketinggalan dibahas dengan tuntas pula. Juga soal semangat persaudaraan yang kental, khususnya antara beliau dengan Pak Fanny Habibie, sangat menarik untuk disimak. Memang saya setuju bahwa Pak Habibie sudah dilahirkan di keluarga yang cukup berada (kalau tidak dibilang kelas menengah), dan ini terbukti dari akses beliau terhadap buku-buku impor yang memang langka di zaman 1940-an. Tetapi bukan lantas karena keberadaan itu serta-merta membuat Pak Habibie sukses. Ada banyak faktor lain yang ternyata memegang peran penting dalam menumbuhkan sikap mental Pak Habibie dan saudara-saudaranya.

Bagian kedua, menceritakan pendidikan Pak Habibie di Bandung, yang kemudian berlanjut ke Jerman. Tidak melulu soal pengorbanan keluarga yang dibahas, melainkan juga beberapa nilai lainnya, termasuk nilai-nilai persahabatan antara Pak Habibie dengan Lim Keng Kie yang cukup dominan menghiasi bagian ini. Juga soal bagaimana kerasnya pendidikan di Jerman, diskriminasi yang kerap melanda bahkan di kalangan sesama mahasiswa Indonesia sendiri, semua dibahas tuntas di sini.

Hingga bagian ketiga, yang menceritakan bagaimana pergolakan politik mulai mengusik kehidupan akademis mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Eropa. Seenggan-enggannya mahasiswa untuk peduli soal politik, tetap saja politik bisa berpengaruh ke kehidupan akademis. Salah satunya Pak Habibie, yang ternyata berpegangan teguh untuk tidak ikut berpolitik dan hanya fokus untuk mengembangkan rencana pembangunan Indonesia sesuai bidang keilmuannya. Bagaimanakah politik akhirnya berpengaruh ke kehidupan Pak Habibie kala itu, akan dibahas di bagian ini. Juga soal masa-masa sakit parahnya di Jerman, dan kedekatannya dengan wanita, mulai dari calon pertamanya di Jerman, sampai ke Bu Ainun yang beliau temui ketika pulang beristirahat ke Bandung.

Secara umum, buku ini memiliki cara penyampaian cukup istimewa. Ditulis oleh seorang penulis skenario film, buku ini dijamin tidak mengecewakan. Meskipun genre-nya biografi, tetapi buku ini sama sekali tidak berat. Bahkan selipan obrolan ringan dan kocak kadang menghampiri, sehingga selain bahwa kita bisa melihat sisi lain Pak Habibie di masa mudanya, juga tidak ada kesan bosan atau kering yang mungkin jadi momok ketika membaca biografi.

Soal kelemahan, barangkali ada yang berekspektasi bahwa bahasan soal pendidikan tahap akhir Pak Habibie, perjuangannya kembali ke Indonesia untuk mengabdi, dan kehadiran anak-anak; akan dibahas di sini. Ternyata tidak. Berhubung buku ini hanya akan mengulas kehidupan Pak Habibie di tahun 1936 hingga 1962, maka bagian-bagian yang tadi saya sebutkan, tentu saja tidak ada. Bahkan bisa dibilang, buku ini berhenti di titik di mana Pak Habibie memboyong istri yang baru saja dinikahinya, yaitu Bu Hasri Ainun Besari, ke Jerman. Bahasan buku ini tidak melewati batasan itu.

Buat penikmat biografi atau kalian yang sekadar penasaran dengan masa muda si tokoh jenius Indonesia yang satu ini, buku ini amat direkomendasikan. Tidak hanya membuka wawasan soal sang tokoh, tapi juga menginspirasi di balik kesederhanaan. Atau barangkali buat orang tua yang ingin belajar metode parenting khususnya untuk psikologi dan mental anak? Buku ini juga saya rekomendasikan lho… Terutama di bagian pertamanya.

Personal Ratings and Goodreads

4-star

How to get this book

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s