2 (Donny Dhirgantoro, 2011)


Identitas Buku

11978369

Judul: 2
Penulis: Donny Dhirgantoro
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Genre: Fiksi, sport
Bahasa: Indonesia
Terbit: 30 Juni 2011
Ukuran: 14 cm x 21 cm
Tebal: 480 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-979-081-562-9

Sinopsis Official

Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia, dimana impian dibawa ke dunia nyata, tidak berlaku untuk Gusni Annisa Puspita, remaja yang ‘kelebihannya’ adalah keterbatasannya. Cita-citanya sejak kecil untuk membuat orang tuanya senang dengan bermain bulutangkis terus kandas.

Suatu malam sebuah kenyataan pahit datang untuknya, sebuah kenyataan tak berperi, hidup yang tidak berpihak kepadanya, kenyataan yang berbicara lantang kalau bermimpi saja tidak akan pernah cukup.

Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tidak pernah sempurna.

Memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani…

Resensi

Di antara karya Mas Donny, saya membaca 5 cm terlebih dahulu. Dan tidak selesai. Alasannya simpel dan (secara kebetulan) ada lima: Terlalu banyak elipsis. Terlalu banyak pleonasme. Terlalu banyak nama band. Terlalu banyak judul lagu. Terlalu banyak hal tidak penting. Kalau diibaratkan masakan, 5 cm itu terlalu pedas, terlalu asam, dan terlalu asin; alias terlalu ramai rasanya, buat saya.

Saya sempat khawatir buku ini bakal mengulang “pentalogi terlalu banyak” yang diusung 5 cm. Meskipun demikian, saya harus mengakui bahwa jenis tokoh yang diambil Mas Donny, plus latar cerita yang dipilihnya, membuat saya jauh-jauh lebih tertarik mengeksplorasi 2 daripada 5 cm. Belum lagi komentar pembaca Goodreads yang terpusat di dua kutub, suka dan tidak suka; jelas menambah rasa penasaran. Sebetulnya ini buku bagus, atau buku jelek, atau buku jelek yang dibagus-baguskan, atau apa?

Olahraga tidak pernah menjadi suatu tema novel yang betul-betul menarik. Tampaknya, semenarik apapun olahraganya, cerita yang disajikan tak akan jauh berkisar di antara semangat buat menang atau semangat melawan penyakit atau keterbatasan. Buku ini jelas mengambil yang kedua: Semangat melawan keterbatasan.

Adalah tokoh khas bernama Gusni, seorang anak perempuan berusia 18 tahun yang bertubuh raksasa sejak lahir oleh karena suatu kelainan bawaan, yang dikisahkan sangat ingin menyenangkan orang tuanya dengan  bermain badminton. Persis seperti kakaknya Gita, yang sudah terlebih dahulu menjadi atlet remaja terkenal dan sering mewakili Indonesia. Khawatir Gusni bakal kenapa-kenapa dengan aktivitas olahraga berat, sang ayah, Galuh, tidak mengizinkannya main badminton sampai saat ia memasuki usia remaja. Akankah Gusni berhasil menyenangkan orang tuanya dengan badminton?

Kalau dilihat bagaimana cerita ini mengalir, rasanya masih sama. Manis, asam, asin, pedas, semuanya ada. Alias ramai rasanya. Bahasa yang diutarakan masih berlebihan. Rasanya, ini sudah jadi patron Mas Donny. Tapi kalau dilihat bagaimana cerita ini berakhir, rasanya akhir ini cukup optimistik, namun entah mengapa sebagian diri saya mengatakan bahwa ending ini cukup mainstream.

Berikut saya sajikan dahulu hal-hal negatif  yang saya temukan dari buku ini. Tenang, nanti ada yang positifnya koq.

  1. Anakronisme dan irrationality. Saya rasa ini adalah bonus yang tadinya tidak ada di 5 cm, tapi malah baru ada di buku ini. Soal tanggal kerusuhan 1998 dan sinkronisasinya dengan kejadian di sekolah. Soal keberadaan mobil Honda Jazz di tahun 2003. Soal industri shuttlecock dan ekonomi keluarga. Soal dokter vintage dan kemampuannya menangani pasien, belum lagi soal prosedur pembedahan cesar yang diutarakan dengan aneh bin ajaib, plus masalah jumlah anggota tim badminton yang dibawa ke suatu turnamen. Kalau diistilahkan, “too many holes“.
  2. Terlalu banyak onomatope (kata tiruan bunyi) yang dijejalkan begitu rapat. Onomatope yang saya lihat di buku lain, biasanya ditampilkan sebagai kata tunggal dalam satu paragraf, dan kehadirannya ditunggu-tunggu karena biasanya onomatope itu sering beresensi mengagetkan dan memberi tensi tersendiri dalam cerita. Tapi dalam buku ini, onomatope begitu lumrah, begitu ramai, hingga kehadirannya tak lagi ditunggu melainkan kitalah yang menunggu kapan deretan onomatope itu selesai bergemuruh.
  3. (Masih) Terlalu banyak pleonasme. Cukup banyak adegan tidak penting yang malah menjadikan alur cerita aneh (coba baca bab satu, buktikan. Ada banyak kejadian begini di situ). Selain itu, saking kerapnya repetisi frasa tertentu, saya sampai berpikir Mas Donny ini pastilah sangat piawai kalau dia menjadi copywriter pesan propaganda. Beberapa kutipan dalam buku ini kerap diulang-ulang, sehingga pesan tersebut benar-benar tertanam di otak plus terngiang-ngiang selama membaca buku ini. Dan bahkan sesudahnya pun.
  4. (Masih) Terlalu banyak elipsis. Elipsis dan onomatope di buku ini sudah seperti Sherlock Holmes dan dr. John Watson. Ke mana-mana selalu bersama-sama. Yah, selanjutnya tebak sendirilah apa yang bakal terjadi dengan mata dan otak pembaca.
  5. Dan yang cukup menggelikan adalah seolah-olah ada narator yang selalu hadir di adegan-adegan tertentu. Cerita tentu jadi tidak alami kalau tiba-tiba ada kata “lebay!”, atau “mantabs” di akhir paragraf. Kesannya jadi garing, kalau buat saya. Seolah suasana yang memang sudah mau dibangun, berhasil dibangun, tapi seketika dirobohkan kembali.
  6. Yang juga aneh adalah bagaimana si Galuh (baca: Papanya Gusni) bisa cengegesan saat berhadapan dengan (dokter) Fuad, ketika membicarakan sakitnya Gusni. Betul-betul tak masuk akal. Membaca halaman yang itu saja, sudah cukup mengesankan cerita ini artifisial dan tak bakal ada di dunia nyata.
  7. Mungkin saya agak terkesan mencari-cari masalah nih di poin ini: Penyakit yang disebutkan diderita oleh Gusni, (barangkali) tidak benar-benar ada di kenyataan. Saya sampai penasaran dan mencari tahu ke sana ke mari, tapi tidak ketemu. Entah saya yang kurang teliti mencari, terlalu bodoh, atau memang daya imajinasi penulisnya yang melampaui kemampuan dunia kedokteran untuk mencernanya. Tapi saya penasaran saja: Mengapa nama penyakitnya saja tidak ada, tapi dr. Fuad tahu penyakit itu tidak ada obatnya?

Di luar urusan minus-minus yang saya bahas barusan, buku ini tentu masih punya daya tarik dan segi positif. Ini, sesuai janji saya tadi.

  1. Seperti Meghan Trainor dan Adele, buku ini menginspirasi orang-orang gendut (alias: besar) untuk tetap bisa berprestasi dan memberikan yang terbaik. Jadi tidak ada alasan badan besar tidak berbentuk lalu minder dan pengen bunuh diri. Asem! Semangat inilah yang betul-betul dikobarkan oleh buku ini. Jadi, orang gendut harus baca novel ini. Saya yakin percaya diri orang gendut bisa bangkit dan berkobar karenanya.
  2. Seperti 5 cm, buku ini pun punya kekuatan besar di pilihan kata untuk tema utama. Seperti yang saya bilang tadi, bahwa Mas Donny cocok jadi copywriter pesan propaganda. Buktinya: Setelah saya selesai membaca buku ini, kalimat-kalimat pesan inti masih saja terbayang dengan jelas.

Kelihatannya jauh lebih banyak negatifnya ya daripada positifnya. Saya mengakui memang membuat resensi atau berkomentar itu jauh lebih gampang daripada menghasilkan karya. Buktinya saya belum pernah bikin karya fiksi yang bisa dibanggakan. Tapi setidaknya, saya belajar banyak dari buku ini. Entah itu masalah teknik kepenulisan, teknik penyuntingan, ataupun masalah kepercayaan diri buat orang gendut. Rasanya bintang dua cukup, sesuai dengan judul buku ini.

Sebagai penutup, ini ada bonus tiga quotes yang paling memorable buat saya, dari buku ini.

  • Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah.
  • Segala sesuatu diciptakan 2 kali: Dalam dunia imajinasi, dan dalam dunia nyata. Dengan kerja keras, tinggalkan bukti di dunia nyata bahwa impianmu ada.
  • Berani mencintai, dan mencintai dengan berani.

Personal Ratings and Goodreads

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Scoop/Gramediana
  • 2 (Dua) di Goodreads
  • Personal Goodreads Rating: 2/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 60.000
  • Gramedia.com: Rp 51.000
  • Scoop: Rp 39.200 (digital only)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s