Kisah Orang-orang Capricorn (Ayu Utami dkk, 2013)


Identitas Buku

ayuutamicapricorn

Judul: Serial Horoskop #3: Kisah Orang-orang Capricorn
Penulis: Ayu Utami, Andreas Anex, Athina Dinda Ibrahim, Meuthia Khairani, Nadia Amanda, Phara Sotya Satria
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Fiksi, short-stories
Bahasa: Indonesia
Terbit: 21 Oktober 2013
Ukuran: 13 cm x 19 cm
Tebal: 209 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 979-979-910-629-2

Sinopsis Official

Sang kambing gunung selalu ingin mendaki ke puncak. Kakinya menjejak tanah, tapi matanya membidik ke titik paling tinggi. Ia ingin menjadi yang paling hebat, dan ia akan mewujudkan ambisinya dengan langkah-langkah yang tetap dan menapak. Kambing gunung tenang dan tahu, tak perlu menjadi elang untuk sampai ke pucuk-pucuk gunung. Kebaikannya adalah ia membumi, bahayanya adalah ia duniawi. Bersaing adalah dorongan alami hewan jantan. Dalam kebaikan dan keburukannya, Capricorn adalah sosok yang teguh.

Resensi

Omong-omong soal astrologi, saya termasuk orang yang sering bingung kalau membaca ramalan zodiak. Kenapa? Alasannya klasik sih sebenarnya: Karena setiap habis membaca ramalan, saya langsung lupa dengan isi ramalan zodiak sendiri. Meskipun memang apa kata zodiak dan karakteristik manusia bisa mirip atau bahkan sama, saya tetap saja malas membaca ramalan gara-gara masalah lupa itu tadi. Dan saya juga yakin tidak cuma zodiak yang “menyamakan”. Ada juga faktor numerologi, shio, unsur shio, jam lahir, dan sebagainya; yang konon menurut ahli nujum, berpengaruh semua dengan caranya sendiri-sendiri. Jadi, paling-paling ketertarikan saya dengan astrologi cuma sebatas “oh, zodiak saya dan selebriti itu sama toh”.

Nah, bagaimana kalau kalian disuguhi ramalan zodiak sebentuk kumpulan cerita pendek? Ya, bisa dikira-kira. Antara bingung, excited, penasaran, dan diakhiri penyocokan. Seperti itulah buku ini.

Kalau kalian bertanya, apakah zodiak saya Capricorn, sampai saya tertarik membaca buku ini? Jawabannya: Saya bukan Capricorn.

Lah? Kalau begitu kenapa saya mau membaca buku ini?

Lagi-lagi alasannya agak konyol. Jadi ceritanya, royalti pertama yang saya dapat dari buku yang saya tulis dan saya terbitkan via self-publishing, didapat di tanggal 29 Desember. Berhubung tanggal itu ada dalam naungan zodiak Capricorn, maka saya gunakan royalti itu untuk menebus buku ini. Hah jadi cuma itu ya alasannya? Iya, betul. Konyol banget kan, hihi.

Nah, saya kemudian mengetahui bahwa buku terakhir yang saya beli di Gramediana sebelum mereka merger dengan Scoop ini, adalah hasil karya Ayu dan murid-muridnya di kelas pelatihan menulis dan berpikir kreatif yang dilangsungkan beberapa tahun yang lalu. Rencananya, akan ada dua belas buku seperti ini, untuk masing-masing zodiak. Tetapi sampai sekarang, buku yang beredar baru tiga: Scorpio, Sagitarius, dan Capricorn. Berarti zodiak saya (dan teman-teman yang zodiaknya belum disebut) masih harus menunggu giliran. Katanya sih, tahun 2016 ini akan terbit sembilan buku sisanya.

Basa-basinya cukup dulu ya. Sekarang saya masuk ke bahasan soal buku ini.

Sebelum buku ini benar-benar saya bahas, saya tampilkan dulu Chirpstory yang berisi endorsement saya tentang buku ini di Twitter, tanggal 14 s/d 16 Maret 2016 yang lalu.

Chirpified: Posting Bareng BlogBuku Indonesia – Maret 2016

Konon karangan Ayu Utami (yang memang harus saya akui, belum pernah saya baca tuntas, Bilangan Fu saja baru 100 halaman!) memang menjanjikan eksplorasi bahasa indah yang seolah tiada habisnya. Selalu ada saja kata-kata baru yang membuat pembaca memutar otak dan memaksa mereka membuka kamus besar untuk mengetahui artinya. Tidak sekadar berima tapi memang artinya mengena. Seperti itulah kesan saya terhadap karya Ayu Utami (setidaknya capnya begitu) pertama yang saya baca hingga tuntas ini.

Buku cap kambing gunung ini berisi dua belas cerita pendek, yang sebagian besar di antaranya saling berkait dengan cara yang unik. Latar cerita memang kebanyakan dipusatkan pada dua tokoh: Agnes Monique, seorang gadis keturunan Tionghoa-Jepang yang “tampak keras tapi dalamnya lembut”, dan Raphael Waluya Jati, pemuda asal Malang yang “tampak biasa tapi ternyata lebih keras”. Sehingga jelaslah bahwa cerita-cerita di buku ini memang hasil kumpulan, tetapi dirangkap pula dengan jahitan dari Ayu Utami (yang di buku ini menggunakan inisial A saja).

Yang lucu sekaligus unik dari buku ini adalah, kisah Agnes diulas dari sisi ibunya, dari sisi dirinya di masa kecil, dari sisi dirinya di masa remaja, dan dari sisi Raphael (saya tidak menyebutkan semua, sisanya cari tahu sendiri ya!). Juga kisah Raphael yang kemudian dibahas dengan cara mirip. Seolah dunia di dalam buku ini hanya berpusat pada mereka berdua sebagai matahari, tetapi cerita dikisahkan dari sisi tiap planet. Meskipun ada sejumlah kisah lepas lain (seperti Gaun Merah Marun, Merayu Kambing Gunung, dan Visa), tetapi terlihat jelas bahwa kisah-kisah seputar Agnes dan Raphael seolah seperti tumpukan perca yang sengaja dijahit menjadi satu, namun setelah dijahit pun kain jadinya tetap terlihat lucu dan unik. Terlebih ketika kita sebagai pembaca, tersadar apa kaitan cerpen pertama dengan cerpen terakhir. Dan bagi saya, cara buku ini ditutup bisa dibilang cukup menuntaskan sejumlah tanda tanya sekaligus melahirkan tanda tanya baru. Sekaligus mengajak berpikir banget!

Kalau ditanya lagi, favorit saya yang mana? Jawaban saya sudah jelas: Merayu Kambing Gunung. Memang aneh bahwa favorit saya bukanlah karya Ayu Utami. Justru, cerita ini takhayul banget, namun berhasil dipadukan oleh Andreas Anex – si penulisnya – dengan sifat membumi dan duniawi seperti yang disebut-sebut di sinopsis. Tanpa judul yang muluk-muluk, cara kisah ini diakhiri pun unik setelah perjalanan cerita yang unik pula – dan barangkali kebanyakan pembaca – sehingga cerita ini adalah yang “paling aneh” di antara cerita-cerita lainnya. Aneh kebetulannya, aneh pula reaksi insannya. Tapi tetap menguarkan misteri.

Soal kelemahan, barangkali adalah perihal lingkup latar cerita yang sempit (karena tokohnya banyak yang saling berkait), sehingga buat beberapa orang mungkin malah timbul pikiran, “Kenapa ceritanya di seputar orang-orang ini saja?” Atau buat kalian yang mengharapkan ada ulasan soal “bedanya Capricorn Desember dan Capricorn Januari”, atau soal cusp (Sagicorn atau Capriquarian), tidak ada cerpen yang memuat tentang itu. Tapi soal ini saya mencoba memaklumi, karena cerita bisa sangat melebar ke mana-mana apabila topik-topik itu masuk ke cakupan cerita. Dan memang, kalau cerita-cerita yang ada tidak dengan sengaja dijalin oleh Ayu Utami, buku ini barangkali tak lebih dari kumpulan cerpen yang biasa saja.

Demikianlah ulasan saya soal buku ini. Sudah cukup buat penasaran? Silahkan cari bukunya dan buktikan sendiri keunikannya.

Personal Ratings and Goodreads

How to get this book

  • Gramediana: Rp 29.000 (digital only)
  • Scoop: Rp 23.200 (digital only)
  • Penerbit KPG website: Login untuk lihat katalog
  • Selebihnya saya tidak tahu – saya hampir tak pernah melihat buku ini lagi di toko buku fisik.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s