Sadar Penuh Hadir Utuh (Adjie Silarus, 2015)


Identitas Buku

sadarpenuh

Judul: Sadar Penuh Hadir Utuh
Penulis: Adjie Silarus
Penerbit: Transmedia Pustaka
Genre: Non-fiksi, self-help
Bahasa: Indonesia
Terbit: Kuartal ketiga 2015
Tebal: 270 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 979-978-602-103-6

 

Sinopsis Official

Kadang kita perlu duduk sejenak merangkul diam, tidak terperangkap masa lalu, tidak juga mengembara ke masa depan.

Sering kali kita merasa sibuk dan kekurangan waktu untuk ini dan itu. Kita berusaha mengerjakan semuanya sekaligus, tanpa sadar bahwa tubuh dan pikiran kita memiliki keterbatasan. Karena itu, buku ini hadir untuk mengajak Anda duduk diam sejenak, agar dapat menyadari kehadiran Anda di sini, saat ini.

Di dalamnya diulas berbagai langkah praktis untuk mencapai mindfulness, yaitu keselerasan tubuh dan pikiran. Dengan begitu, diharapkan Anda dapat menjalani keseharian disertai energi yang lebih positif. Selain dapat membantu mengelola stres, mindfulness juga membuat Anda lebih menghargai kebahagiaan pada hal-hal sederhana.

Resensi

Mindfulness. Saya pernah mendapat penjelasan tentang maknanya, sekaligus pernah menyaksikan betapa seringnya makna mindfulness itu kosong belaka. Saya sendiri mendefinisikan mindfulness, sebagai “kesadaran atas diri sendiri, lingkungan sekitar, dan interaksi di antaranya”. Memang sekadar bicara itu gampang. Tapi saya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari.

Sama halnya ketika saya kurang paham bagaimana caranya buku ini tiba-tiba jadi gratisan di Google Play Books. Saya sendiri pernah mencoba membacanya di toko buku, tapi gagal karena terlalu berat dan penuh filosofi. Alias lagi-lagi saya gagal paham. Jadilah saya memilih mencoba versi Google Play Books tersebut.

Pertama, kesan saya adalah buku ini tidak sistematik. Mungkin Adjie memang sengaja menyusun bukunya demikian: Cerita pendekatan dari awam ke dunia filsafat, sehingga membuat buku yang di dua puluh halaman pertamanya terlihat cukup menarik, perlahan-lahan mulai menguras energi filosofi yang, jujur saja, tidak bisa dibilang sedikit. Definisi mindfulness tidak langsung digeber, tetapi baru diuraikan perlahan-lahan di halaman 50. Jadi, orang yang berpatokan pada “50 halaman atau lari”, bisa keburu lari karena kesan pertama buku ini.

Kedua, ada kesan bahwa buku ini mencoba mencampur beberapa buku motivasi, lalu dipoles dengan tema mindfulness supaya tampil beda, dan selesai. Buktinya, saya menangkap adanya tulisan soal “tetapkan tujuan terlebih dahulu”, yang terkenal sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan yang diajarkan Stephen Covey di era 1990-an, di halaman 31.

Dan yang ketiga, buku ini pun sarat kesan scrapbook, buat saya. Hal yang sama bisa dibahas lagi puluhan halaman kemudian, dengan gaya bahas seolah-olah belum pernah dibahas sebelumnya. Mungkin ini ada hubungannya dengan sistematika penulisan yang sudah saya bahas di paragraf-paragraf sebelumnya.

Saya sempat mencatat beberapa hal menarik dari buku ini yang patut jadi renungan:

  1. Menciptakan sesuatu dan mengonsumsi sesuatu tidak bisa dilakukan bersamaan.
  2. Menikmati suatu aktivitas tanpa terburu-buru membuat kita jadi lebih menghargai hidup.
  3. Tidak terhubung ke internet juga membantu kita lebih menghargai hidup.
  4. Melucu dan mendengarkan itu sama pentingnya.
  5. Terlalu larut dalam rutinitas bisa mematikan kreativitas.

Hanya saja, ada beberapa hal yang kurang saya setujui. Sama seperti buku motivasi pada umumnya, pasti ada hal yang tidak cocok dengan pemikiran saya, atau setidaknya pikiran saya belum terbuka untuk opini tersebut.

  1. Kebiasaan baru dan “pengumuman”-nya. Saya meyakini bahwa semakin banyak orang yang tahu kebiasaan baru kita, semakin tidak konsisten juga kita dalam menjaga niat untuk tetap ada di kebiasaan itu.
  2. Menganalogikan mindlessness dengan sikap orang ketika nonton film, menurut saya agak lucu.
  3. Soal sugesti mahal dari makanan: Saya jelas tidak setuju. Makanan murah justru sering lebih enak!

Karena cukup beratnya buku ini dan esensi filosofi yang diusungnya, saya sampai tiga kali tertidur ketika membacanya. Entah karena efek radiasi, ataukah karena saya kurang cocok dengan cara tutur Adjie. Namun, saya harus mengacungi jempol untuk sportivitas Adjie yang disajikannya di bagian epilog. Berkat epilog itulah, saya menaikkan satu bintang rating saya di Goodreads. Seperti apa epilognya? Coba simak sendiri ya…

Buat yang sering merasa tak sadarkan diri dengan rutinitas sehari-harinya, buku ini cocok buat kalian. Namun selebihnya, barangkali buku ini cukup untuk melengkapi deretan buku motivasi nan inovatif karya penulis lokal. Cukup orisinal meskipun tidak sepenuhnya asli. Dan, cukup bintang 3 buat saya.

Personal Ratings and Goodreads

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s