Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb (Maman Suherman, 2012)


Identitas Buku

bokis-kisah-gelap-dunia-seleb

Judul: Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Non-fiksi, entertainment
Bahasa: Indonesia
Terbit: 14 September 2012
Tebal: 124 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-979-910-496-0

 

Sinopsis Official

Dengan empati dan rasa humornya, Maman Suherman, seorang jurnalis infotainment kawakan, menyingkap kisah mencengangkan, menyedihkan, bahkan cerita konyol di balik gegap gempita panggung hiburan Indonesia. Siapa sangka orangtua menghalalkan segala cara demi popularitas anaknya? Anda yakin suara penyanyi yang Anda dengar adalah suaranya sendiri? Bagaimana pula seorang jurnalis menghadapi rayuan manis narasumbernya? Dalam 33 artikel yang ditulisnya dengan gaya santai dan kocak di buku ini, kita akan diajak menatap apa yang selama ini tidak kita lihat dan menyimak apa yang belum pernah kita dengar.

“Di balik gemerlap dunia infotainment tersembunyi aneka kisah menyesakkan calon artis dan keluarganya. Di tengah industri hiburan media yang masif, terjadi persekongkolan agen artis, biro iklan, pejabat, politisi, sang artis, termasuk wartawan. Semuanya dikupas cerdas oleh Maman Suherman.”
Eko Maryadi, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

“Buku ini bisa dinikmati dalam berbagai perspektif. Bokis bisa menghibur karena penuh dengan anekdot lucu dan persepsi orisinal, tapi juga bisa menambah ilmu, karena tanpa disadari pembaca, Maman Suherman tidak per nah lepas dari intelektualitasnya sebagai sarjana sosial. Dalam karier yang penuh warna, kedua sifat Maman Suherman selalu bersandingan. Entertaining, analytical.”
Wimar Witoelar

“Menghadapi seorang ibu yang menjual anaknya agar menjadi selebriti mungkin hal biasa bagi sebagian orang dalam dunia hiburan. Namun, bagaimana Maman mengendalikan diri untuk tidak mudah menjual profesionalismenya belum tentu dapat dilakukan jurnalis media hiburan lainnya. Begitu juga ketika Maman memutuskan untuk tidak menggunakan video aborsi artis muda sebagai bahan berita. Keputusan yang menurut saya sangat meng harukan.”
Ezki Suyanto, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia

“… terbius dan tercengang….”
Donna Agnesia, Artis

“Beranikah kita menatap cermin ini?”
Sakdiyah Ma’ruf, Feminis

Resensi

Dunia hiburan, atau bahasa Inggrisnya entertainment, masih dianggap sebagai ladang subur buat mencari rezeki buat banyak orang. Dalam bayangan orang, cuma berpose, modal akting, atau modal suara; diekspos ke publik, terkenal, dan jaminan hidup berkecukupan pun sudah menanti. Sehingga banyak orang yang disebut-sebut berbakat seni pun mencoba peruntungan di dunia ini. Tapi benarkah dunia hiburan memang seindah yang terlihat?

Buat yang masih bingung apa itu bokis, jangan khawatir: Maman menjabarkan apa itu bokis di bagian pembuka buku. Asalnya, bokis itu berarti “bisa” yang disisipi “-ok-” di tengah katanya. Namun artinya sendiri mengalami plesetan demikian serius hingga menjadi “bisa-bisanya” atau “dibisa-bisain”. Singkat kata, bokis bisa diartikan “bohong”.

Dalam buku yang bertutur dalam bahasa ringan dan sesekali kocak ini, Maman Suherman, seorang wartawan infotainment senior, mengulas berbagai sisi dunia hiburan yang belum diketahui khalayak ramai. Bahwa dunia hiburan pun ternyata banyak bohongnya, banyak tipu dayanya, dan banyak “kekerasan”-nya. Tak cuma profesi selebritinya yang kena imbas, tapi juga wartawan yang meliput mereka.

Ada tujuh bagian dalam buku ini.

  1. Cerita gelap: Tentang pengaruh uang dalam menjamin ketenaran, ataupun menjauhkan dari marabahaya. Pernah dengar orang tua mengeksploitasi anaknya sendiri supaya tenar? Coba baca bagian ini dan simak sisi humanis dari penulis.
  2. Narsum mesum: Berbagai ulah mesum para narasumber yang ditemui penulis ketika menjalani profesinya sebagai wartawan hiburan.
  3. No time for privacy: Meskipun hanya ada dua cerita di dalam bab ini, maknanya jelas – selebriti sering malas menghadapi pertanyaan seputar gosip atas diri mereka sendiri.
  4. Aya-aya wae: Bagaimana tingkah polah para selebriti, sesuai hasil liputan-liputan penulis selama jadi wartawan hiburan. Bocoran sedikit: Ada yang hobi menyangkal tuduhan operasi plastik (padahal dia memang operasi kok), ada juga yang suka main perintah seperti raja, ada juga yang pernah membingungkan si penulis gara-gara salah mengeja istilah.
  5. Cerita haji: Sesuai tajuknya, di sini penulis bercerita tentang pengalamannya naik haji dan umrah berkat pekerjaannya sebagai wartawan hiburan. Meskipun bagian ini agak terasa religius binti mistis, tapi tetap saja (agak) kocak.
  6. Begini nasib jadi jurnalis: Pekerjaan jadi jurnalis itu tidak mudah. Banyak risikonya, apalagi ketika berurusan dengan kasus-kasus negatif. Kadang nyawa jadi taruhannya.
  7. Bokisnya jurnalis: Ini bagian yang unik karena penulis justru “mengumbar” ulah rekan-rekannya sendiri dalam meliput berita. Ada ulah-ulah yang barangkali sebagian besar dari kita sudah tahu (misalnya soal copas dan berita fabrikasi/palsu), tapi ada juga ulah wartawan yang bikin kita agak terbengong-bengong (misalnya soal tukang transkrip di istana negara dan soal strategi “sapu jagat”). Yang paling menginspirasi: Akal-akalan vs Bokis-bokisan. Artikel yang satu ini sangat-sangat menarik bak cerita thriller. Wajib disimak!

Di luar dari konteksnya sebagai buku tentang dunia hiburan, buku ini memberi banyak pelajaran hidup secara umum. Dari fakta bahwa dunia hiburan memang tak seindah kelihatannya, sampai fakta bahwa bahkan dunia hiburan pun bisa mengancam nyawa seorang wartawan. Dari fakta bahwa dunia hiburan bisa membuat orang rela berbuat apa saja, sampai fakta bahwa berita yang sampai ke tangan kita pun bisa saja keliru. Dari fakta bahwa ada saja selebriti yang suka mendompleng selebriti lain, hingga ada saja selebriti yang suka mengancam wartawan.

Kira-kira siapa saja yang perlu membaca buku ini? Utamanya adalah para penikmat dunia hiburan Indonesia. Namun jika kalian tidak rutin menyaksikan panggung hiburan lokal (seperti saya), buku ini tetap saja bisa memberi pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.

Bagaimana dengan buku sekuelnya? Coba intip review-nya di sini!

Kalimat-kalimat inspiratif (setidaknya, bagi saya)

  • p. 21: “Sungguh nggak mudah menjadi artis.”
  • p. 46: Pesohor itu tidak ubahnya buku terbuka di taman bacaan. Siapapun berhak membacanya, halaman demi halaman.
  • p. 47: Kalau selebriti menerima honor Rp 10, itu sebenarnya hanya Rp 6 untuk imbalan atas jasanya menghibur. Sisanya, Rp 2 sebagai bayaran atas hilangnya kebebasan sebagai orang biasa dan Rp 2 lagi bayaran sebagai sosok yang semua lagak-lakunya harus dilaporkan kepada publik.
  • p. 113: “Pintar-pintar kalianlah di lapangan. Saya tutup mata. Tapi kalau ada apa-apa, kalian tahu risikonya!”

Review

3-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 40.000
  • Scoop Rp 23.200
  • Gramedia.com Rp 34.000 belum termasuk ongkos kirim
  • Bukabuku.com Rp 32.000 belum termasuk ongkos kirim
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s