The Doctors: Kisah Hidup dan Artikel (Wahyu Hidayat, 2011)


Identitas Buku

The Doctors, The Untold Stories

Judul: The Doctors: Kisah Hidup dan Artikel
Penulis: Wahyu Hidayat
Penerbit: Bhuana llmu Populer
Genre: Non-fiksi, biografi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 12 Desember 2011
Tebal: 264 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 25 cm x 18 cm (tebal 2 cm)
ISBN-13: 978-979-074-522-3

 

Sinopsis Official

Awalnya, kami membayangkan bahwa menjadi dokter itu selalu berhadapan dengan pasien, menggunakan stetoskop, berkaca mata dan berwajah serius. Kami tidak pernah membayangkan bahwa akhirnya di antara kami ada yang melenggak-lenggok di atas panggung, disorot kamera sebagai presenter, menyanyi di atas panggung, bahkan hingga bermain film layar lebar dan sinetron….

Mungkin zaman telah berubah, sehingga gambaran tentang seorang dokter dengan pakaian putih dan stetoskopnya harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Banyaknya talk show kesehatan di berbagai media yang membutuhkan pakar kesehatan yang menarik membuat kami terjun ke dunia yang kerap disebut selebritas.

Seperti apa pun gemerlap dunia tersebut, kami tetaplah dokter. Sonia masih berkutat sebagai pakar/presenter kesehatan, Lula masih menangani kasus-kasus narkoba, Tompi masih tetap menjalankan praktik di bidang bedah plastik, dan saya (Boyke) masih setia bergelut dengan masalah seks dan kesehatan reproduksi di Klinik Pasutrinya. Dan, untuk itulah kami mendedikasikan hidup kami.

Resensi

dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG; dr. Lula Kamal, MSc; dr. Sonia Grania Wibisono; dan dr. Teuku Adi Fitrian, SpBP (alias dr. Tompi). Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia sudah kenal dengan empat dokter ternama yang juga bisa dikatakan merangkap status sebagai selebritis ini. Seperti apakah mereka menjalani hidup sebagai dokter sekaligus sebagai entertainer? Perihal itulah yang diulas tuntas dalam buku yang berdimensi aneh ini.

Buku dimulai dari bab dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG, yang dikenal dengan ceramah-ceramah seksologi berbasis obstetri dan ginekologi, yang tak lain adalah bidang spesialisasinya. Bab ini menceritakan bagaimana dr. Boyke terinspirasi menjadi dokter sejak kecil, yaitu karena menyaksikan serial dr. Kildare di TVRI, dan karena kagum dengan sosok dokter yang selalu dianggapnya sebagai orang sakti. Kemudian, ia juga menceritakan perjuangan ketika menjadi dokter puskesmas dan dokter yang menjalani wajib dinas setelah lulus spesialisasi, plus dilanjutkan tentang pilihan hidupnya untuk “mewartakan” urusan seksologi agar masyarakat awam paham akan seksologi. Bagaimana perjuangannya dalam melawan suara-suara miring yang masih menganggap seks adalah tabu untuk dibicarakan, dibahas tuntas pula di sini.

Kemudian, buku berlanjut dengan bab dr. Lula Kamal, MSc; yang dikenal pernah menjadi None Jakarta 1990 dan menjadi presenter acara Buah Bibir di RCTI yang dibredel itu. Ternyata dr. Lula tidak punya keinginan menjadi dokter, dan akhirnya ia menjadi dokter hanya karena ingin menuruti keinginan ibunya. Untungnya, di tahun-tahun akhir pendidikan dokter pun ia menemukan passion di dunia medis, setelah bertahun-tahun lamanya ia menganggap dunia kedokteran itu membosankan. Ditambah pengalamannya berhadapan dengan beragam karakter pasien, bab ini malah menghadirkan banyak sisi humanis dari dr. Lula.

Berlanjut ke dr. Sonia Wibisono, yang saat ini dikenal sebagai presenter dan wajah maupun tulisannya kerap muncul di media massa. dr. Sonia berasal dari keluarga dokter, sehingga tak heran jika sejak kecil pun ia tertarik dengan tubuh manusia dan pelajaran biologi.

Kemudian dr. Teuku Adi Fitrian, SpBP alias Tompi, yang dulunya adalah pemuda Aceh yang bercita-cita menjadi insinyur. Sama seperti dr. Lula, dr. Tompi kemudian memilih kedokteran untuk membahagiakan keluarganya dan berupaya meningkatkan status keluarganya di mata orang-orang Aceh. Dikisahkan pula bahwa dulunya dr. Tompi ini tidak percaya diri untuk menyanyi meskipun memang hobi musik. Seperti apakah perjuangannya menyelaraskan musik dan urusan kedokterannya, juga menarik disimak.

Nah, sekarang giliran saya yang berkomentar soal buku ini dari sisi saya sendiri.

Barangkali karena saya sendiri sudah mengetahui bagaimana rasanya menjalani pendidikan untuk menjadi dokter, maka saya tidak terlalu merasa excited dengan buku ini. Saya tertarik, tapi semata-mata tertarik dengan “seperti apa ya penulisan buku ini?”. Barangkali karena itu pulalah, “kesalahan” sangat mungkin bukan terletak di buku ini, melainkan di saya yang membacanya.

Fokus dari buku ini lebih ke “dokter yang juga bekerja sebagai entertainer”, “kesanggupan membagi waktu antara jadi dokter dan jadi entertainer“, dan -secara tersirat- semacam eksplorasi terhadap kemampuan multitasking keempat dokter terkenal ini. Memang masih ada pembahasan tentang “mengapa ingin jadi dokter”, atau “apa saja yang dipelajari dari aspek kemanusiaan setelah menjadi dokter, namun porsinya kurang.

Karenanya, bagi saya buku ini punya dua akibat utama untuk masyarakat.

  1. Yang pertama, untuk kelompok non-dokter (awam), -maaf sebelumnya- buku ini mungkin turut andil dalam mencetuskan persepsi “oh, untuk jadi dokter sukses itu tidak harus pintar saja, tapi juga harus tampan/cantik/punya bakat DI LUAR bidang kedokterannya”.
  2. Sementara bagi kelompok dokter (dan keluarga plus kerabat dekatnya), dan sebagai dampak dari akibat nomor 1, maka buku ini pun mungkin turut andil memberikan beban tersendiri, bahwa “dokter harus multitalenta dan bisa multitasking supaya bisa sukses dan cepat kaya”.

Ups, masalahnya di kebanyakan kasus, jadi dokter itu panggilan hidup. Bukan melulu masalah uang. Oke, saya tidak bahas itu panjang lebar di sini ya… Karena kalian juga bisa baca di buku ini, bahwa keempat dokter ini pun masih punya porsi “panggilan hidup” dalam menjalani praktik kedokteran mereka masing-masing.

Nah, sekarang soal penulisan buku. Pertama-tama, saya salut dengan keberanian penulisnya untuk menciptakan buku dengan format landscape. Sungguh pegal membaca buku ini dalam versi e-book, karena saya tidak terbiasa meng-landscape-kan smartphone untuk membaca. Ah, tapi sudahlah. Toh buku ini – barangkali – terkenal karena keanehan dimensinya yang unik itu juga.

Dan yang kedua, masalah isi buku. Isi buku dibuat cukup menarik dengan halaman yang penuh warna dan logo bintang yang unik di tengah tiap halaman tulisan. Sayangnya, bagi saya logo bintang itu mengganggu dan agak membingungkan ketika membaca, karena potongan tulisannya kadang entah “lari ke mana”.

Masalah sistematika penulisan. Sistematika ini tidak bisa disetarakan dengan tulisan biografi yang “biasanya”. Sepenggal artikel, dikasih penutup, putus, disambung lagi artikel lain, dikasih penutup lagi, putus lagi. Duh, lama-lama saya berkesan bahwa buku ini cuma semacam scrapbook, bukan biografi yang benar-benar disiapkan dengan matang per tokohnya. Untung, sistematika penulisan yang -maaf- buruk ini terobati sedikit dengan kelucuan penuturan dr. Teuku Adifitrian (Tompi) yang kebetulan ditempatkan di bab terakhir buku ini.

Oh ya, saya belum bahas soal bagian per dokter. Ini dia:

  1. dr. Boyke: Menurut saya, bagian dr. Boyke paling “biografikal” penulisannya dan berimbang antara urusan kedokteran dan urusan entertainment-nya. Namun, entah mengapa, saya justru merasa bagian dr. Boyke ini mengalir dengan biasa saja. Tidak buruk (bagus malah), namun tidak benar-benar membuat penasaran. Mungkin, penyebabnya adalah kesan scrapbook yang begitu nyata di bab ini (sering ada penutup, lalu cerita baru mulai lagi, begitu seterusnya sampai berkali-kali).
  2. dr. Lula: Untuk mengetahui bagaimana sisi kemanusiaan dokter bisa tersentuh oleh berbagai karakter pasien, bab dr. Lula paling pas untuk menjawabnya.
  3. dr. Sonia: Menurut saya, bagian dr. Sonia lebih dominan membahas hubungannya dengan keluarga dan bukan di bidang kedokterannya. Sehingga secara medis, bagian dr. Sonia bisa dikatakan lemah. Namun untuk urusan motivasi merambah dunia entertainment, bagian dr. Sonia bisa dibilang lumayan kuat.
  4. dr. Tompi: Bagian dr. Tompi cukup menarik karena penuturannya terkadang kocak namun tetap realistik. Gaya penyampaiannya mirip dr. Boyke, tapi bagian dr. Tompi lebih didominasi oleh bidang entertainment ketimbang bidang kedokterannya.
  5. Artikel: Bagian ini saya skip (karena sebagian di antara artikel-artikel itu sudah pernah saya baca sebelumnya dan sisanya lagi saya sudah tahu), sehingga tidak saya review.

Setelah semua selesai, oleh karena itu, saya hanya bisa memberikan rating 2 dari 5 bintang. Sebetulnya saya berniat memberi 1 bintang, tapi saya rasa buku ini tidak demikian buruk hingga layak mendapat rating serendah itu. Jadi, saya menambah satu bintang untuk dua hal: 1. Kelucuan dari penuturannya dr. Tompi, dan 2. Untuk profesi kedokteran itu sendiri.

Akhir kata, ini pesan-pesan dari saya untuk calon pembaca:

  1. Jika kalian adalah penggemar biografi, atau sekadar ingin tahu bagaimana dokter bisa menjadi entertainer, buku ini cocok untuk kalian.
  2. Tapi jika kalian adalah siswa SMA yang masih galau mau memilih kedokteran atau tidak untuk jurusan kuliah, atau punya anak/kerabat yang demikian: Buku ini tidak cocok untuk kalian. Cari buku lain saja: Karena buku ini tidak membicarakan secara spesifik seperti apa rasanya kuliah di kedokteran itu.

 

Kalimat-kalimat menarik

  • p.46-47: [Boyke] Dunia boleh berbangga dengan kemajuan ilmu kedokteran modern yang mengandalkan rasio. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada pengobatan tradisional yang telah mengakar dalam budaya masyarakat yang sulit dijelaskan secara rasional.
  • p.72: [Lula] “Kalau ada anggota keluarga yang sakit atau kena masalah kesehatan lain, setidaknya dalam keluarga ini ada yang tahu apa yang harus dilakukan.”
  • p.111: [Lula – paraphrased] Tuhan telah menurunkan tiga jenis orang untuk menemani kita dalam menjalani hidup: Orang yang kita temui hanya untuk sesaat, orang yang kita temui karena suatu sebab, dan orang yang kita temui untuk sepanjang hayat.
  • p.142: [Sonia] Low expectation. That’s the key for happiness.
  • p.208: [Tompi] Ucapan terima kasih yang disampaikan pasien merupakan satu kebanggaan dan kepuasan yang tidak ternilai bagiku.

 

Miscellaneous and Ratings

1.5-star

How to Get This Book

  • SCOOP: Rp 56.000 [digital version only]
  • Bukabuku.com: Rp 78.400 (belum¬†termasuk ongkos kirim)
Advertisements

One thought on “The Doctors: Kisah Hidup dan Artikel (Wahyu Hidayat, 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s