Bokis 2: Potret Para Pesohor, dari yang Getir sampai yang Kotor (Maman Suherman, 2013)


Identitas Buku

bokis-2

Judul: Bokis 2: Potret Para Pesohor, dari yang Getir sampai yang Kotor
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Non-fiksi, entertainment
Bahasa: Indonesia
Terbit: 24 Mei 2013
Tebal: 151 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-979-910-585-1

 

Sinopsis Official

Dunia hiburan Indonesia tidak hanya menyimpan cerita serba gemerlap dan glamor, tapi juga kisah getir dan penuh tipu-tipu.

Bagaimana demi popularitas orang rela mengorbankan bukan hanya seluruh harta, tapi juga harga diri bahkan organ tubuhnya? Atau, orangtua yang mau melakukan apapun agar sang anak tampil di panggung hiburan? Juga, bagaimana pihak-pihak yang berkuasa ikut menentukan dan tampil sebagai pemenang dalam dunia yang karut-marut seperti itu?

Maman Suherman, jurnalis infotainmen kawakan yang punya hubungan luas di kalangan pesohor, menyingkap betapa eratnya harta, seks, dan kekuasaan dalam dunia hiburan kita.

Resensi

Masih tak jauh dari buku pertamanya, Kang Maman Suherman dengan karikatur plontos khasnya kembali hadir di cover buku sekuel Bokis ini di tahun 2013. Temanya pun masih serupa, seputar dunia entertainment lokal.

Kalau di buku pertama subjudulnya adalah “kisah gelap dunia seleb”, buku kedua ini mengangkat subjudul “potret para pesohor, dari yang getir sampai yang kotor”. Jangan keburu berpikir bahwa buku pertama hanya berisi orang-orang yang mau jadi terkenal dan menghalalkan segala cara, dan buku kedua hanya berisi para pesohor. Sebetulnya isi kedua buku ini mirip-mirip, yaitu campuran dari keduanya sekaligus, dalam porsinya masing-masing. Tema yang diangkat juga masih punya judul utama yang sama, yaitu soal “did you know what lies behind the scene?”-nya dunia hiburan Indonesia.

Karena saya (masih) tidak tertarik dengan dunia entertainment lokal dan paling malas mengikuti infotainment, saya pun tak bisa menebak nyaris semua selebriti yang ada di buku ini, kecuali satu: Selebriti yang ada di bab Jantungan (saya maklum saja, karena deskripsi apapun rasanya tak bisa menutupi identitas selebriti yang sikapnya paling khas sejagat Indonesia ini). Alhasil, saya kebingungan karena buku ini semakin penuh dengan kata ganti “selebriti muda”, “desainer muda”, “aktor tampan”, dan semacam itu. Barangkali, jika kalian adalah penikmat hiburan Indonesia, kalian bisa dengan mudah menebak siapa saja pesohor yang disebut-sebut Kang Maman. Tapi, serba salah juga sih. Kalau nama asli selebnya dipasang, nanti pencemaran nama baik, repot lagi lah nasib buku ini. Bisa kena bredel seperti zaman 1990-an. Kan sayang!

Baiklah… Inilah garis besar isi buku ini. Semoga tidak membuka terlalu banyak rahasia.

  1. Jual hingga tak tersisa: Bisa ditebak, apa isi bab ini. Sebagian adalah semacam deja vu dengan buku pertama. Sebagian lagi kisah baru.
  2. Seks, seks, seks… Uang, uang, uang: Lagi-lagi masalah esek-esek yang dibalas pakai duit. Bab ini mengungkap fakta di balik layanan plus-plus kelas premium yang kerap berputar di kalangan selebritis. Coba baca “Pro Bono tapi Ditiduri”. Artikel ini lumayan bikin “tersentuh” dengan caranya sendiri. Juga artikel “Serba-serbi Gratifikasi Seks” yang lengkap sekali.
  3. TV… Oh, TV…: Inilah kupasan tuntas soal behind the scene-nya penayangan acara-acara di televisi, mulai dari acara yang biasa saja (berita) hingga acara reality yang aneh bin ajaib. Kembali, hal-hal tak terduga muncul pula di bab ini. Mau yang benar-benar bikin kaget? Baca “Pemeran Pengganti di Acara xxx”. Wow!
  4. Jurnalis Oh, Jurnalis: Bab ini mirip dengan bab TV Oh TV tapi yang dibahas adalah dari sisi si jurnalisnya (sementara bab TV Oh TV meninjau sisi selebritinya).

 

Bokis babak dua ini juga ditambah beberapa kisah tentang orang biasa yang ingin jadi selebriti dan berani mengorbankan segala-galanya, plus lebih banyak membahas selebriti yang mau berbuat apa saja supaya tetap ada di berita-berita. Secara umum, buku ini memang semenarik buku pertama. Sayangnya, ada beberapa cerita (lumayan banyak) yang agak mengulang-ulang dari buku pertamanya. Sehingga setelah membaca buku kedua ini (saya baru membaca buku pertamanya dua hari yang lalu), saya langsung banyak lupa dengan isi buku yang kedua. Tapi bukan berarti saya bilang buku kedua ini jelek, lho. Secara garis besar buku kedua ini sama saja dengan buku pertamanya: Kalau kalian suka buku pertamanya, pasti suka juga dengan buku keduanya. Demikian pula kalau kalian tidak suka.

Berarti? Tentu saja, buku Bokis babak kedua ini pun tetap cocok untuk jadi sumber pembelajaran tentang kejamnya belantara selebriti dan dunia entertainment itu sendiri. Beragam tindak tanduk dan sebab akibat, ada saja yang bisa terjadi. Kadang sesuai prediksi, kadang pula di luar dugaan.

Pokoknya seru!

 

Kalimat-kalimat menarik

  • p.x: “Orang-orang harus dibangunkan. Kenyataan harus dikabarkan. Aku menulis menjadi saksi.”
  • p.48: “Banyak yang menyamaratakan, menganggap kami semua bisa di-booking!”
  • p.81: Tapi, kalau berakhir dengan kematian, Tuhan yang disalahkan.
  • p.111: “Anda siapa, ya? Saya tidak kenal?”
  • p.137: “Sudah-sudah jangan iri. Kalau mau seperti mereka, ya sana tulis berita bohong, terima amplop!”

Review

3-star

How to get this book

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s