Kisah Orang-orang Sagitarius (Ayu Utami dkk, 2013)


Identitas Buku

kisah-orang-sagitarius

Judul: Serial Horoskop #2: Kisah Orang-orang Sagitarius
Penulis: Ayu Utami, Fitria Sari, Putri Wardhani, Wiwin Erikawati, Yogi Pambudi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Fiksi, short-stories
Bahasa: Indonesia
Terbit: 14 Oktober 2013
Ukuran: 12 cm x 17 cm
Tebal: 207 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-979-910-628-5

Sinopsis Official

Sagitarius melihat yang tidak tampak, dan memiliki tenaga untuk mengejarnya. Ia berkepala manusia dan berkaki kuda. Sang manusia terpikat pada yang abstrak, teka-teki mengenai alam semesta. Sedang tubuh bawahnya mengandung kecerdasan hewani: intuisi dan nafsu-nafsu melangsungkan hidup. Ia mengingatkan kita pada Yunani Klasik, di mana para filsuf berpikir dan para atlet beradu raga. Sagitarius adalah makhluk penjelajah. Ia bisa saja brutal dan memasuki teritori orang lain. Tapi manusia selalu bisa menjinakkan mustang paling liar sekalipun, dan Sagitarius adalah keduanya.

Buku ini berisi cerita tentang karakter-karakter yang lahir dalam teritori Sagitarius.

Resensi

Masih seputar dunia astrologi, yang baru saya pahami urutannya namun belum esensinya. Inilah buku ketiga saya dari buku-buku serupa yang sudah terbit di April 2016.

Jika membaca buku yang Capricorn adalah karena saya mencocokkan kalender periode Capricorn dengan tanggal bersejarah tertentu, dan membaca buku Scorpio karena saya jarang bertemu dengan orang-orangnya (tapi seingat saya, baru ada 3 selama ini, dan tiga-tiganya mulai luntur dari ingatan), buku ini sungguh memberi alasan berbeda buat saya: Bahwa saya cukup sering bertemu Sagitarian, dan 70% dari mereka (setidaknya) pernah berselisih dengan saya. Baik kecil ataupun besar. Baik riuh maupun ribut.

Dan berkat buku ini, singkat kata, saya jadi tahu alasannya. Terlepas dari entah alasannya memang begitu, alasan itu mengada-ada, atau alasan itu terlalu saya paksakan. Biarlah langit yang menghakimi benar tidaknya alasan itu karena sekali lagi, saya belum paham efek astrologi ke kehidupan nyata sepenuhnya.

Lagi-lagi dalam meninjau buku ini, mau tak mau saya membandingkan dengan dua kawan terdahulunya. Dari segi penulisan, jika Capricorn agak seperti benang separuh kusut yang mencoba meluruskan diri dengan menatap ke atas sambil tetap menjejak, sementara Scorpio diam-diam melancarkan serangan mematikan yang memerangkap para pembaca sampai sulit melepaskan diri, tampaknya Sagitarius diidentikkan dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang jauh lebih besar untuk suatu idealisme yang mungkin sulit dipahami non-Sagitarian. Belum lagi dari segi bahasa dan kedalaman filsafatnya, buku ini tampil beda dibandingkan dua buku lainnya. Buku ini terasa lebih seperti buku filsafat dan, terus terang, lebih berat. Setelah selesai membaca dan saya lihat credits-nya, ternyata nyaris semua cerpen dibuat Mbak Ayu Utami. Oh, tak heranlah bahasanya begini berat. Sudah semacam Bilangan Fu saja rasanya.

Cerita favorit saya yang mana? Mungkin beda dengan kebanyakan orang yang, konon memfavoritkan Ibu Tiri, saya justru paling suka dengan Bioskop. Cerita ini sepertinya merupakan cerita pertama apabila cerita-cerita berkait ini disusun secara kronologis. Dan sebetulnya, cerita inilah yang bagi saya, menggambarkan semua asal mula permasalahan yang ada di buku ini. Nah, dua cerita di bagian akhir yang muncul sesudah Bioskop, yakni Linguistik Cinta dan Wali, sama-sama berat dan agak membingungkan buat saya (yang masih awam sastra ini), plus mengundang tanya untuk berkali-kali membaca dan memahami unsur filsafat serta teologisme di dalamnya. Linguistik Cinta terlebih, yang mengaitkan sinisme dengan falsafah dan teologisme, dengan rasisme, kesombongan, hingga soal asal muasal kehidupan. Coba baca dua cerpen ini dengan cara skimming, deh. Pasti harus mengulang, haha!

Kalau saat membaca dua buku sebelumnya saya tidak terlalu merasa terpancing, buku ini sukses untuk agak memancing kemarahan dan kebencian saya terhadap beberapa hal yang diungkapkan dengan begitu kejam. Coba lihat bagian tentang kue, halaman 143. Terkadang, saya langsung mengasosiasikan keketusan beberapa ide dengan para Sagitarian. Apakah karena itu kami tidak terlalu cocok? Duh, berat menjawabnya.

Oh ya, sebelum saya close, ada dua hal yang agak membuat saya gatal, di tengah jajaran kata-kata indah sepanjang buku ini.

  1. Apa zodiak ibunya Indira? Entah saya yang ke-skip, atau memang tidak tercantum? Jika memang tidak ada dan saya boleh menebaknya, maka zodiak ibunya Indira pastilah… Ah, lupakan.
  2. Setahu saya, Tom Cruise itu Cancer.

Jadi para Sagitarian, tidak ada yang namanya niat dari saya untuk mengungkit kisah lama atau memusuhi kalian secara keseluruhan. Tapi berkat buku ini (jika astrologi itu nyata), sebagian dari diri saya paham bahwa memang ada prinsip di antara kita yang, barangkali, tidak benar-benar sesuai.

Sekian. Saya tunggu sembilan anggota pasukan berikutnya!

Kalimat menarik

  • p.28: Sagitarius adalah makhluk pengelana. Ia seekor kuda berkepala manusia. Kau tak bisa memilikinya.
  • p.28-29: Kata orang, ia tipe perawan tua, wanita yang tidak punya pasangan dan benci pada gadis-gadis muda.
  • p.82-83: Atau, bagi kalian mungkin kehilangan sesuatu yang sangat kalian sayangi lebih menakutkan daripada melihat yang mati hidup kembali.
  • p.148: Jadi, dinosaurus itu ada lebih dulu daripada Adam dan Hawa.

Review

How to get this book

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s