Big Bad Wolf Book Sale Jakarta 2016: Catatan tanpa Foto di Akhir Masa Promo


Rasanya sudah ada banyak sekali liputan, tulisan, dan artikel yang membahas soal bazaar buku bertajuk Big Bad Wolf Book Sale Jakarta, yang berlangsung pada 30 April hingga 9 Mei mendatang (ya, 9 Mei. Nanti saya jelaskan).

poster-02

Saya sendiri, baru menuliskan postingan ini di tanggal 7 Mei malam. Berarti ketika kalian membacanya, hanya tersisa sekitar 48 jam untuk menikmati pameran buku impor yang cukup besar ini. Belum lagi, postingan saya ini tidak ada fotonya – karena saya udah kelabakan sendiri di sana, dan tidak sempat foto-foto!

Ya sudah, daripada kalian keburu mengantuk, mari kita mulai saja.

Apa itu Big Bad Wolf Book Sale?

Big Bad Wolf Book Sale ini adalah pameran buku internasional dengan diskon besar, yaitu rata-rata 60-80%, yang biasa dilaksanakan di Malaysia, sejak tahun 2009. Di tahun 2016 ini, BBW (untuk gampangnya Big Bad Wolf saya singkat jadi ini saja ya) pun hadir di Indonesia, tepatnya di Hall 10 Indonesia Convention & Exhibition, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten.

Jam bukanya juga terpola: Selalu di jam 11-23 di hari kerja, dan selalu di jam 9, nonstop, dan tutup jam 23 pada akhir pekan dan hari libur nasional.

Eh tunggu, selesainya tanggal 8 atau 9 Mei? Foto di atas kan bilangnya 8 Mei?

Selesainya hari Senin, 9 Mei 2016, jam 23.00. Memang di poster-poster, tanggal selesainya pameran ini adalah 8 Mei 2016, alias Minggu malam. Tapi karena animo masyarakat sangat besar sampai membludak, maka pihak BBW memutuskan memperpanjang pameran selama 24 jam.

Jadi jangan sampai kelewatan.

Bagaimana cara ke sananya yah?

Buat teman-teman yang domisili Depok atau sekitarnya, bisa cek blog Mba Truly Rudiono di sini yang menjelaskan detail soal moda transportasi ke ICE BSD. Karena saya berasal dari lokasi yang berbeda (baca: Cengkareng, Jakarta Barat), mungkin dari saya penjelasan soal “bagaimana cara ke ICE BSD” agak lain.

1. Ojek online: Demi alasan kecepatan, menggunakan ojek online bisa jadi salah satu alternatif moda transportasi yang perlu diperhitungkan. Dari Cengkareng, biaya yang dibutuhkan untuk menuju ICE BSD berkisar antara Rp 40.000-Rp 50.000 sekali jalan. Dilihat dari tarifnya, tampaknya kita bakal duduk cukup lama (30-45 menit) di atas sepeda motor.

2. Taksi alternatif (Uber, GrabCar, GoCar): Dari Cengkareng ke ICE-BSD, biaya naik taksi alternatif adalah sekitar Rp 90.000-Rp 130.000 sekali jalan. Dan tentu saja, harga tersebut belum memperhitungkan kemacetan dan surge rate. Kalau sampai kebagian surge rate dari Uber, coba hitung di sini dulu ya.

3. Naik kereta: Kalau murni naik kereta saja rasanya tidak mungkin sampai ke ICE BSD. Untuk warga Cengkareng dan sekitarnya bisa naik kereta mulai dari stasiun Batu Ceper, Poris, Kalideres, Rawa Buaya, atau Bojong Indah, dan turunnya di stasiun Rawa Buntu atau Serpong. Sisa perjalanan dilanjutkan dengan moda lain.

4. Mobil pribadi atau diantar: Dari Cengkareng, kalian bisa dua pilihan tol.

a. Menggunakan tol JORR (masuk km 4 Jalan Lingkar Luar Barat), disambung tol JORR w2, dan tol Jakarta-Serpong exit BSD City (total ongkos tol Rp 27.000), dan lanjut ke Jalan BSD Boulevard sejauh sekitar 1 km. Rute ini mahal tapi tidak terlalu ribet.

b. Atau bisa juga lewat tol Jakarta-Tangerang (masuk dari Puri Lingkar Luar km 8), exit 14 Alam Sutera (total ongkos tol Rp 5.500), dan lanjut ke jalanan di Alam Sutera, Raya Serpong, dan BSD sejauh sekitar 15 km). Rute ini murah tapi agak merepotkan.

Ingat pintu masuknya di ICE BSD adalah gate E, hall 10. Jangan sampai salah – karena kalian bakal diharuskan jalan kaki lumayan jauh kalau sampai keliru.

Diskon 60-80%? Waw! Berarti berapa ya harga jatuh per bukunya?

Dari hasil pengamatan saya, rata-rata harganya dibanderol di Rp 45.000-70.000 untuk buku berukuran “biasa”. Bisa di bawahnya (Rp 30.000) untuk buku yang ukurannya pocket dan tipis, tapi ada juga yang di atasnya (Rp 80.000-220.000) untuk buku yang berukuran besar, berkualitas kertas jauh lebih istimewa, atau hard cover, atau kombinasi semuanya. Bahkan konon ada buku yang harganya Rp 700.000, tapi saya tidak tahu buku manakah itu.

Adakah batasan buku apa saja yang hadir di pameran ini?

Ada. Ini dia:

  1. Buku impor yang kebanyakan berasal dari Britania Raya (UK). Tapi juga ada koq yang asalnya dari Amerika Serikat (US).
  2. Buku impor ini adalah terbitan (sekitar) tahun 2013 atau sebelumnya. Jadi jangan harap mencari buku baru di sini ya!
  3. Buku lokal Indonesia? Ada, tapi hanya yang berasal dari penerbit Mizan, itu pun juga buku lama.
  4. Kategori/genrenya apa saja? Ada lengkap: Fiksi – mencakup romance, young adult, fantasy, thriller, literature, dsb. Non-fiksi juga tidak kalah komplit – buku masak, biografi, reference, history/current affair/politics, self-help, health/wellness, art, music, sport, economics/business, dan transportation.
    Oh ya, sebelum lupa. Karena perhatian saya selama pameran ini hanya tercurah ke bagian nonfiksi, jadi jangan kecewa ya kalau saya tidak terlalu mengulas Fiksi di sini.

Apakah bukunya disusun menurut pola tertentu?

Saya baru datang ke BBW pada hari keenam, 5 Mei 2016. Saat itu bukunya masih tersusun teratur namun untuk bagian nonfiksi, saya tidak melihat ada pola yang khas. Sebagai contoh, untuk biografi: Nama tokoh-tokohnya tidak urut abjad. Nama penulisnya juga tidak. Di bagian reference: Topik objek yang diulas tidak urut abjad. Nama penulis, boro-boro. Kesimpulan saya: Untuk nonfiksi: Tidak ada pengurutan yang jelas.

Beda dengan fiksi: Saya lihat bahwa di bagian General Fiction, buku-buku masih terpola dengan abjad nama pengarangnya. Misalnya buku-bukunya James Patterson letaknya tidak terlalu berjauhan dengan buku-bukunya Nicholas Sparks.

Sementara untuk buku lokal: Buku-buku Mizan ini dibagi atas fiksi, non-fiksi, dan anak saja. Tapi yang aneh, saya berhasil mendapatkan satu buku Mizan yang sudah lama saya cari dan tidak pernah ada di manapun (sampai-sampai, saya pernah bertanya ke Bentang soal buku ini, tapi malah tidak dijawab). Surprise!

Beda lagi kasus di kunjungan kedua, Jumat 6 Mei malam-Sabtu 7 Mei dini hari. Bukunya sudah berantakan dan tidak jelas susunannya. Saya sempat mengira hanya buku fiksi yang diacak-acak, salah! Nonfiksi juga hancur berantakan. Duh. Jadilah proses perburuan menjadi sedikit lebih sulit.

Apakah bukunya cukup komplit?

Seperti yang saya tulis tadi. Kalau buku yang dicari adalah terbitan baru (2014 atau lebih baru), hampir bisa dipastikan belum ada di pameran ini.

Khususnya soal biografi: Terus terang, ada beberapa buku biografi lama (plus unik) yang sedang saya incar, namun tidak berhasil saya temukan di sini. Meskipun saya harus mengakui bahwa biografi yang lebih laris (seperti Mandela, Suu Kyi, Oliver Sacks, Arnold Schwarzenegger, Oscar Pistorius) memang ada.

Nah, saya kurang paham untuk genre lain. Bisa saja, genre lain menyuguhkan koleksi lebih komplit ketimbang biografi.

Bagaimana soal pembayarannya?

Selain debit BCA, semua jenis pembayaran bisa dilakukan di kasir BBW.

Perhatikan bahwa kasir yang sebelah kanan (lihat bendera “MANDIRI” di tembok!) khusus untuk melayani pengguna kartu debit Mandiri, kartu kredit Mandiri, kartu belanja Hypermart-Mandiri, atau e-cash Mandiri. Ingat ya, e-money tidak bisa digunakan!

Saya sendiri, barangkali termasuk pembeli langka yang menggunakan layanan Mandiri e-cash. Memakai e-cash di sini cukup membuat deg-deg-an karena sinyal internet di dekat kasir kurang bagus. Plus dua fakta lain: Satu, kasir umumnya kurang menguasai metode transaksi Mandiri e-cash, dan dua, e-cash terkenal sering ngadat dan kadang-kadang struk belanja kita pun tidak bisa keluar di meja kasirnya. Tapi… Kalau pakai e-cash ada cashback Rp 30.000 per transaksi lho (dan saya baru sadar jauh sesudah transaksinya selesai). Sayangnya, petugas kasir tidak paham kalau e-cash ada promo #tepokjidat. Jadi jangan tanya saya, berapa nilai transaksi minimal dengan e-cash untuk mendapatkan cashback itu… Saya juga tidak tahu.

Sementara untuk pembeli yang membayar dengan uang tunai atau kartu kredit non-Mandiri, silahkan menggunakan kasir di sebelah kiri, yang bertulisan “KASIR” saja.

Ada tips-tips khusus?

1. Berpakaian yang nyaman (tidak usah ribet!) dan harus bawa air minum. Menurut saya, ini adalah persiapan yang paling penting agar kalian memiliki ketahanan fisik baik dalam berburu buku.

2. Kalau sudah punya list buku incaran, lebih baik. Tapi ingat: Tidak ada gunanya kalian menanyakan ke petugas BBW “kalian punya buku xxxxx dari pengarang yyyyy?”, karena sebagian (besar dari) mereka tidak mengenali buku berdasarkan judul atau berdasarkan penulis, melainkan berdasarkan kode di cover buku. Alias: Mencari buku incaran itu bisa saja bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. APALAGI kalau kondisi bukunya sudah berantakan!

3. Ketika menemukan buku yang sudah kalian idam-idamkan, segera masukkan ke keranjang TANPA memperhatikan kualitas buku. Adalah urusan belakangan buat kalian untuk menemukan buku yang sama dengan kualitas yang lebih baik, kemudian.

4. Jika ada bundelan buku yang sudah kalian incar, jangan meleng, langsung masukkan buku tersebut ke keranjang. Beberapa rekan melaporkan ada calon pembeli yang berani mengincar isi keranjang calon pembeli lain cuma gara-gara buku yang diidamkan ternyata ada di keranjang orang lain. Jadi hati-hati ya!

5. Perhatikan, karena manajemen buku “yang batal dibeli” itu sangat-sangat minim di sini, plus petugas yang biasa mengambili buku “batal beli” itu jelas-jelas kalah jumlah dari calon pembeli, maka pikirkan tiga hingga sepuluh kali sebelum memutuskan untuk membeli suatu buku. Boleh saja memasukkan semua buku incaran ke keranjang untuk nanti diseleksi ulang, tetapi bagaimana kalau kita malah menambah berantakan buku-buku yang sudah telanjur berantakan?

6. Pengguna Mandiri e-cash atau kartu debit: Pastikan saldo kalian cukup sebelum membayar. Timbulnya masalah ketika membayar dapat mengakibatkan antrean dengan cepat memanjang dan bahkan berpotensi membludak menjadi mengerikan di jam-jam tertentu.

7. Soal jam kunjungan, tadinya jam yang dianggap sepi adalah jam 01-05 pagi. Tetapi entah mengapa (apakah karena BBW mengepost tentang hal ini di laman FB mereka, ataukah karena hal lain), di tanggal 7 Mei dini hari, jam 01-05 pagi malah justru lebih dipadati pengunjung ketimbang tanggal 6 Mei jam 21-23. Jadi dugaan saya: Untuk tanggal 8, tidak ada jam khusus yang mungkin akan lebih longgar. Sementara untuk tanggal 9, bisa diduga-duga sendiri berhubung itu hari Senin 🙂

8. Masih kurang tipsnya? Ini ada tips yang lebih komplit dari blognya Kak RenPuspita.

Situ sendiri dapat berapa buku dari hasil berburu?

Sesuai nama Twitter dan Instagram saya yaitu triskaidekaman: Saya dapat 13 buku (ini bukan hasil kesengajaan!). Cuma sedikit ya? Ya tidak apa-apalah. Toh saya juga tidak sanggup membaca sebegitu banyak buku, yang konon SEMUANYA non-fiksi, plus… *gulp* harus nelan ludah waktu cek saldo.

 

Gimana, udah pusing baca postingan tanpa foto ini?

Manfaatkan 48 jam tersisa ini untuk menimbang: Apakah kalian akan meluncur (lagi) ke ICE BSD?

Selamat berpikir dan berburu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s