Begitulah Indonesia (a.k.a. Indonesia etc) (Elizabeth Pisani, 2015)


Identitas Buku

Judul Buku: Begitulah Indonesia – Menjelajahi Bangsa yang Tak Terduga (original title: Indonesia Etc – Exploring the Improbable Nation)
Penulis: Elizabeth Pisani
Alih bahasa: Bhimanto Suwastoyo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2 Nopember 2015 (original publish date: 23 Juni 2014)
Ukuran: 23 cm x 15 cm
Tebal: 490 halaman
Bahasa: Indonesia (original text: English)
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-602-032-279-7

Sinopsis Official

“Suatu prestasi spektakuler, dan salah satu buku perjalanan terbaik yang pernah saya baca. Pisani seperti kekuatan alam.”

Simon Winchester – Penulis buku Krakatoa: The Day the World Exploded, dan artikel-artikel di Wall Street Journal

“Salah satu laporan paling berwawasan mengenai Indonesia kontemporer dalam puluhan tahun. Pisani membawa kita dalam petualangan unik di Indonesia yang menyentuh, provokatif, dan sangat jujur, membuktikan bahwa dalam zaman globalisasi ini (atau mungkin karena zaman globalisasi) negara tersebut tetap penuh warna, penuh gejolak, dan penuh suka.”

Daniel Ziv – Penulis Jakarta Inside Out dan sutradara “Jalanan”

“Kisah yang ditulis dengan indah, sangat menghibur… Ms. Pisani membahas banyak tema besar—demokrasi, desentralisasi, korupsi, kesenjangan, kegagalan sistempendidikan Indonesia, dan Islam radikal, juga hantu ratusan ribu orang yang dibantai ketika Suharto mulai memegang kekuasaan pada 1965. Pembahasannya tak pernah membosankan.”

The Economist

Indonesia adalah tempat yang menawan. Rakyatnya termasuk yang paling ramah di planet ini; kekayaan bahasa, budaya, dan alamnya amat luar biasa, penuh emas, nikel, rempah, dan ikan. Namun, Indonesia juga punya banyak masalah: patronase, korupsi, dan ketidakberesan birokratik. Elizabeth Pisani—wartawati yang kemudian menjadi ilmuwati lalu analis serba-serbi—menjabarkan Indonesia sebagai Cowok Badung raksasa, sungguh menawan sekaligus menyebalkan. Dia telah jatuh cinta kepada negara ini sejak pertama kali bekerja di Indonesia lebih dari dua dasawarsa lalu, dan sesudahnya selalu mau kembali lagi.

Pada 1945, dua tokoh nasionalis Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, memproklamasikan: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.” Hampir tujuh dasawarsa kemudian, Pisani mulai menjelajahi kembali Indonesia dalam zaman “dll”-nya yang terkini: desentralisasi. Dia menghabiskan setahun bepergian sejauh 21.000 kilometer dengan sepeda motor, bus, dan perahu, juga 20.000 kilometer lagi dengan pesawat. Dia tinggal bersama nelayan dan petani, sopir bus dan perawat, guru dan pengelana. Dari palet yang mencakup pengetahuan sejarah yang layak, pengamatan dari dekat selama bertahun-tahun, dan pemahaman sehat atas hal-hal yang absurd, dia melukis potret negara ini secara apa adanya namun dengan penuh rasa sayang.

Resensi

Saya pertama kali mengetahui buku Indonesia Etc. dari toko buku Kinokuniya. Saat itu saya sedang melihat-lihat buku di rak sosioantropologi, dan saya pun melihat buku ini dalam versi bahasa Inggris. Ternyata, saat itu ini masih buku baru. Sesuai blurb-nya, saya yakin bahwa buku ini juga tak terduga, seperti bangsa yang dibahasnya.

Kalau ditanya, apakah saya sebagai orang Indonesia benar-benar sudah mengenal Indonesia sampai ke dalam-dalamnya, saya dengan yakin menjawab “Tidak”. Justru, karena itulah saya merasa blurb buku ini menarik. Penulisnya adalah Elizabeth Pisani – seorang wanita asal Amerika Serikat, yang tinggal di London – Britania Raya, fasih berbahasa Prancis, Spanyol, China, dan Indonesia selain bahasa Inggris, pernah menjadi wartawan Reuters dan pernah pula menjadi peneliti untuk World Health Organization yang berkonsentrasi di bidang seks bebas dan HIV/AIDS. Melihat latar belakangnya yang ternyata begitu erat ikatannya dengan Indonesia, saya bertambah yakin bahwa buku ini bakal seru! Bayangkan: Ada seorang asing (baca: bule) yang bersedia meluangkan 13 bulan dalam hidupnya hanya untuk berada di tengah-tengah masyarakat Indonesia – baca lagi, masyarakat PEDALAMAN, bukan kota! – dan melakukan riset, asosiasi, analogi, yang begitu dalam; terhadap Indonesia. Singkatnya, ada bule yang sebegitu cintanya dengan Indonesia, bahkan mungkin melebihi orang Indonesia sendiri. Luar biasa! Barangkali saya keliru, tapi saya tidak yakin ada warga negara Indonesia yang sanggup melakukan hal yang sama dengan yang sudah dilakukan Elizabeth.

Di sisi lain, saya sangat penasaran dengan pandangan orang asing mengenai Indonesia. Orang Indonesia, yang dikenal oleh dunia internasional sebagai bangsa yang suka “sok nasionalis” namun di sisi lain suka pesimis dengan kemampuan sendiri, rasanya bukan narasumber yang tepat untuk dimintai pendapat tentang Indonesia secara objektif. Kalau bukan pendapatnya selalu dibagus-baguskan, pasti pendapatnya dijelek-jelekkan semua. Karena itulah, saya memutuskan untuk “mempelajari” dua buku non-fiksi tentang pandangan orang asing terhadap Indonesia, untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif itu. Buku yang satu, sudah saya selesaikan di Maret 2016 (WNI Dilarang Baca, oleh Chris Thomson). Dan yang satunya lagi, tentunya adalah buku ini.

Akhirnya, saya pun membaca versi digital dan terjemahan Indonesia pula, yang berjudul “Begitulah Indonesia”. Alasannya klasik. Versi aslinya dibanderol Rp 200.000 di Kinokuniya (ada info bahwa di toko buku lain harganya malah hampir Rp 300.000), sementara Scoop memasangnya di harga Rp 62.500 saja. Memang penghematan ini mengakibatkan pembaca harus rela menikmati bukunya dari smartphone saja, sih…

Ketika saya mulai membacanya di Februari 2016, buku ini memang menyuguhkan konten yang tepat seperti ekspektasi saya: Ada unsur perjalanannya, lengkap dengan sentuhan budaya ke-Indonesia-annya, ada kaitannya dengan sosioantropologi dan sejarah,  kemanusiaan, politik, plus – last but not least – ada satirnya juga. Hanya saja – seperti sebagian besar buku nonfiksi yang sifatnya kompleks – buku ini tidak bisa dinikmati secepat kilat, karena taste-nya bakal terasa kurang nikmat dan impact-nya bakal cepat menguap. Saya butuh 88 hari untuk menikmati buku hasil kerja keras Elizabeth dalam merangkum berbagai aspek soal bangsa Indonesia ini, hingga tamat.

Di bab awal, Elizabeth sudah menyuguhkan kalimat yang menyentil buat orang Indonesia. Wanita petualang ini memfokuskan titik mula bahasan pada frasa “dan lain-lain” (terjemahan dari etc.) dari teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang dikumandangkan pada tahun 1945 itu. Indonesia, disebut masih saja sibuk dengan “dan lain-lain” itu meskipun sudah merdeka tujuh dekade (halaman 3). Yang juga menarik, adalah perihal frasa “bilang saja iya” (halaman 20 dan 184), yang disebutnya sebagai aturan tak tertulis universal di Indonesia, untuk mempermudah jalannya hidup. Baru di bab awal, saya sudah berkali-kali dibuat berpikir “oh iya juga ya” oleh tulisan Elizabeth.

Kemudian, Elizabeth berhasil mengembangkan catatan perjalanannya menjadi sebuah jalinan fakta, sekaligus sebuah refleksi. Berkeliling di Indonesia Timur, kemudian ke Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, dan berakhir di Pulau Jawa dan tepatnya di sebuah kota besar selain Jakarta, dilakoninya dengan jatuh bangun. Mulai dari menemukan bahwa Indonesia sebetulnya tampak begitu Bhinneka Tunggal Ika di satu sisi (halaman 49), namun masih begitu kedaerahan di beberapa sisi lainnya (halaman 126). Bahwa Indonesia yang begitu modern dan megahnya di Jakarta, namun masih banyak daerah tak terjamah yang masih mengandalkan pasar tradisional sekadar untuk menyambung nyawa dinamika kehidupan (halaman 77).

Sisi sosial tak luput dari ulasan Elizabeth. Satu sifat orang Indonesia yang kerap diangkatnya, yaitu soal gengsi. Tak cuma orang kota besar dan sosialita yang gengsian, tapi rupanya budaya gengsi ini pun telah mengakar hingga daerah pelosok (halaman 116 dan halaman 244). Tampaknya, soal kegengsian ini tak lepas dari “indoktrinasi” sinetron (dengan segala citra semu dan iklannya), yang tak luput dari jelajahan Elizabeth (halaman 142).

Bukan Indonesia namanya kalau tidak punya masalah terkait urusan geografis karena sikon peta Indonesia yang begitu unik. Geografi unik Indonesia inilah yang justru membuat, sedikit banyak, bangsa ini keteteran dalam banyak hal. Salah satunya urusan pendidikan. Minat baca yang rendah, hingga skor pendidikan standar internasional yang nyaris paling buncit sedunia, menggambarkan tragisnya dunia pendidikan Indonesia di matanya sebagai warga dunia (halaman 206). Juga soal distribusi bahan bakar minyak (halaman 231).

Lalu soal politik, mulai dari keganasan Tommy Soeharto (halaman 59), hingga desentralisasi Pak Habibie, semua disempatkan Elizabeth untuk dijamah (halaman 162 dan 269). Jangan kaget pula kalau buku ini pun membahas bagaimana intrik Pilkada itu berlangsung (halaman 198). Dan tentu yang paling menarik, adalah bagaimana politik bisa berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Bahasan ini dibuat per daerah oleh Elizabeth, sehingga kita akan menemukan bahasan yang khas di tiap daerah yang ia kunjungi. Dari Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) yang sarat masalah karena desentralisasi dan terlalu jauhnya mereka dari ibukota, Sulawesi yang dirundung polemik soal industri, Aceh yang masih berusaha menyeimbangkan pembangunan pasca-tsunami dan perdamaian, Rimba-Bengkulu yang belum lama mengenal dunia Terang dan liciknya para pengusaha, Kalimantan yang sering diterpa konflik etnis, hingga Jawa yang masih berusaha mengangkat modernisasi di tengah mengakarnya feodalisme.

Meskipun memuat banyak kisah dengan berbagai alur cerita, bukan berarti Elizabeth mengabaikan cerita tentang dirinya sendiri. Ia yang ternyata pernah diutangi dengan “ditodong” penduduk lokal (dan utang itu belum dibayar hingga detik ini – halaman 302) ditinggal sang editor buku persis di tengah perjalanan penulisan buku ini (halaman 333), hingga kegusarannya sering ditanya soal keturunan oleh penduduk setempat (halaman 357); pun dibeberkannya dengan cara yang begitu unik: Tidak sampai meledak-ledak atau dipenuhi amarah, tetapi tetap mengena di pokok bahasan, sekaligus agak satir.

Last but not last, Elizabeth pun menekankan potensi Indonesia soal kuliner (halaman 132). Di sini, secara spesifik ia mengambil sudut pandang nasi Padang dan aneka ragam jajanan es sebagai titik tolak bahasan.

Satu hal yang unik, bahwa seorang Amerika Serikat, yang barangkali sudah biasa dengan segala keteraturan dan kemudahan, mampu menjalani hidup serba sederhana di berbagai penjuru pelosok Indonesia dengan baik. Sama sekali tidak ada uraian yang disampaikan dengan erangan dan makian. Malah Elizabeth tampak benar menikmati perjalanan ini dengan rasa dan penghayatan yang mendalam.

Akhir kata, saya bisa katakan bahwa buku ini berhasil memadukan isu ipoleksosbudhankam Indonesia (yang rasanya, selalu jadi materi yang mencetuskan kantuk di sekolah dulu), dalam kemasan populer yang membuatnya jadi menarik buat disimak. Karenanya: Salut buat buku luar biasa ini, salut juga buat Elizabeth dengan segala effort-nya. Jika ada kesempatan, saya akan coba jajal versi enhanced ebook-nya. Kalian, para pembaca yang orang Indonesia, juga harus menikmati buku ini. Entah untuk sekadar menambah wawasan, atau untuk menebalkan nasionalisme, atau untuk refleksi, atau sebagai medium untuk mendewasakan diri soal pandangan terhadap bangsa sendiri… Buku ini jelas cocok untuk kita semua.

Kalimat-kalimat menarik

(Disclaimer: Bagian ini bukan dimaksudkan untuk spoiler, melainkan dimaksudkan untuk melengkapi blurb, agar pembaca review tertarik untuk menjajal buku ini. Posisi kalimat dan halamannya adalah akurat untuk buku versi terjemahan bahasa Indonesia.)

  • p.3: Sampai sekarang, Indonesia masih sibuk dengan “d.l.l.” tersebut.
  • p.137: Bahasa Indonesia itu lucu.
  • p.198: Seandainya saja ada Piala Dunia untuk korupsi. Setidaknya kita pasti akan menang.
  • p.217: Sulit menentukan siapa dari kami berdua yang lebih terkejut. (Catatan saya: Coba baca bukunya dan lihat halaman 217, untuk tahu lebih lengkapnya mengapa bisa ada kalimat ini. Surprise!)
  • p.244: Gengsi adalah pamer, tidak mau kalah dengan tetangga sebelah yang kaya. Kebiasaan yang menurut sebagian besar orang Indonesia mereka benci, dan banyak yang melakukannya dengan antusiasme besar.
  • p.270: Ketakutan akan adanya hantu yang mungkin gentayangan di kegelapan lebih kuat daripada kekhawatiran mengenai biaya pemakaian listrik.
  • p.321: Untuk sebuah bangsa yang begitu seringnya bepergian, orang Indonesia masih saja merupakan pengelana yang payah. Di atas kapal, mereka sering mabuk laut, bahkan sebelum kapalnya meninggalkan pelabuhan.
  • p.322: Suatu waktu ketika minibus melewati jalan berkelok yang sempit, sang pengemudi mampu menyetir dengan baik sembari menyalakan rokoknya.
  • p.414: Sejak zaman Belanda, atau mungkin jauh sebelum itu, penguasa di Indonesia sudah memiliki kebiasaan bekerja sama dengan preman dan penjahat untuk mencapai tujuan politis mereka.
  • p.422, footnote: Si Kumis (baca: Fauzi Bowo) pernah memerintahkan rekan-rekanku untuk menghancurkan beberapa ribu poster pencegahan AIDS hanya karena ia tidak senang dengan fotonya dan beralasan “kumisku miring”.
  • p.470: Budaya kolektivitas tanpa embel-embel feodalisme. Mungkin inilah yang seharusnya menjadi “dan lain-lain” selanjutnya bagi Indonesia.
  • p.473: Kelebihan-kelebihan Indonesia – keterbukaan, pragmatisme, kemurahan hati rakyatnya, sikap santai dalam hidup – ujung-ujungnya menjadi sifat-sifat yang lebih menarik, dan lebih penting.

Miscellaneous & Ratings

5-star

How to get this book

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s