The Diving Bell and The Butterfly (Jean-Dominique Bauby, 1998)


Identitas Buku

divingbell

Title: The Diving Bell and The Butterfly (original title: Le Scaphandre et le Papillon)
Author: Jean-Dominique Bauby
Alih bahasa (English): Jeremy Leggatt
Publisher: Vintage
Publication date: June 23, 1998 (original publish date: March 6, 1997)
Pages number: 132 pages
Genre: Autobiography
Language: English (original text: French)
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-037-570-121-4

 

Sinopsis Official

In 1995, Jean-Dominique Bauby was the editor-in-chief of French Elle, the father of two young childen, a 44-year-old man known and loved for his wit, his style, and his impassioned approach to life. By the end of the year he was also the victim of a rare kind of stroke to the brainstem.  After 20 days in a coma, Bauby awoke into a body which had all but stopped working: only his left eye functioned, allowing him to see and, by blinking it, to make clear that his mind was unimpaired. Almost miraculously, he was soon able to express himself in the richest detail: dictating a word at a time, blinking to select each letter as the alphabet was recited to him slowly, over and over again. In the same way, he was able eventually to compose this extraordinary book.

By turns wistful, mischievous, angry, and witty, Bauby bears witness to his determination to live as fully in his mind as he had been able to do in his body. He explains the joy, and deep sadness, of seeing his children and of hearing his aged father’s voice on the phone. In magical sequences, he imagines traveling to other places and times and of lying next to the woman he loves. Fed only intravenously, he imagines preparing and tasting the full flavor of delectable dishes. Again and again he returns to an “inexhaustible reservoir of sensations,” keeping in touch with himself and the life around him.

Jean-Dominique Bauby died two days after the French publication of The Diving Bell and the Butterfly.

This book is a lasting testament to his life.

Resensi

Bauby sedang dalam puncak karirnya di tahun 1995. Pada usia 43 tahun, ia telah menjadi chief editor di majalah Elle Prancis, dan diakui di dunianya dengan segala sisi positif yang ia sumbangkan untuk bidang jurnalisme. Kehidupan rumah tangganya juga terlihat sudah cukup ideal: Seorang istri dan sepasang anak, saat itu berumur 9 dan 6 tahun. Namun, serangan stroke masif pada 8 Desember 1995 meninggalkannya dalam dunia yang benar-benar baru.

Setelah mengalami koma dan baru sadar sepenuhnya pada Januari 1996, Bauby mendapati dirinya tidak lagi mampu berkomunikasi dengan dokter dan perawat yang dilihatnya setiap hari. Pikirannya bisa mengutarakan kalimat, namun tidak ada bunyi bermakna apapun yang bisa ia hasilkan. Ternyata, stroke yang dialaminya tersebut telah membuat hampir seluruh otot di tubuhnya tidak lagi dapat dikendalikan. Meskipun ia masih dapat menerima informasi lewat penglihatan dan pendengaran, namun si pemberi informasi tidak bisa menerima respons balik dari Bauby.

Situasi ini sangat jarang terjadi: Locked-in syndrome. Suatu kondisi di mana secara mental, seseorang tidak mengalami masalah sama sekali, namun ia mengalami masalah fisik yang membuat komunikasinya dengan pihak lain menjadi sangat sulit atau bahkan tidak mungkin. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya mengalami Locked-in syndrome. Bicara, bergerak, mengekspresikan muka, semuanya tidak bisa dilakukan.

Namun kemudian diketahui bahwa Bauby masih dapat mengedipkan salah satu matanya sebagai cara untuk memberi kode. Inilah yang membuat beberapa terapis yang menanganinya berinisiatif untuk berkomunikasi dengannya. Dan setelah bertemu dengan beberapa terapis dan pihak yang mendukung idenya, penyusunan buku ini pun segera dimulai. Pada akhirnya, Bauby pun sempat melihat buku setebal 132 halaman ini jadi dan dirilis, sebelum kemudian meninggal karena komplikasi pneumonia akibat kelumpuhannya hanya selang dua hari setelah buku ini dirilis di Prancis.

Saya sendiri terlebih dahulu menyaksikan versi filmnya, barulah kemudian membaca bukunya, selang beberapa tahun. Jika film menggambarkan kisah hidup Bauby dalam alur maju mundur (Mathieu Amalric keren lho di film ini), rupanya alur tersebut disamakan dengan alur di versi buku. The Diving Bell and The Butterfly dibuat dalam format bab-bab pendek, yang isinya juga bervariasi. Ada yang terjadi di masa kini, ada juga yang merupakan kenangan Bauby tentang masa lalunya.

Mungkin kita menduga buku ini akan dipenuhi kesedihan dan penyesalan. Ternyata sama sekali tidak. Memang aspek kesedihan itu ada. Coba simak bagian The Father’s Day, yang paling nyata menggambarkan perasaan Bauby saat melihat anak-anaknya bermain bersamanya. Juga di bagian Sunday, yang mana Bauby mengungkapkan kebosanannya perihal hari Minggu, hingga begitu “dalam”. Namun, justru kita bisa menemukan beberapa titik di mana Bauby belum kehilangan selera humornya bahkan berbulan-bulan setelah ia divonis menderita Locked-in Syndrome. Salah satunya, coba simak bagian ketika ia mendengar beberapa pengunjung yang menjenguknya menuduhnya telah menjadi 100% tumbuhan. Atau ketika siaran televisi yang singgah di hadapannya tak sesuai dengan seleranya.

Soal rincian ulasan Bauby, tak perlu diragukan lagi. Simak ketika ia menceritakan pengalamannya berwisata ziarah ke Portugal. Benar-benar terperinci! Atau, yang justru mengejutkan, adalah saat ia masih bisa menceritakan sifat-sifat sang pacar (atau lebih tepatnya, selingkuhan) hingga ke aspek-aspek pribadi yang tak terduga. Padahal, keberadaan sang selingkuhan ini belum diketahui oleh banyak orang, termasuk sang istri, ketika stroke itu menyerang. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi sang istri ketika Bauby memberi kode yang diterjemahkan menjadi “setiap hari aku menunggumu”, yang ternyata ditujukan ke sang selingkuhan! Sambil dalam perjalanan membaca, kita pun semakin dibuat takjub dengan Locked-in syndrome ini: Betapa “normal”-nya otak Bauby, meskipun ia sama sekali tidak dapat bergerak.

Tak lupa juga Bauby memuji Claude Mendibil, yang tak lain adalah “penulis buku ini yang sesungguhnya”, alias orang yang menerjemahkan kedipan-kedipan Bauby menjadi teks yang seluruhnya dituangkan dalam The Diving Bell and The Butterfly ini. Claude, disebutnya sebagai “penulis” yang tidak terburu-buru menghakimi sebuah kata yang sekiranya ingin diucapkan Bauby. Bersama Claude, Bauby menuturkan soal perjalanannya menempuh pelajaran bersabar yang unik.

Hingga klimaksnya, ada beberapa bab yang mengutarakan hingga mendalam soal kejadian stroke yang diderita Bauby. Dua bab yang saya maksud, adalah The Dream dan “A Day in The Life”. Mungkin dua bab ini agak bikin merinding kalau dibaca perlahan. Tapi kalau kalian penasaran dengan apa isi pikir dan apa yang dirasakan Bauby ketika serangan stroke datang menyerang dan apa yang terjadi di alam pikiran dan “dunia sadarnya” ketika ia koma hingga berminggu-minggu, dua bab klimaks ini bakal menjawab pertanyaan kita semua.

Dalam beberapa kesempatan, Bauby juga menyisipkan beberapa kalimat dengan intonasi tegas namun membekas. Seluruhnya terjalin dalam satu benang merah, bahwa sebelum semuanya hilang, hidup harus dihargai dan dijalani dengan sepenuh hati. Karena, kecepatan dinamika hidup sering membuat kita lupa bahwa orang-orang terdekatlah yang justru memberi warna dominan buat hidup kita. Tak salah jika sebagian besar resensi buku merekomendasikan autobiografi ini sebagai masterpiece untuk mengubah paradigma kita soal kehidupan. Namun, bagi saya sendiri, justru kekuatan buku ini terletak di kata-kata pilihan Bauby yang begitu tepat sasaran.

Bagi saya, tanpa kalimat-kalimat kunci tersebut, entah seperti apakah buku ini jadinya. Barangkali buku ini mengalami sindrom hype seperti film Boyhood (2014), lantaran cara membuatnya yang unik dan perjuangan di baliknya yang tak lazim, lantas begitu banyak pujian yang mengalir. Saya setengah setuju dengan anggapan beberapa pihak yang mengatakan demikian dalam resensi mereka masing-masing. Namun bukan berarti saya tidak menghargai proses dan tidak toleran dengan kesusahpayahan. Bukan begitu. Hanya saja, saya menemukan buku ini tidak se-menggugah yang digembar-gemborkan. Buku ini memang bagus, memang menginspirasi, dan memang bisa jadi pengingat. Namun buat saya, buku ini tidak sampai mengubah sesuatu secara radikal.

Kalau kalian sedang jenuh, atau bahkan (maaf) mulai bosan dengan kehidupan sendiri, coba baca buku ini. Tidak perlu waktu terlalu lama, karena bukunya juga tidak panjang dan bahasanya (saya membaca dalam versi bahasa Inggris) tidak berat. Semoga pemikiran kalian berubah jadi lebih baik karenanya.

Kalimat-kalimat menarik

  • p.46: We are both locked-in cases, each in his own way: myself in my carcass, my father in his fourth-floor apartment.
  • p.50: As a rule, I do not recall my dreams. At the approach of day their plots inevitably fade.
  • p.80: The word “vegetable” must have tasted sweet on the know-it-all’s tongue, for it came up several times between mouthfuls of Welsh rarebit. The tone of voice left no doubt that henceforth I belonged on a vegetable stall and not to the human race.
  • p.125: Does the cosmos contain keys for opening up my diving bell? A subway line with no terminus? A currency strong enough to buy my freedom back? We must keep looking.

Miscellaneous & Ratings

3-star

Postingan yang ada hubungannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s