How Music Got Free: The End of an Industry, the Turn of the Century, and the Patient Zero of Piracy (Stephen Witt, 2015)


Identitas Buku

howmusicgotfree

Original Title: How Music Got Free: The End of an Industry, the Turn of the Century, and the Patient Zero of Piracy
Alternative Title 1: How Music Got Free: What happens when an entire generation commits the same crime?
Alternative Title 2: How Music Got Free: The Inventor, The Mogul, and The Thief
Alternative Title 3: How Music Got Free: A Story of Obsession and Invention
Author: Stephen Richard Witt
Publisher: Viking
Publication date: June 16, 2015
Genre: Non-fiction, Music, Law/Crime, Science/Technology, Economics/Business, Cultural, History
Pages number: 304
Cover: Hardcover
Language: English
ISBN-13: 978-052-542-661-5
Awards:
1. Financial Times and McKinsey Business Book of the Year Nominee for Shortlist (2015)
2. Goodreads Choice Award Nominee for Science & Technology (2015)

Sinopsis Official (1st version)

What happens when an entire generation commits the same crime?

How Music Got Free is a riveting story of obsession, music, crime, and money, featuring visionaries and criminals, moguls and tech-savvy teenagers. It’s about the greatest pirate in history, the most powerful executive in the music business, a revolutionary invention and an illegal website four times the size of the iTunes Music Store.

Journalist Stephen Witt traces the secret history of digital music piracy, from the German audio engineers who invented the mp3, to a North Carolina compact-disc manufacturing plant where factory worker Dell Glover leaked nearly two thousand albums over the course of a decade, to the high-rises of midtown Manhattan where music executive Doug Morris cornered the global market on rap, and, finally, into the darkest recesses of the Internet.

Through these interwoven narratives, Witt has written a thrilling book that depicts the moment in history when ordinary life became forever entwined with the world online — when, suddenly, all the music ever recorded was available for free. In the page-turning tradition of writers like Michael Lewis and Lawrence Wright, Witt’s deeply-reported first book introduces the unforgettable characters—inventors, executives, factory workers, and smugglers—who revolutionized an entire artform, and reveals for the first time the secret underworld of media pirates that transformed our digital lives.

An irresistible never-before-told story of greed, cunning, genius, and deceit, How Music Got Free isn’t just a story of the music industry—it’s a must-read history of the Internet itself.

Named one of Time magazine’s Best Books of 2015 So Far • Long-listed for the 2015 Financial Times and McKinsey Business Book of the Year A New York Times

Resensi

Lagu bajakan. Sesuatu yang begitu dekat dengan masyarakat, begitu menggoda buat dikonsumsi, meskipun dalam hati tahu bahwa menikmati produk bajakan bisa “menyakiti” sang musisi. Dari semua orang yang pernah saya temui, rasanya seluruhnya pernah terpapar dengan lagu bajakan. Saya sendiri termasuk. Meskipun belakangan ini kampanye beli lagu murah di iTunes semakin marak (dan tampaknya harga per lagu pun semakin hari semakin turun), tapi kenangan berburu lagu bajakan di era 2000-an tentu masih jelas. Dan masih menggoda juga, hingga saat ini. Pengen lagu apa, tinggal colok flashdisk ke laptop teman, dan lagu pun langsung membelah diri menjadi dua. Satu tetap di laptop tersebut, dan satu lagi di flashdisk kita. TANPA penurunan kualitas, dan tidak ada yang tahu.

Nah… Lantas apa hubungannya dengan bahasan buku nonfiksi ini?

Ya, bisa ditebak dari judul bukunya saja, bahwa buku-yang-saya-habiskan-hanya-dalam-8-hari ini, membahas sejarah asal mula pembajakan lagu, sampai tetek bengeknya. Bagaimana detail ceritanya sekarang bisa di mana-mana ada file bajakan (ternyata ga cuma lagu. Ada film, ada software, ada aplikasi komputer buat kerja, ada game, banyak pokoknya. File buku elektronik bajakan pun, banyak).

Stephen yang juga seorang penulis novel dan jurnalis, membuktikan kepiawaiannya dalam membuat kisah nonfiksi jadi memiliki alur yang menarik dan mencekam, tanpa sekalipun memberi kesan membosankan dan terlalu menggurui.  Hal ini terbukti dari runutan peristiwa di buku ini, yang secara total ia narasikan seperti sebuah novel.

Kita bakal diperkenalkan dengan tiga tokoh sentral di bab-bab awal, yang bersetting tahun 1994-1996:

  1. Karlheinz Bradenburg, kelahiran 1951, seorang ilmuwan Jerman Barat idealis yang terobsesi pada kualitas audio. Kita mulai mengenal sosok langsing ini dari bab 1.
  2. Bennie Lydell Glover alias Dell Glover, kelahiran 1974, seorang buruh packaging CD di Polygram berkulit hitam yang amat sesuai dengan peribahasa “air tenang menghanyutkan”: Pendiam tapi punya obsesi besar di bidang IT; dan diam-diam suka melirik model mobil teranyar. Bahasan tentangnya sejak bab 2.
  3. Doug Morris, kelahiran 1938, pimpinan tertinggi perusahaan rekaman Warner Music yang tampaknya selalu beruntung, mulai disinggung di bab 6.

Seperti layaknya cerita di kehidupan sehari-hari. Mulanya, bab-bab awal seolah tampak terpisah. Satu bab kita diajak mengenal kepintaran Bradenburg, bab lain diajak melirik kebosanan di pekerjaan Glover, bab lain soal kisah masa muda Morris. Lalu kita pun bingung apa hubungan mereka bertiga. Nah, selanjutnya, barulah kita perlahan-lahan bisa menebak bahwa di antara mereka bertiga, ada benang merah yang mempersatukan dalam urusan pembajakan lagu. Seterusnya, kita tinggal menikmati jalinan tersebut semacam sebuah film dokumenter bernuansa keseharian. Bahwa “awalnya cuma faktor kebetulan”, “faktor iseng”, “kompetisi versus balas dendam”, “sedikit lagi, sedikit lagi!”, dan semacam itu… Lalu terjadilah efek domino yang dampaknya bukan main, cuma gara-gara satu peristiwa (no spoiler ya! Sorry!). Dalam hanya beberapa tahun, betapa jadi bobroknya dunia penjualan musik di era 2000-an. Sebuah apocalypse, cuma gara-gara satu kejadian itu malah memantik rentetan akibat yang tak terhindarkan. Di sinilah kita dibuat terkaget-kaget dan berpikir “Oh… awal mulanya begini toh”. Dan, seketika kita pun penasaran dengan efek domino lanjutannya, “Jadi yang bikin gara-gara selanjutnya, bakalan siapa nih?”

Membaca buku ini, kita dibawa Stephen Witt untuk menikmati kisah hidup tiga aktor utama tadi di balik awal mula terjadinya pembajakan secara bergantian. Dengan pengisahan tentang tokoh-tokoh lain, plus sejarah lahirnya (dan matinya, kalau sudah mati) berbagai aplikasi pemutar musik bajakan dan teknologi bajak-membajak, membuat kita terkagum-kagum sendiri dengan betapa kreatifnya orang-orang underground yang bergelut di dunia pembajakan ini.

Saya harus memuji cara Witt menuturkan kisah yang konon ia akui ia tuliskan dalam kurun waktu lima tahun ini. Cerita sepenuhnya dikisahkan dengan alur maju, sehingga pembaca mudah larut dan seolah lagi membaca novel thriller. Sampai saya berkali-kali mengingatkan diri sendiri: Ini buku nonfiksi lho, bukan novel thriller! Witt juga mendeskripsikan setting waktu dengan amat tertib, sehingga tak lantas lepas ciri nonfiksi dari buku ini. Di awal nyaris setiap bab, selalu disebutkan tahun setting bab tersebut berlangsung. Dan setiap kali ia pindah setting, selalu disebutkan lagi tahunnya. Sehingga pembaca tidak menebak-nebak, dan dimensi waktu adalah sesuatu yang bisa dijadikan pijakan dalam menikmati cerita ini. Dan satu hal yang cukup menggemaskan, Witt tidak pernah mau menutup bab dengan cara biasa. Selalu saja paragraf terakhir yang ia muat dalam suatu bab, memancing rasa penasaran kita terhadap tokoh yang lagi diulas. Jadi kita tidak bisa lepas-lepas membacanya. Kalau saya, saya terpaksa selalu berhenti di tengah bab, supaya tidak terbawa penasaran berlebih. Klimaks ada di bab 18, 19, dan 20. Tapi jangan keburu menutup buku di akhir bab 20! Karena… Epilognya harus dibaca. Epilog inilah tempat Witt menuntaskan cerita, menyebut nasib akhir semua tokoh yang ia kupas dalam buku ini.

Di luar hal-hal faktual yang diuraikan, buku ini juga mengajarkan banyak hal. Kita juga diajak melihat karakter manusia ketika kepepet. Melihat bagaimana seseorang ketika marah dan tak bisa mengungkapkannya. Bagaimana ada orang yang pintar berkelit seperti belut, tapi di sisi lain ada juga orang yang amat jujur sampai hakim pun tak tega menghukumnya (jangan kaget, ada tokoh yang seperti itu di buku ini lho!). Manusia ada banyak tipe: Demikian juga tokoh-tokoh yang dikisahkan di sini.

Satu hal yang menarik di akhir buku: Jangan cari apakah ada wejangan “jangan pakai produk bajakan”. Tidak ada! Jadi, buku ini benar-benar hanya membeberkan musik era 1990-an akhir dan 2000-an, dari sisi sejarah, teknologi, bisnis, hingga budaya, dan yang paling kritikal, tentunya bidang hukum dan kriminologi. Sikap selanjutnya terhadap produk bajakan, setelah selesai membaca buku ini, kembali terserah kepada kita masing-masing.

Sambil berangan-angan: Entah apakah suatu hari nanti buku ini bakal difilmkan atau dijadikan serial drama, mirip-mirip Crime Scene Investigations begitulah kira-kira. Yang jelas, kalau memang difilmkan, saya sangat berminat menontonnya 🙂 (Sambil membayangkan Idris Elba jadi Dell Glover…)

 

Kalimat-kalimat Menarik

(catatan: Kalimat-kalimat saya buat dalam paraphrased form berupa dengan penghapusan nama tokoh untuk diubah menjadi kata ganti orang ketiga – mumpung semua tokoh penting di buku ini adalah pria – agar tidak spoiler. Sehingga kalimat-kalimat ini sangat mungkin kalian temukan dalam bentuk gramatikal sedikit berbeda dari yang tertera di dalam bukunya)

  • Chapter 4: “Do you realize what you’ve done? You’ve killed the music industry!”
  • Chapter 6: It did not mention the possibility of streaming services, nor the potential for widespread file-sharing. And it did not mention the mp3.
  • Chapter 8: Criminal activity resulted from a combination of three factors: Desire, time, and opportunity. He could not mold people’s desire, and he was not in charge of their time. So the best way for him to reduce crime was to limit opportunity.
  • Chapter 11: Compact discs got scratched and cracked and stolen at parties, but an mp3 was forever.
  • Chapter 14: His connections were unrivalled. Meanwhile, the cost of goods was almost zero.
  • Chapter 20: He was the primary source of contacts for hundreds of millions of duplicated mp3 files. He was the scourge of the industry, the hero to the underground, and the king of the Group. He was the greatest music pirate of all time.

Miscellaneous and Ratings

5-star

  • Get this book on BookDepository.com [click here] from ca. Rp 164.000

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s