Tiada minat membaca untuk mengonfirmasi ketiadaan minat baca: Perspektif Hari Buku Nasional


Minat baca yang rendah di Indonesia, mungkin adalah salah saya. Saya sempat lama tidak membaca buku, baru mulai aktif lagi di 2014.

Minat baca yang rendah di Indonesia, mungkin adalah salah lingkungan saya. Tidak ada yang suka membaca di sekitar sini. Bahkan, membaca dianggap aktivitas membosankan yang hanya dilakukan orang-orang tidak ada kerjaan.

Minat baca yang rendah di Indonesia, mungkin adalah salah guru-guru saya. Dulu mereka mencekoki apa saja tanpa menyuruh kita mencari tahu teka-teki di luar buku teks. Jadi baca materi dari mereka saja, beres. Tidak perlu baca yang lain.

Minat baca yang rendah di Indonesia, sebetulnya salah siapa?


Manusia

Sudah bukan rahasia umum bahwa minat baca orang Indonesia sangat minim. Konon rata-rata orang Indonesia membaca 0-1 buku saja dalam setahun. Angka yang ada jauh di bawah bangsa lain yang katanya sepantaran. Konon juga orang Indonesia lebih suka menonton daripada membaca. Mereka lebih suka menghabiskan waktu di depan layar daripada di depan kertas.

Setelah zaman berubah jadi zaman digital, fenomena ini pun tak jauh berubah. Orang-orang Indonesia hanya suka membaca tulisan yang dibagikan di media sosial, itu pun temanya harus tentang kehidupan pribadi. Entah itu keluhan, marah-marah, kegiatan pribadi dari pagi sampai pagi lagi, pamer, atau pujian. Kalau kita berbagi tentang buku bagus, atau tentang minat baca, boro-boro: Tidak bakal dibaca. Mereka lebih suka mengomentari baju baru teman ketimbang resensi buku.

Dari survei kecil yang saya lakukan pada 1-14 Mei lalu saja sudah jelas terlihat. Sedianya saya membuat survei tentang minat orang Indonesia membaca konten materi dalam bahasa Inggris. Saya sudah menyebar link survei ke beberapa tempat. Tapi apa hasilnya? Responden survei kebanyakan hanya berasal dari salah satu forum blog buku lokal. Hasil promosi link lewat media sosial lainnya gagal total. Tidak ada yang berminat, sekadar untuk mengisi survei tentang minat baca tersebut. Tiada minat membaca untuk sekadar mengonfirmasi ketiadaan minat baca.

Menyoal hasil surveinya sedikit, ternyata dari 28 responden yang menjawab, semuanya berasal dari rekan-rekan Blog Buku Indonesia dan teman-teman dari Twitter. Tidak ada satu pun teman Facebook yang mengisi hasil survei ini. Jawaban sah hanya 17, karena 11 di antaranya tidak menjawab survei hingga selesai. Waktu itu, survei saya membahas soal minat baca artikel atau media cetak, dan media noncetak; dari aspek bahasa yang dipilih. Ini hasilnya. Untuk media cetak (grafik atas) maupun media noncetak (grafik bawah), sebagian besar responden menjawab memilih materi bacaan berbahasa Inggris. Asumsi saya setelah melihat grafik ini adalah, ternyata sekalinya seseorang gemar membaca, mereka lebih memilih membaca materi berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, terlebih untuk sumber informasi atau karya yang berasal dari luar negeri. Tapi sekalinya seseorang tidak berniat membaca, melirik survei saya pun mereka tidak mau. Terima kasih teman-teman yang sudah mengisi surveinya!

Screen Shot 2016-06-02 at 21.09.07

Banyak peserta survei yang memilih materi cetak berbahasa Inggris. Alasan utamanya adalah menghindari lost in translation. Apalagi, kalau sumber informasinya berasal dari luar negeri.

Screen Shot 2016-06-02 at 21.09.13

Tapi begitu materi berpindah ke noncetak, lebih banyak lagi yang memilih membaca materi berbahasa Inggris. Alasannya tetap sama secara garis besar.

 

Balik lagi ke topik awal. Kalau ditanya apa hobi kita dan apabila kita menjawab “membaca”, tuduhan kutu buku dan kurang pergaulan sudah siap dilayangkan. Atau dicap orang yang menyebalkan, tidak bisa bergaul, tidak mau bersosialisasi, atau bahkan kadang disebut antisosial, atau bakan bisa juga dicap calon teroris karena disangka diam-diam menghanyutkan. Para penggemar bacaan pun seolah sudah harus siap menerima tuduhan tersebut, kapanpun dan di manapun.

Sewaktu ada yang berkata bahwa hobi membaca itu seksi, mereka malah sibuk menertawakan. Seolah memang tidak ada hobi lain yang lebih seru. Di mata mereka, hobi belanja, ngerumpi, atau nongkrong lebih menyenangkan dan konon bisa jauh lebih cepat memperluas pergaulan.


Infrastruktur

Tapi bukan hanya di mereka letak masalahnya.

Perpustakaan kerap diidentikkan dengan suasana muram, membosankan, dan berdebu. Perpustakaan sering terletak di lokasi tidak menguntungkan dan dianggap hanya sebatas pelengkap tata kota. Datang ke perpustakaan identik dengan aktivitas para kutu buku dan mahasiswa atau pelajar yang mencari bahan untuk tugas akhir atau referensi pekerjaan rumah. Intinya, perpustakaan jarang membawa aura dinamis yang diharapkan para generasi muda dan yang memikat generasi lainnya.

Toko buku juga mungkin berandil. Tak sering ada obral buku yang benar-benar bermutu dan dicari orang. Kebanyakan buku punya banderol tinggi, dompet dibuat menangis setelah buku dibeli. Isinya pun terkadang menjebak sehingga yang membeli bisa merasa terkecoh. Sudah habis duit banyak, tertipu pula. Semakin engganlah mereka membeli buku. Ujungnya, membaca pun tak mau lagi. Diskon pun, paling banter sepertiga harga. Buku yang diobral sungguh murah amat miring, biasanya pun yang berkualitas miring. Semakin popular, justru semakin mahal bukunya. Prinsip ekonomi rasanya sudah kurang jalan.


Pekerjaan

Lebih lucu lagi di pekerjaan, tapi ini agak beda. Kalau di pekerjaan, masalah yang lebih sering ditemui adalah soal membaca materi berbahasa asing. Beberapa pekerjaan mengharuskan seseorang membaca materi dalam bahasa asing. Tapi tak jarang, beberapa orang dengan entengnya menolak tugas membaca materi, hanya karena bahasanya tidak cocok dengan bahasa yang sehari-hari dipakai. Alasannya? Tidak paham! (Padahal, bahasa itu dipelajari di sekolah, setidaknya selama 6-9 tahun.)

Atau yang sedikit lebih moderat daripada itu: Sedikit-sedikit minta terjemahan. Baca materi berbahasa lain seolah bertemu alien. Kalau bisa jangan terlalu dekat. Ya sudah, daripada harus menempel, coba pakai pantulannya di kaca. Alias, bahasanya diubah dong jadi bahasa sendiri. Yang menerjemahkan kelelahan dan tidak dapat apa-apa pula, seolah pekerjaannya cuma menerjemahkan belaka.

Begitu ada materi bacaan bagus yang mendidik dan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, namun bahasanya tidak sama, jadi urung membaca. Alhasil yang mau dibaca hanya materi lokal lagi, yang entah buatan tahun berapa. Siapa lagi yang mau menerjemahkan, apabila arus pemunculan materi bacaan baru sudah sedemikian cepatnya, mengalahkan kecepatan pengalih bahasa dalam mengerjakan satu materi bacaan?

Di sisi lain, orang yang banyak membaca materi berbahasa beda dianggap radikal, antek asing, dan diam-diam ingin menjatuhkan bangsa sendiri di balik idealisme paham yang belum tentu benar sesuai dugaan. Terlalu membuka pikiran dengan ideologi yang ada di dunia ini lantas langsung dicap sebagai menerjunkan diri menjadi pengikut ideologi tersebut. Ibarat baru melongok ke dalam sumur, tapi dianggap sudah tenggelam ke dasarnya. Padahal maksud hati berbeda.

Memang sungguh ruwet masalah minat baca orang Indonesia. Tidak hanya masalah orang tua, guru, televisi, dan geng ngerumpi semata. Namun jauh di luar itu, begitu banyak masalah yang menimpa Indonesia, dengan pengaruh langsung maupun tak langsungnya bagi minat baca warganya. Barangkali, ini belum waktunya Indonesia membudidayakan minat baca, karena masih begitu banyak masalah lain yang “lebih penting”.

Benar-benar pekerjaan berat, untuk menumbuhkan minat baca di Indonesia. Saya sadar, saya tak sanggup melakukannya sendiri.


 

[artikel ini akan diikutsertakan dalam posting bareng Mei 2016, di Blog Buku Indonesia]

Advertisements

6 thoughts on “Tiada minat membaca untuk mengonfirmasi ketiadaan minat baca: Perspektif Hari Buku Nasional

  1. Benar sekali, maslah minat baca di Indonesia itu memang rumit. Dibilang gak suka baca, nyatanya banyak yg nimbun buku. Dibilang suka baca, ya bukunya hanya ditimbun doang

    eh sebentar … itu saya dink *abaikan

    Liked by 1 person

  2. eh bener banget tuh, jaman sekarang orang cuman demen baca status media sosial hahaha.. saya juga kadang2 suka tergoda menghabiskan terlalu banyak waktu scrolling2 medsos daripada menyelesaikan buku yang dibaca XD

    oiya satu lagi, kurikulum sekolah bener2 berpengaruh sih. At least di Indonesia anak tidak di”paksa” untuk mengenal asyiknya dunia membaca sedini mungkin. Tugas2 sekolah pun nggak menarik, karena jarang yang melibatkan buku dan imajinasi. Semoga bisa cepet berubah deh 😀

    Like

  3. Hasil surveynya tampilkan juga dong Mba Henny dalam bentuk data atau diagram :D. Jadi kelihatan juga sih, walau mungkin memang responsenya tidak sebanyak yang diharapkan.

    Omong – omong, surveynya sudah dishare juga belum di Goodreads Indonesia? Kalau di situ anggotanya lebih banyak dan jangkauannya lebih luas ketimbang BBI sebenarnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s