Mellow Yellow Drama (Audrey Yu Jia Hui, 2014)


Identitas Buku

mellowyellow

Judul: Mellow Yellow Drama
Penulis: Audrey Yu Jia Hui
Penerbit: Bentang Pustaka
Genre: Autobiography/Memoir
Bahasa: Indonesia
Terbit: Mei 2014
Tebal: 248 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-291-032-9
Award: Anugerah Pembaca Indonesia for Sampul Buku Non-Fiksi Terfavorit (2014)

Sinopsis Official

Namaku Jia Hui. Semua orang di sekitarku menganggap aku gadis yang sangat beruntung. Orangtuaku kaya raya. Mereka mampu mengabulkan semua permintaanku. Orang-orang bilang aku luar biasa pandai, bahkan jenius. Aku masuk kuliah untuk anak-anak berbakat di usia 13 tahun, dan meraih gelar Bachelor of Science pada usia 16 tahun.

Tahukah kalian apa yang paling kuinginkan di dunia ini? Menyerahkan hidupku untuk negeri tercinta. Meninggalkan hidup berlimpah materi dan membagikan ilmuku kepada masyarakat luas. Aku bermimpi suatu saat tak ada lagi orang miskin di negara ini.

Tapi tahukah kalian? Mimpiku dianggap terlalu mengawang-awang. Orangtuaku bilang seharusnya aku membangun kerajaan bisnis baru. Kerabatku berkata bahwa cintaku pada nusantara dianggap tak pantas karena aku orang Tionghoa. Teman-teman memaksaku mengingat bahwa orang-orang bermata sipit dan berkulit putih di negeri ini, harga dirinya pernah diinjak-injak dan tak lagi menyisakan apa pun!

Resensi

Rasanya semua orang tua pasti menginginkan anak jenius – yang diharapkan tidak bakal menghadapi masalah berarti selama menjalani pendidikan dan membuka lebih banyak peluang untuk hidup yang lebih baik. Tapi, pernahkah kalian terpikir bahwa menjadi jenius bisa saja mendatangkan derita tersendiri, karena pemikiran jenius tersebut tidak dimengerti oleh sebagian besar kalangan di sekitar?

Di sinilah Jia Hui (Maria Audrey Lukito) menceritakan perjalanan hidupnya sejak kecil hingga berusia sekitar 23-24 tahun. Ia mengisahkan hidupnya sendiri sebagai anak jenius yang menamatkan perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat di usia 16 tahun, namun punya keunikan yang tak biasa di antara anak-anak keturunan Tionghoa di Indonesia: Rasa patriotisme dan keinginan membela negara yang sangat besar. Pemahamannya mengenai kepekaan sosial sudah tumbuh sejak usia 4 tahun, dan rasa wajib berbakti buat bangsa Indonesia-nya pun timbul sejak usia 6 tahun!

Membaca buku ini (apalagi di sekitar hari kebangkitan nasional, seperti saya) bisa menumbuhkan semangat ingin berbuat yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Apalagi jika kebetulan pembaca juga memiliki keluh kesah yang sama. Namun, bisa saja tidak, mengingat orang Indonesia (terutama dari etnis Tionghoa) cukup banyak yang memilih dua sikap: Menerima saja, atau pura-pura tidak tahu saja. Dalam menghadapi polemik inilah, Jia Hui berani tampil berbeda dan tak gentar dengan pilihannya. Pilihan itu pun tetap teguh hingga bertahun-tahun.

Buku ini adalah perwujudan tepat dari ungkapan John F. Kennedy perihal sumbangsih buat negara dari diri sendiri, namun dalam setting Indonesia. Rasanya masih banyak di antara kita yang menuntut berlebih ke negara, namun tidak ingat bahwa kontribusi kita masing-masing pun penting untuk membantu negara mewujudkan yang terbaik buat masyarakat. Buku ini bisa menampar kita yang kerap berpemikiran demikian. Memang sungguh luar biasa daya pikir Jia Hui ini, yang sudah bisa memaparkan bagaimana peliknya masalah kepedulian rakyat Indonesia terhadap bangsanya sendiri.

Kalau dua buku tentang Indonesia sebelumnya yang saya sudah pernah buat tinjauannya, justru ditulis oleh orang asing (baca: WNI Dilarang Baca, ditulis seorang Prancis; dan Indonesia Etc/Begitulah Indonesia, ditulis seorang Amerika); buku ini sebetulnya mengangkat isu yang tak jauh berbeda, namun dari sisi orang Indonesia, yang berjiwa sangat nasionalis. Belajar hingga beberapa tahun di luar negeri rupanya tidak membuat Jia Hui lupa dengan tanah airnya. Hingga ia pun stres sendiri ketika keinginannya untuk berbakti buat negara ditolak mentah-mentah oleh banyak pihak, terutama keluarga dan gerejanya. Sedikit banyak, buku ini membenarkan gambaran pahit soal mental Indonesia yang sempat disenggol-senggol sedikit dalam kedua buku yang saya sebutkan tadi.

Hanya saja, sangat-sangat disayangkan, buku yang sudah saya cari cukup lama ini ternyata tidak terlalu sesuai dengan tipe biografi yang bisa saya jadikan favorit. Barangkali karena saya tak bisa mengimbangi otak Jia Hui, saya merasakan flight of idea (pindah-pindah topik atau kesan loncat) amat kental di buku ini, terutama setelah buku memasuki halaman 100 ke atas. Memang benang merahnya masih satu, tetapi uraiannya kadang belum selesai sudah lari entah ke mana.

Di bagian belakang buku, yaitu halaman 161 ke belakang, Jia Hui juga menyisipkan beberapa ajaran Confucius yang cukup menarik. Bisa dibaca di sini, bagaimanakah nilai-nilai yang diajarkan dalam budaya Tiongkok. Jia Hui sempat menyebut bahwa nilai-nilai tersebut ia cantumkan karena prihatin dengan etnis Tionghoa Indonesia yang sudah banyak lupa (dan tidak peduli dengan kelupaan tersebut) dengan budaya sendiri. Kalian termasuk Tionghoa Indonesia yang bahkan sudah tidak punya nama Mandarin? Barangkali kalian harus baca bagian ini…

Satu aspek unik lagi dari buku ini, yang justru saya sukai. Kalau kalian merasa penasaran dengan bagaimana cara pikir orang jenius terhadap masalah yang dihadapinya, buku ini pun cocok jadi bahan refleksi. Bahwa mungkin saja, menjadi biasa-biasa saja atau berada dalam rata-rata adalah justru situasi yang membahagiakan. Apalagi di Indonesia, di mana cukup banyak rakyatnya yang sanggup “nerimo” dan bisa hidup dengan amat sederhana tanpa impian terlalu muluk. Namun, keunikan buku ini justru terletak pada keinginan Jia Hui untuk mengajak bangsa Indonesia berubah. Mungkinkah konteks buku ini bisa disinonimkan dengan revolusi mental?

Coba jajal buku ini dan buktikan.

 

Kalimat-kalimat menarik

  • p.91: Sadarkah mereka jika Tuhan mengaruniai anak prodigi, saat anak ajaib itu mengalami kesulitan, kemungkinan besar tidak ada orang yang bisa membantu?
  • p.91: Itulah yang membuat mereka main gebuk menggunakan tangan Tuhan saat sang outlier dianggap bikin pusing.
  • p.135: Praktik-praktik yang bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara dan semboyan berbangsa Bhinneka Tunggal Ika pada akhirnya akan melumpuhkan negeri ini.

Miscellaneous & Ratings

  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik
  • Mellow Yellow Drama on Goodreads
  • My Personal Rating: 2/5 (Goodreads), 3/10 (Personal)

1.5-star

  • How to get this bookBukabuku.com (Rp 17.000 – belum termasuk ongkos kirim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s