My Blurbs Episode 5: Devilish Things


My Blurbs kembali di episode 5! Kali ini, saya akan membahas secara singkat tiga buku yang sama-sama memuat konsep “jahat”. Yang pertama adalah buku yang mengulas bagaimana otak kita menciptakan persepsi “ini orang jahat” atau “ini orang baik”. Yang kedua, tentang bagaimana “kejamnya” orang tua sukses mendidik anaknya agar lebih sukses daripada dirinya. Dan yang ketiga, bagaimana masyarakat berespons terhadap jahatnya kenyataan lewat enam kata, yang dirangkum menjadi satu buku.

iweartheblackhat   battlehymntigermother   notquitewhatIwasplanning

5×01

I Wear the Black Hat: Grappling With Villains (Real and Imagined) (Chuck Klosterman, 2013)

Social/Anthropology/Culture, Scribner, Hardcover, 214 pages, July 9 2013, English

iweartheblackhat

Orang jahat dan orang baik: Inilah konsep yang melekat erat di benak manusia, baik ketika hidup di dunia nyata maupun ketika dibuai cerita fiksi dari film atau dari novel. Namun pada kenyataannya, manusia bisa saja “kebingungan” membedakan orang jahat dan orang baik. Mengapa bisa begitu?

Di buku yang menerima mixed reviews ini, Klosterman membahas bagaimana otak kita dan otak masyarakat kita membentuk patron sosok jahat. Ternyata semua sosok jahat yang diindoktrinasikan baik sengaja maupun tidak itu, semua ada dasarnya: Dan sang sumber berasal dari abad pertengahan. Penasaran? Lalu, bagaimana orang jahat terkadang “mendapat maaf” dari publik dan tetap dihormati sebagai orang baik, itu pun ada alasannya. Sehingga tak semua orang yang aslinya jahat, dipersepsikan sebagai penjahat. Demikian juga sebaliknya. Semua diuraikan dengan seksama dan dengan cara yang unik oleh Klosterman.

Namun, ada kesan cukup kuat bahwa buku ini bersifat opini semata, khususnya ketika membahas kontradiksi ketika konsep jahat dan baik berbenturan di satu sosok. Seperti yang ia contohkan dengan kasus superhero, Batman. Secara pribadi, gambaran Batman yang dilukiskan Klosterman dan implementasinya ke dunia nyata, kurang bisa saya terima atau setujui. Akan tetapi, secara umum buku ini membuka wawasan tentang cara berpikir masyarakat, khususnya tentang penentuan konsep baik dan jahat.

3.5-star

 

5×02

Battle Hymn of the Tiger Mother (Amy Chua, 2011)

Social/Anthropology/Culture, Scribner, Hardcover, 214 pages, July 9 2013, English

battlehymntigermother

Buku ini bisa dibilang kontroversial. Parenting style zaman sekarang, yang lebih banyak menekankan pada aspek menghargai anak sebagai individu yang perlu didengarkan dan dihormati, dibantah habis-habisan dalam buku ini: Amy Chua mendidik kedua putrinya, Sophia dan Louisa, dengan penuh “kekerasan mental”. Paradigma “harus jadi nomor satu” dan “bukan nomor satu berarti sampah” pun menjadi basis seluruh tindakan yang diambil istri Jed Rubenfeld ini dalam mengawasi bagaimana kedua putrinya melewatkan masa usia sekolah hingga remaja. Sophia dan Louisa dikisahkan harus mematuhi banyak larangan (termasuk larangan menginap di rumah teman) dan diharuskan mendapatkan nilai rapor serta prestasi di dunia musik sesuai tuntutan sang ibu. Bahkan tuntutan-tuntutan tersebut nyaris tanpa jeda istirahat atau waktu luang untuk sekadar selebrasi! Di bawah situasi menekan yang demikian ketat, mereka pun harus siap mendapat beragam hukuman atau dipermalukan di depan umum apabila mereka gagal.

Untungnya, kisah parenting yang cukup horor ini berhasil dengan cukup “baik”. Hanya saja, buku ini cukup banyak membuat berbagai pihak mengecam gaya diktatorisme wanita yang berprofesi sebagai pengacara dan pengajar di Yale Law School ini. Tapi di sisi lain, ada pula pihak-pihak yang membandingkan cara Chua mendidik dengan cara didik mereka atau kerabat terdekat. Sehingga sebagai dampaknya, ada dua kubu yang berseberangan: Bahwa anak tetaplah harus dihormati selama dididik dan dibesarkan, versus bahwa anak harus “dibentak” agar bisa terlecut menjadi individu superior.

Terlepas dari gaya mendidik manakah yang kiranya sesuai dengan keinginan kalian, buku ini tetap perlu dibaca. Omong-omong, buku ini juga sudah pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

3-star

 

5×03

Not Quite What I Was Planning: Six-Word Memoirs by Famous and Obscure Writers (Larry Smith & Rachel Fershleiser, 2008)

Autobiography/Memoir/Short-stories/Poetry/Humor/Anthologies, Harper Perennial, Paperback, 225 pages, February 5 2008, English

notquitewhatIwasplanning

Six-word stories adalah semacam cerita superpendek yang diungkapkan dalam hanya enam kata. Konsep six-word stories ini diperkenalkan oleh Ernest Hemingway, “For sale: Baby shoes, never worn“. Ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan hanya enam kata, sebuah cerita sudah bisa ditulis. Sesudahnya, Smith Magazine membudayakan pengiriman cerita pendek yang terdiri atas enam kata dalam bahasa Inggris, dan mereka pun mengompilasinya ke dalam buku ini.

Dalam buku ini kita bisa menemukan sejumlah kalimat inspiratif, semacam memoir, atau umpatan, atau gambaran kisah hidup seseorang; dengan penyampaian yang singkat namun padat makna. Terkadang memang cerita tidak jelas, kita harus menginterpretasi sendiri. Tetapi di lebih banyak kesempatan, justru cerita yang disajikan sudah amat nyata.

Sebagai enam contoh; ada “Everyone who loved me is dead“, “Afraid of everything. Did it anyway“, “Found true love after nine months“, “Born in glaucoma, fading to black“, “Wanted to live forever, died trying“, dan “Buried gold long ago. Can’t find“.

Dan tentunya, buku ini masih memuat jauh lebih banyak cerita kilat dalam enam kata, yang sarat makna di setiap kalimatnya. Rasanya saya tidak memberikan spoiler tadi, karena setiap cerita enam-kata ini terpisah satu sama lain, jumlahnya sangat banyak, dan tidak ada pemisahan bab berdasarkan tema. Menarik untuk dipelajari jika kalian berminat mencari ide untuk mengarang, atau sekadar untuk melatih kreativitas.

3-star

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s