My Brief History (Stephen Hawking, 2013)


Identitas Buku

mybriefhistory Title: My Brief History
Author: Stephen Hawking
Publisher: Bantam
Genre: Autobiography/Memoir, History, Science, Physics
Language: English
Publication Date: September 10, 2013
Pages: 126 pages
Cover: Hardcover
ISBN-13: 978-034-553-528-6
Award: Royal Society Winton Prize Nominee for Science Books Longlist (2014)

Sinopsis Official

Stephen Hawking has dazzled readers worldwide with a string of bestsellers exploring the mysteries of the universe. Now, for the first time, perhaps the most brilliant cosmologist of our age turns his gaze inward for a revealing look at his own life and intellectual evolution.

My Brief History recounts Stephen Hawking’s improbable journey, from his postwar London boyhood to his years of international acclaim and celebrity. Lavishly illustrated with rarely seen photographs, this concise, witty, and candid account introduces readers to a Hawking rarely glimpsed in previous books: the inquisitive schoolboy whose classmates nicknamed him Einstein; the jokester who once placed a bet with a colleague over the existence of a particular black hole; and the young husband and father struggling to gain a foothold in the world of physics and cosmology.

Writing with characteristic humility and humor, Hawking opens up about the challenges that confronted him following his diagnosis of ALS at age twenty-one. Tracing his development as a thinker, he explains how the prospect of an early death urged him onward through numerous intellectual breakthroughs, and talks about the genesis of his masterpiece A Brief History of Time—one of the iconic books of the twentieth century.

Clear-eyed, intimate, and wise, My Brief History opens a window for the rest of us into Hawking’s personal cosmos.

Resensi

Kisah hidup Stephen Hawking sudah pernah berkali-kali difilmkan. Terakhir, The Theory of Everything (2014) adalah film yang memaparkan kehidupan romantis profesor kosmologi-astrofisika yang telah hidup bersama penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS) selama lebih dari lima dekade ini. Namun bagaimanakah kisah hidupnya, di luar hubungannya dengan Jane dan Elaine (wanita-wanita yang pernah jadi istrinya), secara lengkap? Buku singkat ini siap memberikan jawabannya. Dan saya kebagian versi bahasa Inggrisnya, padahal buku ini sudah ada versi terjemahan bahasa Indonesianya dan sudah terbit sejak 2015 lalu.

Adapun, topik yang dibahas dalam autobiografi yang terbit ketika Hawking sudah berusia 71 tahun ini, lebih banyak mengulas kehidupan masa kecil dan perjalanan akademis/profesional Hawking di bidang kosmologi-astrofisika. Apa saja yang ia lakukan dalam lima dekade terakhir dan apa saja kontribusinya, mulai dari mematahkan teori relativitas umum dari Einstein dalam situasi Big Bang dan lubang hitam, hingga upayanya menerapkan teori kuantum di masa awal dan akhir alam semesta. Dan jangan kaget, bahwa kalimat “hingga kini Hawking masih mencari jawaban untuk Theory of Everything” di akhir filmnya, itu memang benar adanya. Hawking tengah meneliti bagaimana fenomena awal dan akhir waktu, dari aspek astrofisika. Luar biasa ya?

Nah, sekarang soal literasi. Bukan Hawking namanya kalau uraiannya tidak singkat-padat-jelas. Sejak awal buku, kita sudah disuguhi penuturan Hawking yang khas – ia menuliskan segala sesuatunya dengan sederhana, kalimatnya pendek-pendek, dan tidak membuat orang bingung karena maknanya pasti cuma satu.

Memang Stephen Hawking merupakan contoh nyata seorang ahli – yang mampu menyederhanakan problem yang mau disampaikannya sehingga orang awam pun mengerti. Termasuk, ketika ia membahas polemik yang amat fisika di bab 6 dan 12.  Saya rasa terlepas dari fakta bahwa keterbatasan fisiknya yang mungkin saja memaksanya menulis dalam kalimat pendek-pendek, Hawking memang brilian dalam hal menyusun kalimat sederhana dengan baik. Sekali mulai membaca, kita akan dibuat ketagihan dengan narasi ala Hawking, meskipun ini buku nonfiksi.

Waktu ia menjelaskan masa anak-anaknya, semua begitu jelas sehingga pembaca tidak bertanya-tanya panjang lebar lagi soal orang tua dan saudara-saudari Hawking. Juga, ketika ia menjelaskan perihal time-travel, mengapa time-travel itu (menurutnya) tidak mungkin, ia menggunakan perumpamaan garis dan titik. Soal steady-state universe, ia pun menggunakan logika terbalik dan pancaran infrared sebagai bahan penjelasan. Dan saya yang tadinya tidak paham sama sekali soal konsep time-travel, jadi paham 25%. Lumayanlah. Tidak benar-benar paham, tapi jadi sedikit ada gambaran soal apa yang mau dibicarakan oleh Hawking.

Dan, satu hal yang sangat saya sukai dari buku ini adalah bagaimana cara Hawking menutupnya. Bab 13, yang berjudul No Boundaries, ternyata berisi ungkapan-ungkapan gratitude Hawking atas hidupnya. Pengakuannya bahwa hidupnya justru jadi lebih berwarna di masa 50 tahun setelah ia didiagnosis ALS ketimbang di masa 20 tahun menjadi orang normal, dibeberkannya dengan terperinci di sini. Kita yang membaca uraian Hawking yang dibumbui sehingga jadi agak kocak di sini, jadi berpikir ulang tentang kesulitan hidup kita sendiri. Hawking sampai bilang, “disabilitas saya bukanlah hambatan serius dalam karir saya” – dan pernyataan ini sungguh membuat kesulitan-kesulitan kecil yang kita hadapi tidak ada artinya. Menarik!

Bacaan berikutnya yang harus masuk daftar setelah ini: Travelling to Infinity, dari Jane Hawking. Karena? Jelas, karena Hawking kurang banyak membahas Jane, Jonathan, Lucy, Robert, dan Tim di buku ini. Dan rasanya, menjajaki kisah hidup Hawking tidak lengkap tanpa mengenal sosok-sosok mereka.

Recommended autobiography!

Kalimat-kalimat menarik

  • Chapter 2: My practical abilities never matched up to my theoretical inquiries.
  • Chapter 4: (About his engagement with Jane in 1964) This gave me something to live for.
  • Chapter 4: Someone once said that scientists and prostitutes get paid for doing what they enjoy.
  • Chapter 9: Two years ago I began using ventilator twenty-four hours a day. I find it gives me energy.
  • Chapter 10: [paraphrased] He made me rewrite the book so that it would be understandable to non-scientists such as himself.
  • Chapter 11: This might be a warning from nature not to meddle with the past.
  • Chapter 12: The no-boundary condition is the key to creation, the reason we are here.
  • Chapter 13: My disability has NOT been a serious handicap in my scientific work.
  • Chapter 13: I can’t disguise myself with a wig and dark glasses, the wheelchair gives me away. Being well-known and easily recognizable has its pluses and minuses.

Miscellaneous

4-star

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s