Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You (Susan Forward-Donna Frazier, 1998)


Identitas Buku

emotionalblackmail

Title: Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You
Authors: Susan Forward, Donna Frazier
Genre: Psychology, Self-Help, Communication, Sociology
Publisher: William Morrow Paperbacks
Publication date: March 4, 1998
Cover: Paperback
Pages: 272 pages
Language: English
Dimension: 5.3 x 0.6 x 8 inches
ISBN-13: 978-006-092-897-1

 

Sinopsis Official

Emotional blackmail is a powerful form of manipulation in which people close to us threaten to punish us for not doing what they want. Emotional blackmailers know how much we value our relationships with them. They know our vulnerabilities and our deepest secrets. They can be our parents or partners, bosses or coworkers, friends or lovers. And no matter how much they care about us, they use this intimate knowledge to win the pay-off they want: our compliance.

In Emotional Blackmail, bestselling author Susan Forward dissects the anatomy of a relationship damaged by manipulation to give blackmail targets the tools they need to fight back. In a clear, no-nonsense style, she outlines the specific steps readers can take, offering checklists, practice scenarios, and concrete communications techniques that will strengthen relationships and break the blackmail cycle for good.

Rangkuman Buku

Oh ya. Untuk buku yang satu ini, rasanya tidak seru kalau dibahas sambil menutup-nutupi spoiler. Maka saya tidak menyebutnya resensi, melainkan “rangkuman buku”. Yuk…

Capek menghadapi pasangan yang selalu merajuk setiap minta sesuatu?

Atau lelah menghadapi sahabat yang suka mengancam akan begini-begitu kalau kita tidak mengabulkan permintaannya untuk meminjam uang?

Atau bahkan kebingungan menghadapi orang serumah yang nekat berbuat apa saja supaya kita harus selalu menuruti keinginannya?

Menurut buku karangan Susan Forward dan Donna Frazier ini, kejadian-kejadian di atas menandakan bahwa kalian adalah korban emotional blackmail. Apa itu emotional blackmail, akan coba saya jelaskan berdasarkan pemahaman saya.

Saya mulai dari akibat emotional blackmail, yaitu keretakan hubungan yang tak terlihat. Benih perpecahan, baik dalam hubungan persahabatan maupun dalam rumah tangga, memang mungkin berasal dari pihak ketiga atau godaan dari luar yang susah ditahan. Tapi sebelum pihak ketiga datang, barangkali sudah ada rasa “capek hati”, atau “kelelahan secara psikis”. Berarti, dalam suatu hubungan, salah satu pihak merasa tertekan oleh perilaku dan cara tanggap pasangan atau lawannya terhadap suatu masalah, yang kemudian dibiarkan berlarut-larut. Inilah yang dinamakan perilaku emotional blackmailing. Pihak yang melakukan emotional blackmailing akan menggunakan teknik tertentu sehingga sang pasangan atau sang lawan tak berkutik setiap menghadapi ancaman atau tuntutan darinya.

Forward dan Frazier menyebut tiga hal yang bisa dimanfaatkan oleh seseorang dari pasangannya atau sahabatnya. Yaitu Fear (ketakutan), Obligation (kepatuhan), dan Guilt (rasa bersalah). Merasa takut tak laku kalau ditinggal pasangan. Merasa wajib menyembah pasangan karena rasa inferioritas. Atau merasa bersalah karena berutang budi dengan pasangan. Trio FOG ini, jika dilebih-lebihkan dan dirasa-rasa, justru memperkuat kecenderungan timbulnya emotional blackmail ini.

Lalu bagaimana kita bisa tahu bahwa suatu hubungan telah dinodai emotional blackmail? Sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, ada enam hal yang bisa dianggap ciri suatu hubungan yang diwarnai emotional blackmail. Enam hal itu adalah sebagai berikut.

  1. Di tahap pertama, muncul Desire (hasrat) dan Resistance (tahanan). Satu pihak punya keinginan, tapi pihak lain tak setuju. Di sinilah timbul konflik karena adanya perbedaan pendapat. Mungkin juga ada beda kepentingan.
  2. Karena cukup seringnya terjadi bentrok pendapat, maka akan muncul pula dampak selanjutnya, yaitu Pressure (tekanan) dan Threats (ancaman). Di satu pihak ada yang merasa tertekan, takut jika keinginan pasangannya tak terpenuhi maka ia akan ditinggalkan begitu saja. Di sisi lain, pihak satunya pun kerap mengumbar ancaman seperti membalik telapak tangan. Pihak pengancam tahu benar, bahwa hanya dengan mengumbar satu ancaman, pasangannya langsung ketakutan dan bersedia melakukan apa saja demi terkabulnya permintaan (yang diwarnai ancaman) tersebut.
  3. Dan setelah semuanya terjadi berlarut-larut, akan ada yang namanya Compliance (kepatuhan) dan Repetition (kejadian berulang). Akibat akhirnya, satu pihak jadi penguasa yang seenaknya memerintah, mengancam, dan menekan pasangannya, hingga pihak yang lemah akan jadi “budak” selama mereka masih menjalin hubungan. Ini semua terjadi terus-menerus bak lingkaran setan, alias berulang lagi, dan lagi.

Setelah masalah-masalah komunikasi dan hubungan interpersonal dikupas, maka buku ini pun tak lengkap tanpa solusi. Ya, Forward dan Frazier memberikan sejumlah tips untuk menghindari hubungan tak sehat semacam ini. Memang yang dijadikan contoh nyaris selalu berupa pasangan dalam hubungan asmara ataupun rumah tangga. Tetapi, saya sendiri merasa beberapa contoh juga layak diaplikasikan ke persahabatan. Jadi buku ini tidak melulu miliknya pasangan romansa, tapi juga para sahabat.

Eh ya, apa saja solusi yang ditawarkan oleh Forward dan Frazier? Saya berhasil mengambil beberapa poin penting dari uraian mereka berdua.

  1. Harus ada upaya pendekatan untuk mengubah sifat yang buruk. Intinya, jika ada uneg-uneg, kedua pihak harus menyiapkan ruang untuk negosiasi. Yang biasa langsung meledak, harus berlatih mendengarkan. Dan yang biasa merasa diri tertekan, harus berlatih berani berbicara.
  2. Setelah niatnya ada, lakukanlah tahap-tahap berikutnya:
    1. Jangan langsung ladeni pasangan yang marah dengan amarah. Pernah dengar resep rumah tangga awet yang berbunyi “di antara kita berdua tidak boleh sampai dua-duanya marah”? Ya, kira-kira begitulah. Jika pasangan marah, akan sangat baik jika lawannya tidak langsung menanggapi dengan amarah juga. Coba tunda, “aku belum bisa menjawab sekarang, biarkan aku berpikir dulu”, sambil coba tenangkan diri.
    2. Posisikan diri sebagai orang ketiga. Tujuannya supaya kalian lebih objektif dalam menilai kasus dan mencari jalan penyelesaiannya. Memposisikan diri pada diri sendiri terus hanya akan membuat kalian semakin terlarut dan susah mengambil keputusan dengan benar.
    3. Tetapkan batas-batas bagi diri sendiri. Setidaknya ini penting buat bahan komunikasi nantinya dengan pasangan atau sahabat, bahwa sejauh mana kalian bisa menoleransi perbuatan atau sikap tertentu dari dia yang tidak kalian sukai.
    4. Analisis dan perhitungkan reaksi pihak lawan atas reaksi yang mungkin diberikan. Dengan mengenai karakter pasangan atau sahabat, tentu kalian bisa lebih mudah menduga-duga apa yang akan dilakukannya setelah mendengar kalimat yang kalian ucapkan. Hindari perkataan yang berpotensi menimbulkan reaksi buruk terutama bagi diri kalian sendiri.
    5. Lakukan upaya perbaikan hubungan lewat komunikasi intensif dan kontinu. Ingat, karena emotional blackmail terjadi perlahan, pemulihannya pun harus perlahan.
    6. Lakukan lagi tahap 1-5 secara berulang, sambil nilai bagaimana reaksi pasangan atau sahabat terhadap niat untuk memperbaiki hubungan. Jika rasanya tidak ada kemungkinan bahwa kalian dapat memperbaiki hubungan, perpisahan tentu bisa menjadi opsi yang cukup baik.

Nah, kalian punya rekan atau kerabat yang hubungannya tampak mulai tidak sehat? Coba berikan tips di atas ke mereka, atau kalau bisa, hadiahkan buku ini ke mereka. Barangkali buku ini bisa jadi bantuan yang amat bermanfaat dan tak ternilai.

Miscellaneous & Ratings

4-star

  • How to get this book: Bookdepository (Rp 189.400, free delivery fee)
  • How to get this book: Amazon.com (from USD 8.42, additional delivery fee may be applied)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s