The 7 Habits of Highly Effective Teens (Sean Covey, 1997)


Identitas Buku

Book Title: The 7 Habits of Highly Effective Teens
Author: Sean Covey
Genre: Self-help, Motivation, Psychology, Parenting
Publisher: Touchstone
Release Date: January 9, 1997
Cover: Paperback
Language: English
Pages: 268 pages
ISBN-13: 978-068-485-609-4

Sinopsis Official

In the bestselling tradition of Chicken Soup for the Teenage Soul, this invaluable guide speaks loudly and convincingly to teens and provides them with universal principles sure to enhance their effectiveness and guide their future decisions.

Ringkasan Buku

Menyambut Fathers Day 2016 yang jatuh hari Minggu (19 Juni) kemarin, kali ini saya membuatkan ringkasan buku yang hampir tak berhubungan dengan hubungan ayah dan anak, tapi kalau dipaksakan ya tetap ada hubungannya: 7 Habits of Highly-Effective Teens. Yup, hubungannya dengan Fathers Day adalah, karena di buku ini, penulisnya (Sean Covey) memodifikasi karya ayahnya sendiri (Stephen R. Covey) khusus untuk konsumsi para remaja. *maafkan kalau agak maksa*

Sejak Stephen R. Covey mengemukakan konsep 7 Highly-Effective Habits di tahun 1989, banyak orang dan organisasi telah mengubah cara pandang mereka terhadap hidup mereka sendiri. Bahkan ada cukup banyak organisasi yang mengintegrasikan tujuh kebiasaan tersebut ke budaya kerja buat karyawan-karyawannya. Perubahan radikal yang dicetuskan Covey di era 1990-an ini pun segera dimanfaatkan Sean, yang melihat pangsa pasar 7 Habits di kalangan remaja. Kemudian, buku ini pun terbit delapan tahun setelah buku legendaris dari ayahnya itu.

Sejak diterjemahkan pertama kalinya ke bahasa Indonesia di sekitar tahun 2000-2001, buku 7 Habits of Highly-Effective Teens ini bisa dibilang cukup menarik buat para remaja. Layout-nya lumayan lucu, dengan komik atau gambar-gambar ilustrasi yang mengena di hati para remaja. Betapa tidak, Covey memilih menyasar ego, rasa takut, dan dominasi keinginan untuk mencari identitas diri dari para remaja untuk dijadikan sasaran ilustrasi dan percontohan kasus. Ia lebih memilih mengungkapkan terlebih dahulu soal “apa yang terjadi kalau kalian tidak memiliki kebiasaan ini” sebagai senjata pendekatan yang terbukti ampuh untuk me-reframing pikiran para remaja.

Gaya bercerita Sean dan caranya memperkenalkan ketujuh kebiasaan pun bisa dibilang kocak, namun sama sekali tidak melenceng. Beberapa kali ia menggunakan perumpamaan yang bisa dibilang satir: Benar-benar nyata, tapi para remaja diajak menertawakan diri mereka sendiri. Yang elegan juga, tampilan dan narasi untuk solusi-solusinya. Tidak menye-menye tapi tepat sasaran. Sehingga remaja pun diajak berpikir ulang tentang hidupnya dengan serius, tapi santai. Nah, berarti tidak salah dong kalau saya bilang, bahwa selain bisa mendidik remaja untuk mawas diri, buku ini juga bisa jadi sarana buat remaja belajar menjadi dewasa secara mental?

Selain itu, supaya tidak lupa dengan apa yang baru saja dibaca dan disampaikan, para remaja juga diajak berlatih mengaplikasikan kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan lewat workshop di akhir setiap bab. Barangkali, gaya inilah yang kemudian banyak ditiru buku-buku self-help di kemudian hari. Bahkan Sean juga mengetahui betul kesukaan para remaja, dengan memberikan contoh-contoh yang bisa dibilang lumayan gaul, apabila sekiranya remaja tersebut bingung dengan apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan workshop.

Berhubung tujuh kebiasaan ini sudah bukan lagi suatu rahasia, berikut saya jabarkan sedikit soal tujuh kebiasaan yang disebut-sebut Covey dalam buku ini (yang jelas, masih tak jauh dari buku ayahnya):

  • Kebiasaan 1: Jadilah proaktif
    Milikilah inisiatif untuk bertanggung jawab terhadap suatu hal, dan jangan melulu menyalahkan orang lain jika terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan.
  • Kebiasaan 2: Ketahui tujuanmu
    Mengetahui apa yang mau kita capai akan memudahkan kita menetapkan apa saja yang harus disiapkan untuk menuju ke sana.
  • Kebiasaan 3: Tetapkan prioritas
    Kita bukan robot yang bisa melakukan apa saja dan punya waktu yang tak terbatas. Tanpa penetapan prioritas, kita tak mungkin bisa membagi waktu dan mendapatkan manfaat hidup yang sebesar-besarnya.
  • Kebiasaan 4: Berpikirlah menang-menang
    Semua orang bisa menang, dan berhak menang tentunya. Dalam berorganisasi, akan lebih baik kalau kita bisa menang bersama-sama.
  • Kebiasaan 5: Pahami dengan empati
    Hubungan yang baik berawal dari komunikasi, dan komunikasi berawal dari pemahaman yang baik terhadap orang lain.
  • Kebiasaan 6: Kerja sama dan sinergisme
    Membuka diri terhadap pemikiran yang berbeda dapat membantu kita mencapai hasil yang lebih daripada jika kita bekerja sendirian.
  • Kebiasaan 7: Asah gergajimu
    Jangan lupa luangkan waktu untuk pengembangan diri sendiri. Menjadi orang baik tentulah baik, tapi dengan personal skill, kita akan menjadi orang yang baik dan bermanfaat.

Sekarang soal kelemahannya.

Karena dibesarkan di keluarga yang relatif beruntung dan adem-ayem (baca: rukun dan sejahtera), jelas tidak pas kalau Covey menetapkan masalah selalu dari POV orang ketiga. Istilahnya, “Covey hadn’t experienced how does it feel to walk on problematic-adolescents’ shoes.” Rasanya remaja (eh, jangankan, dewasa juga lho!) lebih tersentuh kalau si penulisnya sendiri yang pernah bermasalah, lalu ia menuliskan pengalaman pribadinya soal mengatasi masalah tersebut dalam bukunya. Nah, hal ini hampir tidak ada sama sekali di buku ini. Bahkan kalau dilihat di Goodreads, cukup banyak reviewer yang memberi bintang 1 atau 2 untuk buku ini hanya karena masalah POV dan proyeksi masalah tersebut. Namun buat saya, Covey sudah berusaha cukup keras dalam buku ini.

Kelemahan lain, adalah bahwa salah satu masalah utama remaja abad 21, yaitu cyberbullying; sama sekali tidak diulas di buku ini. Hal ini bisa kita maklumi mengingat ini buku terbitan 1997-1998, di mana internet belum marak dan smartphone belum ditemukan. Tetapi, tentu ketiadaan topik ini membuat relevansi buku ini dengan kehidupan remaja zaman sekarang menjadi turun; meskipun memang untuk social-life para remaja masih bisa dikatakan relevan.

Rekomendasi saya, kalau sudah membaca buku versi Stephen R. Covey, ada baiknya coba membaca buku ini. Dengan intisari yang mirip, buku ini semacam concept repacking yang dikemas lebih segar dan kocak. Buat remaja yang masih sering galau dengan masalah klasik; seperti misalnya bingung dengan mana yang lebih penting antara organisasi, pacar, atau sekolah; atau bingung bagaimana caranya menjadi sosok yang disukai dalam organisasi, buku ini perlu dibaca. Tapi, untuk orang tua yang anak remajanya mengalami permasalahan terkait internet, buku ini tentu kurang tepat.

Miscellaneous and Ratings

4-star

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s