Posting Bareng BBI Juni 2016: Sebelas hal tentang buku dan saya


Berhubung disuruh (yaelah, disuruh, bahasanya gimana sih) sama panitia Blog Buku Indonesia untuk membuat pengakuan soal buku di bulan Juni ini, yuk mari saya ikutan bikin pengakuan.

Saya pun memilih menuliskan 11 buah pengakuan berdasarkan hasil wawancara oleh bayangan saya sendiri. Kenapa 11? Karena saya suka angka itu πŸ™‚

Selamat menikmati.

Banner Posbar 2016

#1: Apa sih buku non-fiksi pertama elu?

Kita mulai dari buku non-fiksi sesuai tema blog saya ini. Buku non-fiksi pertama yang saya miliki adalah A Mathematical Jamboree dari Brian Bolt, yang saya baca di tahun 1996. Gila, sudah 20 tahun! Sebagai penghormatan, begitu saya meluncurkan rubrik My Blurbs di blog saya, buku tersebut pun masuk di episode pertama.

mathjamboreebolt

#2: Kalau gue lihat di Goodreads, elu demennya bacaan yang susah-susah ya. Kayak fisika biologi atau sains-sains gitulah… Emang seru ya buku begituan?

Buku popular science, sampai sekarang masih termasuk subgenre non-fiksi favorit saya. Tentu saja saya masih memilih buku-buku popular science yang masih bisa saya cerna.

Lucu-lucu juga kok, sebenarnya buku-buku itu. Dari luar kelihatannya sangar dan berat, tapi begitu dibaca, seru juga. Kita jadi diajak belajar tentang tubuh manusia atau fenomena alam, dengan cara unik tersendiri dari para penulisnya. Tentu saja, di sekolah dulu buku pelajarannya tidak begini. Makanya tak heran kalau banyak orang yang tidak suka ilmu sains. Coba kalau buku pelajaran seperti buku-buku popular science ini, alangkah serunya.

Contoh buku favorit saya dari subgenre ini: Body Signs (lupa nama penulisnya), What Einstein Didn’t Know (Robert Wolke), Right Hand, Left Hand (Chris McManus), From Zero to Infinity: What Makes Numbers Interesting (Constance Reid), dan salah satu buku ruwet yang kedokteran-banget yang belum selesai saya baca, Mapping the Mind (Rita Carter).

#3: Pernah salah beli buku non-fiksi ngga?

Jawaban singkat: Pernah.

Jawaban panjang: Masih seputar “From Zero to Infinity“, waktu Big Bad Wolf Book Sale Mei 2016 lalu sempat ada kejadian konyol yang menimpa saya.

Awalnya, saya diperlihatkan foto buku “From Zero to Infinity and Beyond” oleh teman. Saya pun tertarik dan balik lagilah saya ke BBW. Tapi karena saya cuma ingat potongan judul di bagian “From Zero to Infinity”-nya, maka saya pun kebingungan waktu mencari buku tersebut di kunjungan BBW kedua. Apalagi pas kunjungan kedua itu, buku-buku sudah semakin berantakan (padahal di kunjungan pertama buku-bukunya masih rapi).

Belakangan, saya baru sadar bahwa selain From Zero to Infinity and Beyond, ada juga buku yang judulnya From 0 to Infinity in 26 Centuries dan From Zero to Infinity: What Makes Numbers Interesting. #FacepalmSampaiTembus – Akibatnya bisa ditebak: Saya salah beli buku From Zero to Infinity-nya!

Yaelah. Untung bukunya tidak terlalu mahal… Tapi, bikin buku kok judulnya mirip-mirip. Harusnya yang duluan (Constance Reid) yang berhak dong ya atas judul itu. Kalau begini kan pembelinya yang bingung…

fromzerotoinfinity-constancereid

#4: Kalau biografi… Awalnya kenapa bisa tertarik sama biografi?

Kalau menyoal buku biografi, awal mula cerita persaudaraan saya dengan buku biografi jauh lebih menggelikan. Buku biografi pertama yang saya baca adalah kisah hidup Margaret Mead, seorang antropolog yang hidup puluhan tahun di kepulauan daerah Pasifik, yang bukunya adalah harta milik perpustakaan sekolah. Jangan tanya judulnya, saya sudah tidak ingat. Cover-nya bagaimana saja saya lupa. Adapun bukunya jatuh ke tangan saya setelah ada beberapa oknum teman menjarah isi perpustakaan dan membagi-bagikan bukunya ke teman-teman lain. Dan saya pun kedapatan buku biografi terjemahan, yang sekarang pun sudah tidak tahu hilang ke mana.

Moral of the story: Perbuatan kriminal bisa mendatangkan pencerahan dan hobi baru.

#5: Okelah kalau begitu. Terus, bagaimana dengan buku self-help?

Genre buku non-fiksi yang juga dekat dengan saya adalah self-help. Buku self-help pertama saya, seingat saya adalah Chicken Soup for Teenage Soul dan The 7 Habits of Highly Effective Teens.

7-habits-highly-effective-teens

Entah bagaimana, setelah kenalan dengan buku self-help itu, saya sering bertemu orang yang hobinya juga baca buku self-help. Apalagi di dunia profesional, selalu saja ada beberapa orang yang benar-benar hobi membaca buku self-help, sampai-sampai kita sering ditanya-tanya soal buku tertentu. Saya pun terkadang membaca buku self-help supaya sedikit bisa nyambung dalam obrolan tersebut. Padahal…

#6: Padahal apa coba?

Oh, jadi begini. Setelah saya menganalisis pakai deduksi-sosial, silogisme-tak-berkesudahan, dan teori-aneh-aneh-lainnya-dari-pemikiran-dangkal-saya-sendiri, saya memutuskan bahwa omongan motivator berinisial MT dan teman-temannya itu sulit dipercaya. Alhasil, saya sempat tidak mau membaca buku self-help sampai beberapa tahun. Tapi, balik lagi, demi pergaulan, saya jabanin saja. Walaupun ujungnya juga lupa dengan isi buku-bukunya, lantaran saya memang tidak pernah memasukkan omongan di buku self-help itu ke hati dan ke otak.

#7: Gila. Kalau begitu buat apa baca buku self-help…

Baca buku self-help itu, buat saya, terkadang bisa jadi ajang untuk melihat cara si penulisnya berpikir dan cara menuangkan ide atau pikiran tersebut jadi tulisan. Ada penulis self-help yang sama sekali tidak pintar menulis, tapi idenya bagus. Ada juga yang idenya biasa-biasa saja, tapi tulisannya bagus dan sistematik sekali. Hitung-hitung, lupa sama kontennya, tapi dapat pembelajaran baru lah. Gpp kan.

#8: Auk ah gelap… Omong-omong, katanya lu pernah beberapa kali dapat hadiah dari sayembara buku di Twitter ya. Hadiah buku yang pertama kali, dapatnya di mana dan kapan?

Saya pernah memenangkan buku yang saya-bingung-itu-fiksi-apa-nonfiksi dari kuis Kick Andy Show, Agustus 2010 (bukunya baru saya terima bulan Nopember!). Judul bukunya The Compass. Bisa ditebak sesuai nasib buku gratisan pada umumnya: Bahwa bukunya belum selesai saya baca sampai hari ini, enam tahun berselang.

compass-kling

#9: Dari tadi ngomongin buku nonfiksi. Emangnya lu ngga suka baca buku fiksi?

Salah! Saya penggemar novel-novelnya Sidney Sheldon, beberapa buku Sandra Brown, dan beberapa buku Michael Crichton. Cuma karena suatu hal yang lebih baik jangan saya sebutkan, saya berhenti membaca buku-buku tersisa dari Brown dan Crichton. Sementara buku Sheldon kecuali The Other Side of Me, sudah saya baca semuanya πŸ™‚ Barangkali karena pengaruh mereka bertiga-lah, buku yang sedang saya tulis di Storial (Custodivi Absconditum) kental dengan aroma thriller. Di luar itu, saya juga pembaca heptalogi Harry Potter (meskipun tidak pernah di baris terdepan), dan pembaca trilogi The Hunger Games.

Cuma, belakangan saya sudah kurang fokus membaca buku fiksi. Saya sangat pemilih kalau membaca buku fiksi. Masalah pertama tentu soal anggaran beli buku. Masalah kedua adalah selera – saya kurang suka tema romance. Dan yang ketiga adalah… Jangan disebut. Nanti ada yang marah!

#10: Terakhir baca buku fiksi apa?

Buku fiksi terakhir yang saya baca adalah 11:11 (Lucia Priandarini, 2016). Dibacanya di Mei 2016, tapi baru di-review awal Juni. Bukunya bagus. Kata-kata di dalamnya sangat memotivasi meskipun tema ceritanya dark. Dan kebetulan saya pecinta angka sebelas. Jadi klop. Sayangnya, resensi buku itu tidak ada di blog ini, lantaran ini khusus blog non-fiksi. Jadi, saya taruh resensi buku itu di blog sebelah (baca: blog saya yang satunya).

11-11

#11: Oh begitu… Kalau begitu, menurut lu, ada ngga gunanya membaca buku fiksi di antara buku-buku non-fiksi yang lu suka?

Soal kombinasi fiksi dan non-fiksi dalam reading challenge saya, saya punya prinsip: Membaca non-fiksi menambah pengetahuan dan wawasan, tetapi membaca fiksi menambah daya imajinasi. Terus hubungannya? Dengan bertambahnya daya imajinasi, kemampuan membayangkan situasi dan kondisi yang diterangkan buku non-fiksi juga semakin baik. Intinya, buat saya non-fiksi dan fiksi itu saling mendukung dan dua-duanya perlu dibaca. Cuma saja, buat saya tentu saya memilih porsi non-fiksinya lebih besar daripada fiksi πŸ™‚

 

Baiklah, selesai sudah pengakuan saya. Semoga berkenan dan terima kasih untuk tidak tertawa selama membaca postingan ini.

Advertisements

2 thoughts on “Posting Bareng BBI Juni 2016: Sebelas hal tentang buku dan saya

  1. Waaaah, aku mau tos sama kak henny >.<
    Yang jawaban nomor 7 itu beneer banget, eh tapi kalau aku lagi dititik terendah biasanya buku self-help bisa cespleng langsung masuk ke hati.hahaha
    Ngomong2 soal buku nonfiksi, buku nonfiksi pertama aku juga dulu buku populer science karangannya Janice Van Cleave, dan aku juga pernah dapat buku gratis dari KickAndy, yaaah sampai sekarang pun belum terbaca,hihihi

    aku mau rekomendasiin buku self-help fiksi deh ke kak henny, rada witty sih tapi worth to try, coba deh baca "How to get filthy rich in rising Asia – Mohsin Hamid"

    Oiya jangan lupa mampir ke blog ku juga ya [thebookishome.com] jarang di update sih sebenernya -_-

    Liked by 1 person

  2. Saya malah baru aajaa, tahun ini menerapkan untuk selang seling baca buku fiksi dengan non fiksi. Setelah sadar tumpukan buku saya kebanyakan fiksi πŸ˜€ Jadi tambah semangat nih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s