The Man Who Knew Infinity (film 2015)


Identitas Film

Censor rating: PG-13
Duration: 108 minutes
Language: English
Release date: April 29, 2016
Genre: Biography, Drama
IMDb rating: 7.5/10
Metacritic score: 56/100
Rotten Tomatoes Tomatometer: 62%
Director: Matt Brown
Casts: Dev Patel, Jeremy Irons, Malcolm Sinclair, Devika Bhise, Toby Jones, Raghuvir Joshi

Sinopsis Official

The story of the life and academic career of the pioneer Indian mathematician, Srinivasa Ramanujan, and his friendship with his mentor, Professor G.H. Hardy.

Dari buku apa?

Film ini diangkat dari buku berjudul sama, yang ditulis oleh Robert Kanigel dan terbit di tahun 1992. Sampai saat saya menonton film ini, saya baru menyelesaikan 42% bukunya.

Resensi film

Waktu tahu cerita si jenius matematika Srinivasa Ramanujan mau difilmkan, saya sudah sangat-sangat penasaran! Tak heran bahwa saya termasuk yang kecewa ketika tahu film ini tidak masuk ke bioskop Indonesia.

Tadinya memang saya tidak tahu siapa itu Ramanujan. Cuma tahu dua hal. Yang pertama, dia ilmuwan India. Dan yang kedua, kadang-kadang namanya disebut ketika ada orang yang menggelar nama-nama orang jenius, atau nama-nama orang yang amat piawai bermain angka. Setelah tahu kisahnya diangkat ke film itulah, baru saya mencari tahu siapa sebenarnya ilmuwan yang hidup sederhana namun bernasib tragis ini.

Buku Robert Kanigel menjabarkan semuanya dengan terperinci. Saya memang belum selesai membacanya. Namun beruntung, saya sudah membaca bagian-bagian yang tidak diangkat ke film. Seperti soal masa kecil Ramanujan di Kumbakonam (catat itu, bukan Madras!), adik-adiknya yang nyaris semua mati di usia balita karena infeksi, dan bagaimana jatuh bangunnya Ramanujan yang amat jenius di matematika namun gagal dua kali di pendidikan tingginya. Itu semua tidak ada di versi film.

Nah, lalu filmnya ngomongin apa dong? Bisa ditebak: Kisah Ramanujan ketika melanglang buana ke Trinity College, Inggris; dan bertemu mitra kerja sejatinya, Profesor G. H. Hardy. Itulah yang jadi fokus sorotan dalam film sepanjang 1 jam 48 menit ini.

Pemilihan Dev Patel sebagai Ramanujan, barangkali agak kurang pas, kalau kita cuma menilai dari fisiknya (baca: Dev terlalu kurus, sementara Ramanujan asli agak gempal). Namun dari segi penjiwaan, aktor Slumdog Millionaire ini lumayan bagus: Dari gesturnya, cara bicaranya, sampai ekspresi wajahnya, oke. Jeremy Irons juga menjadi peran pembantu yang berimbang. Sikapnya yang ateis, seolah acuh dengan komunitas elite-nya, namun revolusioner dalam merangkul bakat baru, digambarkan persis dengan uraian dalam buku Kanigel. Sulit untuk tidak menyukai karakter Hardy ini! Apalagi di bagian-bagian akhir film, di mana Hardy beberapa kali menunjukkan sikap yang tak terduga ke Ramanujan, wow!

Di versi film, peran Janaki (Devika Bhise) dan ibu Ramanujan – Komalatammal (Arundathi Nag) lumayan banyak dieksplorasi. Nuansa romantis juga sedikit mewarnai versi film ini, dengan porsi yang lebih nyata ketimbang versi buku.

Sayangnya, ada beberapa hole yang menurut saya agak mengganggu. Misalnya, peran beberapa teman sesama kasta Brahmana Ramanujan yang membantunya ke Inggris, tidak jelas digambarkan. Hanya seorang bapak itu yang ditekankan sebagai tokoh yang menolong Ramanujan. Tokoh yang juga kehilangan porsi, misalnya Mahalanobis (kalau tidak salah ingat, namanya begitu). Di buku, tokoh ini disebutkan sebagai penyambung komunitas ahli matematika India dan Inggris. Namun di versi film, saya bahkan tidak berhasil mendeteksi di manakah peran ini ditekankan. Saya maklum saja dengan pendekatan semacam ini. Mirip The King’s Speech, yang memilih fokus di beberapa tokoh sentral saja, untuk menjaga agar film tidak terlalu melebar; The Man Who Knew Infinity pun hanya memilih beberapa potongan dalam tiga puluh dua tahun hidup Ramanujan yang sekiranya punya daya jual lebih, ketimbang potongan yang dikorbankan.

Sebagai informasi tambahan, Ramanujan hidup antara tahun 1888 hingga 1920. Soal sebab mengapa ia meninggal muda, sebaiknya kalian tonton dulu filmnya atau baca bukunya, agar tidak spoiler.

Setelah menonton film ini pun, saya masih berprinsip bahwa biografi itu sejatinya buku, bukan film. Lebih baik membaca bukunya, syukur-syukur menonton filmnya juga. Jadi, tentu saya akan selesaikan bukunya. Mungkin belum sekarang, tapi pasti akan!

 

Miscellaneous and Ratings

3.5-star

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s