rumahkertas

Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez, 2002)


Identitas Buku

Title: Rumah Kertas (original title: La casa de papel)
Author: Carlos Maria Dominguez
Published: 2016
Publisher: MarjinKiri
Cover: Paperback
Genre: International Literature
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 76 pages
ISBN-13: 978-979-126-062-6
Awards: Lolita Rubial, Literaturpreis der Jury der jungen Leser for Sonderpreis (2005)

Sinopsis Official

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

Resensi

Meskipun tahu diri aku bukanlah pembaca yang baik dan universal (kebanyakan bacaanku sifatnya populer), aku tetap memutuskan ikut di tantangan Read and Review Challenge BBI 2017. Buku pertama di tantangan tersebut, sekaligus buku pertama di tantangan Goodreads Reading Challenge 2017-ku, adalah salah satu karya sastra Amerika Latin/Spanyol pemenang penghargaan (Award Winning Book), yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan tajuk Rumah Kertas.

Aku memulai nasib buku ini dengan kekonyolan. Aku sudah memasukkannya ke daftar Secret Santa Wishlist di tanggal 11 Desember, tapi toh masih kubeli juga dua minggu kemudian. Padahal, sebelumnya mana pernah aku punya buku sampai dua eksemplar? Eh… tapi ingga hari ini (baca: 8 Januari 2017) aku belum menerima paket Secret Santa tersebut, jadi belum tahu apakah buku ini akan terdobel atau tidak nantinya.

Yang seram adalah: Rupanya, kekeliruan konyol ini “punya jalinan darah” dengan isi buku ini!

Penuturan singkat-padat-mencekam buku ini dimulai dengan berita kematian Bluma Lennon, seorang profesor literatur asal Inggris. Ia tewas tertabrak mobil ketika membaca buku puisi karangan Emily Dickinson. Selanjutnya, kita para pembaca dibawa untuk menikmati kisah tentang Carlos Brauer. Brauer adalah seorang bibliofil (penggemar buku) yang mengirimkan sebuah buku misterius berbalut lumuran semen kepada Lennon. Sayangnya, buku baru diterima staf Lennon (kita sebut saja dia “narator”, karena dialah narator di kisah ini) setelah Lennon wafat. Penasaran dengan buku berbahasa Spanyol yang misterius itu, sang narator pun nekat mencari Brauer. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang bibliofil yang punya ruang perpustakaan raksasa berisi delapan belas ribu buku, bernama Delgado. Di sinilah kisah tentang Brauer yang sebenarnya dimulai.

Cerita bermula dari Delgado dengan renyah. Berbagai sikon yang membuat para bibliofil tersenyum-senyum sendiri, dengan satu sumber problem: Menimbun buku (Aha! Aku sendiri punya timbunan yang jumlahnya semakin hari semakin wow). Lama-kelamaan, kerakusan Brauer pun mengalahkan Delgado, sekaligus semakin “memakan tuannya” sendiri. Pembaca tidak lagi dibuat mesem, namun perlahan-lahan menjadi miris, gloomy, dan … aku setuju dengan istilah “menakutkan”. Sampai suatu ketika, terjadi musibah yang membuat Brauer menjadi “gila”. Apa yang ia lakukan untuk menyembuhkan lukanya?

Dengan cepat, Dominguez membeberkan bentuk kegilaan Brauer yang begitu menyayat hati. Bab tiga akhir berjalan dengan plot begitu santai, tidak cepat, namun menghanyutkan. Tanpa sadar, pembaca akan memasuki bab empat. Di kira-kira lima belas halaman terakhir, Dominguez membeberkan kengerian yang diakibatkan oleh sebuah keserakahan dengan cepat dan lugas, sekaligus mengungkap misteri perasaan yang sebetulnya disembunyikan Brauer kepada Lennon. Sampai halaman terakhir pun, pembaca seolah sengaja dipermainkan, dibuat tak rela bahwa buku ini tiba-tiba sudah selesai!

Terjemahan Agustinus atas tulisan Dominguez ini pun menarik. Berbagai diksi langka ia pilih untuk rangkaian kalimat deskriptif, hingga memaksa pembaca untuk melirik kamus beberapa kali. Kalimat Dominguez direpresentasikan dalam larik-larik panjang, sarat koma anak kalimat sana-sini, dan berbuntut panjang namun menghanyutkan pembaca tanpa sadar, juga menjadi ciri penuturan dalam sebagian besar bagian di buku tipis ini, sehingga para pembaca wajib berkonsentrasi saat membaca. Satu lagi, sebaiknya jangan coba-coba skimming – karena sensasi mencekam waktu membaca buku ini bisa hilang.

Seperti selentingan yang pernah disebut-sebut rekan Blog Buku Indonesia, bibliofil wajib meluangkan waktu dalam hidupnya untuk membaca buku ini. Betapa buku ini mengajarkan dampak kelam dari aktivitas menimbun buku, betapa keserakahan bisa berdampak begitu mengerikannya, dan betapa keterlambatan itu bisa mencetuskan rasa sesal yang sangat menyiksa.

Kurasa, buku ini memang awal yang tepat dalam misiku untuk menurunkan tinggi timbunan buku di sepanjang tahun 2017. Dan sekarang… aku cuma bisa berharap kekonyolan “buku ganda”-ku tadi itu tidak berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan nanti.

Kutipan Menarik

  • Buku-buku merangsek ke sekujur rumah, diam-diam, tanpa rasa bersalah. (hlm. 9)
  • Tapi sepanjang waktu bekerja, yang saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. (hlm. 27)
  • Saya mengeluhkan waktu buat membaca yang terlalu sedikit. (hlm. 33)

Miscellaneous and Ratings

  • Rumah Kertas on Goodreads
  • My rating: 4/5 (Goodreads), 8/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: TB Gramedia (Rp 34.000)
  • How to get this book: Gramedia.com (Rp 28.900, belum termasuk ongkos kirim)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s