Bomb: Persaingan Demi Senjata Paling Mematikan di Dunia (Steve Sheinkin, 2012)


Identitas Buku

Judul: Bomb: Persaingan Demi Senjata Paling Mematikan di Dunia
Original Title: Bomb: The Race to Build—and Steal—the World’s Most Dangerous Weapon
Penulis: Steve Sheinkin
Penerjemah: Putra Nugroho
Editor: Lian Kagura, Novikasari Eka S.
Genre: History, Non-fiction
Terbit: April 2015 (originally published: September 4, 2012)
Bahasa: Indonesia (terjemahan dari Inggris)
Penerbit: NouraBooks
Cover: Paperback
Tebal: 348 pages
ISBN-13: 978-602-130-697-0
Awards: Newbery Honor Book, Washington Post Best Book of The Year, dan Robert F, Sibert Award.

Sinopsis Official

Desember, 1938: Dunia gempar saat ahli kimia berkebangsaan Jerman menemukan fisi (pembelahan atom) pada uranium–sesuatu yang tadinya mustahil terjadi.

Pembelahan atom-atom uranium secara bersamaan akan melepaskan energi yang sangat dahsyat. Inilah cikal bakal bom terkuat yang pernah dibuat manusia!

Berita penemuan itu menyebar dengan cepat dan sampai di telinga ilmuwan Amerika. Mereka waswas Jerman akan membangun senjata ledak mahadahsyat yang bisa digunakan Hitler menaklukkan dunia. Einstein pun mengirimkan surat kepada Presiden Roosevelt, memperingatkan Amerika akan ancaman bom mematikan ini. Para ilmuwan terbaik dikumpulkan dan ditugasi membuat bom serupa–berlomba dengan para fisikawan Jerman.

Sontak seluruh dunia bersaing. Sabotase, operasi intelijen, pembunuhan, segala intrik dan taktik dikerahkan demi menjadi pemenang.

BOMB! Inilah kisah di balik penemuan senjata yang berpotensi menghapus semua spesies di planet bumi, yang bahkan sampai saat ini masih mengancam dunia.

Resensi

Kisah tentang bom atom di Perang Dunia II memang selalu mendebarkan. Dunia memandang penjatuhan bom atom di dua kota utama Jepang sebagai momentum yang memaksa Jepang menyerah di perang yang memakan waktu sekitar enam tahun itu. Selama ini pun, yang kuketahui cuma petualangan bom atom di bulan Juli-Agustus 1945, itu pun dari film-film dokumenter di saluran National Geographic. Namun, cerita di baliknya masih cukup misterius. Di sinilah buku ini memegang peran, yaitu sebagai penyaji sisi lain dari bagian gunung es yang terendam lautan itu, dengan bungkusan yang mendebarkan sekaligus membuat penasaran.

Tahukah kalian bahwa bom atom itu justru menjadi titik awal perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, yang tadinya justru bersekutu? Tahukah kalian bahwa agresivitas Amerika Serikat dalam menjatuhkan bom atom sebagian disebabkan oleh peralihan jabatan presiden dari Roosevelt ke Truman? Tahukah kalian tentang seberapa besar peran Norwegia dalam menentukan kekalahan Jerman di Perang Dunia II? Tahukah kalian tentang berapa jauh Jerman melangkah dalam upaya pembuatan bom superpower?

Kalau kalian belum tahu namun ingin tahu sisi ilmiah di balik Perang Dunia II, berarti buku ini tepat untuk kalian baca.

Penuturan yang bergaya naratif, mirip cerita thriller, membuat buku ini enak dinikmati dan tidak terasa seperti buku sejarah. Andaikan saja semua buku sejarah bisa ditulis seperti ini, pasti para pelajar akan bepersepsi bahwa sejarah adalah subjek yang menarik untuk disimak. Sheinkin menulis dengan format potongan bab pendek-pendek dan berpusat pada lingkaran beberapa tokoh. Ini cukup membantu kita sebagai pembaca untuk menikmati sekaligus membayangkan suasana di setiap lingkaran tokoh dengan mudah.

Ada empat bagian utama dalam kisah ini. Dimulai dari kegusaran para ilmuwan fisika soal situasi politik yang memanas, dibarengi dengan tantangan atas jiwa nasionalisme, kesalahpahaman, prasangka buruk, dan “serendipiti” bahwa Jerman baru saja menemukan teknologi fisi atom uranium yang digdaya. Lalu, kisah berlanjut pada paranoia yang tercipta lantaran Amerika Serikat begitu ingin menjadi penguasa di kalangan Sekutu, di Perang Dunia II. Mulai dari pabrik air berat Jerman di Vemork-Norwegia, upaya holocaust Hitler dan migrasi besar-besaran para ilmuwan Yahudi ke Amerika Serikat, seolah menunjukkan bahwa berbagai fakta memang berpihak ke Amerika Serikat. Kesigapan mereka bertindak memperlihatkan kekuatan kekompakan dalam satu visi, meskipun tak semua visi itu positif, tentunya. Berlanjut lagi ke bagian tentang perencanaan matang dan balapan perakitan bom melawan saingan yang justru tak diketahui sedang berada di mana dalam lintasan. Semakin memanasnya situasi perang turut menyulut api di urusan spionase dan di kalangan ilmuwan. Terakhir, kita diajak menyimak bagaimana finalisasi bom atom itu terjadi, hingga proses pengebomannya dan apa yang terjadi pada dunia usai bom dijatuhkan.

Kita diajak mengulik beberapa tokoh penting yang berandil besar dalam perwujudan bom atom. Robert Oppenheimer, profesor fisika genius asal Amerika Serikat yang teramat nasionalis, adalah pemimpin proyek pembuatan bom atom yang sangat rahasia. Harry Gold, seorang mata-mata Amerika, malah bekerja untuk menolong Uni Soviet; yang dalam semesta paralel “bekerja sama namun tak saling kenal” dengan Ted Hall, prodigi di bidang teknik nuklir yang bertekad kuat “menolong” Uni Soviet lantaran punya pandangan visioner soal dunia pascaperang. Knut Haukelid, seorang pemberontak asal Norwegia, adalah patriot bagi pasukannya dalam “menghentikan” Jerman menguasai penjuru Eropa. Juga dipaparkan peran para informan dan insinyur bertukar informasi, mulai dari cara paling konyol, hingga seribu satu cara pintar yang tak terpikirkan oleh manusia zaman modern. Mendebarkan, itu sudah jaminan.

Satu hal yang patut disayangkan soal buku ini, adalah soal kesalahan ketik yang cukup mengkhawatirkan, menurutku. Kesalahan ketik yang muncul dapat dikatakan amat banyak, terutama menyangkut nama orang dan huruf yang lenyap. Selain itu, terjemahan kalimat yang tidak pas membuat beberapa tuturan terasa artifisial, tidak mulus, dan terkadang malah tidak bernyawa. Inilah dua hal yang menurutku perlu diperbaiki secara menyeluruh di edisi revisi, jika nanti buku ini dicetak ulang. Kelemahan minor lainnya adalah kurangnya gambar ilustrasi, namun ini sudah coba diakali di setiap awal bab besar, di mana ada beberapa foto hitam putih yang disajikan.

Buku ini direkomendasikan buat para penggemar sejarah yang disampaikan lewat bahasa populer, atau sekadar untuk dinikmati penggemar thriller yang ingin tahu bagaimana menjaga tensi tulisan hingga akhir.

Miscellaneous & Ratings

  • Bomb [on Goodreads]
  • My rating: 4/5 (Goodreads), 7/10 (Personal)

3.5-star

  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: Gramedia.com (Rp 54.400, belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get this book: Belbuk.com (Rp 54.400, belum termasuk ongkos kirim)

Save

Advertisements

2 thoughts on “Bomb: Persaingan Demi Senjata Paling Mematikan di Dunia (Steve Sheinkin, 2012)

  1. Saya sudah lama ingin membaca buku ini. Dan membaca kalimat “Penuturan yang bergaya naratif, mirip cerita thriller, membuat buku ini enak dinikmati dan tidak terasa seperti buku sejarah” semakin buatku ingin segera membacanya. Terima kasih ulasannya, Mbak Henny!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s