Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh: Supernova #1 (Dee Lestari, 2001)


Identitas Buku

Title: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Supernova #1)
Author: Dee Lestari
Published: 2001 (republished 2012)
Publisher: Bentang Pustaka
Cover: Paperback
Genre: Science Fiction, Romance
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 322 halaman
ISBN-13: 978-602-881-172-9

Sinopsis Official

Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roman yang diberi judul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka merepresentasikan dinamika yang terjadi antara tokoh Kesatria dan Putri dalam fiksi Dimas dan Reuben. Tokoh ketiga, Bintang Jatuh, dihadirkan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva, yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas.

Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre-Rana-Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama.

Resensi

Sebagai penggemar angka ganjil yang baik hati dan tidak sombong, aku mulai membaca Supernova dari Petir (buku #3), diikuti Gelombang (buku #5), dan kini ke Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (buku #1). Namun ketika membuat review, kurasa lebih enak jika aku mulai dari buku #1 saja dulu.

Dulu sekali, waktu buku bajakan masih gampang dibuat, aku pernah dapat file buku ini (yang masih berupa terbitan Truedee) dalam format pdf. Bajakan, jelas. Eh tapi, terus terang, tak bisa dibaca, lho. Bikin mata sakit. Jadi, bertahun-tahun kemudian, aku memutuskan untuk membeli ulang versi terbitan Bentang Pustaka, demi “punya buku ini dalam versi yang bisa dibaca”.

Novel yang disebut-sebut sebagai salah satu acuan penting novel-novel fiksi ilmiah di Indonesia ini rupanya dimulai dengan ribet. Puluhan keping berjejalan. Dimas dan Reuben, pasangan sesama jenis yang bertekad hidup bersama dan menuntaskan sebuah karya kolaborasi, bertukar istilah fisika kuantum seperti pembeli dan penjual bertukar obrol di pasar. Aha, ini lucu, meskipun agak menjengkelkan. Aku bahkan pernah berhenti di halaman 50 (akhir sampel gratisan dari Google Play Books) dan tidak mau lanjut cukup lama, sebelum akhirnya “kembali ke jalan yang benar” setelah digoda oleh dinamika Ferre dan Rana.

Ya, salah satu faktor yang membuatku stay terus dengan KPBJ, meskipun lambat, adalah konsep cerita berbingkai. Frame story. Konsep yang cukup unik untuk novel genre fiksi ilmiah, bukan? Hebatnya, Mbak Dee berhasil membuat para pembacanya justru lebih tertarik pada kisah Ferre-Rana-Arwin-Diva, ketimbang “sang pembingkai” Dimas dan Reuben itu sendiri. Barangkali karena cerita dalam itu tidak terlalu bertabur istilah, ya? Ah, tidak juga, menurutku. Bagian Ferre-Rana ini menarik. Otak Ferre yang tak henti berpuisi ini tak hanya sukses menyegarkan dan mempercantik alur KPBJ, namun juga menambah unik format kisah novel ini. Tak cuma frame story, namun narasi bercampur puisi. Belum lagi, puisi yang disajikan Mbak Dee ini benar-benar mengajarkan sesuatu soal diksi indah. Bravo. Ferre dan Rana juga menyajikan dinamika yang tak lazim, ketika disandingkan dengan berbagai kisah romantis yang ada pada umumnya. Kehadiran karakter Arwin yang misterius juga dirasa cukup mengganjal di awal, tapi pada akhirnya – kurasa semua setuju – tak ada pembaca yang bisa membenci Arwin atas apa pun yang terjadi.

Nah, ketika karakter Arwin memutus sebuah rantai, di sinilah KPBJ mencapai titik baliknya. Jika alur KPBJ bisa dikatakan lambat di depan, di titik itulah, alur ini berubah menjadi cepat dan sempat agak membingungkan di bagian belakang. Ketika karakter Rana lenyap dan kehadirannya di radar Ferre tergantikan oleh Diva, pembaca mulai dibuat kebingungan dalam berbagai aspek. Soal realitas: Siapakah yang real, Dimas-Reuben atau Ferre-Diva? Lalu soal filosofi kehidupan. Sebenarnya Ferre tadi itu ngapain dan Diva ngapain? Nah! Bagian belakang inilah yang kurasa paling mengejutkan sekaligus jadi nilai plus cukup signifikan. Bahkan ketika menilik IEP yang belum kubaca, aku bertanya-tanya apakah Ferre akan kembali?

Menyoal kelemahan, sudah sempat kusinggung di depan, yaitu soal kerumitan bahasa. Petir yang begitu sederhana namun kocaknya tak berhenti-henti, kemudian diikuti Gelombang yang serius – Alfa Sagala terlalu serius, kurasa – … dan ini semua bermula dari keisengan Dimas dan Reuben yang frekuensi linguistiknya satu namun sulit berpadu dengan manusia biasa. Kurasa, aku masih termasuk golongan manusia biasa, sehingga tidak selalu paham dengan semua istilah yang digeber. Meskipun sebetulnya apa yang dibicarakan Dimas dan Reuben ini menarik, tetap saja penyajian berputar ini agak mengganggu. Alih-alih mencari tahu makna istilah, pembaca dibuat lelah. Satu, karena glosarium tidak lengkap; dan dua, karena sebetulnya – menurutku, setidaknya – semua keruwetan itu bisa ditulis dalam bahasa yang sederhana. Selain itu, aku masih termasuk pembaca yang setuju dengan Stephen Hawking. “Jika Anda belum bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa kasual yang dipahami semua orang, berarti Anda belum benar-benar paham.” Itu yang kurasakan, sejujurnya.

Ah, semoga saja Akar, Partikel, dan IEP (Intelegensi Embun Pagi) tidak seribet dan seruah KPBJ.

Eeeeh, satu lagi. Jangan baca yang versi bajakan. Selain itu menunjukkan bahwa kalian tidak menghargai Mbak Dee, kalian juga bisa sakit mata karenanya. Ini serius.

Kutipan Menarik

  • Mimpi merupakan bentuk lain dari kreativitas. Menjadi kreatif tidak kenal siang atau malam. (hlm. 32)
  • Tunggu sampai saya bikin sekolah sendiri saja. Sekolah yang kasih ilmu, bukan kasih titel. (hlm. 97)
  • Hingga tanpa mereka sadari, mereka semua telah becermin bersama-sama. (hlm. 197)
  • Ini bukan perjalanan yang mulus, melainkan perjalanan Anda untuk menemukan diri. (hlm. 305)

Miscellaneous and Ratings

3-star

  • Aku membacanya dalam bentuk: SCOOP
  • How to get this book: Gramedia.com/SCOOP (Rp 49.900)
  • How to get this book: Bukabuku (Rp 59.200, belum termasuk ongkos kirim)

Save

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s