The Time Keeper (Mitch Albom, 2012)


Identitas Buku

Title: Sang Penjaga Waktu
Original Title: The Time Keeper
Author: Mitch Albom
Indonesian Translator: Tanti Lesmana
Published: 2012 (edisi cover baru, cetakan IV: Oktober 2016)
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Paperback
Genre: Fantasi Inspiratif, Fiksi Umum
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 312 halaman
ISBN-13: 978-602-033-353-3

Sinopsis Official

Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabadabad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu kepada mereka.

Resensi

Kamu merasa waktumu selalu kurang? Merasa seperti dikejar-kejar oleh jarum jam dan segala-galanya seolah tak pernah selesai, sementara di sisi lain kamu dengki melihat orang lain yang bisa berleha-leha tanpa perlu khawatir dengan deadline?

Mungkin kamu perlu membaca novel ini.

Sebelumnya, aku baru membaca dua dari empat belas (benarkah?) petuah Morrie di buku Mitch Albom yang lain (kamu tahu Tuesdays with Morrie? Nah, buku itu). Dari situ, aku menyimpulkan bahwa penulis yang satu ini aslinya adalah seorang penulis motivasi, yang entah bagaimana (ya, memang aku tidak terlalu tahu banyak) terkadang bisa meramu motivasi yang mau ia bagikan dengan bumbu fiksi yang tidak basi, namun juga tidak terkesan dipaksakan. Sesuai ekspektasi, Mitch Albom menyajikan premis yang menarik seputar “tidak ada waktu”, dengan membalik pesan tersebut menjadi sebuah tanda tanya yang mungkin kerap kita pertanyakan dalam kepala sendiri: Mengapa Tuhan membatasi waktu kita?

Kisah ini menyajikan Victor Delamonte, seorang pengusaha kaya raya yang sedang menanti maut karena bergelut dengan penyakit ganas; dan Sarah Lemon, seorang pelajar sekolah menengah yang cerdas di bidang sains namun tidak cantik dan belum lama mengalami perpisahan dengan orang tuanya. Victor acuh akan sang istri, Grace, padahal Grace begitu mencintainya. Di sinilah pembaca mulai diperkenalkan dengan benang merah yang terhubung antara Victor ke Sarah, di mana Sarah pun ternyata mengalami hal yang sama dengan sang ibu yang telah menjadi orang tua tunggal. Bab demi bab menuturkan bagaimana masa lalu dan latar belakang keduanya. World building yang disajikan juga tidak neko-neko, tidak berlebihan – porsinya pas.

Nah, tak lama, pembaca segera dihadapkan pada konflik yang sebenarnya di antara mereka berdua. Di saat Victor meminta lebih banyak waktu dan bercita-cita untuk hidup abadi, Sarah justru jatuh ke dalam depresi ketika ia menghadapi kenyataan pahit seputar kehidupan sosialnya. Di sinilah Dor, sang tokoh utama, diselipkan perlahan-lahan. Diceritakan berasal dari suatu tempat yang jauh dan “dianugerahi kemampuan khusus” karena kemurkaan Tuhan, Dor diberi tugas untuk mendengarkan keluhan Sarah dan Victor, serta “menyadarkan” mereka berdua. Berhasilkah Dor mengubah nasib kedua orang yang tak seharusnya bertemu itu?

Perihal struktur, novel ini menggunakan struktur bab pendek-pendek, yang cocok untuk dibaca oleh orang-orang yang (mengaku) tidak punya banyak waktu. Namun, bukan cuma itu yang ditawarkan penulis. Beliau juga sesekali menyelipkan cliffhanger dan teaser, tepat ketika pembaca sudah mulai merasa bosan dengan penuturan yang terkadang masih “terlalu filosofis”. Selipan ini membuat proporsi emosi tegang dan datar menjadi seimbang, sehingga pembaca tetap saja tertarik untuk membaca terus dan terus lagi! Soal teaser, memang kerapian plot yang disusun Albom patut diacungi jempol, meskipun menurutku ada beberapa bagian yang seperti “mau memasang Chekov’s gun namun gagal”. Misalnya bab 16, yang menceritakan tentang berhentinya waktu. Itu tidak terlalu jelas menggambarkan paralelisme dengan kejadian yang mana (atau aku yang terlewat?).

Lalu, bagaimana soal ending cerita ini? Soal ending ini jangan khawatir, karena sejak awal aku sudah menduga ending cerita ini termasuk positif, dan tebakanku cukup mengenai sasaran. Cara Albom melukiskan masa depan “baru” Sarah dan Victor juga menarik; aku pun menyukainya. Juga bagaimana Albom menutup buku dengan menggambarkan nasib sang waktu dan penjaganya. Benar-benar bisa dibilang menyentuh. Secara pribadi, aku menganggap buku ini sebagai perwujudan surealisme atas tarik ulur antara masalah ketersediaan waktu dan hasrat manusia. Menarik!

Akhir kata, buku ini berhasil membuatku penasaran dengan tulisan-tulisan Albom lainnya, terutama Magic Strings of Frankie Presto. Memang, ujung-ujungnya kembali ke urusan motivasi inspirasi. Namun, kalau kalian penasaran bagaimana cara membalur kisah inspiratif dengan fiksi yang mengalir lembut, buku ini sangat direkomendasikan buat kalian.

Kutipan Menarik

  • Coba pikirkan kata “waktu”. Kata ini begitu banyak digunakan dalam ungkapan. Tetapi, dulu tidak ada kata untuk semua itu. Sebab tidak ada seorang pun yang menghitung. (hlm. 31)
  • Manusia tanpa kenangan dan ingatan ibaratnya hanyalah sebuah cangkang. (hlm. 175)
  • Waktu bukanlah sesuatu yang bisa kaukembalikan. Saat berikutnya mungkin merupakan jawaban atas doamu. Menolaknya berarti menolak bagian paling penting dari masa depan. (hlm. 275)
  • Butuh waktu berabad-abad (baginya) untuk memahami hal terakhir yang dikatakan laki-laki tua itu kepadanya. (hlm. 288)

Miscellaneous and Ratings

 

  • Dibaca dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: Gramedia.com (Rp 49.300 untuk versi cetak belum termasuk ongkos kirim, Rp 38.250 untuk versi e-book Scoop)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s