#BBIHUT6: Tentang Kumpulan Cerita Pendek


Setelah gagal ikut kemarin karena sedang suasana-hati-tak-enak (baca: bad mood) dan malas, hari ini aku tiba-tiba mau ikutan ngepost untuk merayakan ultah keenam Blog Buku Indonesia. Kali ini, aku mengangkat tema “Kumpulan Cerita Pendek”.

Apa Itu

Kumpulan cerita pendek, sesuai namanya, adalah buku yang memuat (biasanya) belasan cerita pendek dari satu penulis yang sama. Biasa juga disebut buku kumcer. Varian darinya adalah antologi, yaitu kumpulan cerita pendek yang berasal dari penulis yang berbeda-beda.

Aku mulai menaruh perhatian pada kumcer secara khusus setelah mencoba latihan membuat proyek antologi (daring saja, tidak dicetak, kok; dan gagal pula, bahahahaha). Rupanya membuat kumpulan cerita itu tidak segampang membuat kliping karya sendiri lalu dicetak. Pembaca umumnya mencari irama – baik itu kesamaan tema, adaptasi dari karya seni lain, ataupun suatu benang merah; yang setidaknya bisa menyatukan semua cerita pendek di dalam buku tersebut menjadi satu kesatuan dan tak mudah dilupakan oleh pembaca. Sementara, pada kenyataannya pun, kumcer dan antologi bukanlah produk yang mudah dipasarkan. Biasanya kumcer dan antologi ini jauh dari promo populer oleh penerbit, sehingga jika kamu menaruh minat khusus dengan format ini, tentu saja kamu harus rajin-rajin mengecek situs penerbit yang kamu incar.

Yang sudah

Antara April 2016 hingga Maret 2017, aku tidak terlalu ingat ada berapa kumcer yang sudah kubaca. Di pergantian Maret menuju April, aku menghabiskan tiga kumcer dari Ayu Utami, ketiganya dari Seri Horoskop (Capricorn, Sagitarius, dan Scorpio). Konon, tiga buku ini adalah hasil rajutan Ayu Utami sendiri dengan beberapa anak didiknya di Komunitas Salihara, yang ditulis pada tahun 2013. Sesuai judulnya, tiap kumcer ini mengangkat benang merah tentang karakteristik manusia berdasarkan (kalau kamu percaya) zodiaknya. Buku-buku ini menarik, meskipun menurutku tidak terlalu istimewa.

Di awal 2017 ini, aku juga sudah menyelesaikan After Office Hours (review menyusul): antologi horor dari Jia Effendie, Eve Shi, Prisca Primasari, Moemoe Rizal, dan Guntur Alam. Antologi horor ini sebetulnya sudah kuincar sejak terbit, namun karena terlupakan oleh tumpukan buku lainnya, aku pun lupa mengejar-ngejarnya (uh!). Favoritku dari antologi ini adalah tulisannya Mas Guntur yang sudahlah panjang banget, plotnya pelan, seram sekali pula! Hahaha.

Yang belum

Mulai dari Dead Letters: An Anthology dari Conrad Williams dan sejumlah penulis lain, yang semuanya menulis fiksi tentang surat-surat yang tak pernah sampai ke penerima seharusnya. Aku baru membaca satu cerita yang paling depan: The Green Letter dari Steven Hall. Cerpen ini, yang sudah ajaib sejak paragraf pertama; benar-benar kreatif, absurd, gila, dan twist-ending: Tipe bacaan kesukaanku banget! Nah, entah bagaimana kisah-kisah lainnya, belum sempat dilanjutkan, nih.

Selanjutnya, ada The Seven Good Years dari Etgar Keret, cerpenis legenda asal Israel. Buku ini sebetulnya mengusung topik berat yaitu perdamaian; namun cara Keret yang menyampaikannya dengan santai (dan banyak satirnya) ini membuat kumcer yang satu ini menjadi menarik. Apalagi, ia mengaitkan bab-bab singkatnya itu dengan masa pertumbuhan anaknya dari lahir hingga usia tujuh tahun. Per 11 April 2017, aku baru menyelesaikan sekitar 40% dari buku ini.

Yang akan datang

Pada dasarnya, ada masa-masa di mana aku terlalu lelah untuk membaca cerita panjang-panjang. Di situlah aku merasa kebutuhan akan kumcer pasti masih ada nanti. Beberapa kumcer yang saat ini sedang dalam target To-Read-ku di Goodreads pun sudah berbaris.

Ada Cerpen Pilihan Kompas 2012, yang dihadiahkan salah satu teman sesama penulis di Storial dalam giveaway yang ia selenggarakan. Kumpulan cerita ini selalu terbit setiap tahun, dan biasanya dijadikan referensi seperti apakah cerita pendek yang “dimaui” oleh Harian Kompas. Selain itu, ada Trigger Warning dari Neil Gaiman (aku hampir kena prank gara-gara buku ini!), Aksara Amananunna dari Rio Johan (yang konon sempat fenomenal di 2014-2015 kemarin, dan seperti biasa aku “terlambat panas”), dan Elegi dari Dewi Kharisma Michellia.

Sementara dari ranah nonfiksi, ada Cruising Attitude dari Heather Poole yang sudah menunggu. Buku ini sedikit banyak mirip Cabin Notes-nya Pratiwi Hidayat dan berisi cerita-cerita singkat tentang ragam pengalaman pramugari dalam menghadapi penumpang pesawat yang bertingkah aneh-aneh dalam penerbangan.

 

Begitulah pengalaman dan pandanganku soal kumpulan cerita pendek. Bagaimana dengan kalian?

Advertisements

6 thoughts on “#BBIHUT6: Tentang Kumpulan Cerita Pendek

  1. Halo, salam kenal :)))

    Aku sendiri penggemar berat cerpen nih. Terakhir baca Dijual: Keajaiban terbitan Diva Press, keren dah pokoknya. Pengen juga nyoba Etgar Keret, tapi belum kesampaian.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s