#BBIHUT6: Tentang Buku Nonfiksi


Pernah sekali waktu (sekitar Mei sampai dengan November 2016, aku lupa persisnya), blog bukuku ini dikhususkan hanya untuk buku-buku nonfiksi.

Nah, di postingan marathon BBI HUT 6 hari ini, aku akan membahas soal masa-masa itu, soal buku-buku nonfiksi, mengapa aku memutuskan untuk mengubah kembali blog bukuku menjadi blog buku campuran, dan minutiae lain tentang nonfiksi.

Era Nonfiksi

Sejak November 2014 sampai dengan Juni 2016, bisa dibilang aku nyaris selalu melahap buku nonfiksi saat membaca. Mulai dari buku motivasi (uhuk), buku tips-tips (dari yang tokcer hingga yang ngaco), biografi/autobiografi, sampai buku tentang sejarah ataupun politik. Entah mengapa, di masa-masa itu aku kurang tertarik dengan buku fiksi. Membaca novel saja hampir tidak pernah.

Maka tak heran, di awal 2016 aku mengubah blog buku ini menjadi blog khusus nonfiksi. Kebetulan belum lama aku baru bergabung dengan komunitas Blog Buku Indonesia. Setelah melihat bahwa tidak ada satu pun anggota BBI yang fokus ke nonfiksi, aku memutuskan untuk mencobanya.

Hasilnya: Luar biasa. Nol besar. LOL.

Kenapa begitu?

Perjuangan untuk dapat view luar biasa susahnya. Dapat komentar, boro-boro (hingga detik ini pun, aku sangat jarang mendapatkan komentar di blog bukuku ini. Silakan dicek). Belum lagi perjuangan buat diterima di kalangan pecinta buku pun, susah sekali.

Aku mencoba mengamati pasar dan para penggemar buku. Rupanya, buku nonfiksi bukan merupakan ranah favorit para pembaca. Sebagian besar orang Indonesia masih jauh-jauh lebih menyukai buku fiksi ketimbang nonfiksi. Dari survei yang sempat kutanyakan langsung ke beberapa orang, umumnya mereka berpendapat bahwa buku nonfiksi itu seperti buku pelajaran atau textbook yang dekat dengan kesan tua, mengundang kantuk, dan membosankan.

Era peralihan kembali

Akhir 2016, aku memutuskan mengubah kembali blog ini menjadi blog buku campuran. Alasannya memang bodoh: Karena blog-ku sudah berumur dua tahun, tetapi view-nya bahkan belum tembus angka lima ribu. Ya, itu saja. Bodoh, kan. Setelah itu, memang blog ini mengalami peningkatan view, meskipun tidak sampai tinggi sekali. Selain itu, sebetulnya aku juga sudah mulai “tobat” dengan mencampur bacaan, antara fiksi dan nonfiksi, supaya seimbang. Jadinya akan aneh kalau blog ini tetap ngomongin nonfiksi saja terus.

Hingga April 2017 sekarang pun, aku masih menerapkan sistem campuran untuk blog buku ini.

Plus

Satu faktor positif yang jelas-jelas dimiliki oleh buku nonfiksi adalah bahwa buku-buku nonfiksi membantu mengisi otak dengan hal-hal faktual dan konseptual yang nyata dan sudah terbukti dengan peristiwa. Biografi ataupun autobiografi para tokoh dunia, buku-buku sejarah, rangkuman peristiwa, dan sorotan atas suatu polemik adalah contoh-contohnya. Kita dihadapkan langsung dengan contoh sukses atau contoh gagal, bukan sekadar pengandaian.

Selain itu, faktor positif kedua yang tak kalah pentingnya adalah bahwa buku nonfiksi sangat bisa diandalkan untuk menjadi bahan riset buat penulis, baik penulis nonfiksi itu sendiri, maupun penulis fiksi. Lho, menulis fiksi juga butuh buku nonfiksi? Iya sih, menurutku (karena aku sudah mengalaminya sendiri, haha). Jadi, untuk menghasilkan tulisan fiksi yang berkesan nyata, dekat dengan pembaca; penulisnya jelas perlu melakukan riset, dan tentu saja sumbernya adalah buku nonfiksi. Ternyata, kebutuhan ini pun tak terbatas untuk penulis genre tertentu. Jangan dikira hanya penulis fiksi ilmiah (science fiction) yang perlu mencari-cari logika ilmiah dan meretasnya buat dijadikan cerita, atau penulis fiksi sejarah (historical fiction) yang perlu mempelajari peristiwa di masa lalu untuk dijadikan latar ceritanya. Kurasa nyaris semua jenis tulisan fiksi tetap membutuhkan buku nonfiksi untuk membuat klaim-klaim di dalam cerita tersebut menjadi tetap sahih.

Beda lagi kasus buku-buku sejenis popular science, bagian dari nonfiksi yang juga kufavoritkan. Belajar memang mengundang kantuk, tetapi popular science membuat kantuk itu jadi hilang karena penyampaian yang menarik (menurutku lho ini). Contoh buku popular science yang bagus dan sudah pernah kubahas di blog ini, misalnya How Music Got Free (membahas sejarah musik popular dunia di era 1990-an dan 2000-an) dan Right Hand Left Hand (membahas lateralisasi otak manusia dan pemilihan sisi dominan tubuh).

Minus

Buku nonfiksi, sama dengan fiksi, ada banyak sekali ragamnya. Sayangnya, tidak semua memiliki kualitas yang baik. Ada juga buku nonfiksi yang sama sekali tidak bisa diandalkan untuk bahan referensi.

Selain itu, buku nonfiksi yang mengulas pendapat pribadi seseorang dalam wacana tertentu, terkadang juga tidak terlalu “bermanfaat” dalam konteks tertentu. Jangan lupa bahwa beberapa buku nonfiksi pun pernah disangka sebagai metode propaganda, penyampaian ajaran yang keliru, atau sekadar metode dongkrak popularitas tokoh tertentu – sementara apa yang disampaikan dalam bukunya bisa dibilang nol.

Yang terakhir, membuat resensi nonfiksi itu susah! Kalau dalam membuat resensi fiksi itu kita bisa menyembunyikan akhir cerita dengan apik, tidak halnya dengan nonfiksi. Sedikit banyak pasti hal yang bocor akan cukup banyak.

Akhir kata

Kalian bisa cek daftar buku nonfiksi yang pernah kubuatkan resensi dan tinjauannya di sini.

Advertisements

One thought on “#BBIHUT6: Tentang Buku Nonfiksi

  1. Aku salah satu penggemar fiksi, tapi aku juga baca nonfiksi –jarang sih tapi lol (kalau lagi concern sama topik tertentu) dan tahun ini aku pengin memperbanyak baca nonfiksi. Semangat menjadi idealis dan tetap realistis! Kamu keren, berani jadi yang berbeda dan berani menyesuaikan diri 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s