#BBIHUT6: Mengenal new BBI-er: Dheril Sofia (BBI 1701352)


Setelah enggak sempat karena berbagai alasan baik yang memang alasan maupun yang dibuat-buat, akhirnya aku tiba di postingan terakhir dalam helatan maraton post #BBIHUT6 ini. Nah, di postingan terakhir dalam rangka #BBIHUT6 di blog-ku ini, aku akan menyajikan profil salah satu rekan BBI yang baru bergabung di Januari 2017 yang lalu.

Namanya Dheril Sofia, seperti yang kalian bisa lihat di judul postingan ini. Kalian bisa memanggilnya dengan Sofia saja. Sebelum mengenalnya sebagai sesama anggota BBI, aku terlebih dahulu mengenal Sofia di forum kepenulisan StorialCo, di mana di sana ia terkenal sebagai penulis The Neighborhood, Marry Me Cookies, dan masih banyak cerita-cerita lain yang terbilang cukup populer. Selain hobi menulis, Sofia juga ternyata sangat hobi membaca. Bisa dilihat dari blog bukunya; bahwa Sofia terbilang komprehensif dalam membuat review setiap buku yang dibacanya. Salah satu ciri yang membedakannya dengan blogger BBI lain adalah ia sering mengulas writing hacks, yaitu trik-trik kepenulisan yang digunakan dalam buku yang ia baca. Menarik, bukan?

Nah, untuk mengenal Sofia lebih jauh, kalian bisa simak hasil wawancaraku dengannya berikut ini!

– – – –

Hai, Sofia! Izin langsung nyosor, ya, berhubung kita udah kenal sebelumnya. Eeh… ‘kan yang lain belum pada kenal. Perkenalkan dirimu dulu, dong.

Haha, oke. Ini: Menjadi anak pertama beradikkan dua bocah laki-laki, sering membuatku merasa seperti Kak Ros dan adik-adikku Upin & Ipin. Aku suka baca sebesar aku suka kepoin orang. Aku mengaku suka menulis tapi masih moody. Aku memulai blog Dunia Sofia sejak tahun 2010. Aku enggak nyangka akan mirip satu judul buku Joestein Gaarder, Dunia Sophie. Yup, panggil aku Sofia (Opi juga boleh).

By the way, sejak kapan sih kamu senang baca buku?

Sejak kecil, dong! Aku ingat satu hal dari kenangan masa kecil yang masih sangat melekat sampai sekarang. Ada satu hal yang hampir setiap harinya aku tunggu-tunggu dulu. Ayah pulang dari kantor bawain majalah dan komik Disney (Mickey Mouse, Donald Bebek dkk). Majalah dan komik bekas saja sih yang dibeli di dekat kantornya dulu. Kertas-kertasnya sudah menguning tapi tebal. Gambar di dalamnya hitam putih dan versi Mickey Mouse-nya yang masih lama (yang kalau diinget dan dibandingin dengan yang sekarang, Mickey Mouse-nya yang dulu agak serem). Kolom-kolom komiknya ngingetin aku sama film Disney yang masih hitam putih.

Sesekali aku juga dapat komik seperti itu yang masih baru. Ayah enggak ngajarin atau bacain komik-komik yang dia bawa. Cuma dikasihkan saja dan aku yang masih enggak tahu cara baca ya cuma liatin gambarnya. Ibu yang ngajarin aku membaca. Lalu aku mulai kenal sama majalah anak Indonesia yang legendaris banget itu. Iya, Bobo! Bagian favoritku itu Bona dan Rong-Rong. Nah, karena ibuku dulu guru TK (and obviously aku juga muridnya) di kelas sering dibacain dongeng, dan di rumah pun aku sering minta ibu baca ulang (hahaha).

Wahahahaha, jadi semi-curcol ternyata, Saudara-saudara. Baiklah, lanjut… Apakah orang tuamu mendukung hobi membaca itu sendiri?

Hobi membacaku memang berkat kedua orangtua, meskipun mereka berdua juga mungkin saja tidak menyadari hal-hal kecil yang pernah mereka lakukan seperti yang kuceritain tadi. Aku bersyukur. Tapi untuk saat ini, ketika aku sudah bisa beli buku sendiri, ibu yang sering komentar “kok buku lagi? beli buku lagi nih?” setiap aku pulang dari toko buku atau ada kurir ngantar paket. Hahaha. Maklum yah ibu-ibu. Mereka enggak mendukung secara finansial atau bikin waktu khusus keluarga baca buku bareng.

Omong-omong, buku seperti apa sih yang jadi favoritmu? Adakah genre tertentu, atau metode penulisan tertentu yang kamu sukai?

Buku yang memiliki bagian diriku yang belum kusadari sebelumnya. Atau buku yang mewakili apa yang enggak bisa aku katakan. Soal genre sekarang aku benar-benar terbuka dan melek setelah terlalu lama berkutat dengan romance dan yang semacamnya. Aku tidak sering menemukan metode penulisan selain narasi pada umumnya, tapi aku juga tertarik membaca buku-buku dengan format penulisan epistolari atau yang model tulisannya seperti surat.

Selain itu, buku favoritku justru banyak yang datang dari buku anak-anak. The Book Thief (Markus Zuzak), The Invention of Hugo Cabret dan Wonderstruck (Brian Selznik).

Wah, banyak juga ya variasi buku favoritmu. Rupanya kamu terbuka buat berbagai genre, juga terbuka buat berbagai format penulisan novel. Hm…. Kalau begitu, kamu punya anggaran khusus untuk beli buku setiap bulannya? Atau spontan aja?

Enggak ada anggaran tertentu sih. Dulu seringnya beli satu buku yang paling aku pengen dan langsung baca sampai kelar. Enggak beli buku sebelum buku yang dibaca selesai. Tapi sekarang kena sindrom penimbun buku (LOL). Untuk mengatasinya, aku menentukan dulu apa saja yang mau kubeli, memastikan itu bukan spontanitas atau bikin aku boros. Tapi seringnya gagal (hahaha).

We all do, LOL =)) Nah, selanjutnya. Lihat-lihat Sofia ini rajin menulis, hehe (eh ya, Sofia ini pemenang salah satu lomba cerpen bergengsi di Storial pas Valentine lalu, lho!) Apakah Sofia punya keinginan untuk menghasilkan buku sendiri?

Maksudnya nulis buku? Wah, pastinya punya keinginan ke sana, dong, meskipun untuk satu hal ini aku masih perlu disiplin ketat. Kasih wejangan dong. Hahaha.
(Catatan host: Lho? Minta wejangan ke penulis yang udah ahli dong, masak ke aku? LOL)

Masih berhubungan nih, pertanyaan  berikutnya. Apakah kamu punya keinginan jangka panjang yang berhubungan dengan buku? Kalau ada, boleh kasih tahu kita-kita?

Keinginan jangka panjang… ya tentu saja bisa menghasilkan/menulis buku sendiri, seperti yang udah kujawab di pertanyaan sebelumnya. Buat blog bukuku, Dunia Sofia, yaa semoga masih bisa terus me-review buku sampai seterusnya.

Amin! Oke, lanjut. Kudengar kamu lebih senang buku fisik ya daripada digital? Ini semacam topik yang kayanya enggak bakal selesai-selesai kalau diperdebatkan. Jelasin dong kenapa?

Buatku sih, masih belum ada yang bisa menggantikan sensasi baca buku fisik, pegang bukunya, bolak-balik halaman, ngerasain tekstur kertasnya, ngerasain kesel kalau buku dipinjam ada yang robek atau kelipat. Little things. Sementara membaca buku secara digital sangat praktis dan menolong ketika dibutuhkan. Aku masih lebih suka buku fisik, tapi emang enaknya itu punya fisik dan versi digitalnya.

Oke! Kita lanjut ya, sekarang pertanyaan-pertanyaan tentang BBI. Kapan nih ceritanya Sofia kenal BBI?

Sebenarnya sudah lama sih, sekitar tahun 2012. Namun aku baru gabung BBI ini di tahun 2017. Better late than never ajalah yaa, hahaha.

Sejauh ini, bagaimana peran BBI dalam memengaruhi kebiasaanmu membaca dan ngeblog?

Tujuan awal gabung ke BBI juga biar aku lebih disiplin buat ngeblog dan mereview bacaan. Ngeliatin blog-blog yang asyik bahas buku ini dan itu, ngadain acara bagi-bagi buku di giveaway, itu seru. Itu yang bikin kegiatan ini enggak jadi beban. Haha.

Apa harapan kamu buat BBI ke depannya?

Langgeng. Sakinah mawaddah warrahmah. #eh

 

Aduh, hahahaha! Menarik ya, diskusi dan ngobrol-ngobrol dengan Sofia ini. Buat kalian yang pengin kenalan lebih jauh dengan Sofia, bisa sambangi blog-nya di sini, atau follow Twitter-nya di @sofiadheril.

Sekian dulu sesi kita bersama Sofia, dan sekian pula keikutsertaanku di maraton #BBIHUT6 tahun ini. Sampai bertemu lagi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s