We Should Hang Out Sometime (Josh Sundquist, 2016)

Identitas Buku

Judul: We Should Hang Out Sometime
Penulis: Josh Sundquist
Genre: Autobiography
Terbit: Januari 2016 (versi paperback), Desember 2014 (versi hard cover)
Bahasa: Inggris
Penerbit: Little Brown
Cover: Paperback
Tebal: 348 pages
ISBN-13: 978-031-625-100-6

Sinopsis Official

Josh Sundquist only ever had one girlfriend.
For twenty-three hours.
In eighth grade.

Why was Josh still single? To find out, he tracked down the girls he had tried to date and asked them straight up: What went wrong?

The results of Josh’s semiscientific, wholly hilarious investigation are captured here. From a disastrous Putt-Putt date involving a backward prosthetic foot, to his introduction to CFD (Close Fast Dancing), to a misguided “grand gesture” at a Miss America pageant, this story is about looking for love–or at least a girlfriend–in all the wrong places.

Resensi

Aloha! Ini review buku nonfiksi pertamaku setelah nyaris lima bulan “vakum”.

Masih dengan buku-buku nonfiksi tentang kisah hidup seseorang, kali ini kita akan membahas buku tentang penyintas kanker yang sangat unik. Selama ini kita sudah sangat sering disuguhi buku tentang penyintas kanker, yang mengisahkan bagaimana mereka menjalani hidup setelah sembuh. Umumnya, warna buku-buku tersebut pun muram. Ceritanya sedih sesedih-sedihnya, atau minimal melankolis-senang-mendayu-dayu dan berulang dari awal sampai habis. Aku pun lama-kelamaan jadi jenuh kalau harus baca buku yang begitu lagi, begitu lagi.

Buku ini pun, sebetulnya masuk dalam kategori yang sama. Penulisnya, Josh Sundquist, pernah kena kanker di umur 9 tahun, kemudian diamputasi, dan menjalani hidup sebagai kaum disabled. Sekarang, atlet ski Paralympic ini juga menjadi pembicara motivasional. Sekilas, premisnya sama saja dengan buku-buku penyintas kanker yang lain.

Eh, lantas, apa yang membedakan buku ini dengan buku sejenis lainnya?

Nih, ya. Sepengamatanku, aspek yang membedakan buku ini dari autobiografi/biografi penyintas kanker biasa, ada tiga.

Pertama, aspek tema. Buku ini membahas soal pacar-pacar (well, jangan bilang begitu deh. Itu cuma friendzone, rata-rata) Josh yang cuma seumur jagung dan lucu-lucu. Lucu dalam hal beragam: Mulai dari musibah saat kencan, kesalahan bertindak, kesalahan meraih momen, sampai ada juga kasus-kasus salah paham yang bikin gemes. Kelucuan inilah yang bikin kita serasa tidak sedang membaca kisah penyintas kanker, justru seperti membaca kisah orang biasa.

Kedua, aspek cara penuturan. WSHOS dibagi atas beberapa babak, yang masing-masing menggunakan nama samaran para gadis. Setiap babak juga memuat tiga bagian: Kisah, Hipotesis, dan Investigasi. Ah, gokil bener. Bagian “Kisah” menuturkan tentang pengalaman Josh dengan gadis yang bersangkutan, mulai dari berkenalan, pendekatan, berkencan, sampai musibah (kalau ada). Selanjutnya, “Hipotesis”, yang membicarakan tentang dugaan konyol Josh tentang “kenapa gadis itu tidak mau jadi pacarku”. Dan yang paling koplak dan banyak mencetuskan “oooh” moment buatku, “Investigation”. Di sini Josh menyelidiki perasaan si gadis setelah mereka putus hubungan. Ada yang dilakukan segera, ada juga yang bertahun-tahun lewat. Menarik!

Ketiga, ciri khas Josh yang suka menampilkan grafik-grafik lucu sebagai selipan di tulisannya, tetap terbawa ke dalam buku ini dengan sangat baik. Coba simak grafiknya. Mungkin ada yang nyantol dengan diri kalian sendiri? Atau, coba simak akun Instagram-nya Josh (nanti, ada link-nya di bawah).

Nah, soal nilai-nilai, kira-kira apa ya, manfaat atau motivasi yang didapat dari WSHOS? Inti utamanya, menurutku, adalah soal kepercayaan diri. Hubungan enggak melulu bisa dihitung di atas kertas, tidak melulu masalah perasaan, tapi juga membutuhkan kepercayaan diri, timbang rasa, main kira-kira, dan ekspresi seni. Begitulah. Selain itu, juga banyak nilai yang disampaikan terutama dari aspek sosial, terutama tentang perlakuan terhadap kaum disabled. Josh mengungkapkannya dengan gaya kocak, namun sering bikin pembacanya berpikir.

Sebagai penutup, buku ini direkomendasikan buat kalian yang butuh motivasi untuk meningkatkan kepercayaan diri, atau buat para penggemar biografi yang ingin mencari buku “unusual”.

Miscellaneous & Ratings

3-star

 

  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik

 

Save

My Blurbs Episode 6: Flashes, flashes

Biasanya saya tidak menggunakan teknik skimming waktu membaca buku nonfiksi, dengan alasan klasik yang sebetulnya kurang masuk akal: Takut kehilangan detail ketika menikmati bacaan nonfiksi. Nah, di My Blurbs kali ini, saya membahas tiga buku nonfiksi yang saya selesaikan dalam waktu yang bisa dikatakan sangat singkat gara-gara saya menggunakan teknik skimming waktu membacanya.

storyofmylife-azka   30-interactive-brain-teaser   bookofanswers-black

Continue reading

A Work in Progress (Connor Franta, 2015)

Identitas Buku

Title: A Work in Progress
Author: Connor Franta
Genre: Autobiography/Memoir, Biography, Motivation
Publication Date: April 21, 2015
Publisher: Atria/Keywords Press
Language: English
Cover: Paperback
Pages: 212 pages
ISBN-13: 978-147-679-161-6
Award: Goodreads Choice Award for Memoir & Autobiography (2015)

Sinopsis Official

In this intimate memoir of life beyond the camera, Connor Franta shares the lessons he has learned on his journey from small-town boy to Internet sensation so far.

Here, Connor offers a look at his Midwestern upbringing as one of four children in the home and one of five in the classroom; his struggles with identity, body image, and sexuality in his teen years; and his decision to finally pursue his creative and artistic passions in his early twenties, setting up his thrilling career as a YouTube personality, philanthropist, entrepreneur, and tastemaker.

Exploring his past with insight and humor, his present with humility, and his future with hope, Connor reveals his private struggles while providing heartfelt words of wisdom for young adults. His words will resonate with anyone coming of age in the digital era, but at the core is a timeless message for people of all ages: don’t be afraid to be yourself and to go after what you truly want.

This full-color collection includes photography and childhood clippings provided by Connor and is a must-have for anyone inspired by his journey.

Resensi

Waktu saya pertama kali melihat cover buku ini, saya bertanya-tanya: Connor Franta itu siapa ya? Maklum, saya bukan tipe orang yang mengisi waktu senggang dengan menonton YouTube. Jadi jangan heran kalau sampai sekarang pun saya masih bingung Connor Franta itu pernah ngapain saja di YouTube.

Tapi saya rasa bukan itu yang penting deh. Yang lebih penting adalah, saya sudah tertarik untuk membaca buku karya Franta yang dirilis pertengahan 2015 lalu itu. Soalnya, waktu dilirik-lirik, buku ini menarik karena banyak fotonya. Kadang-kadang ada foto Franta waktu kecil (yang, saya bingung di mana gendutnya), ada juga foto-foto tangan Franta (yang konon terkenal di Instagramnya itu), dan foto-foto Franta yang sekarang (yang lumayan ganteng). Lalu tidak cuma muka Franta doang. Ada foto-foto pemandangan. Foto-foto hamparan barang dan makanan di meja. Macam-macam, dan semuanya artistik (baca; Nyeni).

Begitu buku ini dimulai, Franta langsung memperkenalkan keluarganya (ayahnya Peter, ibunya Cheryl, saudara-saudaranya Dustin, Nicola, dan Brandon), dan kampung halamannya, La Crescent. Kemudian Franta mendeskripsikan soal lingkungan sekitarnya: Klub renang, sekolah, dan teman-teman dekat. Untuk sebuah autobiografi, rasanya bagian ini memang wajib ada. Jadi saya tidak bisa komentar banyak…

Bagian yang mulai bikin saya tertarik, adalah bab Missing Out, dan selanjut-lanjutnya. Di bab Missing Out, Franta memperkenalkan “penyakit sosial”nya ketika kecil, yaitu takut orang lain bersenang-senang tanpa dirinya. Rasa-rasanya, banyak remaja yang juga punya penyakit sama. Nah, di sinilah Franta mulai membagi jurus-jurusnya dalam menghadapi situasi semacam itu.

Kemudian, ceritanya berlanjut ke masa SMA. Ia mengisahkan bagaimana kegalauan remaja dalam mencari identitas dan menghadapi kemungkinan dipermalukan di depan umum yang cukup tinggi di sekolah. Kegalauan tersebut disampaikan dengan cukup menarik, tanpa kehilangan sentuhan kelucuan khas remajanya; sehingga remaja pun tentu masih bisa menikmati “petuah” dari Franta dengan tepat sasaran. Coba simak bab An Anxious Boy and His Plastic Crown dan The Voice Within. Dua bab ini bisa bikin para pembaca ngakak. Sayangnya, ketika Franta mengungkapkan bagaimana pandangannya terhadap anak-anak nakal di sekolah, saya merasakan ada yang kurang ngeklik. Seperti seolah Franta lagi ngapain, lalu ujug-ujug berkomentar soal itu, dan tiba-tiba melompat lagi ke topik lain. Agak disayangkan, menurut saya.

Eh tapi… Ngakaknya cuma sampai di situ. Selanjutnya Franta jadi lebih serius dan dewasa dalam menuliskan ide-idenya. Seperti contohnya di bab Creativity, Numb to Numbers, dan The Problem with Labels. Di sini dengan cetarnya muncullah beberapa catchphrase yang bisa bikin para penggemar Franta jatuh hati pada caranya memotivasi orang lain. Meskipun pada dasarnya isi motivasi Franta itu hanya di seputar “jadilah diri sendiri dan raihlah apa yang kamu mau”, tapi pemisahan dan pemilahan bab dari Franta ini cukup membuat ide-ide tersebut seolah terpisah-pisah.

Bab yang paling bikin shock, adalah The Long Road to Me. Tentang apakah? Oops, rahasia ya…

Dan bab-bab selanjutnya, buat saya tidak terlalu menarik: di mana Franta mengungkapkan ceritanya tentang menjadi terkenal. Uraian-uraian ini klise, menurut saya, karena rata-rata orang bakal menjawab sama ketika ditanya “apa rasanya jadi terkenal” dan “apa saja deretan kejadian yang membuatmu terkenal”. Ya, bisa dikatakan ending buku ini amat mudah ditebak. Berhubung Franta masih sangat muda – 22 tahun, saat buku ini terbit – rasanya memang autobiografi adalah konsep yang aneh dan barangkali kurang tepat waktunya.

Akhirnya… Buku ini pun selesai. Jadi, saya merekomendasikan buku ini buat dibaca para remaja, khususnya mereka yang berusia sekitar 15-21 tahun (kalau dewasa, barangkali buku ini bakal terkesan terlalu “muda”). Buku ini tidak melulu memiliki konten autobiografi, tetapi juga sarat muatan motivasinya.

Kalimat-kalimat menarik

  • True friendship is counted in memories, experiences, and troubles shared; it’s a bond built up over time in person, not a virtual tally on the Internet.
  • Gender is specific only to your reproductive organs (and sometimes not even to those), not your interests, likes, dislikes, goals, and ambitions.
  • The trap that awaits us all: The importance of being liked.
  • Be numb to numbers. Don’t let the numbers numb you.
  • You are who you are in this given moment. Label-less. Limitless. Remember that from this day forward.
  • Worry is the interest on a debt that may never become payable. I realise how much time I have wasted needlessly worrying about outcomes I can’t control.
  • Don’t be limited by the expectations of others.
  • Hands up if you want to be creative, take the risk, and embrace failure.
  • We have one life—and none of us knows how long our life will be or what will become of it. The possibilities are truly infinite.

Miscellaneous and Ratings

3-star

On The Move: A Life (Oliver Sacks, 2015)

Identitas Buku

on the move a life

Title: On The Move: A Life
Author: Oliver Sacks
Publisher: Knopf
Genre: Autobiography, Memoir, Science, Medicine
Publication date: April 28, 2015
Cover: Hardcover
Pages: 397 pages
Language: English
Dimensions: 5.8 x 1.5 x 8.5 inches
ISBN-13: 978-038-535-254-3

 

Sinopsis Official

When Oliver Sacks was twelve years old, a perceptive schoolmaster wrote in his report: “Sacks will go far, if he does not go too far.” It is now abundantly clear that Sacks has never stopped going. From its opening pages on his youthful obsession with motorcycles and speed, On the Move is infused with his restless energy. As he recounts his experiences as a young neurologist in the early 1960s, first in California, where he struggled with drug addiction, and then in New York, where he discovered a long-forgotten illness in the back wards of a chronic hospital, we see how his engagement with patients comes to define his life.

With unbridled honesty and humor, Sacks shows us that the same energy that drives his physical passions—weight lifting and swimming—also drives his cerebral passions. He writes about his love affairs, both romantic and intellectual; his guilt over leaving his family to come to America; his bond with his schizophrenic brother; and the writers and scientists—Thom Gunn, A. R. Luria, W. H. Auden, Gerald M. Edelman, Francis Crick—who influenced him. On the Move is the story of a brilliantly unconventional physician and writer—and of the man who has illuminated the many ways that the brain makes us human.

Continue reading

My Brief History (Stephen Hawking, 2013)

Identitas Buku

mybriefhistory Title: My Brief History
Author: Stephen Hawking
Publisher: Bantam
Genre: Autobiography/Memoir, History, Science, Physics
Language: English
Publication Date: September 10, 2013
Pages: 126 pages
Cover: Hardcover
ISBN-13: 978-034-553-528-6
Award: Royal Society Winton Prize Nominee for Science Books Longlist (2014)

Sinopsis Official

Stephen Hawking has dazzled readers worldwide with a string of bestsellers exploring the mysteries of the universe. Now, for the first time, perhaps the most brilliant cosmologist of our age turns his gaze inward for a revealing look at his own life and intellectual evolution.

My Brief History recounts Stephen Hawking’s improbable journey, from his postwar London boyhood to his years of international acclaim and celebrity. Lavishly illustrated with rarely seen photographs, this concise, witty, and candid account introduces readers to a Hawking rarely glimpsed in previous books: the inquisitive schoolboy whose classmates nicknamed him Einstein; the jokester who once placed a bet with a colleague over the existence of a particular black hole; and the young husband and father struggling to gain a foothold in the world of physics and cosmology.

Writing with characteristic humility and humor, Hawking opens up about the challenges that confronted him following his diagnosis of ALS at age twenty-one. Tracing his development as a thinker, he explains how the prospect of an early death urged him onward through numerous intellectual breakthroughs, and talks about the genesis of his masterpiece A Brief History of Time—one of the iconic books of the twentieth century.

Clear-eyed, intimate, and wise, My Brief History opens a window for the rest of us into Hawking’s personal cosmos.

Continue reading

My Blurbs Episode 5: Devilish Things

My Blurbs kembali di episode 5! Kali ini, saya akan membahas secara singkat tiga buku yang sama-sama memuat konsep “jahat”. Yang pertama adalah buku yang mengulas bagaimana otak kita menciptakan persepsi “ini orang jahat” atau “ini orang baik”. Yang kedua, tentang bagaimana “kejamnya” orang tua sukses mendidik anaknya agar lebih sukses daripada dirinya. Dan yang ketiga, bagaimana masyarakat berespons terhadap jahatnya kenyataan lewat enam kata, yang dirangkum menjadi satu buku.

iweartheblackhat   battlehymntigermother   notquitewhatIwasplanning

Continue reading

Mellow Yellow Drama (Audrey Yu Jia Hui, 2014)

Identitas Buku

mellowyellow

Judul: Mellow Yellow Drama
Penulis: Audrey Yu Jia Hui
Penerbit: Bentang Pustaka
Genre: Autobiography/Memoir
Bahasa: Indonesia
Terbit: Mei 2014
Tebal: 248 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-291-032-9
Award: Anugerah Pembaca Indonesia for Sampul Buku Non-Fiksi Terfavorit (2014)

Sinopsis Official

Namaku Jia Hui. Semua orang di sekitarku menganggap aku gadis yang sangat beruntung. Orangtuaku kaya raya. Mereka mampu mengabulkan semua permintaanku. Orang-orang bilang aku luar biasa pandai, bahkan jenius. Aku masuk kuliah untuk anak-anak berbakat di usia 13 tahun, dan meraih gelar Bachelor of Science pada usia 16 tahun.

Tahukah kalian apa yang paling kuinginkan di dunia ini? Menyerahkan hidupku untuk negeri tercinta. Meninggalkan hidup berlimpah materi dan membagikan ilmuku kepada masyarakat luas. Aku bermimpi suatu saat tak ada lagi orang miskin di negara ini.

Tapi tahukah kalian? Mimpiku dianggap terlalu mengawang-awang. Orangtuaku bilang seharusnya aku membangun kerajaan bisnis baru. Kerabatku berkata bahwa cintaku pada nusantara dianggap tak pantas karena aku orang Tionghoa. Teman-teman memaksaku mengingat bahwa orang-orang bermata sipit dan berkulit putih di negeri ini, harga dirinya pernah diinjak-injak dan tak lagi menyisakan apa pun!

Continue reading