The Time Keeper (Mitch Albom, 2012)

Identitas Buku

Title: Sang Penjaga Waktu
Original Title: The Time Keeper
Author: Mitch Albom
Indonesian Translator: Tanti Lesmana
Published: 2012 (edisi cover baru, cetakan IV: Oktober 2016)
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Paperback
Genre: Fantasi Inspiratif, Fiksi Umum
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 312 halaman
ISBN-13: 978-602-033-353-3

Sinopsis Official

Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabadabad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu kepada mereka.

Continue reading

Advertisements

Love and Misadventures (Lang Leav, 2013)

Identitas Buku

Title: Cinta dan Kesialan-kesialan (original title: Love and Misadventures)
Author: Lang Leav
Published: April 26, 2013 (terjemahan: April 2016)
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Paperback
Genre: Poetry
Language: Bahasa Indonesia (original language: English – translated by: M. Aan Mansyur)
Pages: 168 pages
ISBN-13: 978-602-032-564-4

Sinopsis Official

Kau ingat lagu yang berkumandang pada malam kita bertemu pertama kali?
Tidak, tapi aku ingat semua lagu yang kudengarkan sejak kau pergi.

Resensi

Poetry is not my favourite genre. Dulu, aku pernah meminjam Melihat Api Bekerja dari iJak, namun toh gagal menikmatinya juga walaupun sudah dibaca pelan-pelan, dibaca beberapa kali. Namun, ketika diminta memilih hadiah giveaway, aku penasaran dengan buku ini. Konon, alasannya hanya sebatas karena kulihat basis penggemar karya Lang Leav ini sudah cukup besar.

Sama seperti novel atau tulisan fiksi lainnya, begitu suatu buku berbahasa asing diterjemahkan, pasti ada perubahan yang terjadi. Kebetulan, aku belum membaca buku ini dalam bahasa aslinya, sehingga belum dapat membandingkan secara komprehensif. Namun, “polesan” Aan terhadap puisi-puisi romansa Leav ini tidak membuat takaran rasa yang tersampaikan ke pembaca jadi hilang. Aroma kehilangan, bercampur prihatin, miris, dan sejumlah kata benda lain yang ada di sekitar itu, masih terasa (update: Kemudian aku sempat mencari versi Inggris dari beberapa puisi. Kurasa, Aan Mansyur did a good job. Nilai puitis yang terasa tidak berkurang drastis).

Di buku ini Leav mengangkat tiga subtema besar, yaitu kesialan, sirkus duka cita, dan cinta. Kesialan mengungkapkan tentang berbagai kisah cinta tak sampai, sirkus duka cita tentang kehilangan, dan cinta tentang ungkapan cinta itu sendiri, yang (tampaknya) didahului oleh berbagai momen kasih tak sampai dan kehilangan. Justru yang menurutku menarik adalah dua bagian yang pertama. Kepahitan disisipkan dengan cerdas tanpa selalu “menye”, tanpa jumlah kata yang terlalu diumbar. Ciri lain dari karya Leav adalah nyaris tak pernah munculnya kata-kata “nyeleneh” yang membuat pembaca harus buru-buru membuka kamus, namun kalimat yang ia susun cukup menancap dalam pada perasaan. Ciri ini sedikit berbeda dengan pola puisi Aan sendiri (mengacu pada Melihat Api Bekerja), yang cenderung menggunakan jumlah kata lebih banyak, dan terkadang cukup mendekati struktur prosa.

Favoritku di buku ini, ada beberapa. Yang pertama, Seseorang yang Tak Kukenal. Ini terfavorit dari semuanya. Setelah membaca puisi yang ini, bookmark-nya kuselipkan saja di situ dan kubiarkan sampai sekarang, buat dibaca dan dibaca lagi. Menurutku, puisi yang satu ini sangat menginspirasi jika kalian ingin memperdalam tema kehilangan. Lainnya, seperti Jalan Keluar, Kupu-kupu Mati, Lagu Sedih (puisi sedih yang potongannya menjadi blurb buku ini), Biarkan Ia Pergi, Malaikat, dan Pasangan Jiwa (puisi romantis yang super!).

Di tahun 2017 ini, beberapa buku Leav akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia; juga beberapa buku barunya akan dirilis. Hmm … jadi berpikir ulang. Mungkin … aha, lihat saja nanti! 🙂

Kutipan Menarik

Seseorang yang Tak Kukenal (hlm. 37)

Ada satu cinta yang kukenang
seperti rekah dari bebijian
yang tak pernah kutaburkan.

Bibir yang sungguh ingin kucium
dan teduh sepasang mata
yang tak pernah melihat mataku.

Jari-jari yang melingkari pergelanganku
dan rengkuh dua ruas lengan
yang rasanya seperti rumah.

Mengapa aku bisa merindukan,
seluruh perihal
yang tak pernah kukenal ini.

Miscellaneous and Ratings

  • Love and Misadventures on Goodreads
  • My rating: 3/5 (Goodreads), 6/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: Gramedia.com (Rp 32.300, belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get this book: SCOOP (Rp 29.700)
  • How to get this book: Pengenbuku.net (Rp 30.400, belum termasuk ongkos kirim)

Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez, 2002)

Identitas Buku

Title: Rumah Kertas (original title: La casa de papel)
Author: Carlos Maria Dominguez
Published: 2016
Publisher: MarjinKiri
Cover: Paperback
Genre: International Literature
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 76 pages
ISBN-13: 978-979-126-062-6
Awards: Lolita Rubial, Literaturpreis der Jury der jungen Leser for Sonderpreis (2005)

Sinopsis Official

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

Resensi

Meskipun tahu diri aku bukanlah pembaca yang baik dan universal (kebanyakan bacaanku sifatnya populer), aku tetap memutuskan ikut di tantangan Read and Review Challenge BBI 2017. Buku pertama di tantangan tersebut, sekaligus buku pertama di tantangan Goodreads Reading Challenge 2017-ku, adalah salah satu karya sastra Amerika Latin/Spanyol pemenang penghargaan (Award Winning Book), yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan tajuk Rumah Kertas.

Aku memulai nasib buku ini dengan kekonyolan. Aku sudah memasukkannya ke daftar Secret Santa Wishlist di tanggal 11 Desember, tapi toh masih kubeli juga dua minggu kemudian. Padahal, sebelumnya mana pernah aku punya buku sampai dua eksemplar? Eh… tapi ingga hari ini (baca: 8 Januari 2017) aku belum menerima paket Secret Santa tersebut, jadi belum tahu apakah buku ini akan terdobel atau tidak nantinya.

Yang seram adalah: Rupanya, kekeliruan konyol ini “punya jalinan darah” dengan isi buku ini!

Penuturan singkat-padat-mencekam buku ini dimulai dengan berita kematian Bluma Lennon, seorang profesor literatur asal Inggris. Ia tewas tertabrak mobil ketika membaca buku puisi karangan Emily Dickinson. Selanjutnya, kita para pembaca dibawa untuk menikmati kisah tentang Carlos Brauer. Brauer adalah seorang bibliofil (penggemar buku) yang mengirimkan sebuah buku misterius berbalut lumuran semen kepada Lennon. Sayangnya, buku baru diterima staf Lennon (kita sebut saja dia “narator”, karena dialah narator di kisah ini) setelah Lennon wafat. Penasaran dengan buku berbahasa Spanyol yang misterius itu, sang narator pun nekat mencari Brauer. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang bibliofil yang punya ruang perpustakaan raksasa berisi delapan belas ribu buku, bernama Delgado. Di sinilah kisah tentang Brauer yang sebenarnya dimulai.

Cerita bermula dari Delgado dengan renyah. Berbagai sikon yang membuat para bibliofil tersenyum-senyum sendiri, dengan satu sumber problem: Menimbun buku (Aha! Aku sendiri punya timbunan yang jumlahnya semakin hari semakin wow). Lama-kelamaan, kerakusan Brauer pun mengalahkan Delgado, sekaligus semakin “memakan tuannya” sendiri. Pembaca tidak lagi dibuat mesem, namun perlahan-lahan menjadi miris, gloomy, dan … aku setuju dengan istilah “menakutkan”. Sampai suatu ketika, terjadi musibah yang membuat Brauer menjadi “gila”. Apa yang ia lakukan untuk menyembuhkan lukanya?

Dengan cepat, Dominguez membeberkan bentuk kegilaan Brauer yang begitu menyayat hati. Bab tiga akhir berjalan dengan plot begitu santai, tidak cepat, namun menghanyutkan. Tanpa sadar, pembaca akan memasuki bab empat. Di kira-kira lima belas halaman terakhir, Dominguez membeberkan kengerian yang diakibatkan oleh sebuah keserakahan dengan cepat dan lugas, sekaligus mengungkap misteri perasaan yang sebetulnya disembunyikan Brauer kepada Lennon. Sampai halaman terakhir pun, pembaca seolah sengaja dipermainkan, dibuat tak rela bahwa buku ini tiba-tiba sudah selesai!

Terjemahan Agustinus atas tulisan Dominguez ini pun menarik. Berbagai diksi langka ia pilih untuk rangkaian kalimat deskriptif, hingga memaksa pembaca untuk melirik kamus beberapa kali. Kalimat Dominguez direpresentasikan dalam larik-larik panjang, sarat koma anak kalimat sana-sini, dan berbuntut panjang namun menghanyutkan pembaca tanpa sadar, juga menjadi ciri penuturan dalam sebagian besar bagian di buku tipis ini, sehingga para pembaca wajib berkonsentrasi saat membaca. Satu lagi, sebaiknya jangan coba-coba skimming – karena sensasi mencekam waktu membaca buku ini bisa hilang.

Seperti selentingan yang pernah disebut-sebut rekan Blog Buku Indonesia, bibliofil wajib meluangkan waktu dalam hidupnya untuk membaca buku ini. Betapa buku ini mengajarkan dampak kelam dari aktivitas menimbun buku, betapa keserakahan bisa berdampak begitu mengerikannya, dan betapa keterlambatan itu bisa mencetuskan rasa sesal yang sangat menyiksa.

Kurasa, buku ini memang awal yang tepat dalam misiku untuk menurunkan tinggi timbunan buku di sepanjang tahun 2017. Dan sekarang… aku cuma bisa berharap kekonyolan “buku ganda”-ku tadi itu tidak berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan nanti.

Kutipan Menarik

  • Buku-buku merangsek ke sekujur rumah, diam-diam, tanpa rasa bersalah. (hlm. 9)
  • Tapi sepanjang waktu bekerja, yang saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. (hlm. 27)
  • Saya mengeluhkan waktu buat membaca yang terlalu sedikit. (hlm. 33)

Miscellaneous and Ratings

  • Rumah Kertas on Goodreads
  • My rating: 4/5 (Goodreads), 8/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: TB Gramedia (Rp 34.000)
  • How to get this book: Gramedia.com (Rp 28.900, belum termasuk ongkos kirim)

We Were Liars – Para Pembohong (2014)

Identitas Buku

we-were-liars-gramedia-2016

Title: We Were Liars (Para Pembohong)
Author: E. Lockhart
Indonesian Translator: Nina Andiana
Published: 13 Mei 2014
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiction, suspense, young adult
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 296 pages
ISBN-13: 987-602-030-6711
Awards: Georgia Peach Book Award (2015), Pennsylvania Young Readers’ Choice Award Nominee for Young Adults (2016), Milwaukee County Teen Book Award Nominee (2015), The Inky Awards Nominee for Silver Inky (2015), Bookworm Best Award for Best Fiction (2014)
Goodreads Choice Award for Young Adult Fiction (2014), The Magnolia Award for 9-12 (2016)

Sinopsis Official

Keluarga yang menawan dan disegani.
Pulau pribadi.
Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.
Empat sahabat—Para Pembohong—dengan pertemanan yang kemudian menjadi destruktif.
Kecelakaan. Rahasia.
Kebohongan demi kebohongan.
Cinta sejati.
Kebenaran.

Para Pembohong merupakan novel suspense modern karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan penerima Printz Award. Bacalah.

Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini, JANGAN BERITAHUKAN.

Continue reading

The Girl on The Train (Paula Hawkins, 2015)

Identitas Buku

girlontrain

Judul: The Girl on The Train
Penulis: Paula Hawkins
Genre: Fiction, crime, thriller
Bahasa: Indonesia
Tebal: 440 halaman
Ukuran: 14 cm x 26 cm
Terbit: 13 Januari 2015 (versi bahasa Inggris – Kindle & Hardcover), 26 Agustus 2015 (versi bahasa Indonesia)
Penerbit: Noura Books Publishing
ISBN-13: 978-602-098-997-6

 

Sinopsis Official

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. “Jess dan Jason,” begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.

Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?

Continue reading

Master of The Game (Sidney Sheldon, 1982)

Identitas Buku

masterofthegameJudul buku: Master of The Game (Ratu Berlian)
Penulis: Sidney Sheldon
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Thriller, crime
Ukuran: 18 cm x 11 cm
Tebal: 768 halaman
Terbit: April 2010
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-228-388-4

 

Sinopsis Official

Edisi aslinya:

Kate Blackwell is the symbol of success a beautiful woman who has parlayed her inheritance into an international conglomerate. Now, celebrating her 90th birthday, Kate surveys the family she has manipulated, dominated, and loved: the fair and the grotesque, the mad and the mild, the good and the evil her winnings in life.

Edisi terjemahan Indonesia:

Kate Blackwell: Simbol kesuksesan, wanita cantik yang berhasil mengelola perusahaan yang diwarisinya sehingga menjadi konglomerat internasional. Sukses meraih kekayaan dan kemasyhuran di dunia. Ia pantang menyerah, gigih seperti ayahnya, laki-laki yang selamat dari tubir kematian untuk merebut kekayaan dalam rupa berlian di bumi Afrika Selatan yang suram. Kini, menjelang ulang tahunnya yang kesembilan puluh, untuk mencari penerus bisnisnya, Kate meneliti keluarganya yang telah dimanfaatkannya, dikuasainya, dan dicintainya: Keadilan dan kehebatan, kegilaan, dan kelembutan, kebaikan dan kejahatan–kemenangan dalam kehidupannya.

Continue reading

Tracy Whitney, you’re the best!

Saya tergolong jarang membaca buku fiksi. Tapi di antara sedikit buku fiksi yang pernah saya baca, Tracy Whitney meninggalkan kesan luar biasa.
Eh, siapa itu Tracy Whitney?

Yang jelas dia bukan hibrid Tracy Chapman dan Whitney Houston, ingat bahwa dia adalah tokoh fiktif. Tracy Whitney adalah karakter utama yang diceritakan dalam novel karya almarhum Sidney Sheldon terbitan 1985, If Tomorrow Comes. Buku yang judulnya dan isinya tidak nyambung ini menghadirkan karakter wanita yang begitu menginspirasi, tentunya dengan cara Sheldon. 

Seperti biasa, Sidney Sheldon memasang kemampuan superpower manusiawi di tiap karakter utama novelnya. Tapi buat saya, kekuatan Tracy adalah yang paling super dari semuanya.

Kok bisa begitu?

Begini ceritanya. Ada seorang wanita baik-baik yang karena emosi sesaat ingin membela orang tuanya dari serangan mafia, malah melakukan perbuatan kriminal dan dijebloskan ke penjara. Meskipun kemudian ia berhasil keluar karena menolong anak kecil yang tenggelam, tetap saja namanya eks narapidana, wanita ini kesulitan memperoleh kembali apa yang hilang dari hidupnya karena pernah dipenjara tadi. Daripada meratapi nasibnya, wanita ini malah beralih menjadi pencuri. Celakanya lagi di tengah petualangannya mencuri, datang banyak bantuan dan dukungan dari orang-orang tak terduga. Alih-alih bertobat, ia malah makin kecemplung dan menikmati cap barunya sebagai penjahat yang bermuka domba.

Hebat bukan? Itulah Tracy Whitney.

Tidak gampang buat menerima happy fate dari cerita kelam yang mengisahkan jatuhnya seseorang wanita dalam lembah kriminalitas yang seolah tiada akhir (ayolah. Apa kita suka kalau penjahatnya menang?). 

Tidak gampang juga menerima kisah yang kerap memicu adrenalin sana sini namun punya ujung terbuka (Kita suka bertanya-tanya, tapi belum tentu begini!).

Tidak gampang pula untuk tidak merindukan situasi cerita di mana semua masih baik-baik saja.

Tapi, dengan ketidakgampangan itu semualah justru karakter Tracy Whitney bisa memberi nilai dan makna tersendiri.

Bayangkan jika diri kita sendiri harus berhadapan dengan situasi sulit di awal buku ini. Mampukah kita tak berlama-lama berkubang dalam duka cita saat semua yang dicintai dan diidamkan dalam hidup menguap dalam sekejap? Mampukah kita untuk jadi lebih dari sekadar cuap-cuap ingin membalikkan keadaan tapi tak berbuat apa-apa dan seolah terus terbekap? Mampukah kita memanfaatkan apapun di sekitar kita untuk mengangkat derajat dan martabat yang seolah dikira orang telah tamat?

Tentu mudah menjawab “ya” untuk ketiganya. Tapi tak mudah untuk mewujudkan tiga buah “ya” tadi.
Demikianlah Tracy Whitney yang fiktif namun inspiratif, manipulatif namun diciptakan dengan amat kreatif. You’re the best, Tracy!