Curriculum Vitae (Benny Arnas, 2017)

Identitas Buku

Judul: Curriculum Vitae
Judul Alternatif: Curriculum Vitae: Seratus Enam Urusan, Sembilan Puluh Perumpamaan, Sebelas Tokoh, Sepasang Kegembiraan
Penulis: Benny Arnas
Terbit: 13 Maret 2017
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Paperback
Genre: Fiksi Umum
Bahasa: Bahasa Indonesia
Tebal: 223 halaman
ISBN-13: 978-602-033-583-4
Penghargaan: Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016, Pemenang Unggulan

Sinopsis Official

Sebuah benda bermassa 4000 kilogram akan diletakkan di atas gunung yang kemiringan tebingnya mencapai 59° dengan cara dilempar oleh tangan kananmu yang malam tadi baru saja menyeduhkan teh-melati selama-5-menit untukku. Ini bukan perkara seberapa cepat lesatan lemparanmu sebab kamu pernah bilang, “Jarak dan waktu itu tempat tinggalnya bukan di peta, tapi di kepala dan di sini!” (Kau menepuk dada kirimu berkali-kali. Dokter bilang itu tempat tinggal jantung, tentu saja aku bilang itu hati).

Perkaranya seberapa kuat aku akan menanggung beban rindu yang mengganggu, sedangkan di saat yang sama dengan air muka senewen ibuku bilang kalau pesanan kelapa dari luar kota sudah menumpuk (What! Ibu, tidakkah bisa kau bayangkan, seorang pencinta yang galau tengah memetik kelapa dengan air mata yang leleh dan masa lalu yang mencabik-cabik di punggung?). Bunuh saja anakmu ini, Bu! Bunuh!

Continue reading

Advertisements

Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh: Supernova #1 (Dee Lestari, 2001)

Identitas Buku

Title: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Supernova #1)
Author: Dee Lestari
Published: 2001 (republished 2012)
Publisher: Bentang Pustaka
Cover: Paperback
Genre: Science Fiction, Romance
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 322 halaman
ISBN-13: 978-602-881-172-9

Sinopsis Official

Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roman yang diberi judul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka merepresentasikan dinamika yang terjadi antara tokoh Kesatria dan Putri dalam fiksi Dimas dan Reuben. Tokoh ketiga, Bintang Jatuh, dihadirkan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva, yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas.

Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre-Rana-Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama.

Continue reading

Melankolia Ninna (Robin Wijaya, 2016)

Identitas Buku

Title: Melankolia Ninna
Author: Robin Wijaya
Published: December 12, 2016
Publisher: Falcon Publishing
Cover: Paperback
Dimension: 13 cm x 20 cm
Genre: Romance
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 204 pages
ISBN-13: 978-602-605-141-7

Sinopsis Official

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Dari gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar. Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.

Namun, duka menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna, menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.

Resensi

Ceritanya, di awal Desember 2016, Falcon Publishing menyelenggarakan lomba Tantangan Nulis via editornya (Jia Effendie). Hadiahnya adalah buku-buku serial Blue Valley, yang totalnya berisi lima buku (buku ini adalah salah satunya). Kebetulan, buku inilah yang dihadiahkan kepadaku, setelah tulisan fiksiku tentang tukang fotokopi ternyata termasuk salah satu dari enam tulisan bertema “kehilangan” yang terpilih.

Meskipun aku bukanlah penggemar novel-novel roman maupun tulisan roman murni, menurutku premis Blue Valley sebagai sebuah serial dan Melankolia Ninna khususnya, cukup menarik. Tema kehilangan memang menjadi salah satu komponen dalam tulisan-tulisan roman yang mampu memainkan emosi pembaca dengan caranya tersendiri, dan sering menjadi penguat konflik roman yang memberi nilai jual tersendiri. Cara mengatasi kehilangan pun menjadi titik sumber rasa penasaran para pembaca, sehubungan dengan itu. Terkhusus Melankolia Ninna, premis ketidakmampuan Ninna untuk memiliki keturunan ini cukup “nendang”.

Penuturan sang penulis, Robin Wijaya, cukup nyaman diikuti. Bahasa yang digunakannya sederhana dan mudah dipahami, tanpa terlalu banyak bunga yang membingungkan. Tidak ribet, tidak menjerumuskan, tidak terlalu dalam – adalah ciri bahasa yang ditonjolkan di kisah ini. Bagian paling menarik adalah ketika dengan lugasnya, Robin mengungkapkan tentang cara Gamal melamar Ninna yang begitu unik dan “patriotik”. Inilah bagian favoritku dari buku ini, karena cukup manis, sekaligus sangat menempel di memori pembaca.

Usaha penulis untuk membedakan cara pikir Gamal dan Ninna juga tergambar cukup baik lewat pembedaan texting metode bicara (“gue” di Gamal dan “aku” di Ninna, faktual di Gamal dan perasaan di Ninna). Hanya saja, menurutku metode pembukaan di bagian karakter masing-masing masih monoton. Semua suara, baik Gamal maupun Ninna, selalu “bermula dengan kata bijak”, hingga lama-kelamaan aku pun semakin bingung ini siapa yang sedang bicara, kalau tidak mengacu pada “aku” atau “gue” itu tadi. Lama-kelamaan, mereka terlihat semakin “satu suara”, dan aku sebagai pembaca tidak lagi peduli ini suara siapa. Namun, karena Robin menjelaskan dengan gamblang siapa yang sedang bicara apa dalam teksnya, menurutku ini bukan suatu nilai minus yang serius.

Untuk kelemahan, memang masih ada beberapa. Misalnya yang pertama, bahwa dalam tiga puluh halaman pertama, ada kekeliruan logika serius terkait kondisi medis yang dialami Ninna. Singkat kata, kondisi medis Ninna tidak cocok dengan tindakan yang dilakukan kepadanya, dan tidak cocok pula dengan situasi penyembuhan Ninna di bab-bab awal. Patut disayangkan ada yang terlewatkan dari segi riset di titik ini. Juga soal typo (salah ketik) dan redundansi “cukup … saja” dan “hanya … saja” yang lumayan sering terlihat. Selain itu, perihal kemiripan dengan Critical Eleven (Ika Natassa). Aku memang membaca novel itu terlebih dahulu. Bukan berarti aku menganggap Critical Eleven lebih baik. Masalahnya, ketika membaca buku ini, aku sulit memisahkan konflik Gamal-Ninna dari bayang-bayang konflik Ale-Anya di CE. Tema besar yang sama-sama “kehilangan (calon) anak”, setting pun sama-sama di Jakarta (Selatan), ada best friend’s life event yang menyesakkan buat si tokoh utama. Too much similarities, in my opinion. Hanya saja bedanya, menurutku cara Gamal dan Ninna menyelesaikan konflik tidak se-berlarut-larut cara penyelesaian konflik di CE. Bagiku itu suatu hal yang positif, sehingga pembaca tidak sampai dibuat gemas-ke-ubun-ubun karena kelakuan salah satu karakter yang terlalu ngeyel.

Jika kamu mencari novel roman lokal dengan tema kehilangan yang unik, Melankolia Ninna patut kamu perhitungkan untuk menambah koleksimu. Atau mungkin, berminat dengan empat judul Blue Valley lainnya? Selamat mencoba!

Miscellaneous and Ratings

  • Melankolia Ninna on Goodreads
  • My rating: 2/5 (Goodreads), 4/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: Gramedia (Rp 51.000, belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get this book: Bukabuku (Rp 48.000, belum termasuk ongkos kirim)

11:11 (Lucia Priandarini, 2016)

Identitas Buku

11-11

Judul: 11:11
Penulis: Lucia Priandarini
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Genre: Fiksi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 14 Maret 2016
Tebal: 184 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-375-376-5

Sinopsis Official

Apa hal terburuk dari bertemu orang dari masa lalu? Bisa jadi jawabannya adalah menghadapi kepingan diri pada masa silam yang diam-diam ingin disembunyikan. Orang bilang masa lalu mestinya ditinggalkan demi menatap masa depan. Padahal, masa lalu adalah cermin untuk mengingat siapa dan dari mana perjalanan manusia bermula.

Btari tidak menyangka open trip pertamanya ke Bromo membawanya berjumpa dengan Mikhail teman masa kecilnya. Btari tak pernah lagi bertemu Mikha sejak keluarganya memutuskan pindah ke Jakarta. Dan, kini ia berjumpa Mikha, empat minggu jelang hari pernikahan dengan tunangannya.

Perjalanan 1 x 24 jam menuju Bromo bersama laki-laki dari masa lalu membawa Btari pada kisah baru. Menyadarkannya dari 25 tahun cerita hidup yang seolah dituliskan oleh orang lain. Mikhail menunjukkan kepadanya, tak semua orang bisa mendapat kemewahan untuk memilih, ketika sebagian lain hanya bisa menerima.

Hingga pada pukul sebelas menit kesebelas, Btari dan Mikha sampai pada suatu pembicaraan penting. Pembicaraan tentang diri mereka yang sebenarnya. Tentang bagaimana kemarin, hari ini, dan esok keduanya akan berada.

Resensi

Di bulan Maret 2016, terbit tiga novel dengan judul jam dari Grasindo. Namun, di antara trio 00:00, buku ini, dan 17:17, saya jelas memilih novel seri angka yang ini untuk dibaca terlebih dahulu: Semata-mata karena saya penggemar angka 11. Saya bahkan pernah membuat tulisan “Tentang Sebelas” di Qureta (yang bisa dibaca juga di blog saya ini), saking sukanya dengan angka ini. Tapi jujur saja, thalassemia lolos dari bahasan saya di sana. Namun novel 11:11 pun berhasil mengaitkan 11 dan penyakit yang sifatnya diturunkan dalam keluarga ini.

Berbeda dengan kebanyakan cerita tentang penyakit, novel ini bisa dikatakan penuh optimisme. Kalau saya bandingkan, kira-kira seperti Oasis vs Nirvana di musik rock masa pertengahan 1990-an: Saat kebanyakan buku tentang orang sakit bicara tentang last wishes, perasaan ditolak, kekecewaan yang tiada akhir; buku ini justru “membawa harapan baru” yang tidak biasa.

Konten cerita tentang Btari dan Mikhail sebetulnya mainstream. Teman lama yang bertemu, lalu “terjadilah sesuatu yang diharapkan pembaca sebagai jalan menuju happy ending“. Tapi yang membuat buku ini menarik adalah cara penyampaian kontennya. Karakter terasa lumayan kuat. Btari dengan karakter introvert dan rasa ingin tahunya, dipadukan dengan Mikhail yang berkarakter optimis namun berwawasan luas. Pencirian ini terus ditekankan dari bab ke bab, sehingga sampai setelah cerita berakhir pun, pembaca bakalan masih berangan-angan seperti apakah Btari dan Mikhail, jika sosok mereka nyata.

Soal latar belakang cerita, berbagai sisi kota Malang dibahas habis-habisan sampai komplit sebagai latar lokasi cerita, dan seolah pembaca diajak memasuki lorong waktu bolak-balik. Sebentar ke masa lalu, sebentar ke masa kini dan realitas. Sebagai seorang yang kelahiran Malang, tampaknya inilah cara Rini “menjadi duta” kota Malang dengan caranya sendiri.

Belum lagi cara Rini menyingkap thalassemia dalam cerita, yang menurut saya cukup menarik dan mencetuskan rasa penasaran. Hingga pembaca pun bakalan sulit melepaskan buku ini sekalinya sudah memulai, apalagi setelah menyentuh puncak tema dari buku ini. Setelah saya melewatinya pun, tidak timbul rasa sekadar “oh, begitu doang?”… Melainkan lebih ke, “wah, akhirnya terungkap juga.”… Penasaran? Coba baca sendiri ya 🙂

Dan puncak kesenangan saya adalah ketika menyadari bahwa angka 11 ternyata cukup kuat maknanya dalam kisah ini. Selain jam 11.11 yang menjadi jam ketika pembicaraan penting terjadi, 11 juga berarti lain. Dan angka 11 pun, entah berapa kali muncul, sesuai ekspektasi saya si pecinta angka ini – Hehe :))

Jadi kesimpulannya… Novel 11.11 ini cukup bagus dari segi kekuatan cerita dan tokoh, serta pemilihan judul yang memang tidak sembarangan. Salut untuk Rini.

Kalimat-kalimat Menarik

Ada cukup banyak kalimat menginspirasi yang berasal dari karakter Mikhail, dan rasanya, blurbs dan cukilan quotes belum cukup menggambarkan keindahan kata-kata yang ada dalam buku ini. Saya ambil beberapa contoh di sini.

  • p.2: Sejak lahir, manusia adalah sebuah angka yang tidak ia pilih. Beberapa aktivitas ditakdirkan dikerjakan hanya oleh orang yang memenuhi kriteria tertentu sejak lahir.
  • p.31: Ketidakadilan di dunia ini datang dalam berbagai bentuk.
  • p.66: Apakah nggak sendiri itu sebuah keharusan?
  • p.73: Tapi yang sebenarnya lebih membuat sesak adalah awan pekat itu tidak boleh tampak dari luar.
  • p.138: Akhirnya kamu selalu ingin pulang ke dirimu sendiri karena siapa pun tidak bisa terus singgah dan berkelana.
  • p.144: Tidak semua wanita beruntung bisa menyebut bekerja sebagai pilihan.
  • p.165: Padahal menurutku orang yang sering terjebak kemacetan dan terus kembali lagi lama-kelamaan seharusnya jadi semakin sabar.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik
  • 11:11 on Goodreads
  • My Personal Goodreads Rating 4/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia Rp 50.000
  • Gramedia.com Rp 42.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi (M. Aan Mansyur, 2015)

Identitas Buku

melihatapibekerja

Judul: Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi, Puisi, Sastra
Bahasa: Indonesia
Terbit: April 2015
Tebal: 160 halaman
Cover: Soft cover
Ukuran: 14 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-602-031-557-7

Sinopsis Official

Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

“Menikmati Akhir Pekan”

“Aan adalah salah seorang dari dua atau tiga penyair kita yang berhasil memaksa kita dengan cermat mendengarkan demi penghayatan atas keindahan dongengnya.“

-Sapardi Djoko Damono-

Continue reading

Love in Paris (Silvarani, 2016)

Identitas Buku

Judul: Love in Paris
Penulis: Silvarani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi, young adult, romance, religi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 13 April 2016
Tebal: 224 halaman
Cover: Soft cover
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-602-032-661-0

Sinopsis Official

Paris… tragis atau romantis?

Ternyata, Paris tak hanya romantis, tetapi juga tragis. Lihat saja sejarah revolusi. Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette, dihukum mati di kota ini. Bersamamu, kira-kira Paris akan menampakkan wajah yang mana? Tragis… atau romantis?

Sheila begitu bahagia bisa ke Paris untuk melanjutkan kuliah di Pantheon-Sorbonne. Yang memberatinya hanya satu: Sony pacarnya tak mau menjalani LDR Jakarta–Paris. Berangkat dengan hati patah, Sheila mencoba meyakini bahwa Paris akan menghadiahkan hidup dan cinta baru.

Lalu muncullah Leon, sahabat kakaknya semasa SD. Laki-laki blasteran Prancis-Indonesia itu berprofesi sebagai fotografer. Bayangan Leon yang dulu mengimami Sheila saat shalat seketika pupus, berganti sosok “asing” yang menjalani gaya hidup khas kota besar. Walau agak kecewa, tak bisa dimungkiri Leon berhasil membuat Sheila terpesona. Pun sebaliknya. Pencarian iman mendekatkan mereka berdua, tapi juga mengombang-ambing hati keduanya.

Di bawah langit Paris, haruskah Sheila kehilangan cinta lagi? Mampukah gadis ini bersabar menunjukkan jalan lurusNya kepada Leon?

Resensi

Kerepotan saya sejak tanggal 16 Februari hingga 28 Maret 2016 di tantangan ulang tahun ke-42 Gramedia Pustaka Utama, akhirnya “terbayar” dengan hadiah dua buah buku dari Gramedia. Buku ini adalah salah satunya. Betul, Saudara-saudara, saya mendapatkan buku ini ketika banyak orang tengah membicarakannya, dan beberapa rekan blogger tengah menyodorkan buku ini untuk dijadikan hadiah giveaway. Salah satu dari serial buku Love Around The World yang sedang heboh itu. Hal-hal inilah yang bikin saya semangat untuk segera menyelesaikan buku yang covernya unik ini.

Jadi, ceritanya buku ini membahas hubungan Sheila, seorang remaja berkecukupan berusia 18 tahun yang baru saja mulai melanjutkan pendidikan di Paris; dengan sahabat kakaknya yaitu Leon, pemuda yang telah tinggal lama di Prancis dan bekerja sebagai fotografer. Keduanya dipertemukan karena situasi dan kondisi yang agak berbau kebetulan. Di sinilah, dijelaskan bagaimana Sheila dan Leon mulai menjalin hubungan, dari masalah persahabatan hingga berlanjut ke masalah keyakinan. Bagaimanakah akhir kisah mereka? Akankah Sheila yang bercita-cita menikah muda berhasil meraih keinginannya? Dan apakah Leon yang selama ini tercatat sebagai umat Islam namun tak pernah menjalankan kewajiban beragamanya, dapat kembali ke jalan yang benar?

Setelah tahu bahwa tema utama dari buku ini adalah soal romantisme hubungan yang dibungkus nuansa religi, saya sempat khawatir. Akankah nasib buku ini di tangan saya bakal seperti Ayat-Ayat Cinta? (catatan: Saya tidak menyelesaikan buku yang satu itu dan saya memberinya rating 1 di Goodreads)

Eits sebentar, jangan buru-buru memvonis saya anti dengan cerita berbau religi yah. Menurut saya, selama suatu cerita tidak terlalu mengedepankan propaganda di balik kemasan religinya, topik religi tidak akan pernah jadi masalah untuk menikmati cerita. Meskipun barangkali posisi saya adalah sebagai pihak luar. Jadi, masalah genre tak jadi soal buat saya. Dan yang juga saya perlu garis bawahi, ternyata tema islaminya sama sekali tidak basi dan terlalu mendayu seperti Ayat-Ayat Cinta. Menurut saya, cara penulis mengangkat isu pemahaman terhadap agama Islam telah disesuaikan dengan situasi modern, dan dengan porsi yang pas sesuai perkembangan zaman. Cara pandang pihak luar terhadap Islam pun diangkat di sini, dengan proporsi yang tepat dan cara menanggapi yang lazim ditemui di kenyataan pula.

Soal pengambilan tema, bisa dibilang bahwa cara penulis membuka buku ini cukup menarik. Meskipun buat saya agak cheesy, tetapi tetap saja pengambilan sudut awal sudah cukup mendatangkan rasa penasaran. Namun, selanjutnya, yang lebih mengundang rasa ingin tahu adalah soal hubungan para tokohnya.

Bagaimana soal deskripsi Paris yang diutarakan dalam novel ini, dan yang banyak disebut-sebut para penikmat novel young adult itu? Nah, saya sudah membuktikan bahwa deskripsi Paris yang dijabarkan di sini lumayan komprehensif. Tapi, jangan terlalu berharap bahwa kalian bisa berpegang pada buku ini untuk dijadikan referensi buat jalan-jalan ke Paris. Bagaimanapun buku ini adalah novel dan bukan travel guide 🙂 Dan saya harus mengakui, bahwa deskripsi Paris yang disampaikan cukup menambah bumbu di bab-bab awal hingga pertengahan buku ini. Tentunya bumbu yang sedap, ya.

Juga soal frasa-frasa dalam bahasa Prancis. Lumayan untuk belajar bahasa Prancis dasar, meskipun juga, lagi-lagi, kalian tidak bisa hanya berpegang pada buku ini untuk mendapatkan basis bahasa Prancis yang baik. Kembali, lebih sekadar menambah pengetahuan dan wawasan soal Prancis saja.

Satu-satunya masalah buat saya dari novel ini – dan sayangnya, masalah yang terbesar pula – adalah perihal cara buku ini ditutup.

Mengapa? Menurut saya, seteguh-teguhnya orang berprinsip (karena seperti itulah tokoh Sheila digambarkan), bab sebelas buku ini adalah cara eksekusi yang teramat janggal, apalagi kalau kita baru saja selesai membaca bab sepuluh. Janggalnya bahkan di luar dugaan, di luar fantasi science fiction teraneh yang pernah saya baca, dan… Intinya ending ini betul-betul membuat saya melongo. Dan saya sangat kecewa karenanya. Mengapa bab-bab awal dan pertengahan yang sudah dijalin dengan baik ini seolah diakhiri dengan dicekik begitu? Apakah tidak bisa transisinya dibuat lebih halus?

Sungguh disayangkan… Atau mungkin, saya memang tidak “ditakdirkan berjodoh” dengan genre romance. Jika benar, berarti masalah ada di selera saya dan bukan di buku ini.

Akhir kata, mungkin saya sulit menyatakan akan merekomendasikan buku ini atau tidak untuk kalian. Jika kalian amat mementingkan akhir cerita dalam memilih suatu novel, kalian bisa saja akan kecewa seperti saya. Tetapi jika kalian ingin menikmati suasana Paris dan membayangkannya selagi membaca, tentu buku ini bisa terasa lebih nikmat.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk; Fisik
  • Love in Paris on Goodreads
  • My Personal Goodreads Rating 1/5

1-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia Rp 55.000
  • Gramedia.com Rp 55.000 (belum termasuk ongkos kirim)
  • Scoop Rp 31.200 (digital version only)

Save

A Copy of My Mind (Dewi Kharisma Michellia, 2016)

Identitas Buku

a-copy-of-my-mindJudul: A Copy of My Mind
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Genre: Fiksi, drama, adaptasi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 4 April 2016
Tebal: 199 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-602-375-401-4

Sinopsis Official

Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

Resensi (with minor spoiler alert)

Buku sudah sering diadaptasi jadi film. Tapi kalau film best-seller diadaptasi jadi buku? Dan jadilah, ini pengalaman pertama saya membaca buku yang diadaptasi dari film.

Mungkin saya bahas sedikit dulu soal film yang menjadi sumber adaptasi buku ini. A Copy of My Mind versi film, disutradarai Joko Anwar dan dibintangi duet Chicco Jericho-Tara Basro, adalah peraih tiga Piala Citra di Festival Film Indonesia 2015. Berbeda dengan film berlatar Jakarta pada umumnya, film ini justru mengangkat potret masyarakat menengah ke bawah yang hidup di tengah himpitan berbagai masalah di ibukota; tanpa sedikitpun sentuhan sisi glamor darinya. Film yang konon hanya berbudget IDR 250 juta-an ini ternyata sukses di negeri-negeri tetangga terlebih dahulu. Setelah itulah baru film ini dirilis di Indonesia pada Februari 2016.

Meskipun katanya memang berkualitas dan unik, saya sendiri belum menyaksikan film yang satu ini, karena alasan pribadi yang lebih baik jangan saya sebutkan. Namun, karena begitu banyak orang yang bilang film ini unik buat perfilman Indonesia, maka ketika saya mendengar Grasindo akan menerbitkan versi bukunya, saya langsung menaruh ekspektasi tinggi, bahwa bukunya juga akan bagus. Walaupun saya tidak sampai ikutan preorder dan hanya menunggu “momen diskon” dari Scoop, ternyata “pilihan” saya untuk mulai dengan bukunya dan bukan dengan filmnya, sama sekali tidak keliru. Karena saya cukup menikmati buku yang mendebarkan ini!

Fakta bahwa saya menyukai novel adaptasi film yang tidak terlalu tebal ini, adalah sesuatu yang amat tumben terjadi buat saya atas sebuah novel lokal. Sejak halaman pertama, penulis sudah menyampaikan sisi gelap ibukota yang kerap dirasakan sebagian besar lapisan penghuni kota yang konon lebih kejam daripada ibu tiri ini. Dengan suguhan kalimat-kalimat menarik, yang bernada satir tetapi realistis, pembaca (terutama yang hidup di Jakarta) pasti langsung dibuat terpikat dengan premis “pembenaran kaum menengah ke bawah atas kekejaman dan kesenjangan sosial”. Memang agak sinetron, namun begitulah cara pikir sebagian besar warga Jakarta. Karenanya, untuk sekilas, saya merasa buku ini mirip dengan pembuka cerita di film Selamat Pagi, Malam (2014) (yang celakanya juga, belum sempat saya tonton akibat film ini berumur terlalu singkat di bioskop).

Hingga ke tengah, saya merasa alur buku ini lambat. Cerita ketertarikan satu sama lain antara Sari dan Alek, kedua karakter utama kisah ini, dibuat alamiah dan tidak terburu-buru, namun menurut saya malah terlalu pelan dan tidak membangkitkan rasa penasaran penonton, bahkan ketika buku ini sudah melewati 60% bagiannya. Makanya, saya masih bisa meninggalkan buku di halaman 128 tanpa rasa mati penasaran dengan ending cerita yang konon ada di 190-an.

Buku ini diawali dengan latar belakang kehidupan Sari, si pegawai salon kecantikan yang kerap merasa bosan namun mengimpikan home theatre, diceritakan bergantian dengan latar belakang hidup Alek, pria tanpa identitas yang terjebak dalam kehidupan ala preman ibukota namun memilih bekerja sebagai pembuat teks untuk keping film-film bajakan.

Hubungan keduanya dimulai ketika Sari mengamuk ke sebuah lapak penjual DVD bajakan akibat teks film yang ia beli ternyata kacau balau, dan di situlah ia bertemu Alek. Kemudian, entah bagaimana mereka saling mengakui minat film masing-masing, dan mereka mulai merasakan ada kecocokan satu sama lain.

Diskusi film di antara mereka, ketika mereka “membangun hubungan”, pun cukup menarik. Jenis-jenis film yang dibahas pun sukses bikin saya bingung lantaran saya bukan penggila film. Satu-satunya film yang mereka sebut dan saya paham (karena sudah pernah ditonton), hanya My Blueberry Nights – film 2007 karya Wong Kar-Wai, yang agak membikin ngantuk dan setengah absurd itu (Coba googling sendiri ya).

Jangan kaget ketika memasuki halaman 100-an, buku ini justru menonjolkan seks bebas dan krisis identitas sebagai perihal utama yang mengudara. Semacam kritik sosial yang cukup pas tekanannya. Meskipun di halaman-halaman sebelumnya hubungan Sari dan Alek terkadang diwarnai kelucuan, tetapi bagian ini menunjukkan keseriusan mereka dan memperlihatkan bagaimana rasa di antara mereka mulai terbangun. Biasa saja dari segi plot, tetapi cukup kuat dari karakterisasi.

Tetapi ketika saya memasuki 25% terakhir dari buku ini, saya mulai merasakan plot intens yang mulai dengan cepat menuju klimaks. Pertemuan Sari dengan Bu Mirna, dengan cepat menggulirkan sebuah masalah besar yang tak bisa diperkirakan bagaimana akhirnya. Saya juga penasaran sekali bagaimanakah polemik ini akan dikunci dan diketok palunya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Wong halamannya tinggal dikit, gimana cara konflik begini mau dikunci?

Dan… Ternyata, oh ternyata… Tiga bab terakhir dituliskan singkat, dan cerita pun bergulir dengan sangat cepat, sampai-sampai tanpa tersadar bukunya sudah habis! Uh-oh. Berhubung saya membaca dengan otak setengah kosong, saya harus membaca ulang agar tidak missed. Ketika saya mencocokkan ending cerita versi buku dan versi film, ternyata sama. Dan saya berkesimpulan bahwa ending cerita ini, secara umum memang aneh. Pendekatan ending seperti ini, rasa-rasanya belum pernah ada di film-film Indonesia, meskipun saya sudah beberapa kali menemukan film-film luar yang menggunakan cara pendekatan sama.

Nah, seperti apa ending kisah ini? Atau film Hollywood manakah yang ending-nya seperti kisah ini? Saya tidak mau bahas di sini ya. Lebih baik kalian baca sendiri buku ini dan cari tahu sendiri cerita ini mirip film apa – kalau saya ceritakan di sini, nanti keseruannya hilang dan kalian jadi tidak mau baca bukunya. Lalu saya digampar penulis dan Bang Joko. Kabuuurrr…

Balik ke topik. Justru, keengganan Joko mengakhiri cerita dengan memberi pemanis di atas kue seperti lazimnya cerita film Indonesia, dan memilih konsisten menggeber kepahitan dari awal sampai akhir inilah, yang menjadi ciri sekaligus kekuatan dari film A Copy of My Mind. Demikian pula bukunya, tetap menarik dan mendebarkan hingga akhir.

Jadi kesimpulannya? Highly recommended story to enjoy! Terserah mau versi film atau buku, toh memang pada dasarnya cerita ini menarik untuk disimak.

Kalimat-kalimat menarik

  • p.16: Cerdas sekaligus jujur adalah kriteria penghuni surga. Di dunia, tak pernah ada yang sesempurna itu.
  • p.31: Membayangkan Budhe yang sepuh itu meninggal karena tinju-tinjuan sama pencuri untuk berebut TV bikin gue jarang berani keluar rumah lama-lama.
  • p.63: Ini kunci bahagia berikutnya: Kebisingan jalanan selalu bisa ditandingi gemuruh musik.
  • p.63: Percayalah, membisiki diri sendiri bisa membuat daya tahan lu lebih kuat dibandingkan menenggak minuman penambah stamina.
  • p.65: Kenapa manusia mencari rasa aman?
  • p.70: Lu kalau mau cari yang bagus, ya cari yang asli lah.
  • p.98: Dia bisa jadi ibu yang baik untuk mengkaderisasi anak jadi gila film juga.
  • p.115: Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kamu tertawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa, dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup.
  • p.180: Tapi sewaktu lu menjalani hidup, lu enggak akan pernah tahu bagian mana yang jadi awal dan akhir. Lu enggak tahu siapa yang jadi tokoh utama dan tokoh sampingan.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Scoop
  • A Copy of My Mind on Goodreads
  • My personal Goodreads rating 4/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 50.000
  • Gramedia.com: Rp 42.500 (belum termasuk ongkos kirim)
  • Scoop Rp 31.200 (digital version only)